
"Aku mencintaimu... Chiyome binti Kameie Mochizuki..." ungkap Kenzie dengan senyum teduh. tatapan wanita itu mengabur karena penuh dengan air yang menggenangi kornea matanya. perlahan air itu tumpah menjebol kelopak mata dan membentuk satu aliran sungai yang menjelajahi pipi putihnya.
Kenzie kembali tersenyum lagi dan mengeluarkan sebuah sapu tangan dan mengulurkannya ke wajah dan menghapus airmata yang mengalir dipipi istrinya. Chiyome mengembangkan senyum yang semakin mengembang menjadi seringai ginsul.
"Ahhh... Hubby jadi ingat waktu itu... Wiffy sewaktu itu masoh ragu dengan tekad Hubby." kenang Kenzie sembari menyendok sedikit Hot plate itu dan menyuapkannya ke mulut Chiyome.
wanita itu dengan tanggap membuka mulut menerima suapan mesra suaminya. Kenzie kemudian tersenyum dan mengajak Chiyome menyantap hidangan.
"Katakan padaku, Wiffy... mengapa Wiffy sewaktu itu ragu menerimaku?" pancing Kenzie.
"Karena waktu itu, Wiffy dalam posisi on mission." jawab Chiyome dengan enteng.
"On mission? dari Otoo-San?" tanya Kenzie.
Chiyome menggeleng, "Bukan. dari Okaa-San. Wiffy diminta untuk mencari Kak Ais dan melindunginya.... sekalian... Wiffy waktu itu ingin mencari lawan tanding..."
Kenzie menatap Chiyome dengan dalam, lalu mengangguk-angguk dan tersenyum. "Untungnya, Hubby tetap nekad mencintai, ya?"
Chiyome tersenyum. "Hubby... terima kasih memberikan hati Hubby untuk Wiffy."
Kenzie terkekeh. "Berarti, sewaktu kita berdua punya masalag yang membuat Hubby harus merenung di gunung, berhubungan dengan jati diri Wiffy sebagai seorang genyosha sekaligus seorang shinobi? begitu?" tebaknya.
"Sekaligus kuatir, Hubby bisa menebak bahwa pembunuh itu adalah Wiffy." jawab Chiyome dengan pelan.
Kenzie kembali mengangguk-angguk. "Berarti, Wiffy punya hutang satu lagi sama Hubby."
Chiyome menatapnya. "Hubby... hutang apa lagi sih?" rengeknya.
"Berikan Hubby, anak lagi... Hubby mau perempuan..." pinta Kenzie dengan senyum.
"Kenapa maunya anak perempuan?" tanya Chiyome.
"Ya... supaya sepasang." jawab Kenzie.
"Wiffy nggak mau ah." tolak Chiyome.
"Kenapa nggak mau?" tanya Kenzie seraya mengambil gelas sirup dan menyeruputnya.
"Nanti Wiffy malah cemburu lagi kalau Hubby malah lrbih perhatian sama anak perempuan kita ketimbang Wiffy." ungkap Chiyome dengan nada merajuk.
"Ya, wajarlah... masa Hubby harus perhatian sama anak perempuan orang lain." timpal Kenzie. "Lagipula, anak kita akan lebih cantik dan dia akan menjadi permata keluarga Lasantu.... seperti Wiffy."
Chiyome tersenyum lalu mengangguk. "Oke deh... Wiffy mau."
keduanya kembali melanjutkan kegiatan santapnya hingga selesai. waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
...********...
Sandiaga sedang duduk menonton tayangan film kartun berbahasa inggris. itu film yang bercerita tentang kehidupan seorang mafia italia, The Godfather. Aisyah muncul dari dapur membawa nampan berisi sepiring penganan gorengan pisang goroho dan dua botol hijau berisi minuman bersoda. jilbaber itu meletakkan kudapan itu dimeja lalu menatap tayangan film itu. ia meringis.
"Aduuh... Sandi, kok film ini yang dinonton?" tegur Aisyah.
"Nggak tahu Umi. Sandi kayaknya senang nonton ini. entah kenapa kehidupan dalam film ini... lekat dengan kehidupan Sandi kedepan." jawab Sandiaga dengan tenang.
Aisyah langsung tersedak. ternyata darah genyosha dalam diri anak itu menggiringnya untuk menonton tayangan-tayangan, entah film fiksi atau biografi yang menceritakan kehidupan bawah tanah yang gelap dan penuh misteri. Aisyah mendesah lalu meraih remote.
"Boleh nggak, Umi ganti channelnya dengan channel lain?" pinta Aisyah.
