Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 187


__ADS_3

Kagenobu, pimpinan wakachu Ichinoseki memperhatikan Fitri yang sedang sibuk mengolah hidangan dalam wajan. wajah penuh keringat wanita tersebut menggugah hatinya untuk tak sedikitpun melewatkan pandangan dari chef berseragam putih itu. kerudung putih yang membalut kepalanya semakin membuat penampilan Fitri begitu anggun.


seorang pelayan laki-laki lewat dan Kagenobu menghentikan langkahnya. ia menggamit lengan si pelayan tersebut.


"Aku baru melihat chef itu disini. siapa dia?" tanya Kagenobu dengan lirih. pelayan itu sejenak menatap Fitri sejenak lalu memandang Kagenobu.


"Dia adalah chef baru disini, menggantikan Sano Hiro yang mengundurkan diri seminggu yang lalu." jawab pelayan itu. "Gaya penyajiannya membuat restoran ini banyak dikunjungi masyarakat." pelayan itu terkekeh. "Saya senang, karena Majikan Muda menaikkan gaji kami karena perempuan itu."


"Oh ya?" gumam Kagenobu.


"Bukankah anda menikmati hidangan olahannya?" pancing pelayan itu. Kagenobu terhenyak menatap piringnya lalu menatap pelayan tersebut.


"Benar juga... sedap sekali." puji Kagenobu dengan senyum menyeringai.


pelayan itu mengangguk-angguk. Kagenobu menghela napas lalu memandang Fitri kembali. "Perempuan itu... dia mengenakan kerudung... apakah.."


"Dia beragama islam. makanya dia mengenakan kerudung." jawab pelayan tersebut.


"Dan sangat cantik..." puji Kagenobu.


pelayan itu hanya cengengesan saja. Kagenobu menatap pelayan itu. "Panggillah dia kemari." pinta Kagenobu mengeluarkan secarik uang kertas dua lembar nominal Seribu Yen dan menyodorkan benda itu dimeja dekat pelayan itu.


sang pelayan terkejut sejenak lalu tersenyum lebar dan langsung meraup uang kertas itu, buru-buru memasukkannya ke sakunya lalu membungkuk datar dan melangkah menjnggalkan Kagenobu yang kembali menikmati hidangan.


pelayan itu menghampiri Fitri. "Hei, Fiti-Chan, ada yang ingin ketemu denganmu." ujar pelayan tersebut.


Fitri mematikan api kompor dan menoleh menatap pelayan tersebut. "Ada apa Kano-Kun?" tanya Fitri kemudian mengambil lenso dan menyeka keringat yang membasahi wajahnya.


Kano, si pelayan menganggukkan kepala kearah Kagenobu yang sedang menikmati minuman. "Tuan Kagenobu dari Ichinoseki, ingin bicara denganmu. dia menyukai hidanganmu."


Fitri melempar pandangan ke arah Kagenobu. kebetulan tatapan mereka bertemu dan Kagenobu tersenyum lebar sambil membungkukkan wajah sejenak. Fitri melepaskan apron putihnya dan meletakkan benda-benda masaknya. wanita itu melepaskan lenso lalu melangkah keluar dari bilik masak.


seorang wanita, menjabat sous chef mengamati Kagenobu dan langsung mengeluarkan gawainya. ia mengetik sesuatu di gawainya lalu mengirimkan pesan tersebut.


...******...


Kameie sedang berdiskusi dengan Taki Takazawa dan beberapa ulama Turki tentang agama islam. Taki berperan sebagai penerjemah dubilingual bagi Syaikh Akthtan Osman dan Kameie.


getaran gawai di saku, mengganggu konsentrasi Kameie membuatnya menangguhkan diskusi lalu mengeluarkan gawai tersebut dan menatap layar sentuhnya. sejenak alisnua mengerut lalu menatap Taki dan Syaikh Akhtan Osman itu.


"Maafkan saya. kelihatannya ada sesuatu yang penting harus saya selesaikan. kita akan bertemu lagi kapan-kapan. bisa?" tanya Kameie.


Syaikh Akhtan Osman menatap Taki. lelaki jepang bersurban itu mengangguk dan ulama Turki itu juga mengangguk. Kameie mengangguk dengan senyum datar dan bangkit lalu setengah berlari keluar ruangan dan meninggalkan Masjid Camee. Syaikh Akhtan menghela napas dan menggelengkan kepala dengan pelan. Taki memperhatikan raut wajah sang Syaikh.


