Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 17


__ADS_3

Kenzie sedang sarapan roti lapis (sandwich) ketika Aisyah muncul diruang makan lalu duduk berseberangan dengan Kenzie lalu mengambil 2 lapis roti. ia memperhatikan adik sambungnya yang sarapan sambil bersenandung pelan.


"Nggak biasanya kamu begini, Ken." sindir Aisyah tersenyum sambil menggigit pinggiran roti. "Ada apa sih?"


Kenzie menghentikan senandungnya lalu menatapi Aisyah kemudian menggeleng sambil tersenyum. Aisyah menarik napas.


"Siapa nama teman perempuanmu itu Ken?" tanya Aisyah.


"Chiyome Mochizuki." jawab Kenzie, "Tapi aku memanggilnya Chiyo saja supaya lebih akrab."


"Chiyo?" gumam Aisyah kemudian melanjutkan sarapannya.


Kenzie telah selesai sarapan langsung menyambar tasnya yang tergantung disandaran kursi.


"Aku berangkat." kata Kenzie pamit sambil meninggalkan Aisyah.


"Hati-hati, Ken." balas Aisyah.


sepeninggal Kenzie, muncul Mariana dari kamar sedang memperbaiki sanggulnya. wanita itu kemudian melangkah mendekati Aisyah yang sementara sarapan.


"Ais, bantu Mama belanja di pasar, ya?" ajak Mariana.


"Oke, Ma... pasar mana?" tanya Aisyah dengan antusias.


"Pasar Mo'odu... ini kan hari Senin." kata Mariana, "Tapi, kamu nggak ada kegiatan, kan?" tanya wanita itu.


"Ada. tapi nanti ba'da Dhuhur. persiapan pelaksanaan orientasi." jawab Aisyah menaruh sisa gigitan roti di piring. "Esoknya pembukaan kegiatan orientasi mahasiswa baru."


Mariana mengangguk. "Ayo siap-siap." ajaknya.


wanita itu mempersiapkan apa-apa yang akan dibawa. 2 buah keranjang dibawa dan dimasukkan ke mobil oleh Mariana dibawah jok setelahnya ia menutup pintunya. Adnan hari itu bekerja tapi tidak membawa mobilnya. lelaki itu menggunakan jasa taksi online.


Mariana sedang melilit sabuk pengaman ketubuhnya. Aisyah menutup pintu rumah dan masuk ke mobil melalui pintu sebelahnya. mobil mulai bergerak mundur keluar dari halaman rumah tiba ke jalan. Aisyah keluar lagi untuk menutup gerbang kemudian masuk ke mobil dan kendaraan itu meluncur kearah selatan.


meskipun Kota Gorontalo memiliki pasar utama, namun pemerintah kota dan propinsi masih mengijinkan beroperasinya pasar-pasar tradisional yang dioperasikan secara bergilir mengikuti jumlah hari.


keuntungan dari pasar tradisional adalah pelanggan dapat menemukan suatu barang yang terkadang tidak akan ditemukan pada pasar moderen. dengan kelajuan sedang, Mariana menyetir mobil dan tiba di Pasar Mo'odu. setelah memarkir mobil diseberang jalan, keduanya keluar dari mobil dan menyeberangi jalan menuju pasar yang terletal diseberang.


dengan mengepit dompet besar ia masuk diikuti oleh Aisyah yang mengekori sambil menjinjing tas belanja kemudian berbaur bersama para pelanggan yang sedang melakukan transaksi dengan para penjual yang memenuhi pasar hari itu.


Mariana sibuk memilih-milih sayur sambil menawar harganya. Aisyah diam dibelakangnya sambil menyambut sayuran yang diberikan Mariana yang kemudian dijejalkan kedalam tas belanja.


gadis itu menegakkan tubuh ketika menatapi sosok pemuda yang juga sedang berbelanja. pandangan keduanya bertemu dan Aisyah langsung melambaikan tangan. pemuda itu adalah Bakri, yang kemudian datang mendekati Aisyah.


"Sudah lama?" sambut Aisyah.


"Lumayan juga." balas Bakri sambil tersenyum lebar.


Mariana menengok dan menatapi pemuda yang sedang berbincang dengan Aisyah. gadis itu menatapi ibu sambungnya sambil senyum.


"Ini Bakri, Ma. putranya Bibi Una dari Poso." kata Aisyah memperkenalkan pemuda itu pada ibu sambungnya.


