Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 45


__ADS_3

esoknya, Aisyah sempat kembali ke rumahnya menyampaikan segala kebenaran yang didengarnya dari mulut gadis jepang itu. Adnan dan Mariana benar-benar terkejut mendengar kebenaran itu. mereka tak menyangka bahwa Chiyome adalah putri dari Fitri Lasabang.


"Dunia memang benar-benar sempit...." gumam Adnan sambil mengusap rambutnya.


Mariana menatapi Aisyah. "Bagaimana menurutmu, Ais... setelah kau tahu bahwa sebenarnya Chiyome adalah adikmu?"


"Mama... tentu saya senang dan bahagia. satu rahasia telag terkuak. dengan ini, saya merasa Allah benar-benar memudahkan jalan kita, Ma..." kata Aisyah.


Mariana diam kemudian menatapi Adnan. jilbaber itu menatapi keduanya. "Kenapa? Mama dan Papa tidak setuju?"


Adnan menghela napas. "Nou, dia itu anak yakuza. kau tahu kan mereka seperti apa?"


"Pa, apakah karena adikku seorang yakuza, lalu Papa akan menghalangi mereka? ingat Pa, nggak ada manusia yang sempurna. aku mendukung Kenzie bukan karena Chiyome itu ternyata adikku. tapi karena mereka saling mencintai. Papa juga memiliki masa lalu yang tak kalah suram dari dia. tapi Ais terima Papa, Ais terima Mama. tidak bolehkah kalian menerima mereka berdua? keduanya sama-sama adik yang Ais cintai. dan keduanya saling mencintai. jangan hanya karena ketakutan masa lalu dan rasa egois membuat Papa dan Mama memisahkan nyawa dari badannya." papar Aisyah mulai menangis.


"Tapi Ais..." kata Mariana.


"Mama.... cinta Ais ke Mama tidak akan berubah walaupun Ais mungkin akan bertemu dengan ibu kandung Ais sendiri. Mama, apa mama takut, keberadaan ibu akan menggeser kedudukan Mama dihati Ais? tidak Ma..bagi Ais, Mama adalah mama dan ibu adalah ibu." kata Aisyah dengan sedu-sedan menggenggam tangan Mariana dan bersimpuh dihadapannya.


"Ma.... bersumpahlah demi Ais, jangan pisahkan Kenzie dari Chiyome hanya karena masa lalunya. pertemukan mereka karena inilah saat yang mereka nantikan. kita sebagai yang lebih tua wajib memahami perasaan mereka dan bukan mengandalkan rasa pengetahuan kita. Ma, berdosa kita memisahkan dua hati yang sudah terlanjur mencintai. kalian sama dengan memisahkan ikan dari air."


Adnan dan Mariana kembali berpandangan. Aisyah memegang tangan mereka berdua. "Kalian berdua adalah orang tua Ais, sebagaimana Ibu dan Om Kameie, juga adalah orang tua Ais, karena Chiyome adalah putrinya. penyatuan mereka akan menghilangkan sekat diantara kita. semuanya ini takdir yang Allah hamparkan untuk kita. Ma... Pa.... Ais mohon..." kata Aisyah kemudian langsung bersujud.


"Ais...." desah Adnan dan Mariana kemudian memaksa jilbaber itu untuk bangkit. "Bangun nak... jangan begini..."


tiba-tiba Kenzie keluar dari kamar. ditatapnya wajah kedua orang tuanya dengan tatapan nanar.


"Apa Papa dan Mama berniat memisahkanku dari Chiyome?!" todong Kenzie.


"Ken. bukan begitu maksud Papa..." kata Adnan.


"Kalian ingin melihat mayatku terbujur disini?!" ancam Kenzie dengan suara yang meninggi.


"Ken! jangan macam-macam kamu!" bentak Adnan dengan khawatir.


"Aku sungguh-sungguh Pa!" tandas Kenzie sambil mengeluarkan pisau cutter dari balik celananya dan menekankan benda tajam iru ke lehernya.


"Kenzie! jangan begini naaaak...!" jerit Mariana kemudian menggoncangkan lengan suaminya. "Paaaa....."


"Kenzie! letakkan pisau itu!" bentak Adnan.


"Apakah karena dia yakuza, dan Papa melanggar janji Papa sendiri?!... lelaki macam apa itu?!" sindir Kenzie masih tetap menempelkan pisau dilehernya. "Patut Papa tahu... biarpun Chiyome ratu iblis sekalipun... aku akan tetap menikahinya!" tandas Kenzie.


