Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 174


__ADS_3

"Katakan, siapa yang menyuruhmu?!" hardik Adnan lagi.


kedua lelaki itu masih saling pandang seakan enggan untuk mengatakan. Adnan jengkel dan mengisi tenaga dalamnya kedalam perut, lalu menekannya.


"Katakan!!!" hardik Adnan lebih keras, menggelegar.


si rambut ikal mendesah. "Stefan Waworondou... itu namanya!"


Adnan, Trias dan Kenzie terkesiap. orang itu belum mampus rupanya!!!


Adnan menatap Trias. "Giliran kalian melakukan tugas!"


Trias menatap Aldi dan lelaki itu mengangguk lalu mengontak Bambang dan yang lainnya untuk menggelandang dua lelaki itu ke Maung hitam milik Trias. mereka berdua harus menjadi pemandu untuk menemukan lokasi tempat penyekapan Aisyah dan Bakri.


dua mobil itu saling berpacu menyusuri jalanan protokol yang sudah sunyi sebab malam telah merayap menuju subuh. Maung hitam yang dikendarai Trias balapan dengan Mac Laren kuning yang dikendarai Kenzie. tujuan mereka adalah Tanjung Keramat.


Tanjung Keramat adalah salah satu tempat dalam wilayah pemerintahan kecamatan Hulonthalangi. tidak ada wilayaj paling indah diwilayah paling selatan itu selain Tanjung Keramat. gugusan bukit kapur yang bertumpuk ditumbuhi semak belukar dengan tanjung terjal yang dipenuhi rumah-rumah warga.



kawasan ini bagaikan benteng alam yang menjaga teluk tomini dari sisi barat. dibagian barat tanjung terdapat sebuah teluk yang membentuk setengah lingkaran dengan struktur dasar batuan karang.


malam menuju pagi, Mac Laren kuning yang dikendarai Kenzie melaju seakan berkejaran dengan motor Honda CBR yang dikendarai Endi yang membonceng Trias. mereka harus cepat berpacu melawan waktu untuk segera menemukan Aisyah sebelum terjadi apa-apa yang dikuatirkan Adnan terhadap putrinya.


...*******...


Setekun apapun Stefan berlatih beladiri, dia tak akan mampu mengatasi serangan Bakri yang memang sejak dulu merupakan atlet hebat pada masanya. lelaki keturunan Minahasa itu hanya bisa menahan pukulan dan akhirnya rubuh oleh pukulan terakhir yang diayunkan Bakri ke wajahnya. lelaki itu berdiri dengan sikap gagah sementara Stefan terguling kesakitan merasai terjangan lelaki tersebut.


"Aku harap setelah ini, kita tidak akan bertemu lagi! Stefan." ujar Bakri melangkah mendekati Stefan. hawa membunuhnya sangat terasa. lelaki itu terkoyak nuraninya menyadari sang istri dinodai berkali-kali oleh pemerkosa itu.


Stefan tersenyum licik. tiba-tiba dia meraih pistol Glock 19 dan mengarahkan moncongnya kepada Bakri. dalam kegelapan, Bakri tak melihatnya. ia tetap maju hingga Stefan langsung menarik pelatuknya.


DORRRR!!!!


Bakri tersentak. bunyi letusan itu menggema dalam kerapatan udara subuh buta. Bakri merasakan panas menyengat pada dada kirinya dan langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. ototnya seketika lumpuh dan tubuhnya menggelosor jatuh ke halaman berumput itu.


sebutir proyektil telah mengoyak dada kirinya, menembusi sekat jantung membuat benda itu sulit untuk berdetak lagi mengalirkan darah ke sekujur tubuh sebab telah bocor dan membanjiri area dada dan keluar melalui luka tembak.


"Bakri!!!!" jerit Aisyah menghambur memeluk Bakri yang sekarat meregang nyawa. sementara Stefan bangkit dan tertawa.


"Aisyah!!! tak akan ada lagi yang melindungimu! kamu sepenuhnya milikku!" seru Stefan melangkah memutari Bakri yang sekarat itu.


"Aaaakkkhhh..." jerit Aisyah ketika tiba-tiba Stefan menjambak jilbabnya dan menariknya keatas. lelaki bejat itu mendekatkan wajahnya ke wajah Aisyah yang meringis menahan sakit.


"Berikan pengabdian akhirmu, pelacur!!!" ejek Stefan lalu mendorong kepala Aisyah hingga jilbaber itu kembali tersungkur menelungkup dihadapan Bakri yang sudah dalam proses menarik napas-napas terakhirnya.


