
Trias baru saja pulang dari kantor mendapati istrinya yang duduk sementara memotong batang-batang kangkung. lelaki itu tersenyum. tatapannya mengarah ke perut Saripah yang mulai nampak membesar. usia kandungan Saripah sudah berjalan lima bulan. ini adalah trimester kedua yang sekarang dijalani oleh calon ibu tersebut.
"Kamu kenapa masih ngurus urusan dapur? kan ada Bi Nati yang aku mintakan tolong ngurusi kamu." tegur Trias sambil duduk bersila, tak perduli dengan bagian pantat celananya yang kotor terkena debu lantai tersebut.
Saripah menoleh menatapi suaminya lalu tersenyum. "Si Abah pulang nggak salam dulu. bikin kaget saja ah!" omel Saripah.
Trias tertawa. Saripah sering memanggilnya dengan sebutan Abah. lelaki itu mengangguk-angguk. "Assalamualaikum, Umma..." sapa Trias kemudian mengulurkan tangan menyapu rambut Saripah yang sudah dipotong pendek.
Saripah langsung pasang senyum paling manis. "Wa Alaikum Salam, Abah gantengku?" balas Saripah.
Trias meraih loyang berisi kangkung dan pisau dalam genggaman istrinya. Saripah protes.
"Lho? lho? kok diambil?" protesnya.
"Ngebantu istri, nggak apa-apa, kan?" ujar Trias santai mulai mengiris batang-batang kangkung tersebut.
"Tapi kan Abah baru pulang kantor, pasti capek." kata Saripah. "Bi Nati, tadi kusuruh ke swalayan beli marsmallow..."
"Tumben beli marsmallow...." ujar Trias.
"Nggak boleh?" tanya Saripah.
"Nggak... boleh-boleh saja." ujar Trias.
"Itu keinginan si Ayank." ujar Saripah kembali mengambil loyang dan pisau ditangan Trias dan memotong-motong kembali batang-batang kangkung yang tersisa.
"Ayank?" tanya Trias dengan lirih.
Saripah mengangguk. "Kan kita belum tahu kalau jenis kelaminnya apa. kan kita belum USG."
Trias tertawa, "Ayank artinya apa sih?" tanyanya dengan penuh minat.
"Ih, Si Abah kayak nggak tahu aja. itu kan dari kata 'Sayang', gimana sih?" ujar Saripah menampakkan wajah cemberut semakin membuat Trias tertawa.
"Iya, iya deh... Ayank..." ujar Trias mengulurkan tangan mengelus perut Saripah yang membuncit.
"Kamu setiap ke kantor, aku selalu senam Kegel. nanti melahirkan nggak akan susah." ujar Saripah.
"Sudah konsultasi ke dokter tentang hal itu?" tanya Trias yabg kemudian meraih loyang berisi potongan-potongan batang kangkung lalu berdiri dan melangkah menuju dapur.
"Sudah..." jawab Saripah kemudian mencoba bangkit perlahan-lahan kemudian mengikuti Trias ke dapur. dilihatnya sang suami yang masih berpakaian kantoran itu mulai meramu bumbu untuk sayur kangkung itu.
"Nggak usah, nanti Bi Nati yang kerja." cegah Saripah kemudian mengisyaratkan Trias mendekatinya. "Ke kamar yuk." ajaknya.
Trias meletakkan loyang itu di meja lalu melangkah menyusul Saripah yang sudah lebih dulu melangkah ke kamar. lelaki itu tiba di kamar dan menemukan Saripah yang sementara duduk ditepian ranjang.
"Abah ganti baju sana..." pinta Saripah.
"Ya, sudah Umma ke ruang keluarga saja. nonton tivi." kata Trias. namun Saripah menggeleng.
"Nggak, Umma mau disini saja, nonton Abah ganti baju." jawabnya dengan senyum terkembang.
Trias mengernyitkan alisnya sejenak. dasar ibu hamil... ada-ada saja kerjanya...
lelaki itu mengalah. ia membuka holster dan menggantungnya di sisi lemari. revolver Raging Bull dikeluarkannya dari holster dan diletakkannya kedalam peti. Trias kemudian membuka kemeja dan celananya, meletakkan pakaian itu dalam keranjang. ia kemudian mengenakan kaos oblong dan celana bokser. Trias berbalik dan terkejut ketika melihat Saripah yang sudah telanjang memamerkan tubuhnya yang semok berisi lengkap dengan perut yang membuncit.