"Orang itu... dia tidak terlalu kuat memegang teguh prinsip agamanya... aku berharap, seseorang akan menguatkan hatinya memilih jalan kebaikan." gumam Syaikh Akhtan Osman.


"Semoga saja orang itu akan mengarahkan jalan dengan benar." sambut Taki Takazawa sambil menyelai janggutnya.


...*****...


Fitri menjawab segala pertanyaan yang diajukan Kagenobu dengan santun, membuat lelaki dari kota Ichinoseki itu terkesan. akhirnya ia melontarkan tawaran agar wanita itu pindah kerja ke Ichinoseki saja.


Fitri tersenyum lalu menggeleng pelan. "Maafkan saya, Tuan Kagenobu. saya paham dan menghargai betapa tinggi anda menilai saya." jilbaber itu kembali tersenyum. "Namun, saya minta maaf tidak dapat memenuhi permintaan anda Tuan."


"Kenapa? disana kau akan lebih terjamin." kata Kagenobu dengan semangat dan tanpa sopan, ia menyentuh tangab Fitri. "Apalagi, kalau kau jadi istriku." lelaki itu kemudian tersenyum nakal dan mengedipkan sebelah matanya.


Fitri terpaksa tersenyum lagi meski tak setulus tadi. dengan agak memaksa, ia menarik tangan lelaki itu. kemudian dengan senyum datar, Fitri memohon pamit. "Maafkan saya pak. saya harus bekerja lagi."


Fitri baru saja hendak berbalik ketika Kagenobu memegang lagi pergelangan tangan wanita itu. Fitri terkejut dan kembali menatap Kagenobu. "Pak... mohon lepaskan saya." pinta Fitri masih dengan sikap santun.


"Kamu rupanya belum tahu, bagaimana adat kaum yakuza..." ujar Kagenobu dengan senyum geram.


"Tuan..." tegur Fitri.


BRAKKKK!!!!!! AAAAAKHH...


Kagenobu refleks bangkit dan memuntir pergelangan tangan Fitri membuat chef itu mengaduh kesakitan. tubuhnya membungkuk menyandar dimeja hingga posturnya jadi menungging. Kagenobu terkekeh melihat pemandangan itu.


"Pak! aduh... lepaskan saya!" pekik Fitri kesakitan.


sementara Kano dan sous chef itu hanya bisa gemetaran melihat pemandangan itu. Kagenobu menunduk dan wajahnya mendekat nyaris menyentuh pipi Fitri.


"Aku akan melepaskanmu setelah aku mendapatkan keinginanku!" seru Kagenobu dengan seringai buas. Fitri dengan jelas melihat lelaki itu menurunkan retsluiting celananya.


oh tidak !!!! dia hendak melecehkanku!!!


Fitri meronta berupaya melepaskan cekalan tangan Kagenobu. sementara lelaki itu telah sukses menguakkan bagian retsluiting celananya dan mengeluarkan sebatang tonggak reproduksinya yang sudah menegang dengan pembuluh-pembuluh darah yang melingkari permukaannya.

__ADS_1


mata Fitri melebar. Ya Allah! jangan biarkan dia melecehkanku! demi kesucian Nama-Mu ya Allah! jangan biarkan dia melecehkan aku!!!


benda itu sudah semakin dekat menuju mulut Fitri. wanita itu mengencangkan rahangnya dan kembali meronta. dalam sisa tenaganya, ia mendengar suara menggelegar.


"HEI!!!!"


Kagenobu menghentikan kegiatannya sejenak dan menoleh ke arah pintu. disana nampak Kameie dengan sikap tegak dan tangan terkepal.


"Ah, Kameie... untung kamu datang." ujar Kagenobu kini menjambak jilbab Fitri memaksa wanita itu duduk bersimpuh disisi Kagenobu yang berdiri. nampak batang kejantanannya mengacung perkasa sesekali menyenggol pipi Fitri membuat wanita itu memeremkan matanya karena jijik.


"Bolehkah aku memintamu melepaskan perempuan ini barang semalam saja. aku ingin kehangatannya." pinta Kagenobu dengan senyum mengejek.