"Iya, Papa akan menikahkanmu dengannya!" tandas Adnan dengan emosi kemudian mengusap lagi kepalanya.


Kenzie menatapi Aisyah. "Kakak jangan merendahkan diri hanya untuk meminta restu pernikahan kami." pemuda itu menatapi kedua orang tuanya, "Tanpa itu, kami tetap akan menikah!"


"Kenzie!!!" bentak Adnan.


"Kenapa? Papa marah? Ingat Pa! segala apa yang Papa inginkan selalu Kenzie laksanakan. sekarang, Kenzie ingin... dari hati Papa sendiri..." dalam setiap kalimatnya tanpa sadar pemuda itu menangis. "Dari hati kalian sendiri..... tolong.... satukan kami..."


pemuda itu jatuh bersimpuh dan langsung sungkur bersujud. Aisyah yang tak sanggup melihat adiknya melakukan hal itu, bangkit lalu memeluk Kenzie dan mereka bertangisan bersama.


Adnan menyeka air mata yang membasahi wajahnya, begitu juga Mariana. keduanya sama-sama menangis melihat kekerasan tekad Kenzie mempertahankan cintanya.


"Papa... restui kalian nak... Papa akan nikahkan kalian... ini janji Papa..." ujar Adnan kemudian bangkit dan memeluk putra-putrinya. Mariana juga akhirnya menghambur memeluk mereka dari belakang.


...**********...


hari keempat itu tiba. Kameie dan Fitri tiba di Bandara Jalaluddin Gorontalo. keduanya sudah dijemput oleh Chiyome dan Aisyah. Fitri nampak dengan erat memeluk kedua putrinya itu. sementara Kameie hanya berdiri kikuk menatapi ketiganya saling berpelukan.

__ADS_1




Aisyah menatapi Kameie yang tersenyum kaku kepadanya. jilbber itu melepaskan pelukannya dan mendekati pria itu.


"Om..." sapa Aisyah.


"Apa abar Aisyah?" balas Kameie dalam bahasa inggris diiringi senyum yang kaku. lelaki itu kikuk menyapa putri istrinya dari benih yang lain.


"Bolehkah ku panggil Om dengan panggilan Papa?" tanya Aisyah dengan mata yang basah.


Kameie menatapi jilbaber itu. senyum kakunya hilang dan matanya berkaca-kaca. lelaki iru akhirnya mengangguk dan mengembangkan tangannya.


"Kemarilah nak, peluk Papa!" ujarnya.


seketika Aisyah menghambur memeluk Kameie dan menngis didadanya. lelaki itu tersenyum meskipun matanya telah basah pula. Kameie memeluk Aisyah dengan erat kemudian menatapi Fitri yang mengangguk kepadanya sambil memeluk Chiyome yang juga sedari tadi mewek-mewek melihat adegan mengharukan iru.


"Aaaa.... kalian benar-benar membuat Ayah kehilangan kewibawaan..." ujar Kameie yang kemudian diiringi tawa oleh Chiyome dan Fitri.


masih dengan memeluk Aisyah, Kameie mengajak mereka meninggalkn bandara. mobil travel yang membawa mereka melaju menyusuri jalan trans memasuki kota Isimu. sepanjang jalan, Chiyome tak henti-hentinya bercerita tentang pengalamannya selama bersekolah.


Aisyah benar-benar melihat sosok adiknya yang murni. tanpa sentuhan keangkeran seorang yakuza yang melekat dalam dirinya. bahkan Kameie sendiri tidak nampak seperti seorang preman karena sibuk menggoda dan mengolok Chiyome soal hubungannya dengan Kenzie.


mobil terus melaju menyusuri kota Limboto. Kameie selalu bertanya kepada Fitri perihal tempat tinggal keluarga besarny. Fitri menjawab sekenanya pertanyaan suaminya. keluarga Lasabang tinggal di kelurahan Padebuolo, dijalan Panca Wardana. namun Fitri tidak punya niat mengunjungi keluarga besarnya. wanita itu tidak mau mengorek luka lama yang sudah lama dipendamnya.


mobil sudah memasuki Kota Gorontalo. mereka singgah dulu di sebuah restoran yang menyediakan prasmanan. Fitri layaknya tour guide kembali menjelaskan jenis menu yang ditampilkan dalam baki-baki prasmanan itu.


