Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 136


__ADS_3

Trias melangkah cepat menyusuri lorong gedung. tujuannya adalah bangunan depan tempat menerima tamu. disana, ayahnya bersama Adnan sedang membesuknya. akhir-akhir ini disebabkan suksesnya kegiatan ujian akhir sehingga para siswa calon bintara dibiarkan menikmati masa jeda sebelum pihak Civitas akademika SPN merumuskan persiapan magang sebagai bentuk aplikasi pembelajaran teori digedung sekolah. Trias masih menikmati masa lowongnya.



langkah si calon bintara ini terdengar menggema diakibatkan pantoufelnya yang lancip itu menjejak lantai ubin lorong tersebut. pakaian PDH nya yang masih polos tanpa tanda pangkat terlihat ketat ditubuh kekarnya itu.


Trias tiba didepan gedung tersebut. ada seorang perwira pengasuh disana. pemuda itu melakukan hormat. pengasuh itu membalas hormatnya.


"Lapor, Siswa Trias Eliasha Ali, Nosis 00561313, menghadap!" seru Trias dengan lantang.


"Siswa Trias, anda dibesuk. silahkan masuk!" jawab pengasuh itu.


"Siap! Terima kasih!" timpal Trias menegakkan tubuhnya.


"Pemanasan dulu." ujar pengasuh itu memberi isyarat dengan kedua matanya menghujam tanah. Trias menarik napas panjang.


pilotepa lo pomboluloooo.... modunggaya lo orang tua ti donggo po hutu liyo karaja ey... seleki timongoli pengasuh uty... an bo ja'... o tata apo to lunggongo ma yio ti uamu...


(sialan... mau ketemu orang tua kok masih di bully lagi... sayangnya kamu ini pengasuh... kalau bukan, sudah ku sarangkan pukulan ke tengkuk sialmu itu).


"Siap melaksanakan perintah!" seru Trias langsung turun dan melakukan push up dengan cepat. sebelum mendapatkan perintah berhenti, dia tidak boleh berhenti.


beruntungnya, stamina Trias termasuk diatas rata-rata, sebab dulunya ia atlit silat yang malang melintang di even olahraga mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat nasional. bersama Kenzie, keduanya selalu menjadi andalan Propinsi Gorontalo dalam menjuarai seni silat diberbagai kejuaraan tersebut.


anehnya, pada saat selesksi secaba, Trias tidak pernah menyerahkan sertifikat dan memperlihatkan keahlian silat apalagi langga dihadapan para penguji. pemuda itu sengaja tidak melakukan itu untuk menyembunyikan kecakapan agar tidak diperhatikan. ia sengaja tidak menonjolkan diri.


barulah pada praktek beladiri dilapangan SPN, Trias memperlihatkan kecakapannya ketika instruktur menyuruhnya bertanding dengan salah satu siswa yang terkenal suka pamer dan terkesan menyombongkan dirinya. Trias menaklukkannya secara halus tanpa menjatuhkan harga diri siswa tersebut. sebab jika tidak, tentu akan muncul dengki dan siswa itu pasti mencari cara untuk berkelahi lagi dengan Trias. sementara perkelahian antar sesama siswa sangat dilarang. hukumannya tidak main-main. di isolasi dalam masa waktu tak tertentu kemudian di skors dan yang paling berat di pecat dan dipulangkan.


setelah peristiwa dilapangan itu Trias mulai disegani para siswa dan diperhatikan oleh para instruktur dan pengasuh. salah satu instruktur pernah menanyakan alasan ia tidak menonjolkan diri dalam seleksi. padahal itu merupakan poin tambahan yang bisa mendokrak nilainya.


"Siap! saya hanya menerapkan prinsip memenangkan perang tanpa memerlukan pasukan... jika sedari awal kita memperlihatkan kekuatan maka musuh akan bisa mendeteksi kelemahan kita." jawab Trias.


instruktur itu tersenyum puas.


"Trias! berhenti! bangkitlah!" seru pengasuh itu.


Trias mengerjapkan mata mengusir kenangan tersebut. ia tersenyum. "Siap! Terima kasih!" serunya lalu bangkit menegakkan diri.


pengasuh itu mengisyaratkannya untuk masuk. dengan langkah tegap Trias memasuki gedung dan disana kedua lelaki telah berdiri menantinya.


Endi terpukau dengan penampilan pemuda itu sedang Adnan tersenyum bangga. Endi melangkah maju dan memeluk putra semata wayangnya itu dengan haru. ditamparnya dengan keras punggung bidang pemuda tersebut.


"Kamu baik-baik disini nak?" tanya Endi setelah melepas pelukannya.