Sandiaga menatap Aisyah lekat-lekat hingga akhirnya ia mengangguk. "Silahkan Umi."
Aisyah tersenyum lalu menekan remote ke TV, mengganti channelnya dengan salah satu channel televisi yang banyak menayangkan program edutainment, salah satunya ruang guru online. keduanya kemudian menonton tayangan itu sambil menikmati kudapan yang dibuat oleh Aisyah.
setelah tayangan itu selesai, Aisyah menatap ponakannya. "Umi boleh nanya nggak?"
Sandiaga menatap bibinya. "Silahkan Umi."
"Tadi kita kan sudah nonton tayangan itu. Umi mau tanya sama Sandi...." sejenak jilbaber itu menerawang lalu kembali menatap ponakannya. "Kalau bahasa inggrisnya, keluargaku?"
"My...Family.." jawab Sandiaga.
Aisyah tersenyum. "Bagus... kalau bahasa inggrisnya... ibuku?"
"My...Mother..." jawab Sandiaga dengan tenang.
tak lama Bakri muncul dari kamar dan langsung nyeletuk. "Kalau Pacar?"
Aisyah menatap Bakri dengan wajah keruh. anak sekecil ini mana tahu yang namanya pacaran, sayang????
tanpa disangka, Sandiaga menjawab, "My...tua."*)
*) Mytua \= Maitua \= pacar, istri tersayang, istri pertama.
dan keduanya tertawa mendengar jawaban polos anak itu.
tak lama terdengar derum mobil Mc Laren milik Kenzie. terdengar langkah kaki menaiki beranda hingga akhirnya kedua laki-istri muncul diruang tamu. keduanya mendengar tertawanya Aisyah dan Bakri. sedang Sandiaga tetap dudui dengan tenang menonton tayangan edutainment lainnya di channel siaran tersebut.
__ADS_1
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Kenzie.
"Sandi..." jawab Aisyah masih dengan tertawa kecilnya.
"Kenapa dengan Saburo?" tanya Chiyome.
"Nggak usah dianggap serius." sela Bakri karena kuatir Chiyome marah lagi jika keduanya mengungkit jawaban ngawur anak itu.
"Iya. memangnya ada apa dengan anakku?" desak Chiyome bercakak pinggang.
"Wiffy..." tegur Kenzie dengan senyum.
Chiyome menurunkan tangannya dan menatap Bakri. "Kak, apa Saburo berulah lagi?!"
Bakri menggeleng. "Nggak ada. Lillahi Ta'ala, nggak sama sekali."
"Lalu kenapa kalian tertawa?" tanya Chiyome.
"Janji, jangan marah." pinta Aisyah.
Chiyome memicingkan mata. berarti benar, Saburo berulah lagi...
wanita itu memejamkan mata sejenak lalu membuka. "Oke, Adek nggak marah."
Aisyah sejenak menatap Bakri. suaminya mengangguk. jilbaber itu kemudian menatap Chiyome.
"Tadi ada tayangan edutainment berbahasa inggris. setelah tayangan itu selesai, aku nanya beberapa hal pada Sandi dalam bahasa inggris. tiba saatnya tiba-tiba Bakri nyeletuk, kalau bahasa inggrisnya pacar apa? Sandi langsung jawab... Maitua..." tutur Aisyah.
seketika Kenzie tertawa kemudian melangkah menuju sofa dan langsung mengangkat dan menggendong putranya. "Anak Papa, cerdas juga ya?" pujinya.
"Sandi memang cerdas." timpal Sandiaga, "Sama kayak Papa."
Chiyome mendengus. Sandiaga kemudian tertawa, "Dan kuat seperti Mama." ujarnya.
"Oh ya? memang kamu tahu?" ujar Chiyome kembali bercakak pinggang.
Sandiaga tidak menanggapi ucapan ibunya. anak itu meminta turun dari gendongan ayahnya. Kenzie menurunkan anak itu. Sandiaga melangkah menuju Aisyah dan Bakri.
"Abi, Umi... Sandi ngantuk." ujar Sandiaga.
Bakri tertawa, "Oke deh... Abi kelonin ya?" lelaki itu kemudian menggendong Sandiaga dan melangkah ke kamar.
Chiyome kemudian menatap Kenzie. "Hubby lihat kan? betapa manjanya Saburo kepada mereka. aku saja Ibunya nggak terlalu dihormatinya!" adu wanita itu kepada suaminya.
Kenzie senyum. ia mendekat dan berbisik. "Makanya kita program anak lagi ya? kalau anak perempuan, Wiffy pasti senang."