Kameie tanpa menahan diri langsung mencabut pistol dan menembakkan pelurunya.


DOR!!!!


AAAAAAAKKKKKHHHH.....


proyektil yang melesat dari moncong pistol itu menembus paha Kagenobu membuatnya serta merta melepaskan cekalannya pada jilbab Fitri dan jatuh tersimpuh dengan teriakan kesakitan.


Fitri tak melewatkan kesempatan itu untuk meloloskan diri dan bersembunyi diikuti oleh sous chef dan Kano. sementara Kagenobu berteriak-teriak mengumpat.


beberapa saat kemudian muncul beberapa anggota dari ranting Ichinoseki membawa tongkat kayu yang ditancapi kayu-kayu mirip maul. mereka merangsek kedalam restoran menyerang Kameie.


"Kalian berani mengotori restoranku?!" seru Kameie dengan geram lalu meninggalkan Kagenobu dan maju menyambut serangan para lelaki bersenjata tongkat berduri itu.


Kameie memanfaatkan dua bilah golok pencincang daging yang terdapat dibilik masak kemudian maju merangsek kearah para agresor tersebut. putra ketiga keluarga Mochizuki itu mengamuk tanpa memikirkan keselamatannya.


Kagenobu buru-buru diselamatkan oleh orang-orangnya sendiri dan disembunyikan disebuah mobil, sekalian yang lainnya tetap mengeroyok lelaki tersebut.


Kameie tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menguji kemampuan olah beladirinya. dengan pekikan kecil, Ia mengerahkan kemampuannya mempecundangi semua anak buah dari Kagenobu.


"Bunuh dia! bunuh dia!!!" ujar Kagenobu dengan kalap.


sementara semua anak buah Kagenobu maju mengeroyok Kameie, dari jalanan melintas dua mobil jip dan berhenti tepat didepan restoran. keluarlah dua orang lelaki metroseksual yang disusul dengan keluarnya beberapa orang menyandang pedang pendek yang sudah terhunus.


"Bantu Tuan Muda Ketiga! ganyang orang-orang Ichinoseki!!!" seru salah satu anak buah kedua lelaki tersebut.


maka menyeruaklah seluruh pasukan bantuan yang dikerahkan dua orang tersebut. orang-orang Ichinoseki terkejut dan terpaksa menghadapi kawan sejawat dari ranting Tokyo.


"Mundur! mundur!" seru Kagenobu dengan kalap dan jengkel melihat anak buahnya banyak yang tewas dibabat beberapa pentolan ranting Tokyo tersebut. mereka kocar-kacir. Kagenobu sendiri akhirnya melarikan diri menggunakan mobilnya yang telah disupiri oleh salah satu anak buahnya yang cekatan.


dua lelaki yang bersandar dimobil kemudian melangkah mendekat.


"Bagaimana kabarmu, dik?" sapa salah satu lelaki tersebut.


"Aku baik-baik saja. Kakak pertama dan Kedua, nggak usah kuatir." jawab Kameie.


"Tapi keadaan menggambarkan lain." ujar lelaki satunya.


kedua lelaki itu tak lain adalah Tomomori Minamoto dan Momoshiki Minamoto, dua putra Tasuku Minamoto dari istri pertamanya. adapun Kameie Saburo Mochizuki adalah putra Tasuku dari istri kedua.


"Percayalah padaku. semua baik-baik saja." sela Kameie.


Tomomori mengangkat bahu lalu mengangguk. "Kudengar dari seseorang, kau telah menjadi seorang mualaf. apakah itu benar?" tanya Tomomori Minamoto menyelidik.


"Ya, itu benar." jawab Kameie dengan jujur.


"Ah... bagaimana kau menghadapi ayah nanti? aku nggak bisa menjamin beliau tidak akan membiarkanmu begitu saja." ujar Tomomori semakin gusar.


"Kunjungi ayah. dia menanyakan kabarmu." pinta Momoshiki Momotaro.


Kameie mengangguk. "Jika waktuku lowong." jawabnya sekenanya.


kedua kakak Kameie itu hanya bisa saling memandang saja. lalu menatap lagi Kameie. "Malam ini!" pinta mereka.


