
Trias sudah mengantar Saripah menggunakan BMW R18 milik gadis itu. motor CBR antiknya ditinggalkan dihalaman kediaman Lasantu. diberanda itu duduk Bakri, Chiyome dan Kenzie. Asiyah memilih tak hadir disana karena mengeloni Sandiaga tidur siang.
anak itu jika dihadapan Aisyah, sangat penurut. berbeda dengan Chiyome, Sandiaga masih sering memperlihatkan kepembangkangannya meskipun masih dalam tahap yang bisa ditolerir wanita itu. Aisyah beberapa kali memberi adik serahimnya itu kiat menghadapi daya pikir Sandiaga yang kadang tak mampu dijangkau oleh Chiyome.
setiap sore setelah tidur siang, Bakri pasti mengajarinya teknik-teknik silat dasar dan Sandoaga dengan kecerdasannya mampu menyerap pembelajaran itu. disekolah, Sandiaga memperlihatkan prestasi yang biasa-biasa saja. dan sangat nampak, menurut laporan guru-guru, anak itu paling tidak mampu menguasai ilmu pasti, terutama matematika dan fisika.
Kenzie berpendapat hal itu biasa saja dan meminta Chiyome untuk tak memaksakan Sandiaga harus bisa menguasai ilmu tersebut.
"Tapi Hubby, baru-baru ini Wiffy membaca beberapa artikel. dan itu mencemaskan Wiffy. kita akan menghadapi revolusi industri 4.0 dan itu sangat rentan jika kita tak bisa mengikuti perkembangannya." kilah Chiyome.
"Ya... Hubby sudah berapa kali mendengarnya lewat seminar-seminar daring yang Hubby ikuti ditengah waktu luang dikantor. revolusi itu memadukan sistim kerja mesin, kecerdasan buatan dan alur kerja dalam setiap proses keseharian kehidupan manusia." timpal Kenzie.
"Smart Technology akan menjadi urat nadi dalam kehidupan semuanya termasuk perusahaan. Buana Asparaga.Tbk harus menangkap peluang itu. ini sangat menjanjikan, meskipun..." Bakri menatap Kenzie, "Ancaman yang dihasilkan juga besar."
"Dalam cetak biru Making Indonesia 4.0 yang dipaparkan pimpinan Kadin Gorontalo, perusahaan kita paling berpeluang karena Buana Asparaga.Tbk selain bergerak dibidang ekstraksi juga bergerak dibidang manufaktur. produktivitas dibidang itu akan sangat meningkat dengan pesat." ujar Kenzie melipat tangannya.
ketiga pentolan Buana Asparaga.Tbk itu duduk terdiam memikirkan apa yang bermain-main dalam benak mereka. Bakri menatap Kenzie.
"Cara paling gampang adalah memberdayakan usaha mikro, kecil dan menengah." ujar Bakri.
Kenzie menatap Bakri dengan penuh minat. "Terus?"
"Aku akan membuat situs platform yang aan memfasilitasi proses produksi dan marketingnya. kedepan, Buana Asparaga.Tbk akan memiliki pusat jaringan data cloud, sistim pengendalian internal dalam mendukung infrastruktur broadband yang dikelola Buana Asparaga.Tbk." sambung Bakri.
"Kalau begitu, kita harus memperkuat tim tangan ketiga. mereka tembok pertama pertahanan. para peretas akan dengan gampang menyusup dan merampok produk kita jika tidak ditangani sebaik-baiknya." timpal Kenzie.
"Bukankah Trias juga masuk dalam tim tangan ketiga Buana Asparaga.Tbk?" celetuk Chiyome.
"Kita tidak bisa lagi mengandalkan Trias. dia sekarang sudah menjadi aparat hukum. jika memaksa, dia harus memilih keluar dari kepolisian." jawab Kenzie.
"Tapi.... kita masih bisa meminta bantuannya, kan?" kata Chiyome.
"Bisa saja, selama tidak mengganggu asas profesional dan proporsionalnya sebagai petugas negara." jawab Kenzie lagi.
ketiganya kembali diam dalam pikirannya masing-masing. Bakri kemudian menghela napas dan mengangguk. "Aku aka ke Bone Bolango, mengawasi pekerjaan PT. Gelora Indah. menurut laporan via konferensi jarak jauh, pimpinan proyek menyatakan pekerjaan mereka telah rampung 70% dan meminta pencairan termin kedua dari kita."
