Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 148


__ADS_3

Trias memandang pintu gerbang SPN. disana nampak beberapa orang tua siswa yang diundang menghadiri upacara pengukuhan. namun dibalik kerumunan itu, mata awasnya tak menemukan sosok Ayahnya, Adnan dan kedua sahabatnya.


"Trias, cepat! gladinya akan segera dimulai!" teriak salah satu perwira pengasuh.


Trias menoleh ke lapangan, kemudian melempar lagi pandangan ke gerbang SPN. apa mereka nggak jadi datang?


panggilan terhadapnya dari perwira pengasuh terdengar lagi. kali ini lebih keras. dengan lesu, lelaki itu berbalik dan berlari menuju lapangan.


Trias tak perduli lagi saat dia dibentak-bentak oleh pengasuh. pikirannya tak berada disitu. samar-samar pengasuh menghardiknya.


"Paham kau?!" seru pengasuh tersebut.


Trias gelagapan dan langsung menegakkan tubuhnya. "Siap! paham, komandan!" jawab Trias dengan tegas.


"Turun!!" seru pengasuh tersebut.


dengan dongkol yang ditahan, Trias terpaksa turun dan melakukan push up dengan cepat. pakaian PDUP nya kotor pada sisi-sisinya tersentuh debu-debu dilapangan itu.


"Naik! kembali ke barisan!" seru pengasuh itu.


Trias bangkit dan berdiri tegap. "Siap! terima kasih!" serunya.


lelaki itu berbalik dan melangkah setengah berlari menuju barisan. ia menyisip pada banjaran dan berdiri tegap. gladi dilakukan untuk mempermantap agar dalam kegiatan upacara yang sebenarnya tidak menemui kesalahan.


para perwira resepsionis menerima rombongan undangan yang sebagian terdiri atas orang tua, kerabat bahkan pacar dari siswa yang akan mengikuti pengukuhan tersebut. sekali lagi dalam kegiatan gladi, Trias memandang dengan tatapan peripheral menelisik keberadaan ayahnya, Adnan, Kenzie dan Chiyome serta Saripah.


lesu benar hati lelaki itu. orang-orang yang dianggapnya sangat berarti belum juga menampakkan diri. apalagi gladi akan segera berakhir dan upacara pengukuhan yang sebenarnya sudah akan segera dimulai.


para siswa bintara membentuk banjaran dibagian timur sedang para civitas akademika SPN Batudaa berdiri disisi kiri barisan siswa menghadap ke utara. para tamu atau undangan duduk ditenda dibagian kanan siswa mengjadap ke selatan, setatap dengan para Civitas Akademika SPN Batudaa.


disisi kanan para tamu, berdiri empat orang perwakilan siswa bintara yang akan melakukan sumpah keanggotaan, dipilih empat keyakinan agama. sedang disisi kanan mereka berdiri perwakilan dua orang siswa yang akan melakukan penanggalan tanda siswa.


jauh diujung sudut kanan, nampak beberapa petinggi polri dilingkungan daerah Gorontalo. diarah barat nampak berdiri empat orang rohaniawan berdasarkan agama yang dipeluknya. mereka merupakan pejabat kementerian agama yang dimintakan bantuannya. dan jauh dibagian ujung barat daya, berdiri protokoler.


bendera Merah Putih berkibar tegak di tengah lapangan tersebut. komamdan Upacara adalah salah satu Ketua murid yang ditunjuk. ia menyandang pedang kavalery jenis cholichemarde yang diberi rumbai merah pada ujung gagangnya. Komandan Upacara tidak mengenakan PDUP, melainkan PDL A2, yaitu pakaian siap tempur.


upacara itu dimulai.


🔊 "Persiapan personel upacara!" seru protokoler.


para siswa bintara mengenakan PDUP berdiri tegak. komandan upacara menghunus pedang dan menetakkannya searah pada lengan kanannya, berdiri tegak. ia berbalik menghadap kepada banjaran siswa bintara.


"Perhatian, seluruhnya.... istirahat di TEMPAAAaaaat... GRAK!!!" seru komandan upacara.


barisan siswa bintara mengambil postur istirahat. komandan upacara berbalik menghadap kearah bendera lalu mengambil sikap istirahat.


pendamping upacara, seorang perwira berpangkat Iptu, maju menghadap inspektur upacara yang tak lain adalah Kepala Kepolisian Daerah sendiri, yang memberitahukan bahwa upacara pengukuhan anggota kepolisian akan dimulai dan diminta untuk menuju tempat inspeksinya.


dikawal pendamping upacara, Kapolda maju menuju tempatnya dan setelah itu pendamping upacara kembali ke tempatnya semula.


komandan upacara mengambil posisi siap lalu menyeru. "Perhatian seluruhnya... SIAAAAAAAaaaaaap....GRAK!!!"


banjaran siswa bintara itu mengambil posisi siap. protokoler kemudian berseru.