Aisyah tertawa. "Ya sudah... bikin lagi sana. biar Sandiaga sama kami saja."
"Ya, ambil saja anak tak berguna itu!" ujar Chiyome.
"Wiffy..." tegur Kenzie lagi.
Chiyome menatap suaminya. Kenzie menggelengkan kepalanya berkali-kali. Chiyome menunduk. "Gomen, Hubby."
Kenzie menatap Aisyah. "Besok Kak Bakri suruh masuk kerja ya? kalau cuti lagi nanti berimbas pada perusahaan." tegur Kenzie.
Aisyah mengangguk. "Ya, nanti Kakak sampaikan."
Kenzie mengangguk dan tersenyum. "Kami berdua ke kamar dulu ya, Kak."
keduanya pamit meninggalkan Aisyah sendirian diruangan tengah. jilbaber itu hanya tersenyum lalu kembali memalingkan wajah menonton tayangan film dilayar kaca.
...*******...
di Community House Cafe & Resto, kawanan Pasopati yang lagi santai berkumpul disana asyik menikmati menu malam mereka sebelum akhirnya harus patroli lagi.
Andy Kratos langsung nyeletuk. "Suatu hari ditaman safari, seorang guide tour mengajak para pengunjung mengarungi kawasan itu. para pengunjung tentulah senang. mereka terus menyusuri taman itu hingga melewati kawasan penuh singa."
semua anggota Pasopati memperhatikan Andy Kratos yang bercerita. lelaki plontos bercambang tebal itu menyeruput es kopinya sejenak lalu meneruskan cerita.
"Semua pengunjung ketakutan. dalam pikiran mereka, pasti kawanan singa itu akan menerkam mereka. dengan perasaan takut, guide tour itu keluar dari mobil dan mulai memeriksa mobilnya sambil sesekali melirik kesana-kemari memastikan keadaan." tutur Andy dengan mimik serius.
"Terus, terus?" desak Stephen yang penasaran.
Trias mencermati cerita lelaki plontos itu. Andy meneruskan lagi. "Tiba-tiba seekor singa mendekat. si guide tour itu ketakutan sampai nggak bisa gerak. makin lama singa itu mendekat dan akhirnya...."
"Mati tuh si guide tour. disergap tuh!" sela Marwan Djubu.
"Salah." kata Andy dengan senyum lebar.
"Singa itu lari karena pengunjung dalam mobil berbuat keributan." tambah Stephen.
"Salah lagi..." kata Andy dengan senyum makin lebar.
"Lalu apa dong?" desak yang lainnya.
__ADS_1
"Mau tahu apa yang dilakukan singa itu?" pancing Andy Kratos dengan senyum lebar, "Hewan itu memegang bahu guide tour itu dan berkata: Tenang Mas, saya lagi puasa. apanya yang rusak mas?" jawab Andy menyudahi kisah dan tertawa.
seketika umpatan dan makian para anggota Pasopati lainnya tertuju kepada Andy.
"Eh, lalu aku ketemu perempuan cantik di lorong sebelah kantor kita itu." celetuk Trias.
"Ah masa? perempuan cantik dari mana?" bantah Bambang. "Yang ada tuh cuma Teh Peya yang PNS diruang arsip tuh."
"Swear... aku ketemu perempuan." ujar Trias.
"Siapa namanya?" tanya Andy Kratos.
"Lana..." jawab Trias dengan singkat.
"Lana? Lana mana? aku ini warga Siendeng. aku kenal nama-nama warga disekitar sini sampe jembatan dekat klenteng dan wihara itu." ujar Stephen sesumbar, "Lana mana sih?"
"Itulah... jadi aku tanya dia terus. marganya, nama lengkapnya... akhirnya dengan tersipu ia akhirnya mengangguk dan memberi tahu namanya... lengkap malah.." ujar Trias kemudian menatapi teman-temannya yang lain.
"Namanya siapa?" tanya Stephen dengan penasaran.
"KuntiLANAk jembatan Jodoh!" jawab Trias dengan tenang.
kembali umpatan keluar dari Stephen dan Bambang yang merasa dikibuli oleh Trias. lelaki itu masih dengan wajah serius.
"Aku nggak ngibuli kalian. ini nyata, cerita asli, nggak kayak prokololo si Andy." ujar Trias.
"Dimana tepatnya kamu ketemu dia?" selidik Stephen.
"Di jembatan Siendeng situ sih." kata Trias dengan tenang.
mendadak anggota-anggota Pasopati bergidik. Stephen memberanikan lagi bertanya. "Ngapain kamu lewat situ?"