Mariana tersenyum ramah. "Ooo... jadi ini yang namanya Bakri." wanita itu menganggukkan kepalanya dengan sopan. Bakri kemudian membungkuk datar.


"Ini Mama saya." kata Aisyah.


Bakri diam dan menatapi Mariana dengan tatapan yang langsung dapat dibaca oleh Mariana. wanita itu langsung menjelaskan. "Memang bukan ibu kandung. tapi saya adalah ibunya!" tandas Mariana.


"Maaf, Tante... saya bersikap kurang sopan." jawab Bakri sambil membungkuk datar lagi.


Mariana senyum lagi lalu menatapi tas kresek yang dibawa Bakri. "Lagi belanja apa?" tanya wanita itu.

__ADS_1


"Ini Tante?" Bakri mengangkat tas itu lalu tersenyum, " Lagi belanja bahan-bahan untuk membuat gorengan." jawab pemuda itu.


"Oh, untuk makan sebentar?" todong Mariana.


"Bukan Tante. untuk dijual." jawab Bakri.


Mariana melongo sejenak, "Kamu semuda ini sedah menekuni bisnis gorengan?" wanita itu menjadi takjub.


Bakri mengangguk hormat. "Iya Tante. penambah uang saku. jauh dikampung, membuat saya harus berpikir untuk berhemat dan mengumpulkan uang untuk mengantisipasi kalau kiriman dari Poso terlambat atau tidak dikirimkan."


Mariana menggelengkan kepala sambil senyum. "Kamu memang hebat ya? sudah bisa mandiri. saya suka pemuda macam kamu ini." puji Mariana. "Kamu tahu? papanya Aisyah juga seorang enterpreneur."


"Waaah... saya justru ingin berjumpa dengan suaminya Tante. untuk menambah ilmu." sambut Bakri.


"Kalau begitu, Tante tunggu." tantang Mariana. "Ais, nanti kapan-kapan ajak Bakri ke rumah ya?" ujarnya pada Aisyah.


"Insya Allah, Ma." jawab Aisyah, "Itu juga kalau Bakri nggak sibuk. dia kan mahasiwa juga, Ma. sudah semester 6 di IAIN."


"Oh ya? hebat dong." puji Mariana lagi.


"Selain itu dia juga ngajar silat, Ma. Kenzie berguru sama dia." tambah Aisyah, semakin membuat Mariana takjub dan memuji pemuda itu.


"Tante, itu bukan hal yang besar." jawab Bakri merendah.


"Kamu ini, masih muda rupanya banyak prestasi ya?" puji Mariana sambil tertawa. wanita itu menepukkan tangannya sekali. "Ya sudah. kalau begitu Tante dan anak Tante permisi dulu ya? teruskan belanjamu." kata Mariana tiba-tiba mengeluarkan 2 lembar uang seratusan ribu dan menyodorkannya pada Bakri.


"Jangan Tante. saya nggak berani." kata Bakri dengan wajah takut. Mariana menggeleng sambil senyum dan memaksa Bakri untuk menerima uang itu.


"Kamu itu masih ponakannya suami tante. berarti kamu ponakan tante juga. sudah terima saja. nanti tante marah lho." ancam Mariana sambil senyum.


Bakri sejenak menatapi Aisyah dan gadis itu mengangguk. pemuda itu menerima uang itu lalu membungkuk datar. "Makasih banyak tante."


aaahhh... kenapa sih Aisyah juga mengiayakan aku untuk ambil uangnya tante sih. uang ini kusimpan dulu. nanti ku kembalikan... atau gimana sebaiknya ya?


pemuda itu harus menemukan cara untuk menebus kebaikan itu. ia nggak mau berhutang kepada siapapun.


sementara Mariana dan Aisyah kembali sibuk memilih-milih lauk yang dibeli. setelah urusan beli-membeli itu rampung, keduanya meninggalkan pasar, menyeberangi jalan dan masuk ke mobilnya. Aisyah meletakkan keranjang yang telah penuh dikursi belakang. mobil yang mereka kendarai kemudian melaju meninggalkan Pasar Mo'odu yang mulai berkurang pengunjungnya seiring dengan matahari yang mulai meninggi.


...*******...


Mariana sibuk memilah dan memasukkan sayur mayur dan lauk pauk ke dalam frezeer. dalam ruang makan itu terdapat sebuah kulkas untuk bahan siap saji dan sebuah frezeer untuk bahan segar.


gadis itu telah mengenakan pakaiannya, sebuah gamis dan jilbab syar'i yang menjuntai hingga ke paha. gadis itu tidak memakai cadar karena dirasanya belum perlu.