Chiyome dan Aisyah tersenyum geli melihat Kameie banyak memberikan pertanyaan seputar hidangan tersebut dan dijwab sekenanya oleh istrinya. pemilik kedai sampai heran melihat dua laki-istri bercakap-cakap menggunakan bahasa asing.


keempatnya menikmati hidangan dengan suasana yang sangat akrab. sesekali Kameie mengolok Aisyah yang makan dengan tangan. Chiyome kemudian meledek ayahnya dengan meniru gaya Aisyah sedang makan, yaitu menggunakan tangan.


"Nona, mereka itu orang cina ya?" tanya pemilik kedai tersebut.


Aisyah menggeleng sambil senyum. "Bukan. Mama kami orang indonesia, asli sini. papa kami, orang jepang." jawab gadis itu.


"Waaaa... kamu ini campuran ya?" tanya pemilik kedai itu dengan takjub.


Aisyah senang-senang saja dibilang begitu. gadis itu mengangguk. gadis itu membayar harga pesanan kemudian kembali ke tempat dimana keluarganya sudah menunggu.


"Bu, Ayah.. Ais sudah bayar semua pesanan kita." kata Aiyah. Kameie serentak berdiri.


"Kalau begitu, kita segera pulang ke rumah." ajak Kameie.


"Otoo-Sama... sabar dulu. makanan belum masuk ke lambung... kita istirahat sejenak, boleh,kan?" tegur Fitri sambil tersenyum.


perlahan Kameie duduk lagi. "Sore ga anata no nozominara daijobu..." (baiklah, jika itu keinginanmu)


Chiyome dan Aisyah kembali tertawa melihat Kameie yang dudk tapi dengan wajah yang berenggut. lelaki itu menatapi kedua anak perempuan itu.


"Kenapa kalian berdua tertawa?" tanya Kameie dengan hera.


"Seorang pimpinan cabang kelompok Yamaguchi, tidak berani membantah istrinya.... ternyata, Ayah penakut juga ya?" ledek Aisyah.


"Ayah bukan penakut... ayah hanya menghormati ibumu." jawab Kameie dengan cepat.


Fitri tertawa dibarengi Chiyome dan Aisyah. Kameie hanya tersenyum masam. setelah puas beristirahat, mereka berempat kemudian menaiki bentor. Aisyah menyewa 2 bentor. satunya dinaiki Fitri dan Kameie, sedang satunya dinaiki Chiyome dan Aisyah.


lagi-lagi Kameie membuat ulah karena keawamannya dengan lingkungan barunya. mungkin karena terbiasa duduk dalam mobil, Kameie duduk dan menyilangkan kedua kakinya sedang Fitri hanya tertawa melihat kelakuan suaminya yang kaget dengan situasi saat itu.

__ADS_1


...***********...


Bapu Ridhwan, kakek dari Mariana sudah tiba dikediaman tersebut. meskipun usianya telah mencapai 123 tahun, namun terlihat tubuh ringkih sang kakek masih kuat. mungkin pengaruh kesehariannya bekerja mencari rotan dan damar dihutan membuat fisiknya tertempa dengan pekerjaan keras itu.


ia duduk dilantai karena merasa sofa terlalu empuk dan membuat pantatnya justru terasa ngilu. akhirnya Adnan da Mariana ikut-ikutan duduk dilantai untuk menghormati sesepuh keluarga Mantulangi tersebut.


Adnan sudah membeberkan maksud dan tujuannya mengundang Bapu Ridhwan. kakek itu manggut-manggut.


"Jadi, maksud kalian memanggilku untuk menjadi pihak yang melamar?" tebak Bapu Ridhwan sambil terkekeh. "Aku sudah mempersiapkan segalanya. tapi, kenapa tidak boleh dihadiri keluarga besar?"


"Bapu, cicitmu itu masih sekolah. tapi kami ingin segera menikahkan mereka agar tak terjerumus ke lembah hina. pernikahan ini hanya boleh diketahui dulu oleh kita bertiga, menunggu mereka berdua lulus sekolah, lalu pernikahan mereka diumumkan." jawab Mariana.


"Oooo... begitu.... " gumam Bapu Ridhwan. "Baiklah... Kakek bisa paham."


"Apakah kakek membawa seserahan?" tanya Mariana.


"Tentu saja. tapi kakek tidak beritahukan kepada keluarga besar. mereka tahunya Kakek menemui kamu sambil bawa oleh-oleh. cuma, mereka sempat heran, oleh-olehnya mirip dengan seserahan orang mau nikah." jawab Bapu Ridhwan sambil tertawa terbahak-bahak.


