Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 158


__ADS_3

Trias menatap lautan. perairan teluk Tomini agak berombak. disisinya Saripah pun berdiri ikut menatap hamparan permadani biru yang nirpadat itu. gadis itu sudah mengantisipasi cuaca dingin malam itu yang menyergap kawasan pelabuhan Gorontalo dengan mengenakan jaket parasut tebal yang membalut sweater wol, kaos dan rok panjang selutut. betisnya dibalut kasut yang panjang dan sepasang sepatu kets melindungi kakinya. rambut panjangnya berkibar-kibar sesekali dihembus angin malam.


Trias sendiri juga mengenakan jaket kulit yang membalut kaos lengan panjang. holster yang menyarung revolver Raging Bull 454 kebanggannya menyembul sedikit dari jaket yang terkuak dihembus angin itu. sepatu lars pendek nampak serasi dengan balutan celana jins belel.


keduanya masih diam menatap lautan yang sementara menggeliat memamerkan ombak-ombaknya yang kadanf menampar dinding dermaga. sebagian buih itu menciprati tubuh kedua sejoli yang tak perdulian itu.


"Ipah... " panggil Trias yang nasih tetap menatap hamparan permadani biru tersebut.


Saripah menoleh sejenak menatap Trias, lalu kembali menatapi perairan teluk. Trias menarik napas dan membuangnya dengan pelan. udara dingin membuat uap napasnya nampak bagai hembusan napas naga yang bersiap memuntahkan kobaran api.


"Kamu tahu nggak, mengapa setiap air itu selalu mengalir dari air sungai ke lautan?" tanya Trias.


"Kau mau mengungkit pelajaran IPA ya?" olok Saripah.


"Jawab saja pertanyaanku." pinta Trias.


Saripah menjebikan bibirnya sejenak lalu memulai penjelasannya, "Itu memang penerapan hukum hidrologi. selain karena pengaruh keterjalan tempat, air sebenarnya bukan semata tercipta dari mata air yang dilahirkan oleh bumi, namun juga lewat air hujan yang diakibatkan oleh proses penguapan oleh sinar matahari. kesemua proses itu disebut siklus hidrologi apakah itu bersifat panjang atau pendek."


"Bagus..." puji Trias.


"Lagian ngapain sih ungkit-ungkit pelajaran IPA semasa sekolah? apa kamu aku ikut program kuliah?" pancing Saripah.


Trias menatapnya. "Menurutmu?"


"Maaf, aku nggak tertarik untuk kuliah. kamu tahu? Indonesia merupakan produsen keseratus pengangguran di dunia. 45% dari mereka adalah pengangguran intelektual. jadi aku nggak mau menambah jumlah pengangguran itu. aku sudah cukup puas, sukses sebagai petani sukses dan pengawal pribadi sahabatku sendiri. Terima kasih." jawab Saripah panjang lebar.


Trias tersenyum, "Siapa yang mau nyuruh kamu kuliah? suudzon benar sih?" kilahnya lalu kembali menatap lautan.


"Tentu. jangan nyuruh-nyuruh aku kuliah. aku alergi dengan kata-kata itu. kamu tahu? kuliah itu nggak akan menjamin kesuksesan. lihat saja Gadjah Mada." ujar Saripah.


"Kok ungkit Gadjah Mada? ada kaitan apa beliau dengan bangku kuliah?" pancing Trias.


"Iya. lihatlah Gadjah Mada... beliau nggak kuliah, tapi sukses jadi universitas." jawab Saripah.


sejenak Trias termenung dengan ucapan kekasihnya. lama kelamaan dia paham dan langsung tertawa. itu lelucon sarkastis.


keduanya lalu diam. Trias mengucap, "Mengapa Tuhan menciptakan semua sesuai dengan keterikatan hukum sebab akibat?"


"hadeehhh... nggak usah mancing pertanyaan yang behituan deh. aku males... otakku nggak nyambung." ujar Saripah.


"Lha, kalau begitu, kenapa kamu bisa duduk dikelas 10A dan 11B waktu itu?" pancing Trias. "Padahal aku dan Kenzie dulunya di 10H dan 11F."


"Itu hanya faktor keberuntungan saja." jawab Saripah dengan enteng. "Lagipula itu perkembangan yang dinamis, bukan statis. bisa jadi orang dulunya bobrok, bodoh, dungu justru pada tahun-tahun kedepannya malah jadi orang yang brilian. lihat saja Einstein. atau dalam islam lihat saja Nabi Muhammad. siapa yang sangka, lelaki tak pandai membaca itu menjadi seorang Nabi yang bahkan namanya disebut diseluruh alam semesta?"