"Ma... saya pamit mau ke UNG." kata Aisyah memohon ijin.


"Ya sudah. pergilah. nanti Mama masak sendiri. jangan lupa, pulang sebelum maghrib." pesan Mariana.


"Iya, Ma..." jawab gadis itu kemudian menjabat dan mencium tangan Mariana kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu. gadis itu menggunakan jasa bentor untuk mengantarnya ke UNG.


...********...


Iyun sedang bercanda ria dengan teman-teman sekelasnya dikantin. sebagai kelas yang menduduki kasta tertinggi selain X A dan XII A, mereka dijuluki kaum intelek karena selalu menjuarai lomba karya ilmiah yang diselenggarakan oleh kementerian Pendidikan Nasional maupun lembaga-lembaga lainnya. mereka memang dikagumi dan disegani.


adapun kelas-kelas lainnya hanya berhunikan siswa-siswi yang memiliki IQ standar, kecuali diakui karena prestasi mereka yang lain, seperti prestasi dibidang olah raga fan lainnya juga sebab-sebab lain semisal kecantikan fan ketampanan.


selama ini, para siswa-siswi kelas lain minder untuk menjalin persahabatan dengan kelas-kelas unggulan itu, seakan mereka golongan eksklusif.


hanya Trias yang berani mendobrak suasana yang sengaja diciptakan itu. ia memacari salah satu anggota kelas itu dan tidak ada yang berani mengganggu atau menghalangi lelaki itu. selain tidak ada yang berani menjajal kemampuan beladiri pemuda itu, juga Trias disegani oleh siswa-siswi kelas lain.


satu-satunya peristiwa yang berhasil membuat prestise Trias sempat menurun adalah peristiwa ketika ia dijemur bersama-sama Kenzie dihalaman sekolah dalam kondisi basah kuyup seperti kucing kehujanan. selain itu tidak ada. lelaki itu disegani layaknya pemimpin, meski ia tak menginginkan hal semacam itu.

__ADS_1


sedang asyik-asyiknya Iyun berasyik masyuk, datanglah Chiyome kasana dan langsung menyapanya tanpa beban. ketenaran dan kecantikan wajah Chiyome serta statusnya sebagai siswa program pertukaran pelajar, sedikit banyak mengurangi ketenaran dan keangkeran golongan eksklusif tersebut. Iyun menatapi gadis jepang itu dengan dingin.


"Bisa kita bicara?" tanya Chiyome dengan ramah.


salah satu siswa itu berdiri berhadapan dengan Chiyome. "Dia nggak punya waktu bicara denganmu. kamu nggak pantas berada disini." ujarnya sambil mendorong Chiyome.


gadis itu mengelak dorongan gadis dihadapannya dengan halus. ia tak mau memamerkan kecakapannya disini.


"Aku hanya ingin bicara dengan Iyun." kata Chiyomw bersikeras.


sikap keras Chiyome mulai menyulut emosi teman-teman Iyun. mereka berdiri serentak dan menatapi Chiyome dengan tajam, sekedar mempertegas image bahwa mereka adalah golongan yang tidak gampang didekati.


Chiyome menarik napas dan mengangguk. "Jika kamu nggak mau bicara denganku, tak mengapa. aku bisa menunggu kapan saja kau membuka hatimu."


Chiyome berbalik meninggalkan Iyun yang menarik napas dan membuangnya dengan keras kemudian kembali bercengkrama dengan teman-temannya.


"Kau hebat Yun. setidaknya mereka menyadari bahwa kita tidak setingkat dengan mereka." hasut salah satu teman lelakinya.


ucapannya diaminkan oleh siswa-siswi kelas XI A yang lain.


...******...


Trias melangkah cepat disusul oleh Kenzie, menyusuri lorong. tujuan keduanya adalah kelas XI A dimana Iyun berada. sesampainya didepan pintu kelas, Trias mendorong pintu itu hingga menguak lebar dengan suara keras, mengejutkan penghuninya.


untung saja guru yang mengajar tidak berada ditempat. para siswa memandangi Trias dan Kenzie yang menyandarkan punggung ditiang pintu sambil melipat tangannya didada. Trias melangkah kedepan kelas itu dan menatapi keseluruhan siswa, termasuk Iyun dengan sorot tajam. tak ada siswa yang berani menantang mata pemuda itu, kecuali Iyun.