"Kenapa kakak repot-repot kesana? suruh saja bagian inspeksi yang kesana. suruh dia rekam pakai video, mana-mana saja yang sudah selesai." ujar Kenzie.
Bakri hanya tersenyum. "Aku sekalian dengan tim inspeksi saja. selama seminggu aku akan touring semua proyek yang sementara dikerjakan atau yang telah selesai untuk diadakan evaluasi tingkat lanjut. aku hanya ingin mataku benar melihat semua. bukan berarti aku pelit. aku hanya menjaga amanat ayah mertua."
Kenzie menarik napas panjang, "Terserah kakak saja. kalau begitu, aku hubungi Om Endi untuk memgerahkan orang-orangnya mengawal kakak dan tim inspeksi."
"Nggak usah. akan menambah beban pengeluaran anggaran perusahaan." tolak Bakri.
"Nggak! aku akan tetap mengadakan pengawalan." tandas Kenzie. "Aku Direktur Utama Buana Asparaga.Tbk dan aku perintahkan kakak mena'ati permintaanku kali ini." lelaki bercambang tipis itu bangkit lalu berbalik meninggalkan beranda.
"Ken, tunggu! bukan maksud kakak..." sela Bakri hendak bangkit mengejar Kenzie, namun Chiyome bangkit menghentikannya.
"Sudahlah Kak. menurut saja. Hubby sangat mengkuatirkan Kakak sama Kak Ais. sudah lupa kejadian-kejadian kemarin yang menimpa kakak dan kak Ais?" ujar Chiyome mengingatkan.
"Tapi itu pemborosan, Chiyo. pengawalan tidak ada dalam anggaran pengeluaran perusahaan. aku sendiri yang buat draftnya!" kata Bakri.
__ADS_1
"Dan Hubby yang merubahnya dalam rapat direksi, saat kakak nggak hadir waktu itu." jawab Chiyome. "Sudahlah. turuti saja. insting entrepreneurnya kuat sekali. sekali ini, iyakan saja, ya?" pinta wanita itu.
Bakri menghela napas dan duduk lagi. sedangkan Chiyome berbalik meninggalkan lelaki itu dan masuk kedalam rumah. wanita itu menyusul Kenzie ke kamar. ia mendapati lelaki bercambang halus itu sementara mengganti pakaiannya.
Chiyome mendekatinya dengan pelan, lalu perlahan melingkarkan kedua tangannya dari belakang. Kenzie melepaskan pakaian dalam genggamannya lalu berbalik dan memeluk istrinya. wajah itu maju mengecup pipi Chiyome.
"Uhhh... nyium Wiffy kok nafsu Hubby naik ya? Wiffy pake apa sih, memggoda sepanjang jaman." rayu Kenzie.
"Mau gombal lagi?" bisik Chiyome dengan senyum.
"Kalau sama istri sendiri mah berpahala, tahu?" ujar Kenzie langsung mengendong istrinya gaya bridal dan melangkah menuju ranjang. wanita itu didudukkan dengan lembut disisi ranjang sementara Chiyome membelai-belai dada suaminya.
"Hubby marah sama Kak Bakri?" tanya Chiyome.
Kenzie membuang napas. "Marah sih nggak. cuma kesal saja. setiap penawaran saya selalu ditolaknya. memang dia nggak mikir Kak Ais? memang dia manusia super? sudah lupa kayaknya waktu dikepung preman -preman bersenjata. kalau bukan Hubby lacak mobilnya, sudah koit! koit!" omel Kenzie dengan gusar.
Chiyome tersenyum lalu membelai lagi dada Kenzie. "Dia sudah mau kok." jawab Chiyome dengan lembut. "Tapi, Hubby arahkan ke orang-orang untuk menyenternya cukup dari jauh saja dan seperti cara Hubby kemarin. pakai pelacak."
"Kak Bakri mau, kok begitu syaratnya? waahhh... nggak benar ini! kali ini aku akan benar-benar memarahinya!" ujar Kenzie hendak bangkit tapi langsung ditahan Chiyome hingga lelaki itu terduduk kembali.
"Biarkan saja." pinta Chiyome. "Bagaimanapun, dia adalah kakak. dia lebih tua dari kita. lagipula, Kak Bakri adalah guri silat Hubby. kekerasan Hubby kepadanya akan berdampak pada tidak harmonisnya hubungan guru dengan murid."