Stefan membuka retsluiting celananya dan duduk berlutut dibelakang Aisyah yang menelungkup. dengan kasar kembali dibuatnya wanita itu menungging. dan Stefan dengan penuh nafsu kembali menyibak bagian bawah khimar itu hingga bagian paling pribadi milik Aisyah terekspos kembali.


dan Stefan dengan nafsu yang menggelegak kembali mencobloskan tonggak kejantanannya melesak menembusi garba senggama milik Aisyah disertai jeritan keras wanita itu. dan Stefan kembali berpesta melampiaskan nafsu syaitaniahnya kepada wanita itu.


tubuh Aisyah tersentak-sentak kasar karena Stefan menyetubuhinya dengan kasar tanpa kelembutan, tanpa percumbuan. area genital yang memang lecet kini menjadi luka akibat penetrasi paksa dari pemerkosaan itu.


Aisyah kini hanya bisa pasrah dalam pemerkosaan brutal itu, tangannya menjulur gemetar meraih tangan Bakri yang sudah dingin. keduanya menatap dalam rasa sakit yang sama. dan Bakri menghembuskan napas penghabisannya. Aisyah dalam rasa sakit yang menyengat diarea kewanitaannya, perlahan menutup mata. ia menyusul suaminya.


dan Stefan dengan rasa puas yang menyelimuti benaknya berteriak senang saat menyemburkan mata airnya memenuhi liang sumur wadon sang jilbaber tersebut.


...*******...


berbekal keterangan dua lelaki pemabuk tersebut, kedua mobil itu tiba di lokasi. kedua pemabuk itu disuruh menunjukkan lokasi tempat penyekapan. Trias dan kawanan Pasopati langsung memasang senter untuk menerangi tempat tersebut. Trias mengontak lagi Bambang.


📱"Bang, posisi dimana?" tanya Trias.


📱"Sudah masuk wilayah kilang minyak." jawab Bambang.


📱"Lokasi sudah ditemukan... kukirim sinyal GPRSnya ke Abang ya?"


📱"Oke..."

__ADS_1


Trias mengaktifkan GPRS agar Bambang bisa menemukan lokasi mereka di google maps. sementara itu mereka sudah tiba di bangunan tempat penyekapan tersebut.


"Kalian berdua geledah gedung itu!" pinta Trias.


Stephen dan Aldi langsung mencabut pistol dan bergerak menuju bangunan itu. keduanya menyeret dua pemabuk itu untuk memandu mereka mengenali gudang tersebut.


Adnan menatap Kenzie dan Trias. "Kita berpencar. kau ke sebelah sana, Papa sama Om Endi ke sebelah situ."


Kenzie dan Trias mengangguk. kedua lelaki itu serentak mencabut revolver mereka masing-masing. sementara Adnan dan Endi mencari balok kayu lalu melakukan pencarian.


Adnan menyisir bagian kanan dari hamparan semak tinggi yang ditumbuhi pepohonan, sedang Endi menyisir bagian kiri. tak lama kemudian Endi menemukan mobil milik Chiyome. Endi mendongak kekanan.


"Nan, ini mobil anakmu, woy!!!" panggil Endi dengan keras.


tak lama Adnan muncul. "Kamu nggak usah teriak-teriak. bikin ribut, tahu nggak?!"


"Ya kalau aku nggak teriak, bagaimana kamu mendeteksi tempatku?" balas Endi sambil bercakak pinggang.


Adnan menggeleng-gelengkan kepala lalu memeriksa mobil itu. "Berarti dua pemabuk itu memarkir kendaraan ini disini, lalu mereka membawanya ke bangunan itu." ujar Adnan mengurai hipotesanya.


Endi menoleh menatap jalan yang baru saja mereka lalui. sementara Adnan tiba dibagian depan mobil. ia menemukan dua sosok yang sementara menelungkup.


"Endi!!!" teriak Adnan.


Endi kaget seketika berlari mendapati Adnan yang berdiri terdiam. lelaki itu mengiringinya.


"Kenapa?" tanya Endi.


lelaki itu memperhatikan arah tatapan Adnan dan ia mengikutinya. lelaki botak itu terkejut mendapati dua sosok yang menelungkup. bergegas, Endi langsung mengontak Trias.


📱"Yas! kamu kesini! kita menemukan mereka!" ujar Endi.