"Aku sehat wal afiat Abah." jawab Trias dengan senyum, "Abah nggak nyadar? masih melamun apalagi sih?"


Endi tertawa, "Mungkin aku hanya terlalu rindu."


Trias menatap Adnan yang masih tersenyum dengan sorot bangga. pemuda itu mendekat dan menciumi tangan lelaki itu.


"Apa kabarnya Om.." sapa Trias.


"Alhamdulilah sehat wal afiat sama sepertimu." jawab Adnan menyapu pundak lebar pemuda tersebut.


"Silahkan duduk kembali, Om... Abah.." ujar Trias.


"Cieh... lagakmu itu..." olok Endi.


"Aku kan tuan rumah... " tangkis Trias.


ketiganya kemudian duduk di sofa yang terdapat diruangan tersebut. Trias memandang Adnan.


"Om... Ken-ken mana sih? kok nggak diajak? aku rindu sama barokokok itu..." ujar Trias.


Adnan sejenak menatap Endi lalu kembali memandang Trias. pemuda itu langsung menangkap aura ganjil. ada yang nggak beres nih....


"Yas..." ujar Adnan dengan berat, "Ken.... diculik."


mata Trias membesar, "Apa Om? Ken diculik? beneran nih?"


Adnan mengangguk pelan. sementara Endi mendehem. "Abah sudah menyebarkan orang-orangnya Abah... masih belum ada kabarnya... ini sudah jalan hampir sebulan, Yas." ujarnya dengan sendu.


Trias mengerutkan kening dan menggigiti bibirnya. siswa Sebapolri itu berpikir keras mengaplikasikan pelajaran yang diterimanya dikelas untuk meneliti kasus. tak lama kemudian Trias menatap Adnan.

__ADS_1


"Om... dulu, Aku pernah diberikan potret seorang wanita, karyawannya semasih dibagian HRD. nama karyawati itu Puspita Kusmaratih." ujar Trias mengais-ngais lagi ingatannya, "Ken sempat memperlihatkan potretnya padaku dan aku curiga. tatapan mata karyawati itu sangat mirip dengan orang yang kami kenal tapi kami lupa entah dimana pernah ketemu dia. sampai sekarang aku sendiri masih penasaran."


Adnan langsung menghubungi Chiyome. sambungan seluler itu tersambung.


📱"Assalamualaikum, Adek? kami sekarang ada di SPN Batudaa, menjenguk Trias. Adek bisa nggak kirimkan foto karyawati bernama Puspita Kusmaratih?" pinta Adnan langsung.


Chiyome langsung mengirimkan potret Puspita Kusmaratih ke aplikasi whatsapp Adnan. lelaki itu memperlihatkan potret dalam gawai itu kepada Trias. pemuda itu mengangguk.


"Ya, gadis itu! tatapannya! aku yakin pernah mengenalnya... sangat mengenalnya... tapi dimana ya?" ujar Trias dengan geram. ia kemudian menatap Adnan.


"Om, pinjam gawainya dong. saya mau bicara dengan Chiyome." pinta Trias.


Adnan langsung memberikannya.


📱"Assalamualaikum, Chiyo." sapa Trias dengan cepat.


📱"Wa alaikum salam, bagaimana kabarmu?" sapa Chiyome dengan senyum.


📱"Lupakan kabarku! bagaimana perkembangannya? apakah Ken sudah bisa dilacak?" tanya Trias.


📱"Belum..." jawab Chiyome dengan tabah, "Kami masih sementara mengembangkan penyelidikan." sambungnya, "Oh ya.... Ipah juga kuajak. dia sekarang kerja menjadi bodyguardku."


📱"Oh ya?... begini Chiyo... coba suruh Ipah mengunjungi SMUN 3 Gorontalo. minta sama kepala admin untuk memperlihatkan daftar potret siswa alumni tahun 2021." ujar Trias.


📱"Sudah kami lakukan." ujar Chiyome.


📱"Kembali kesana!" pinta Trias dengan nada menekan, "Firasatku mengatakan, Puspita ada didaftar potret siswa itu. aku minta kalian berdua segera kesana! sekarang!"


📱"Kau yakin sekali?" tanya Chiyome.