Kenzie terdiam. ia merenung. kata-kata wanita itu merasuk dalam kepalanya. akhirnya ia mengangguk. "Kau benar. di kantor, aku memang atasan. disini, bagaimanapun aku seorang adik dan dia seorang kakak." ujar Kenzie.
"Hubby memang sosok paling bijak yang kukenal." puji Chiyome.
Kenzie tertawa. "Okey, okey...Wiffy menang... tapi ada syaratnya." ujarnya sambil tersenyum nakal.
Chiyome mengeluarkan kaosnya membiarkan BH yang menangkupi kedua pegunungan itu disana. wajah wanita itu meskipun telah lama bersanding, masih juga menampakkan rona kemalu-maluan. Kenzie paling senang menatap ekspresi wajah wanita itu. sangat menggairahkan dan takkan pernah menyurutkan hasratnya menguasai bagian terdalam milik istrinya.
dan dalam waktu yang tak begitu lama, keduanya telah hanyut dalam kegiatan menyalurkan aliran air pradhana dan purusa menuju lubuk kamaloka, dalam upaya menerbitkan sebuah bentuk kehidupan baru.
...*******...
lagi-lagi Sandiaga berbuat ulah!
anak itu yang sekarang duduk dikelas tiga, langsung membuat pernyataan menolak klaim para guru tentang para penemu-penemu yang telah banyak diketahui warga dunia bahkan tercetak jelas dalam pemikiran anak-anak.
lagi-lagi kepala madrasah menjadi penengah dalam debat gelar wicara secara langsung di dewan guru. Chiyome berkali-kali hanya bisa memelas dan menutup wajah karena malu melihat para guru yang menjadi lawan tanding putranya.
permasalahannya, para guru itu adalah para pendidik yang telah berpengalaman, tersertifikasi sesuai bidangnya masing-masing. dan kali ini, Kepala madrasah menjadi moderator dalam gelar wicara itu.
"Baik... Ibu Maslamah Bilondatu, S.Pd sebagai guru kelas tiga menjadi pihak pertama yang menuntut pernyataan dari pihak kedua dalam hal ini anak didiknya sendiri, Sandiaga Hermawan Lasantu. sekarang kita akan dengar apa yang menjadi sumber perdebatan ini." ujar kepala madrasah mempersilahkan guru kelas itu menyampaikan orasinya.
"Begini pak... tadi, saya membahas tentang berbagai penemuan yang mengubah dunia. saya menyinggung tentang Alexander Graham Bell yang menemukan pesawat telpon, Guilermo Marconi yang merintis penggunaan radio, Galileo Galilei yang merupakan ilmuwan dunia, dan Thomas Alfa Edison." papar Ibu Maslamah emosi sambil menatap Sandiaga yang juga menatapnya dengan tenang. "Tiba-tiba Sandiaga langsung menyangkal hal itu. tentu saya tidak terima. saya ini guru kelas tersertifikasi Pak. berarti keilmuan saya tidak dihargai anak ini."
kepala madrasah manggut-manggut. ia kemudian menatap Sandiaga yang tetap duduk dengan tenang. "Bagaimana denganmu nak?"
"Pak, saya menjawab sesuai dengan apa yang saya tahu melalui sumber-sumber tertentu. benar dalam kasus ini Alexander Graham Bell menemukan telepon. tapi apakah ibu bisa menalar? bagaimana mungkin orang yang menderita tuli bisa menemukan telpon? bagaimana ia mengetesnya?" pancing Sandiaga membuat Ibu Maslamah terdiam.
kepala madrasah tersenyum. anak yang jenius...
__ADS_1
Sandiaga melanjutkan. "Ibu mungkin tidak tahu, latar belakang ia berhasil menemukan telepon? apakah ia benar-benar mengerjakan proyek itu? tidak sama sekali! ketika menguji suatu intensitas bunyi, Antonio Meucci, partner kerjanyalah yang menemukan teori intensitas bunyi tersebut. ketika dia mengajukan hak patennya, departemen yang bergerak dibidang itu menundanya berkali-kali, hingga Alex memanfaatkan hal itu menyuap departemen tersebut untuk mengklaim bahwa telepon adalah karyanya. Meucci tidak terima. ia mengajukan tuntutan dipengadilan dan sayangnya, pada saat penuntutan itu, Meucci wafat sehingga klaim paten telepon tetap berada ditangan Alexander yang tuli!" ujar anak itu mengakhiri penuturannya.
tanpa sadar guru yang lain bertepuk tangan membuat Ibu Maslamah memelototi mereka. sang guru panas bukan main dijatuhkan oleh anak didiknya sendiri.