Kameie mengangguk. Tomomori dan Momoshiki memerintahkan anak-anak buahnya meninggalkan restoran itu. kendaraan melaju meninggalkan restoran dan Kameie tersadar bahwa ia belum menemukan Fitri. lelaki itu berbalik memasuki restoran, menemukan Kano yang berdiri terpaku.


"Mana Fitri?!" tanya Kameie setengah menghardik.


"Be-be-bersama Misae..." jawab Kano menunjuk bagian belakang ruangan.


Kameie langsung berlari menuju ruang belakang dan menemukan sebuah bilik kecil yang disebut gudang. Kameie membukanya, menemukan Misae yang sedang memeluk Fitri yang menangis ketakutan.


"Kamu tak apa-apa?" tanya Kameie.


Misae menoleh, "Saburo-dono..." gumamnya.

__ADS_1


Kameie maju maka dengan refleks Misae mundur, bangkit melepas pelukannya dari Fitri. Kameie menatap Misae membuat wanita itu paham dan membungkuk datar lalu meninggalkan gudang.


Kameie berlutut dan tangannya menjangkau pundak Fitri. "Fi-Chan... kau tak apa-apa?" tanya Kameie dengan lembuy ketika menyadari tubuh Fitri yang gemetar berat. gadis iti mengalami hal yang berada diluar kuasanya. pelecehan adalah sesuatu yang paling ditakutinya.


"Fi-Chan." panggil Kameie sekali lagi.


akhirnya Fitri perlahan menegakkan wajahnya dan Kameie dapat dengan jelas melihat airmata yang membanjir membasahi wajah polos itu. dengan trenyuh, Kameie langsung memeluk erat dan entah kenapa Fitri membiarkan dirinya dipeluk lelaki itu.


"Jangan takut. semua, baik-baik saja." kata Kameie menenangkan Fitri.


setelah beberapa menit lelaki itu menenangkan Fitri, Kameie memintanya bangkit dan melangkah keluar dari gudang. keduanya tiba diruangan restoran. Kameie menatap Misae dan Kano.


"Tutup restoran untuk sementara. kami berdua punya urusan penting." kata Kameie.


kedua pegawai itu sontak membungkuk takzim dan Kameie membawa Fitri keluar restoran kemudian mengamankannya dalam mobil.


"K-kita hendak ke-kemana, Kame-San?" tanya Fitri.


"Kau harus kuamankan terlebih dahulu, dengan memperjelas statusmu!" jawab Kameie sambil menghidupkan mesin mobil dan beberapa saat, kendaraan itu melaju meninggalkan restoran.


...*******...


Fitri tak pernah menyangka, Kameie akan bertindak senekad itu. ia memaksakan Taki Takazawa dan beberapa ulama Turki untuk segera menggelar pernikahan antara dirinya dan Fitri. Taki dan Syaikh Akhtar Osman yang terbengong sesaat dengan permintaan Kameie kemudian menjadi paham setelah dijelaskan oleh Kameie sendiri secara gamblang. dengan senyum dikulum dan tersipu, Syaikh Akhtar Osman kemudian mengundang beberapa jamaah baik imigran Turki dan lokal untuk berdiam di masjid sesaat.


segala persyaratan nikah, baik mahar dan lainnya langsung dipenuhi Kameie saat itu. dan pada sore itu, ba'da Ashar, Kameie mengucapkan ijab Qabul sebagai suami yang sah dari Fitri.


wanita itu menangis, gabungan antara bingung, takjub, sedih dan gembira yang bercampur aduk saat ia menciun punggung tangan Kameie yang kini menjadi suami sahnya pada hari itu juga.


"Sekarang, kau adalah wilayah kekuasaanku. tak akan kubiarkan siapapun menyentuhmu, bahkan jika itu keluargaku sendiri." bisik Kameie.


...*****...


GUBRAKKK!!!!


Tasuku menggebrak meja melampiaskan emosinya. dihadapannya Kameie duduk dengan tenang dan kepalanya menunduk takzim. disisinya Fitri duduk dengan kepala menunduk ketakutan. dibelakang keduanya duduk Tomomori dan Momoshiki dengan wajah penuh kecemasan.


"Kau bertindak semaumu, Saburo! kau tak pernah mendiskusikan hal ini denganku sebelumnya! kenapa kau mengambil perempuan ini sebagai istri?! apa tidak ada yang lebih baik dari perempuan ini?!" cela Tasuku sesekali merendahkan kedudukan Fitri.