📱"Ya!!! kami kesana!!!" seru Trias mengaktifkan google map dan mendeteksi keberadaan ayahnya.


keduanya berlari menyusuri semak-semak dan mendapato kedua lelaki itu yang berdiri diam disisi mobil. Kenzie mengenali mobil itu adalah milik Chiyome. ia mengiringi ayahnya.


Trias tanggap langsung menyorotkan senternya. ia mendapati dua sosok yang menelungkup itu.


"Kak Aaiiiiissss!!!!" teriak Kenzie dengan histeris.


lelaki itu hendak menghambur namun langsung ditahan oleh Trias. "Ken, jangan Ken! kau akan merusak TKP!" cegah Trias.


"Itu kakakku, Yas! itu Kakakku!!!" jerit Ken histeris. air matanya sudah merembes keluar. ia meronta.


"Ya, Aku tahu! disana juga ada guru kita, Kak Bakri!" ujar Trias dengan tegar menahan amarah.


sementara Adnan sudah meniarap di mobil dan menangis keras. sedangkan Endi hanya bisa terisak menenangkan sahabatnya.


Trias langsung mengontak semua personil Pasopati. tak lama kemudian Aldi dan Stephen muncul sambil menyeret dua pemabuk itu.


"Amankan perimeter!" ujar Trias.


Aldi sontak menghantam tengkuk dua orang pemabuk itu dengan gagang pistol dan keduanya mengerang sesaat lalu jatuh pingsan. Stephen langsung mengontak bagian forensik melaporkan tentang kasus penculikan dan pembunuhan.


mata Trias memerah sambil memeluk Kenzie yang meraung-raung menangis. Adnan juga hanya bisa menangis melihat dua jenazah yang terbujur menelungkup itu. tak lama kemudian Bambang dan personil Pasopati lainnya muncul. Andi Kratos langsung tanggap melingkari tempat itu dengan yellow line.


...*******...


Mariana seketika menjerit histeris dan menangis ketika Adnan mengabarkan berita buruk tersebut. Chiyome dan Sandiaga hanya bisa menangis saling berpelukan. Sandiaga paling keras tangisnya. ia sudah merasai gelagat bahwa kedua orang itu telah mengalami hal-hal yang mengerikan dan firasat mimpinya terbukti.


Adnan memberitahu bahwa sekarang pihak kepolisian sementara mempelajari TKP. rencananya, pihak kepolisian akan melakukan otopsi pada jenazah kedua laki-istri tersebut. berita ini diminta oleh Adnan kepada Chiyome agar jangan dulu disampaikan kepada Fitri.


"Papa kuatir, ibumu akan syok mendengarnya." jawab Adnan ditengah isakannya.


"Papa.... siapa yang membunuh mereka?" tanya Chiyome.


"Nanti Papa jawab dirumah. Adek, jaga Mama ya? kasian, Mama syok dengarnya. Papa juga nggak menyangka alhor mereka berdua seperti ini..." sambung Adnan.

__ADS_1


"Iya Pa..." jawab Chiyome ditengah isakannya.


"Papa tutup telponnya dulu ya?" ujar Adnan.


"Iya Pa..." jawab Chiyome yang sesenggukan dalam tangisnya.


Adnan menyimpan handphonenya disaku dan berlalu dari tempat itu. polisi telah lebih dulu mengevakuasi kedua jenazah tersebut ke ambulan. mereka menuju rumah sakit umum Aloe Saboe untuk melakukan otopsi.


...*****...


tim forensik melakukan otopsi sementara Trias menghubungi atasannya tentang kasus penculikan dan pembunuhan yang menimpa pasangan Aisyah Fatriana Lasantu dan Bakri Muchsin. tak lama kemudian Bos Eki, atasannya Trias datang ke Rumah Sakit Aloe Saboe.


Trias menyambutnya dan melakukan gerak penghormatan. Bos Eki menatapnya.


"Bagaimana? sudah selesai otopsinya?" tanya Bos Eki.


"Sementara berlangsung Pak!" jawab Trias.


Bos Eki menatap Adnan yang sementara duduk dibangku panjang. perwira polisi itu melangkah mendekati Adnan dan menyalaminya.


"Saya turut berbela sungkawa Pak." ujar Bos Eki.


"Terima kasih." respon Adnan dengan senyum layu. keduanya matanya masih merah bekas memeras air mata yang keluar dari kelopak matanya.


"Kita akan segera menangkap pelakunya." ujar Bos Eki menguatkan. "Apalagi dia sudah kita kenal." lelaki itu menatap Trias. "Bilang sama Bambang untuk menghubungi perbatasan baik kota maupun kabupaten dan propinsi. pastikan pelakunya kita isolir hingga kita gampang menemukannya."