Trias mengangguk-angguk. memang setiap manusia itu memiliki tingkat yang berbeda-beda. ada yang tingkat intelejensianya tinggi namun justru emosinya rendah. ada yang bodoh namun mampu membaur dengan masyarakat sehingga ia dihormati bukan karena kepandaiannya, namun karena sikap toleransi dan koneksinya yang tinggi dengan orang disekitarnya.


"Baiklah... aku tak akan mempertanyakan hal-hal semacam itu lagi." ujar Trias dengan pelan.


"Tunggu." sela Saripah, "Aku penasaran. malam ini kau beda banget. kayak guru ilmu pasti saja mengajukan pertanyaan seperti itu. kenapa sih?"


Trias hanya tersenyum lalu menggeleng.


"Gini saja. aku yang tanya, mengapa Allah menciptakan sesuatu sesuai dengan hukum sebab akibat?" tantang Saripah.


"Agar semuanya berjalan harmonis." jawab Trias.


"Aku yakin nggak sesederhana itu jawabannya." tukas Saripah dengan senyum.


Trias hanya tersenyum kembali. Saripah menghela napas dan menukas. "Jadi, kita berdua disini sendirian cuma mau nengok laut? ngapain? kalau pegang alat pancing sih masih mending, tinggal sewa perahu dan kita berdua mancing ikan."


"Nggak ada pikiran lain selain mancing ikan?" pancing Trias.


"Nggak tahu. itu saja yang terbersit." ujar Saripah.


"Gimana kalau aku mancing kamu saja." ujar Trias.


"Bukan cuma mancing. kamu tuh sudah dapatin aku." jawab Saripah dengan senyum dan menggandeng lengan Trias.


"Tapi belum resmi." ungkap Trias.

__ADS_1


"Belum resmi? kita sudah pacaran tiga tahunan, sudah mau jalan empat, dibilang belum resmi? wahhh... keterlaluan." ujar Saripah dengan kesal dan melepaskan gandengannya.


"Eh, mau kemana?" tanya Trias ketika melihat Saripah melangkah meninggalkannya.


"Mau pulang. nggak suka aku disini." ujar Saripah.


"Tunggu..." panggil Trias lari menyusul.


Saripah semakin mempercepat langkahnya, bahkan hampir berlari jika Trias tidak buru-buru mencegatnya. Saripah menatapnya dengan alis berkerut.


"Turunkan alismu itu. kamu nggak cocok berwajah marah." olok Trias.


Saripah menghela napas panjang. "Maumu apa sih? apanya yang dibilang belum resmi disitu? jujur aku tersinggung."


Trias mengangguk dan tiba-tiba berlutut. Saripah terkejut.


"Yas, apa-apaan sih? nggak keren ihhh..." tegur Saripah.


tiba-tiba lampu ultra yang digunakan pada mercusuar langsung menyala dan beberapa lampu serpong yang terpancang disekitaran pelabuhan itu menyala. Saripah terkejut dibuatnya.


semua anggota Pasopati, dan sebaris pasukan samapta yang disewa Trias kemudian langsung berlutut. Trias menatap Saripah dengan tatapan lembut. lelaki itu merogoh sesuatu dibalik saku jaketnya dan mengeluarkan sekotak hitam yang dibukanya. ada cincin emas 22 karat disana. Saripah seketika menutup mulutnya.


"Yas...." gumam Saripah dengan tercekat.


"Saripah Indriana binti Fahruriza Hamid." seru Trias. "Maukah kau menjadi selimut hatiku? maukah kau menjadi belahan jiwaku? maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku? maukah engkau mengarung lautan hidup bersamaku hingga kita bertemu lagi di akhirat sebagai pasangan abadi?"


"Terimalah permohonan sahabat kami. bergabunglah bersama kami!!!" seru barisan samapta berseragam PDH lengkap itu.


Saripah tak mampu mengungkap kata demi kata. semuanya sirna ditelan rasa haru yang menyelimuti benak gadis itu. perlahan dua titik air mengalir dari kelopak matanya. napas gadis itu tercekat.


Trias memandang Saripah. "Maukah kau menikahiku?" tanya Trias dengan lembut.


bibir gadis itu gemetar. ada rasa gugup disana namun rasa gembira tak terkira lebih banyak menguasai sanubarinya. gadis itu hanya bisa menganggukkan kepala.