🔊 "Menyanyikan Himne Polri..."


dirigen kemudian melakukan gerakan birama maka melantunlah nyanyian himne polri yang ditembangkan oleh seluruh peserta, terkecuali para tamu dan keempat rohaniawan.


setelah menyanyikan lagu himne polri, protokoler kembali menyambung.


🔊 "Penghormatan kepada inspektur upacara!"


komandan upacara berseru, "Kepada, Inspektur Upacara... HORMAAAAAAT.... GRAKKK!!!" setelah itu Komandan Upacara mengambil postur penghormatan gaya bersenjata di ikuti oleh para siswa bintara yang mengambil postur penghormatan tanpa senjata.


Kapolda sebagai Inspektur Upacara membalas penghormatan. Komandan upacara kembali berseru. "TEGAAAAP... GRAKKK!!!"


komandan upacara kembali ke postur siap diikuti para siswa bintara. protokoler kemudian menyahut lagi.


🔊 "Laporan..."


Komandan Upacara melangkah maju menuju tempat Inspektur upacara lalu berhenti beberapa jarak dari panggung rendah itu. ia kemudian menyampaikan laporannya dengan suara yang keras dan mengguntur.


"Laksanakan!" seru Inspektur upacara.


"Laksanakan!!" balas komandan upacara kemudoan berbalik dan melangkah kembali ke tempatnya.


🔊 "Pernyataan Penutupan Pendidikan Secaba polri Tahun Ajaran 2023." seru protokoler.

__ADS_1


pendamping upacara maju membawa sebuah map berisi Surat Pernyataan Penutupan Pendidikan. ia berhenti dihadapan Inspektur Upacara kemudian mengulurkan map tersebut. Inspektur upacara meraih map tersebut dan membukanya kemudian membacakan surat pernyataan itu disaksikan oleh para tamu undangan. selesai membacakan surat tersebut, Inspektur upacara menutup kembali map dan menyerahkannya ke pendamping upacara. pendamping upacara berbalik dan melangkah meninggalkan panggung menuju kembali ke tempatnya.


🔊 "Penanggalan tanda peserta, penyematan pangkat efektif, penerimaan Ijazah dan tanda penghargaan." seru protokoler.


sesuai perintah, dua orang wakil siswa kemudian maju dengan tegap mendekati panggung kemudian berdiri dihadapan inspektur upacara. mereka melapor bahwa siap melepaskan tanda peserta dan menerima pangkat efektif.


Inspektur upacara menuruni panggung dikawal oleh pejabat pembawa nampan. ia melepaskan tanda latihan yang tersemat dipundak kedua siswa tersebut dan meletakkannya di nampan. selanjutnya Kapolda mengambil dua tanda pangkat efektif lalu menyematkannya di pundak. setelah itu Kapolda mengambil gulungan berisi ijazah dan menyerahkan benda itu masing-masing kepada dua siswa perwakilan tersebut. setelah menerima anugerah itu, perwakilan siswa itu berbalik melangkah kembali ke tempatnya semula.


🔊 "Pembacaan sumpah dan janji sebagai anggota kepolisian negara republik indonesia!" seru protokoler.


lima orang siswa bintara masing-masing mewakili agama mereka maju serentak membentuk barisan mendekati panggung. mereka tiba dan menghadap kepada Inspektur upacara. siswa yang berada dikanan melaporkan bahwa mereka siap disumpah.


rohaniawan maju masing-masing kemudian berdiri dibelakang lima perwakilan siswa itu. mereka berlima kemudian meletakkan masing-masing kitab suci keatas kepala.


Inspektur upacara menatap kelima siswa tersebut. "Bersediakah saudara-saudara untuk diambil sumpah menurut keyakinan agama masing-masing?" tanya Kapolda.


"Bersedia!!!" seru kelima siswa tersebut.


Inspektur upacara kemudian membacakan sumpah yang diikuti oleh kelima siswa perwakilan tersebut. setelah pembacaan sumpah, kelima perwakilan itu kemudian masing-masing maju menandatangani pakta sumpah yabg mereka deklarasikan. setelah penandatangan itu, masing-masing kembali ke tempatnya.