"Sori Abah... kayaknya Umma naik nih lihat Abah..." ujar Saripah dengan senyum manja. "Boleh nggak...."
Trias tertawa, "Kenapa tidak? ayooo!!!" serunya langsung menerkam Saripah dan keduanya bergumul lembut diranjang empuk itu.
...*****...
akhir-akhir ini Bakri, Kenzie maupun Chiyome mendapati Sandiaga asyik bermeditasi sendirian di ruangan dojo itu. kadang ia menggunakan kalung tasbih yang entah didapatkannya darimana, untuk memperkuat meditasinya. anak itu menggunakan tegi lengkap dengan obi hijau lumut yang melingkari pakaian praktiknya itu.
__ADS_1
"Anak kita... kayaknya akan melampui kita sendiri Ken." komentar Bakri kepada mantan muridnya itu. "Sandiaga bahkan dengan sendirinya melakukan tirakat, entah untuk memperkuat prana miliknya atau memperkuat spiritualitasnya belaka."
mereka kemudian kembali mengintip menyaksikan Sandiaga yang telah selesai bermeditasi. anak itu bangkit lalu berdiri gaya shizentai.
"Osh!!!" teriaknya kemudian menyilangkan kedua tangannya kedepan dan mengembangkannya. setelah itu, Sandiaga mulai mempraktekkan semua jenis kata yang diajarkan Chiyome mulai dari lima Heian, Naihanchi, Jion, Kushanku, Gankaku hingga Unsu yang memiliki tingkat akrobatik tinggi seperti Gankaku.
setelah menyelesaikan kata tersebut. Sandiaga kembali berdiri tegak dan melangkah menuju katanakake yang terpampang didinding. ia mengambil sebilah kodachi yang biasa digunakannya untuk berlatih. pedang itu ditentengnya dan ia kembali ke tengah ruangan, berdiri lagi dengan tegak.
Sandiaga kemudian duduk gaya seiza, meletakkan kodachi tersebut menyilang didepannya. ia kemudian melakukan rei sejenak dan bangkit kembali menegakkan tubuhnya. kodachi itu kemudian diambilnya lagi dan diselipkannya dibalik sabuk sambil tak lupa mengikat tali sarung pedang pada bagian sabuk dipinggangnya.
Sandiaga mulai mempraktekkan lagi iai-kata. mulai dari jenis suwari waza seperti Yoko-gumo, Usu-zumi, Yatsu-nami, Ka-ryu, Kai-shaku, Kasumi, Uke-nagashi, Tsuki-kage, Tsuke-komi, Zan-getsu, Tama-guruma, Naki-uchi dan Ittomai-goi. setelah itu, Sandiaga melanjutkan dengan mempraktekkan jenis handashi waza seperti Rai-otoshi, Hagai-gaeshi, Tai-ryu, Shinobi-gaeshi, Yoko-ichimonji, Shime-guruma, Chidori-gaeshi, Konoha-otoshi, Sui-ryu, Toride-gaeshi, dan Mai-chou. setelah itu, Sandiaga menyambungnya dengan mempraktekkan jenis tachi waza mulai dari Ran-ka, Oki-tsunami, Oi-uchi, Shigoki-taoshi, Surube-otoshi, Uneri-gaeshi, Shigure-otoshi, Kuruma-giri, Kosode-otoshi, Taka-no-tsume, Uki-fune, Yo-arashi, Jumoku-daoshi, Un-ryu, dan terakhir Jo-utou.
sebenarnya semua kata dalam iaijutsu disemua perguruan sama namanya, hanya berbeda dari gaya perguruan itu sendiri. misalnya, Tsuki-kage dalam aliran Mugen Shinto ryu, berbeda dengan tsuki-kage dalam gaya Koga Koryu Bujutsu.
Sandiaga baru saja selesai mempraktekkan Jo-utou Kata dan menyarungkan kembali bilah kodachi ke sarungnya dengan perlahan ketika Bakri dan Kenzie muncul di dojo itu dan bertepuk tangan kepada Sandiaga. anak itu kemudian kembali duduk dalam posisi seiza dan meletakkan pedang menyilang didepannya lalu Sandiaga membungkuk dalam dan setelah itu menggenggam kembali kodachi tersebut dan bangkit menatap Bakri yang mendekat.
"Hebat putranya Abi ini..." puji Bakri sambil bertepuk tangan.
Sandiaga hanya terkekeh. "Nggak usah memuji Abi... aku nggak mempan..." olok Sandiaga.