"Saya tahu, kalian menduduki kasta tertinggi dalam komunitas civitas akademika di SMUN 3 ini." sindir Trias, " namun bukan berarti kalian boleh merendahkan siswa-siswa lain yang ingin menjalin hubungan dengan kalian. sebagai kelas teladan, semestinya kalian mesti memperlihatkan sikap yang lebih terhormat." tegur pemuda itu.


"Kau bermaksud menyindir kami? maaf! kelihatannya kau tak melihat posisi kami dibanding kalian." balas ketua kelas XI A.


Trias tersenyum lalu memandang langit-langit ruangan sambil membuang napas, mengendalikan emosinya. setelah itu ia menegakkan kepala dan melangkah mendekati ketua kelas dengan kedua tangan yang terkepal. gatal benar tangannya ingin sekali membubarkan barisan gigi yang mencekat gusi si ketua kelas itu.


"Salah satu warga kelas kami, datang dengan niat baik hendak menjalin persahabatan dengan kalian." ujar Trias sambil mengarahkan tatapan paling tajam kearah Iyun, setelah itu kembali menatapi ketua kelas. "Tapi sambutan kalian begitu tidak sesuai dengan pengharapan yang ada. katakan padaku, Ketua Kelas yang terhormat! apakah ini sikap siswa-siswi unggulan SMUN 3?"


"Iyun yang tidak punya minat menyambut dirinya. mengapa kau menyalahkan kami?!" bentak salah satu siswa sambil berdiri. ucapannya langsung menaikkan tensi emosi pemuda itu.


"Kalian menghasutnya!!!" teriak Trias sambil menghantamkan tinjunya ke meja disampingnya dan berhasil membuat meja itu ambrol, seketika memancing keributan dalam kelas XI A.


"Kau jangan jadi pengkhianat, Trias!!" tantang ketua kelas XI A, "Apakah perempuan itu mengatakan semuanya kepadamu tentang kami?!" pemuda itu marah karena inventaris kelasnya rusak.


Trias langsung menjambak kerah kemeja ketua kelas XI A. "Aku lebih paham nasionalisme daripada seorang kauvenis sepertimu!" geram Trias kemudian mendorong pemuda itu hingga terjajar beberapa langkah kebelakang. dengan mata mencorong menakutkan, pemuda itu mengintimidasi seluruh siswa dengan tatapannya.


"Aku cuma nggak suka kalian merendahkan siswa kelas lain demi untuk menegaskan kelebihan otak kalian dibanding mereka." sambung Trias sambil menunjuk semua siswa-siswi kelas XI A. untungnya tak ada yang terprovokasi dengan hal itu. mereka tidak mau cari gara-gara dengan pemuda itu.


namun mereka masih berani menantang Trias dengan sorot kebencian. semantara Trias melangkah mendekati tempat duduk Iyun. pemuda itu mengulurkan tangan.


"Ikut denganku!!" ajak Trias.


sebenarnya Iyun enggan memenuhi keinginan pemuda itu. namun Iyun sudah mengenali karakter Trias ketika ia membuka hatinya untuk pemuda itu.


jangan pernah mengusik anoa yang diam. tanduknya bisa merobek tubuhmu..


gadis itu bangkit dan melangkah mendahului Trias keluar kelas dan mengacuhkan uluran tangan pemuda itu. Trias mendesah lalu menyusul kekasihnya keluar.


sementara Kenzie tetap bersandar di pintu sambil melipat tangannya ke dada. sesekali ia melayangkan tatapan sinisnya ke seluruh siswa-siswi kelas XI A yang sementara menyambung kembali potongan-potongan kayu meja yang hancur ditinju Trias.


sejenak gadis berjilbab itu memunggungi Trias. "Kurasa kesimpulan ketua kelas kami terhadap kamu, benar Trias." kata Iyun sambil membalikkan tubuhnya menatapi Trias. "Kau secara tidak sadar mengkhianati negaramu sendiri."


"Jangan ingatkan aku tentang batas antara pengkhianatan dengan penghormatan. aku membelanya bukan karena status kewarganegaraannya. tapi karena statusnya sebagai bagian dari warga kelasku! tak lebih!" papar Trias sambil menggenggam pundak Iyun.


"Semestinya ketua kelasmu yang emosi. bukan kamu!" sindir Iyun dengan tatapan tajam. []

__ADS_1


__ADS_2