Bapu Ridhwan mengajak mereka keluar. dihalaman terdapat sebuah mobik pick up. sebuah kola-kola (wadah berbentuk perahu terbuat dari bambu kuning) tergeletak disana bersama berbagai jenis barang berharga.


Bapu Ridhwan menatapi keduanya. "Bagaimana? hebat, kan?"


"Bapu. ini agak berlebihan.." kata Mariana dengan malu.


"Eh, siapa bilang ini berlebihan? ini sudah semestinya. ingat! Kenzie itu buyut pertama dari rahimmu. aku tak mau dihina leluhur karena tidak mempersiapkan segala hal tentang buyutku." jawab Bapu Ridhwan sambil menatapi Adnan. "Jam berapa tolobalango akan dimulai?"


(tolobalango \= pelamaran)


"Menunggu kabar dari Aisyah. dia yang nanti akan memberitahu... karena ayah dari gadis itu berkebangsaan jepang." jawab Adnan.


"Japangi? hm... tita tanggu liyo le japangi ti?" (orang jepang? siapa nama si jepang itu?) tanya Bapu Ridhwan.


"Namanya.... Kameie Mochizuki... sedang putrinya yang akan kita lamar, namanya Chiyome Mochizuki." jawab Adnan.


"Mochizuki?" tanya Bapu Ridhwan untuk mempertegas. air mukanya terlihat sedikit berubah dan perubahan itu tak luput dari tatapan Adnan.


"Kenapa Bapu?" tanya Adnan.


"Nggak apa-apa..." jawab Sang kakek.


...*********...


sesuai informasi yang diberikan Aisyah, bahwa keluarga Mochizuki akan menerima pihak keluarga Lasantu-Mantulangi pada malam lepas maghrib. saat itu mobil pick up yang membawa kola-kola telah menyusuri jalanan sedang dibelakangnya nampak Mobil yang dikemudikan Adnan. Kenzie sendiri menaiki sepeda motornya.


rombongan itu disambut oleh Aisyah. setelah mencium tangan kedua orangtua dan kakek buyutnya, Aisyah mempersilahkan rombongan sederhana itu masuk kedalam rumah. Bapu Ridhwan menyuruh pembantunya membawa kola-kola kedalam rumah kediaman Kameie tersebut.


Fitri tak menyangka jika acara tolobalango itu diselenggarakan secara adat. wanita itu tak sempat mempersiapkannya. Bapu Ridhwan tidak mempermasalahkannya. ia hanya menjalankan kewajiban sebagai salah satu pemegang adat budaya Gorontalo.


kola-kola itu diletakkan ditengah lantai. karena Bapu Ridhwan lebih suka duduk dilantai, mau tidak mau Kameie dan istrinya juga duduk dilantai. acara pelamaran dimulai. Bapu Ridhwan bertindak sebagai utusan yang datang untuk melamar Chiyome. karena Bapu Ridhwan menggunakan bahasa Gorontalo dialek Suwawa, maka Mariana menterjemahkannya kedalam bahasa inggris.


Kameie mengangguk-angguk paham, kemudian ia menjawab lamaran itu dengan menggunakan bahasa negaranya. otomatis Fitri yang menjelaskannya ke bahasa indonesia, kemudian diterjemahkan lagi oleh Mariana.


intinya kedua keluarga telah setuju mempertemukan kedua anak mereka dalam mahligai pernikahan. pihak keluarga Lasantu-Mantulangi menawarkan pernikahan siri. namun pihak keluarga Mochizuki-Lasabang menginginkan pernikahan resmi yang diakui oleh negara. maka diambillah jalan tengah bahwa pernikahan itu akan dilaksanakan di jepang.


Kameie meminta Adnan mempersiapkan dokumen-dokumen milik Kenzie yang akan diurusnya di kantor kelurahan, sementara Kameie juga akan mempersiapkan segala dokumen milik Chiyome agar pernikahan mereka tidak menemui hambatan. pihak keluarga akhirnya setuju melaksanakan ketentuan yang telah diberlakukan bersama.


Bapu Ridhwan memimpin acara doa bersama. setelah acara pelamaran selesai. tiba-tiba Bapu Ridhwan mendekati Kameie. ia langsung bertanya...


"Apa dalam keluarga kalian, ada yang bernama Mamoru Mochizuki?" tanya Bapu Ridhwan. []

__ADS_1


__ADS_2