"Nggak, ini serius, Abi benar-benar bangga melihat Sandi mempelajari seni beladiri.... apalagi semua jurus pedang sudah dikuasai..."ujar Bakri.
"Alahhh..... besar kepala tuh..." sindir Kenzie.
Sandiaga menatap ayahnya. "Daripada Papa... kepalanya saja yang besar..." ia balas mengolok.
Kenzie menatap putranya. "Te uwola ti.... sini kau! kutangkap kau!" seru lelaki bercambang putih itu maju hendak menerkam namun langsung dicegah oleh Bakri sedangkan Sandiaga langsung mundur selangkah ke belakang dan mengancam Kenzie dengan bersiap menghunus kodachi.
"Coba Papa kemari... kutebas, baru tahu rasa!" balas Sandiaga menggertak.
"Hutodu ta lai kikino ti.... " umpat Kenzie dengan matanya yang dinyalangkan.
"Papa.... kalau Papa macam-macam denganku, aku nggak segan laporin Mama kalau Papa sudah berani selingkuhi Mama..." kata Sandiaga mengancam.
"Lalu kenapa aku menemukan ada sebuah folder khusus didalam aplikasi perpustakaan digital Papa dan aku tak bisa membukanya? itu pakai password, kan? pasti di folder itu ada selingkuhannya Papa." tuduh Sandiaga.
"Hutodu ta lai kikino ti... kamu nggak usah tahu apa isi folder itu." hardik Kenzie dengan wajah yang memerah. Bakri susah payah menahan tawa, begitu juga dengan Chiyome.
tentu saja pakai password.... itu kan folder khusus gambar-gambar dewasa dan buku-buku porno.... aahhh dasar Sandiaga, sudah berani menuduh ayahnya yang bukan-bukan....
"Kalau Papa memang bersih dari sandangan itu, coba hilangkan saja folder itu supaya aku tal curiga." tantang Sandiaga dengan senyum dan menegakkan tubuhnya.
Bakri mendekat dan membisik, "Sandi sudah memegang kartu As dan joker milikmu, Ken."
Kenzie langsung membuang napas. "Eh, kau tahu apa boy? Papa kuasa disini. Papa kepala rumah tangga... Papa..."
"Sudahlah Ken, masa bertengkar sama anak sendiri?" tehur Bakri, "Kayak nggak punya etika saja."
"Biarin!" hardik Kenzie menatap Bakri.
"Nanti Chiyome dengar..." kata Bakri.
"Alaahhh.... saya tidak takut!" koar Kenzie. "Saya kepala rumah tangga, saya cari uang, takut-takut bilang aaappaaa..." omel Kenzie.
sementara Chiyome sudah muncul di dojo itu dan berdiri dibelakang sambil bercakak pinggang dan Sandiaga sudah sangat susah payah menahan tawa melihat Bakri kelimpungan menenangkan Kenzie yang marah-marah dengan keusilan Sandiaga.
"Kalau Wiffy marah... krook..." ujar Kenzie mengisyaratkan memotong leher. "Ahhh... perempuan banyak... "
Chiyome yang geram langsung maju menjewer telinga Kenzie. lelaki bercambang itu kaget dan menoleh.
deg... Wiffy!!!!
sontak Kenzie langsung berlutut dihadapan Chiyome, "Ampun Wiffy.... bercanda tadi..." kilah Kenzie sambil meringis karena telinganya dijewer terus oleh Chiyome.
__ADS_1
"Ohhhh... jadi begini kelakuan Hubby sekarang ya?!" ujar Chiyome terus menjewer telinga Kenzie. "Apa maksudnya perempuan banyak, heh?!"
"Nggak, maksudnya... itu... " ujar Kenzie sambil meringis kesakitan.
"Sudah! Hubby jangan banyak bacot! ayo ke kamar!" hardik Chiyome terus menarik telinga Kenzie membuat lelaki itu akhirnya bangkit terseok-seok ditarik Chiyome keluar dari dojo sementara Sandiaga terbanting-banting tertawa dan Bakri hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
...******...
keduanya sudah selesai menuntaskan hajat. Saripah tertidur kelelahan meski dalam keadaan telanjang. Trias membelai perut istrinya yang sudah membesar itu. lelaki itu tersenyum.
"Tidurlah istriku.... senangkan hatimu... aku akan terus melayanimu." gumam Trias kemudian maju mencium kening Saripah. wanita itu menggeliat sesaat lalu tidur lagi. Trias mengangkat selimut dan membalut tubuh telanjang istrinya dengan selimut tersebut. lelaki itu turun dari ranjang dan kembali mengenakan kaos oblong dan celana bokser lalu melangkah keluar kamar.