Trias tersenyum. "Kau bukan gadis bisu, ipah. bicaralah... katakan ya... atau ... tidak..."


Tatapan lelaki itu penuh harap, dan Ipah tidak punya pikiran untuk mengecewakan lelaki tersebut. bagaimanapun ini adalah amanat yang diberikan Iyun kepadanya. menggantikan posisinya hingga suatu saat dimana Iyun akan menjemputnya kembali.


"Lebih keras Ipah! lebih keras!" seru Trias.


Saripah menarik napas panjang lalu berteriak sekuat tenaganya.


"AKU BERSEDIA MENJADI ISTRIMU!!!!" seru gadis itu membuat suaranya bergema dalam balutan kerapatan udara malam itu.


sedetik kemudian terdengar sorak-sorai pasukan samapta tersebut beserta kesemua anggota tim Pasopati. Trias menyematkan cincin itu ke jari manis Saripah yang gemetar. gadis itu hanya bisa menutup mulutnya dengan sebelah tangannya dan membiarkan airmata bahagia membanjiri pipinya.


momen pelamaran itu ternyata direkam secara live oleh Stephen Ikal dan mengunggahnya ke media sosial. dalam beberapa detik kemudian banyak tanggapan dari warganet berupa like dan komentar positif.


Trias berdiri dan memeluk Saripah yang menangis bahagia. tak lama kemudian sebuah mobil sedan muncul dan keluarlah atasan mereka Ajun Komisaris Ekoriyadi Siregar, biasa dipanggil Bos Eki. wajah lelaki itu tersenyum.


"Bagus. nanti kalau sudah beristri, kurangi gaya ngerossboy kamu itu ya?" tegur Bos Eki melangkah mendekati sepasang kekasih itu. ia bercakak pinggang.


Trias hanya tersenyum lebar dan melepaskan pelukannya dari Saripah lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. sedangkan Saripah hanya bisa tersipu dan memandang arah lain menghilangkan kegugupannya.


Bos Eki menatap Saripah. "Hei Butet, nanti kalau sudah jadi istri si kreak ini, perbanyaklah getek kau itu. supaya mancis bengak satu ini tak terlalu banyak keluyuran dijalanan heh?"


"Sialan, Bos manggil-manggil calon biniku Butet. memang ada tampang Medan kah?" protes Trias.


"Eh Bengak! suka-suka aku manggil siapa disini! lagipula apa itu menyinggung perasaan kau, hah?!" hardik Bos Eki kepada Trias lalu menatap Saripah. "Pokoknya, aku sebagai atasannya bersyukur pada Tuhan. eh nanti kalau sudah jadi, kemeklah kami-kami ini. ya? ya?"


Saripah tersenyum, "Pastilah Komdan, Torang pasti kemek komdan sama teman-teman. khusus satu meja tuh."


Bos Eki menatap Trias. "Eh, Mancis, cemana pulak pikiran kau?"


Trias mengangkat bahu dan menjebikan bibir. "Yah, sesuai kemauan Saripah saja."


"Aahhh... gitu dong. baguslah kutengok." puji Bos Eki kemudian melangkah meninggalkan Trias dan Saripah. sementara pasukan samapta sudah lebih dulu meninggalkan lokasi.


Andy Kratos mendatangi Trias. "Selamat ya Tri. kami tunggu di sidang BP4R."

__ADS_1


"Makasih ya..." balas Trias.


Andy Kratos hanya melambai sambil berbalik diikuti oleh beberapa anggota Pasopati yang juga melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan area tersebut.


sepeninggal mereka, Trias menatap Saripah. ia tersenyum lagi. "Itu baru resmi." ujarnya. "Besok, kasih tahu Papa dan Mamamu ya? sebentar sore, aku sama Abah ke rumah."


Saripah tersipu lalu mengangguk. sebentar lagi.... sebentar lagi... aku akan menjadi Nyonya Trias Ali...


Trias kemudian kembali memeluk kekasihnya dengan mesra. "Aku tak akan melepaskanmu kali ini.... Ipah..."


Saripah makin membenamkan kepalanya dalam rengkuhan lengan kekar lelaki tersebut.


...******...


Kenzie tersenyum saja ketika Saripah memberitahu perihal ia dilamar Trias pada malam hari di dermaga. Chiyome membelalakkan mata sipitnya.


"Hontoni?! Anata wa honkidesu ka????" seru Chiyome dengan kaget. (Beneran? serius kamu?)