🔊 "Amanat!" seru protokoler.


komandan upacara langsung tanggap. "Kepada seluruh peserta upacara.... Istirahat di tempaaaaaaaatttt... Grakkk!!!"


barisan siswa dan civitas akademika SPN Batudaa mengambil pose istirahat. sementara Kapolda memberikan amanat, Trias kembali dengan awas menatapi barisan para tamu dan undangan. kali ini ia memperhatikan satu persatu wajah para undangan yang duduk dengan santai didalam tenda.


sekali lagi, lelaki itu mengeluh dengan lesu. keberadaan mereka tak berada disana. Kapolda terus memberikan motivasi bagi siswa untuk meningkatkan prestasi dan prestige agar disegani kawan maupun lawan.


pemberian amanat itu hanya berlangsung singkat, sebab Kapolda masih memiliki agenda lain untuk terbang ke Papua, memberikan dukungan moril bagi pasukan polisi yang bertugas di Papua tersebut.


🔊 "Laporan penutupan!" seru protokoler.


komandan upacara tanggap langsung menyiapkan pasukannya. "Kepada.... seluruh peserta upacara...Siaaaaap... Grakkk!!!"


seluruh siswa kemudian mengambil sikap siap. protokoler melanjutkan pembacaan acara berikutnya.


🔊 "Pembacaan doa!" seru protokoler.


rohaniawan beragama islam kemudian maju selangkah dan membacakan doa berbahasa arab. para tamu mengaminkan apa yang didoakan rohaniawan. setelah membacakan doa, rohaniawan itu kembali ketempatnya.


komandan upacara kemudian melangkah maju mendekati panggung lalu berseru, "Lapor! upacara telah selesai! laporan selesai"


"Kembali ke tempat!" jawab Inspektur upacara.


"Kembali ke tempat!!" timpal komandan upacara lalu berbalik kembali menuju ke tempatnya.


🔊 "Penghormatan kepada inspektur upacara!" seru protokoler.


"Kepada Inspektur upacara ... hormaaaaaatttt.... Grakk!!" seru komandan upacara kemudian melakukan gerak penghormatan diikuti oleh semua siswa bintara.


"Tegaaaaaaapppppp... Grakk!!!" seru komandan upacara.


banjaran siswa itu kembali menurunkan tangan dan bersiap. protokoler kembali mengucap.


🔊 Menyanyikan lagu... himne polri."


maka serentaklah seluruh siswa, civitas akademika, dan pejabat senior menyanyikan lagu tersebut hingga selesai.


🔊 "inspektur upacara kembali ketempat semula." seru protokoler. Kapolda berbalik menuruni panggung dan kembali ke tempatnya dibarisan pata pejabat petinggi kepolisian. setelah itu muncul pemandu upacara yang kemudoan menghadap Kapolda dan melaporkan bahwa upacara pengukuhan dan pelantikan pejabat pertama kepolisian akan segera diakhiri. setelah melaporkan itu, pemandu upacara berbalik kembali menuju tempatnya.


🔊 "Laporan pemimpin regu kepada Komandan Upacara." seru protokoler.


Salah satu siswa yang berdiri diujung maju menghadap komandan upacara dan melaporkan keadaan pasukan.


"Bubarkan!!!" sahut komandan upacara.


"Bubarkan!" jawab pimpinan regu kemudian berbalik dan melangkah kembali menuju barisan para siswa dengan menyisip disana.


Komandan upacara kemudian menyarungkan pedangnya lalu berbalik melangkah meninggalkan pasukan menuju tempatnya diantara perwakilan para siswa.


🔊 "Upacara selesai!" seru protokoler.


"Pasukan! Bubar!" seru pemimpin regu.


dan upacara itu selesai dengan bubarnya pasukan. beberapa pejabat tinggi saling menyalami satu sama laim. begitu juga para undangan. Trias dengan lesu melangkah ketika terdengar seruan seseorang.


Trias menoleh dan nampaklah Endrawan yang mengenakan pakaian batik bersama Adnan dan Mariana. ketiganya berdiri dengan senyum yang berkembang.

__ADS_1


"Selamat ya, Nak..." ujar Endrawan dengan suara gemetar.


rasa haru seketika memuncak dan Trias langsung bergegas menghambur kearah ketiga orang itu. tanpa suara yang terdengar, hanya tangis kebahagian, Trias memeluk erat Endrawan yang terlihat lebih kekar darinya. lelaki itu mencium pipi ayahnya. Adnan dan Mariana hanya bisa menatap haru. lama keduanya berpelukan, akhirnya Endi melepaskan pelukannya.


"Kamu sudah menemukan apa yang kejar?" tanya Adnan dengan lembut.


"Om..." Trias kemudian memeluk lelaki yang dianggapnya seperti ayahnya sendiri.


dan memang Adnan mengadopsi Trias, jauh sebelum anak itu menyadarinya. semuanya karena hubungannya dengan Endi. kematian istrinya Endi sempat membuat lelaki itu nyaris jatuh ke titik nadir, kalau saja Adnan tidak kembali bertindak.