Trias melangkah menuju dapur. ia kembali meramu bumbu untuk masakan kangkung tersebut. rencananya ia akan memasak kangkung belacan. lelaki itu kemudian menyiapkan wajan dan menyalakan kompor gas. ia kembali meramu bumbu.
tepat pada saat itu Bi Nati muncul. wanita parobaya itu terkejut melihat Trias didapur sedang meramu bumbu.
"Aduh Pak. biarkan saja, nanti saya yang masak." pinta Bi Nati dengan wajah bersalah.
Bi Nati adalah salah satu asisten rumah tangga yang sudah mengabdi pada keluarga Hamid sejak 20 tahun lalu ketika mendiang istri dari Fahruriza masih hidup. wanita itu wafat ketika Saripah berusia 15 tahun. sejak itu Bi Nati menggantikan posisi mengasuh anak majikannya. Saripah sendiri sudah menganggap Bi Nati layaknya ibunya sendiri.
"Bapak mau masak apa untuk ibu?" tanya Bi Nati, mengganti sapaan untuk Saripah dari panggilan 'Nou' menjadi 'Ibu'. selain Saripah juga sudah dewasa, juga ia kini menyandang status sebagai istri seorang polisi, yang berarti ia wajib menyandang gelar ibu Bhayangkari.
"Kangkung belacan, Bunda... asupan gizi untuk Umma." jawab Trias menyebut nama panggilan kesayangannya untuk Saripah sebagaimana wanita itu menyebut dirinya dengan sebutan Abah.
Bi Nati tersenyum. "Ya sudah, Bapak ke kamar saja. temani Ibu. biar saja saya yang lanjutkan."
"Makasih Bunda." jawab Trias dengan senyum lalu melangkah meninggalkan dapur. ia kembali ke kamar. ternyata Saripah sudah bangun. wanita itu menguap lalu duduk membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos.
Trias naik keatas ranjang. "Umma sudah bangun?"
"Baru saja..." jawab Saripah dengan manja. "Abah..." panggilnya.
Trias mendekat lalu memeluk istrinya dan membaringkannya dalam pangkuan.
"Kenapa Umma?" tanya Trias sambil membelai rambut istrinya yang kini panjang sebahu.
"Kalu misalnya si Ayank, laki-laki, gimana dong?" pancing Saripah.
"Ya, biar saja." ujar Trias, "Nanti bikin lagi toh? gitu aja kok repot." jawabnya menirukan gaya bicara Kiai Abdurrahman Wahid (Gusdur).
"Enak saja. memang Umma pabrik anak?" semprot Saripah dengan wajah cemberut.
"Apapun anak kita, apakah dia lelaki atau perempuan, kita terima anugerah Allah." jawab Trias dengan lembut.
"Tapi kan Abah terlanjur janji sama Chiyome." kata Saripah.
"Benar, Abah sudah janji.... tapi kalau qadr Allah berlaku lain, maka kita tak bisa apa-apa selain menerima qadha dan qadr yang Allah tentukan." jawab Trias.
"Tapi... bagaimana dengan keluarga Lasantu? mereka sudah menggadang-gadangkan anak kita akan menjadi mantu mereka.... Umma kuatir Abah, kalau anak ini laki-laki, gimana?" kata Saripah dengan cemas.
"Tenanglah sayang. nanti besok kita ke dokter kandungan ya? kita lakukan USG." ujar Trias menenangkan hati istrinya.
...*******...
dokter Deinaira Dunggio, Sp.OG tersenyum ketika menempelkan alat Ultrasonograf pada perut Saripah. ia kemudian menatap layar. dokter kandungan itu mengangguk-angguk sejenak. ia menatap Saripah dan Trias bergantian.
"Anak kalian berjenis kelamin perempuan." ujar dokter Deinaira dengan datar.
dan seketika, hati Saripah dan Trias bagai disiram air embun yang begitu sejuk. dengan haru wanita itu menatap suaminya.
"Abah.... anak kita.... anak kita... perempuan, Abah... perempuan..." ujarnya kemudian terisak haru.
Trias langsung menengadahkan wajah dan tangannya kelangit.
__ADS_1
"Alhamdulillah... nazarku pada keluarga Lasantu, tersampaikan... Alhamdulilah..." ujarnya lalu mengusap kedua tangannya ke wajah. []