"Siap Pak!" jawab Trias merespon dan ia langsung menghubungi kawan-kawannya di Pasopati.


📱"Bang! Bos Eki nyuruh kita untuk melakukan penjejakan. hubungi pos perbatasan! jangan sampai Stefan berhasil meloloskan diri. ingat, dia punya kawanua dibagian wilayah Minahasa sana." ujar Trias.


📱"Oke..." ujar Bambang.


sementara diruang otopsi para dokter masih memeriksa. yang lainnya mencatat segala apa yang disebut oleh dokter dalam istilah ilmiahnya. setelah melakukan pemeriksaan, tim dokter keluar menemui Adnan dan Endi serta Trias dan Bos Eki.


"Bagaimana dok?" tanya Adnan.


dokter menghela napas panjang. "Apakah anda keluarganya?" ujarnya dengan segan.


"Saya, ayahnya." jawab Adnan.


dokter itu kembali mendesah dan meneliti air muka keempat orang tersebut.


"Yang laki-laki meninggal akibat luka tembak didada kiri. peluru mengoyak sekat jantung dan menghanguskan sisi bawah paru-paru dan lambung bagian atas. sedangkan yang perempuan meninggal akibat kekerasan seksual. kami menemukan banyak cairan ****** dalam saluran ****** jenazah. saluran itu sendiri mengalami lecet dan luka. saya sendiri nggak habis pikir, pemerkosa macam apa yang membuat korbannya sedemikian kesakitan hingga tak mampu menanggung luka dan meninggal akibat luka tersebut." jawab Dokter panjang lebar.


Adnan terduduk kembali dan menangis sementara Endi kembali terisak. ia menyapu punggung sahabatnya.


"Kuat Bro. kau harus kuat... kita harus kuat demi Ais, Bro." tegur Endi namun dia sendiri akhirnya tersedu sedan. Trias menghela napas dan menyapu air mata yang sempat keluar dari kelopaknya. setelah menarik isakannya, bintara itu menatap Dokter.


"Apa jenis peluru yang menembusi korban?" tanya Trias dengan suara yang ditegar-tegarkan.


"Proyektil yang ditembakkan adalah 9x19 mm Luger Parabellum." jawab dokter itu. "Kuduga, jenis pistol yang digunakan adalah Glock 19, atau G2 Elite keluaran Pindad, Berreta dan Smith & Wesson."


"Terima Kasih atas penjelasannya dokter." ujar Trias.


"Mohon segera lakukan upacara penguburan ya? saya pribadi kasihan melihat korban, apalagi yang perempuan. ia gugur bersama bayinya yang berusia tujuh bulan." sambung dokter kemudian pamit meninggalkan Adnan yang masih menangisi kematian putri dan menantunya yang tragis.


...*******...


prosesi pemakaman Aisyah dan Bakri berlangsung penuh isak tangis. Mariana mengurung diri dikamar terus meratapi jenazah Aisyah sambil berupaya terus ditenangkan oleh Chiyome. Sandiaga menangisi jenazah Bakri. Kenzie dan Adnan hanya bisa menatap dengan penuh kesedihan. keluarga Mantulangi lainnya mempersiapkan upacara penguburan pasangan suami istri itu.


Trias menghela napas berkali-kali. Saripah tiba dirumah duka dan disambut lagi isak tangis oleh Chiyome. kedua sahabat itu bertangisan.


"Aku nggak nyangka... tega sekali orang itu." sedu Saripah, "Kenapa Allah nggak sekalian saja menjatuhkan laknat atas orang itu?"


Chiyome hanya terisak-isak merespon keluhan sekaligus umpatan Saripah tersebut. keduanya kembali bertangisan. sementara Fahruriza datang menyampaikan bela sungkawanya kepada Adnan.


menjelang dhuhur, dua usungan diarak dengan mobil. iringan pelayat mengawal dua mobil pick up milik Endi dan Fahruriza yang memuat keranda Aisyah dan Bakri bergerak menuju Suwawa.

__ADS_1


iringan itu dikawal pula oleh patwal kepolisian sektor Bone Bolango yang dimintakan bantuan oleh tim Pasopati Polres Kota Gorontalo. iringan jenazah tiba di kompleks kediaman Mantulangi. kedua jenazah itu disholatkan di masjid desa Tulabolo. setelah itu Aisyah dan Bakri dimakamkan berdampingan dalam komplek pemakaman keluarga Mantulangi, disisi pusara Bapu Ridhwan.[]


__ADS_2