Saripah tersipu kembali lalu mengangguk pelan. Kenzie terkekeh. "Selamat ya Ipah. sedikit lagi kamu akan menjadi menantu keluarga Ali."


"Dan calon besanku!" tandas Chiyome dengan gembira.


"Besan?" gumam Saripah dengan pelan.


Chiyome mengangguk-angguk dengan cepat. dengan mesra disentuhnya perut langsing Saripah. "Disini nanti, akan ada seorang gadis calon menantuku."


Saripah tertawa, "Ih, masih lama kali.." oloknya.


"Nggak lama. aku yakin nggak akan lama lagi." tandas Chiyome dengan yakin.


"Memang sudah ada perjanjiannya?" tanya Saripah.


"Ya iyalaah..." jawab Chiyome dengan bangga, "Dulu waktu aku masih ngandung, Trias sempat ngungkit walau becanda bahwa dia ingin anakku menjadi anaknya. jadi ku akurkan saja apa keinginannya." lalu kemudian wanita bermata sipit itu menatap Saripah, "Lho? bukankah waktu di dojo, aku sempat ngungkit itu, kan?"


"Nggak tahu ya?" ujar Saripah mengangkat bahu. "Kayaknya aku sudah lupa deh."


Chiyome mengangguk-angguk. "Persiapkan dirimu Ipah. kau akan mengemban amanat keluarga Ali dan Lasantu."


"Ah, kalau itu mah aku selalu siap." jawab Saripah kemudian tertawa diiringi tawa Chiyome.


Kenzie hanya senyum dan menggelengkan kepala berkali-kali. memang begini rupanya jika kaum ibu bertemu, pasti rempong tak ketulungan. suara para pedagang di pasar Sentral saja bisa kalah riuh dengan rempongan kaum hawa jika sedang sibuk menggunjingkan sesuatu.


Kenzie mengulurkan tangan menekan tombol pada pesawat telpon. ia menghubungi sekretarisnya.


☎️ "Dewi, ada agenda siang ini?" tanya Kenzie.


☎️ "Ada Pak. pertemuan para pengusaha di aula Dulohupa, membahas langkah percepatan ekonomi dengan para pengusaha dan pihak Kadin Gorontalo." jawab Dewinta Basumbul.


☎️ "Katakan pada Kak Bakri untuk menghandle tugasku saat kita berdua disana ya?" pesan Kenzie.


☎️ "Baik pak. saya beritahu beliau." jawab Dewinta Basumbul lagi.


Kenzie melepaskan jemarinya pada tombol pesawat telepon itu kemudian kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya yang tinggi. ia menatap dua orang wanita yang sedang asyik membahas kehidupan pribadi mereka.


"Kalian jika ingin lebih leluasa, boleh membicarakan persoalan nikah itu disuatu tempat yang strategis." usul Kenzie kemudian menatap arloji pada pergelangan tangan kanannya. "Sedikit lagi Hubby mau ikut pertemuan dengan pihak Kadin, Wiffy." ujarnya menatap Chiyome.


"Silahkan saja Hubby. kami nggak akan kemana-mana." jawab Chiyome dengan senyum lebar seringai ginsulnya. Kenzie tersenyum ketika Chiyome menyambung lagi, "Nanti kalau sudah selesai langsung pulang saja ke rumah. nggak usah nunggu Wiffy."


"Oke deh.... Hubby tinggal ya?" kata Kenzie dengan pamit.


ia melangkah keluar dari ruangan, lalu bersua dengan Dewinta yang sementara duduk ditempatnya mengerjakan laporan.


"Sudah saatnya Dewi. ayo, kita berangkat." titah sang direktur.


Dewinta mengangguk lalu bangkit. sedangkan Kenzie telah melangkah duluan disusul oleh Dewinta yang sudah mengepit beberapa berkas dalam portofeuille. keduanya melangkah menuju lift.


Dewinta memencet tombol. pintu itu membuka. Kenzie duluan melangkah masuk lalu Dewinta. keduanya berdiri diam dalam ruangan lift itu hingga akhirnya terdengar dengungan mesin dan keduanya sudah di lobi kantor. Kenzie melangkah santai keluar dari lift disusul Dewinta.


dalam perjalanan keluar ruangan, Kenzie berpesan. "Jangan kuatir, kau lakukan cara apapun untuk menekan perusahaan-perusahaan lainnya agar seiya-sekata dengan keinginanku. aku berharap begitu. kau bisa melakukannya, kan?"

__ADS_1


Dewinta memgangguk mantap. "Serahkan pada saya, Pak."[]


__ADS_2