📱"Jam besukku terbatas Chiyo! waktunya akan segera habis! segeralah kalian kesana. Ipah bisa membalapkan mobilmu tiba disana sejam lebih cepat! segeralah!!" seru Trias dengan keras.


sambungan seluler terputus. gantian kini Trias yang jadi senewen. siswa Cabapolri itu mondar-mandir diruangan itu bagai seorang perwira yang sedang memikirkan kasus. Adnan dan Endi hanya bisa menyaksikan putra mereka mondar-mandir tak jelas. Trias menatap pengasuh yang berdiri tegap diluar ruangan. ia menemuinya.


sesampainya disana, keduanya berdiskusi agak lama dan dan terlihat alot. Adnan dan Endi sampai penasaran dibuatnya. tak lama Trias kembali lagi dalam ruangan dengan wajah yang cerah.


"Kenapa wajahmu? seperti kejatuhan bintang saja." olok Endi.


...******...


Choyome duduk dengan tidak tenang bukan karena tidak nyaman oleh gaya Saripah yang melajukan mobil setara pengendara balapan formula 1 disirkuit balap, melainkan tak sabar untuk segera tiba di bekas sekolahnya dulu untuk menemui kepala administrasi.


Saripah, seperti penuturan Trias, lebih cocok jadi pembalap profesional ketimbang petani sukses, meskipun keluarganya memiliki kebun luas yang hektarnya tak terkira. gaya mengemudinya benar-benar gila. Chiyome sempat melihat jarum spedometer yang mengarah ke angka 300 km/jam. namun ditengah kecepatan kendaraan itu, Saripah dengan santai mampu meliuk-liukkan mobil menghindari dan menyalip kendaraan lain yang dilaluinya. mereka akhirnya tiba di SMUN 3 Gorontalo.


keduanya bergegas turun dari kendaraan dan melangkah setengah berlari menuju gedung administrasi. keduanya disambut guru piket, lagi-lagi Pak Risno Arsyad.


"Wah, Chiyo? bagaimana kabarnya?" sapa Pak Risno yang melihat mantan siswa binaannya.


"Alhamdulillah baik Pak." jawab Chiyome dengan tergesa-gesa.


"Ada perlu apa sih?" tanya Pak Risno.


"Kepala Administrasi ada?" tanya Chiyome.


"Ooohhh... Pak Sudin? Ada. mau ketemu?" tanya Pak Risno.


"Sangat Urgensi..." tambah Chiyome.


Pak Risno langsung mengajak kedua wanita itu masuk dan bertemu dengan Pak Sudin, kepala Administrasi yang baru. mereka diterima baik. Pak Sudin langsung menanyakan alasan kedatangannya.


"Kami mohon bapak memperlihatkan buku tahunan alumni tahun ajaran 2021-2022 pak. ada hal yang sangat penting untuk kami ketahui disana." jawab Chiyome.


Pak Sudin mengangguk dan menatap Pak Risno. "Tolong ambilkan dilemari arsip, buku tahunan 2021-2022."


Pak Risno bergegas menuju ruangan arsip dan tak lama ia muncul mengepit buku besar bersampul biru kemudian meletakkannya di meja dihadapan Chiyome dan Ipah. sementara Ipah mulai membuka dan menjelajahi halaman demi halaman buku, Chiyome kembali menghubungi Adnan.


📱"Papa... kami sudah diruangan administrasi sekarang. buku alumni tahun 2021-2022 ada disini."


Adnan menyerahkan gawainya kepada Trias. pemuda itu langsung mengintruksikan Chiyome untuk membuka halaman alumni kelas 12 Tahun ajaran 2021-2022.


📱"Mulai dari kelas IPA!" perintah Trias, "Sorotkan gambar potret mereka satu persatu kepadaku!"


Chiyome mengaktifkan kamera dan mulai menyoroti satu persatu wajah alumni tersebut. agak lama ia melakukannya untuk mendapat sorotan yang lebih baik.

__ADS_1


📱"Nggak ada dihalaman ini, teruskan ke halaman berikutnya!" perintah Trias lagi.


Saripah membalik halaman buku dan Chiyome kembali menyoroti wajah-wajah alumni, sementara Pak Sudin dan Pak Risno memandang kedua wanita itu dengan penuh minat dan tanda tanya.


📱"Nggak ada dihalaman ini. teruskan ke halaman berikutnya!" perintah Trias lagi yang suaranya terdengar nyaring dari loudspeaker gawai.


Saripah kembali membalik halaman buku dan Chiyome kembali lagi menyoroti wajah-wajah alumni hingga tiba-tiba Trias berseru.


📱"Stop! mundur dua kali!" seru Trias terdengar melalui loudspeaker gawai.


Chiyome melakukan apa yang diminta. tiba-tiba Trias berseru.


📱"Ya... itu dia! aku tahu, itu dia!" seru Trias.


Chiyome mematikan loudspeaker dan mendekatkan gawai itu ke telinga.


📱"Kau sudah tahu?"