"Baik... rupanya kamu pintar juga ya?! dan apakah kamu berpikir bahwa radio bukan hasil karya Marconi?!" tantang Ibu Maslamah.
"Ide tentang radio transmisi panjang sebenarnya adalah penemuan Nicola Tesla. tapi Guilermo Marconi kemudian menyuap seorang bankir Amerika yang memuluskankannya mendapatkan hal paten tersebut. namun pada tahun 1943, paten itu dibatalkan." jawab Sandiaga. kali ini ia menantang. "Apa ibu masih punya pertanyaan lain?!"
para guru tertawa, sedangkan wajah Ibu Maslamah makin merah. Sandiaga kemudian melanjutkan lagi. "Seorang akar lensa berkebangsaan Belanda, Hans Lippershey pertamakali membuat sebuah teropong. ia mengajukan hak paten namun pengadilan belanda berdalih bahwa benda karyanya gampang ditiru. Hans putus asa dan melupakan karyanya. berita itu terdengar oleh Galileo yang kemudian membuat teropong dengan mempergunakan teori Hans namun memodifikasi sedikit dan tebak?.... dia mendapatkan hak paten untuk itu."
"Bocah... siapa sebenarnya kamu?" desis Ibu Maslamah dengan lirih.
"Ibu jangan bercanda! saya anak didik ibu! saya, Sandiaga Hermawan Lasantu, anak kelas 3 MI Al-Khairaat Gorontalo." ujar Sandiaga dengan serius.
"Tapi... kenapa? kenapa kamu bisa tahu hal-hal semacam itu?" tanya Ibu Maslamah.
Sandiaga tertawa. "Karena saya punya guru yang hebat, seperti Ibu!" ujarnya tegas. "Ibu yang membuat saya penasaran mencari semua hal setelah ibu mengajarkan semuanya pada kami. perbedaannya, mereka tak mencari, tapi saya mencari!"
semua guru termasuk kepala madrasah bertepuk tangan mendengar jawaban anak itu. dan Ibu Maslamah yang tadinya berang, justru menjadi haru dan langsung memeluk Sandiaga dengan erat. wanita itu bangga.
"Ibu mengaku kalah darimu. tapi Ibu bangga." ujar Ibu Maslamah tersedu. Sandiaga hanya menyapu punggung gurunya.
"Saya hebat, karena saya sekolah disekolah yang hebat, punya guru yang hebat dan... punya orang tua yang hebat." jawab Sandiaga lagi.
"Dasar penjilat!" omel Chiyome namun ia tersenyum. "Sini kamu, biar Mama peluk!"
"Nggak mau ah. aku sudah besar!" tolak Sandiaga melepas peluka ibu gurunya dan menatap Chiyome dengan jutek.
"Sandi.... kamu bisa sepintar ini, belajar dimana?" selidik kepala madrasah.
"Saya banyak membaca artikel yang dibaca Umi Ais. saya banyak diajar olehnya." jawab Sandiaga.
"Umi Ais?" tanya kepala madrasah menatap Chiyome.
"Kakak saya. bibinya, namun ia sering menyebutnya Umi." jawab Chiyome.
"Kalau nanti ada lomba debat? Sandi, Bapak ikutkan ya?" pinta kepala madrasah.
"Nggak ah... saya mempelajari ilmu bukan untuk debat." tolak Sandiaga kemudian melangkah menuju pintu dewan guru.
"Jika tidak begitu.... kamu maunya apa?" tanya Chiyome.
Sandiaga berhenti lalu membalik. Chiyome dapat dengan jelas melihat tatapan anak itu. tatapan penuh ambisi. tatapan seorang penguasa.
"Saya ingin.... menjadi Raja Dunia!!" seru Sandiaga mengangkat kedua tangannya keatas.
DUAR!!! GELEGUARRRR!!!! DDDDRRRRRRTTTT.... DRRRTTTTT....
seketika terdengar guntur menyahut di siang bolong itu. semuanya kaget sedang Sandiaga menurunkan tangan dan melangkah meninggalkan dewan guru. seketika, Chiyome terkenang lagi ucapan almarhum Bapu Ridhwan kepadanya.
anak ini akan mewarisi darahku dan Mamoru... dia akan menjadi raja... dia calon penguasa dunia!!!! []
__ADS_1