"Ya kenapa? kupikir nggak ada apa-apa." jawab Trias. "Namanya juga jalan umum. siapa saja boleh melintas toh?"
mereka saling pandang. Marwan menatap Trias. "Kamu... nggak takut?"
"Sedikit... tapi aku berupaya cuek, seakan aku nggak melihatnya." jawab Trias.
"Kamu jangan bikin aku takut dong! aku kan biasa pulang lewat situ!" omel Stephen.
"Ya, ganti rute saja. memutar lewat jembatan klenteng itu." kata Trias memberi solusi.
"Enak saja! tambah jauh, tambah banyak bensin terbuang sia-sia." omel Stephen. "Ahhh, sudahlah. semoga saja perempuan sialan itu tak mencegatku pas melintas."
"Semoga saja begitu." jawab Trias.
teman-temannya tertawa melihat wajah Stephen yang pias. mereka bisa pastikan si polisi pasti nggak akan berani lwwat situ lagi kecuali dikawal. Trias hanya senyum-senyum saja.
"Dulu, sebelum aku memutuskan meniti karir di kepolisian, aku punya cita-cita, yang kuanggap sangat luhur, tapi justru membuat ibu guru marah dan aku diusirnya keluar." celetuk Marwan tiba-tiba.
"Lho? memang cita-cita kamu apa? sampai membuat ibu gurumu mengusirmu dari kelas?" tanya Trias.
"Penggali makam." jawab Marwan dengan singkat.
"Lalu apa hubungannya cita-citamu dengan pengusiran guru terhadapmu?" tanya Trias sendiri tidak mengerti.
Marwan menghela napas lalu berkisah. "Dulu, waktu ku kecil. ibu guruku bertanya kepada semua siswa tentang cita-cita mereka. begitu giliranku, aku menyatakan cita-citaku. ia terkejut. terus dia tanya alasannya mengapa aku memilih profesi sebagai tukang gali kubur."
"Lha.... jawabanmu apa sih?" tanya Trias dengan lirih.
"Aku menjawab, kalau temanku yang bercita-cita polisi itu tak berhasil menangkapnya dan teman lainku yang bircita-cita dokter tak berhasil merawat beliau yang dilukai dan menyebabkan beliau meninggal, maka aku akan..." tutur Marwan tak terlanjut.
"Dan kau akan menyiapkan kuburan gratis untuknya?" tebak Trias diiringi tawa teman-teman Pasopati lainnya. "Gila juga otak kamu ya?"
Marwan hanya tersenyum getir saja. mereka kembali menikmati kudapan mereka. Marwan menatap Ilham. "Ham, kamu punya pengalaman berkesan nggak?"
"Ada." jawab Ilham. "Suatu ketika, aku menyamar sebagai pengemudi angkot. waktu itu aku ditugaskan mengawasi jalanan yang diduga dijadikan tempat balapan liar dan transaksi narkoba."
"Itu, sebelum kau bergabung di Pasopati?" pancing Trias. Ilham mengangguk lalu meneruskan kisahnya.
"lalu tiba-tiba tiga orang pemuda mabuk menghentikan angkot yang ku naiki. supaya tidak curiga, aku mempersilahkan mereka naik kedalam angkotku. kemudian aku mendapat ide nakal untuk mengerjai mereka."
"Aku jadi penasaran, membayangkan apa yang kau buat nanti." ujar Stephen.
Ilham mengangguk. "Karena kutahu mereka mabuk, aku melajukan mobil sejenak lalu mengeremnya kembali. pemuda pertama langsung memberi uang dan melangkah turun. pemuda kedua menyalamiku dan turun. namun pemuda ketiga justru menampar tengkukku."
"Lho? kenapa bisa? lalu bagaimana tindakanmu?!"
"Pemuda ketiga bilang, Bos! jangan ngebut!" jawab Ilham. dan seketika meledak lagi tawa para anggota Pasopati.
Trias melirik arloji. "Eh, sudah waktunya cabut nih." ia menatapi mereka semua. "Sekarang siapa yang tanggung jawab nangkis pesanan kita ini?"
Marwan Djubu tersenyum. "Tenang. malam ini, aku traktir kalian semua." ujarnya.
"Oke kalau begitu. Andy dan Stephen segera siapkan mobil. kita masih punya wakti untuk menggerebek tersangka." ujar Trias.
__ADS_1
maka mereka mengerjakan semua tugas sesuai dengan arahan Trias. setelah Marwan menghubungi kasir dan membayar semua harga pesanan, para anggota Pasopati itu melangkah keluar dari bangunan itu memulai kembali pengembaraan mereka mencari para pelanggar keamanan.[]