📱"Aku tahu siapa Puspita sebenarnya, Chiyo!" seru Trias. "Dia Budi Prasetya! ketua kelas 11A dulu, musuh besarku!"


Chiyome tergetar dengan berita itu. Trias melanjutkan,


📱"Kamu tahu? Dialah yang menyebarkan fitnah tentang kamu dulu, katanya dalam kolom berita di www. smun3gtlo.co.id, bahwa kamu adalah peliharaan keluarga Lasantu. kau masih ingat?" ujar Trias.


📱"Ya, aku ingat." jawab Chiyome.


📱"Bukankah waktu resepsi pernikahanmu, aku menyinggung dia untuk meminta maaf dihadapan khalayak ramai namun dia tak menyanggupinya." ujar Trias, "Kemungkinan Kenzie memberikan pelajaran yang tak terperikan kepadanya waktu itu. dia sempat menghilang dan kemudian muncul dalam sosok baru bernama Puspita Kusmaratih. tapi aku yakin... dia adalah Budi."


Chiyome langsung lemas mendengar keterangan Trias yang heuristik itu. berarti, selama ini mereka kecolongan memasukkan biawak kedalam kandang ayam. apalagi ternyata Puspita mampu memanipulasi perasaan sampai Chiyome yang pakar psikologi juga tertipu.


📱"Halo? Chiyo? kamu baik-baik saja kan?" tanya Trias.


Chiyome sejenak kaget lalu tanggap mengatakan ia baik-baik saja.


📱"Oke. sekarang tinggal mencari keterangan alamat baru si banci kaleng itu. aku yakin dia nggak lagi tinggal dialamat lamanya." ujar Trias.


📱"Baik. makasih atas keterangannya Yas." jawab Chiyome dengan suara serak. wanita itu kemudian memutuskan sambungan seluler.


Pak Risno yang penasaran langsung memegang pundak Chiyome dan menanyakan dengan isyarat. ada apa? kok Bapak liat kamu kayak lemas?


Chiyome membalas dengan bahasa dan gerakan isyarat pula. Kenzie diculik Pak.... ternyata yang nyulik dia mantan anak kelas 11A, Budi Prasetya...


Pak Risno terkejut, dan merespon keterangan itu. yang benera kamu? ahhh... Bapak nggak nyaka, kok anak itu jadi jahat ya? apa mungkin dendam dengan kalian berdua semasa masih sekolah disini?


Chiyome menggeleng. Entahlah pak. kalau begitu saya dan Saripah permisi dulu ya?


Pak Risno mengangguk dan kedua wanita itu pamit. sepeninggal keduanya, Pak Sudin yang sedari tadi penasaran sekaligus kagum dengan kemampuan berbahasa isyarat Pak Risno, menanyai lelaki itu.


"Kenapa sih?" tanya Pak Sudin.


"Suaminya diculik. penculiknya ternyata juga alumni sekolah ini. makanya anak itu kelihatan lemas. kasihan... apakah dunia usaha memang seperti itu? seperti hukum rimba?" jawab Pak Risno dengan menggelengkan kepala, menatap dengan iba kearah pintu keluar.


sementara di pekarangan, Chiyome memberi perintah kepada Saripah.


"Hubungi nomor ini. tanya, apakah banci kalengan itu pernah muncul ditempat ini atau nggak." perintah Chiyome sambil masuk kedalam mobil.


Saripah menyusulnya lalu mengontak nomor yang diberikan oleh Chiyome kepadanya. sambungan seluler itu terhubung.


📱"Halo?" sapa Saripah.


📱"Ya dengan siapa ini?" tanya suara diseberang.


📱"Saripah, bodyguard pribadi Nyonya Chiyome Mochizuki." jawab Saripah memperkenalkan diri.


📱"Oh... kukira siapa." desah orang itu,"Ada pesanan dari Nyonya?"


📱"Ya... beliau tanya apakah Puspita sudah nampak ditempat itu atau nggak?" tanya Saripah.


📱"Ya. bahkan kami sudah berhasil melacak suatu tempat. kemungkinan itu tempat penyekapan Pak Kenzie. tapi saya belum bertindak karena belum ada perintah langsung dari Nyonya." jawab orang itu.


Saripah menatap Chiyome, "Mereka sudah menemukan lokasi terduga tempat penyekapan Kenzie. apa yang akan kita lakukan?" pancing Saripah.


"Segera ke lokasi. tapi aku mau mampir ke rumah dulu untuk menjemput Si Penebas Angin..." jawab Chiyome dengan tegas. aura membunuhnya langsung muncul. []

__ADS_1


__ADS_2