Kameie tersenyum dan menegakkan wajahnya. "Kelak, ayah akan tahu, sesempurna bagaimana istriku ini. aku tak akan berkoar-koar menyebutkannya. kami berdua akan diam. kami tak akan menyela kemarahan ayah. kami tahu kami salah. tapi, kesalahan yang kubuat semata-mata hanya untuk menyelamatkan harkat kewanitaannya..."


"Harkat kewanitaan?" sela Tasuku kemudian tertawa. "Wanita tak lebih dari bagian penyempurna diri kita saja, nak! jangan terlalu serius dengan seorang wanita. dia akan menginjak kepalamu kelak!" nista lelaki itu seraya menatap penuh kebencian kepada Fitri.


"Itulah yang membedakan kita, ayah." jawab Kameie. "Aku tidak akan pernah sama denganmu dalam memandang beberapa hal."


Tasuku mendengus, "Kembalilah ke agama moyangmu."


"Itu tak bisa saya lakukan." tolak Kameie.


Tasuku serta merta mencabut pistol dan mengarahkannya kepada Kameie. kedua kakak beradik serentak nyaris bangkit.


"Ayah!!!" seru Tomomori dan Momoshiki dengan serentak.


Kameie tersenyum lagi. "Ayah, selama ini aku selalu menaatimu. selama ini aku tak pernah membantahmu. namun, untuk urusan keyakinan dan cintaku sekarang, maafkan aku jika mulai saat ini aku akan membantahmu. jika kau mau bunuh aku dan Fitri, silahkan. kami sudah nikah, kami sudah terikat dalam ikatan yang sah. maaf, kami mohon pamit meninggalkan tempat ini."


Kameie membungkuk takzim lalu mengajak Fitri meninggalkan ruangan, menyisakan Tomomori dan Momoshiki yang menatap takjub, serta Tasuku yang dengan lemas menurunkan tangan dan meletakkan pistol dimeja. tak lama, senyum bangga tersungging dari bibirnya.


"Anak itu..." ujarnya tanpa meneruskan kalimatnya.


...*****...


Kediaman Kameie Saburo Mochizuki di Shibuya, Tokyo.


Pagi itu, entah kenapa Kameie telah merendamkan dirinya dalam bak berisi air hangat itu. kedua matanya memejam dan membiarkan bulir-bulir keringatnya menyatu dengan uap air yang mengepul-ngepul.


tak lama kemudian pintu kayu bergeser dan Fitri masuk mengenakan yukata tipis. Kameie sejenak membuka mata dan memejamkan mata lagi ketika mengetahui kemunculan Fitri dikamar mandi itu.


wanita itu melepaskan jilbabnya, membiarkan rambutnya yang panjang sepunggung menjuntai. Fitri kemudian melepaskan pakaian, membiarkan tubuh telanjangnya kemudian melangkah turun kedalam bak dan berendam bersama suaminya.


"Bagaimana kabarmu hari ini, Tsuma?" sapa Kameie dengan lembut.


Fitri senyum tersipu lalu mendekat. "Biar kubersihkan tubuhmu." pinta Fitri.


Kameie tersenyum. "Tak perlu, sayang. kemarilah..." panggilnya.


Fitri maju dan memeluk lembut suaminya. Kameie sendiri tersenyum menyadari betapa lembutnya pelukan sang istri.


"Kelihatannya... kamu sudah terbiasa dengab tubuhku ini." olok Kameie membuat Fitri kembali tersipu. lelaki itu kemudian mengulurkan kedua jemarinya yang kekar menangkupi pipi Fitri.

__ADS_1


Fitri menatap Kameie dengan alis yang terangkat. Kameie tersenyum. "Fitri! kau istriku sekarang! mulai saat ini tak ada seorangpun yang akan menyentuhmu kecuali aku." setelah itu wajah lelaki itu mendekat dan mengecup bibir Fitri dengan lembut.


Fitri membalasnya dan keduanya bergumul dengan lembut di bak air hangat itu hingga akhirnya mereka berdua mendaki permainan yang penuh dengan gerakan reproduksi dan saling mengaduk lautan abadinya dalam lingkupan cinta. keduanya menyatu dalam coitus tersebut.[]


__ADS_2