Adnan melepas pelukan putra angkatnya. "Maaf, mungkin kamu kesal mencari-cari keberadaan kami dalam barisan undangan itu. kami sengaja sembunyi untuk membuatmu surprise. sebenarnya kami sudah berada disana, hanya saja sengaja tak menampakkan diri."


"Saya justru berpikir, Abah dan Om serta Tante nggak datang." timpal Trias menyeka air matanya.


Adnan mengangguk-angguk. "Sudah, hentikan tangis lebaymu itu." olok Adnan. "Kenzie, Chiyome dan Saripah... menunggu didepan asrama kamu. temui mereka."


tanpa menunggu perintah selanjutnya, Trias langsung berlari menuju asrama sedang ketiga orang itu kembali berbaur dengan barisan para undangan.


Trias terus berlari menyeberangi lapangan yang masih penuh dengan para siswa dan civitas akademika yang masih betah bercengkerama disana meskipun matahari telah bergerak sepenggelahan naik. ia menyusuri halaman berumput lalu menjajaki lantai koridor yang membawanya menuju asrama.


dan disana, ia berhenti sejenak menatap Kenzie sendirian yang juga menatapnya. lelaki berpakaian stelan jas formal iti menyandang senyum simpatiknya.


"Halo jagoan." sapa Kenzie, "Kamu nggak datang menyapaku?"


Tangis kembali pecah tanpa suara. Trias berlari dan menghambur memeluk sahabat karibnya itu. Kenzie hanya menebar senyum saja dan menampar lembut punggung polisi muda yang mengenakan PUDP itu.


tak lama Chiyome muncul bersama Saripah. Trias melepaskan pelukannya lalu melangkah mendekati Saripah.


"Selamat ya, Abah... kamu sudah dapat yang kau kejar." ujar Saripah dengan suara gemetar.


"Umma..." sebut Trias langsung memeluk kemudian meraih pipi gadis itu, dan seketika mendaratkan ciuman penuh gairah berbalur rasa rindu. Saripah ikut menanggapinya dan melingkarkan kedua tangannya memeluk leher bintara itu.


Chiyome mendekati Kenzie dan memeluk pinggang suaminya sambil tetap menatap kearah pasangan yang melampiaskan rindu itu. tak lama lagi muncul pula Adnan, Mariana dan Endi. ketiganya sempat terkejut melihat adegan itu.


Endi hampir saja meneriakkan kalimat istighfar. ingatan tentang Trias yang mencium mendiang Inayah dihadapannya itu masih berbekas. Adnan buru-buru membekap mulut lelaki berkepala plontos itu.


Endi gelagapan melepaskan diri namun ia masih tak mampu melepaskan pelukan dan bekapan Adnan.


"Hmmmm.... mmmm..." ujar Endi.


"Diamlah..." ujar Adnan berbisik.


Endi mengangguk-angguk. perlahan Adnan melepaskan bekapannya. ketiganya menonton adegan itu sambil menggelengkan kepala.


"Dasar anak muda jaman sekarang... makin berani pamer kemesraan." komentar Adnan.


Trias melepaskan ciuman dan pelukannya setelah keduanya menyadari nyaris kehabisan napas. setelah menenangkan diri, Trias kembali merengkuh mesra kekasihnya.


"Sudah cukup mesra-mesranya." olok Kenzie.


Trias menatapnya lalu tertawa. ketiga orang tua itu juga ikut bergabung. Kenzie menatap Trias.


"Berapa nilai menembak kamu?" tanya Kenzie tiba-tiba.


"Nilai menembakku, 96 poin." jawab Trias.


"Sialan, kau melampuiku." gerutu Kenzie kemudian merogoh sesuatu dari balik rompi pakaianya. ia menyerahkan secarik amplop putih dengan logo perusahaan Forjas Taurus.


"Apa ini?" tanya Trias.


"Buka saja." sela Kenzie. "Itu hadiah kelulusanmu."


Trias membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah struk pembayaran sepucuk senjata api jenis revolver Raging Bull seri 454. senyum kemudian mengembang dari bibir bintara itu.


"Senjatanya masih dalam pembuatan. itu permintaan khusus, jadinya agak lama pembuatannya." tutur Kenzie. "Kamu nggak perlu repot memakai fasilitas negara. kamu sudah punya milikmu sendiri."


"Makasih Ken..." ujar Trias dengan haru.


"Nanti kita lombaan menembak bersama ya?" tantang Kenzie dengan semangat.


"Tentu... " jawab Trias.


"Kapan kau pulang nak?" tanya Endi.


"Besok Abah... saya masih harus mengikuti satu sesi lagi acara. setelah itu kita dipulangkan dan lusanya langsung melapor ke tempat dimana kita ditugaskan." jawab Trias.


Endi mengangguk-angguk lalu menampar pelan bahu putranya. []

__ADS_1


__ADS_2