Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 18


__ADS_3

sejenak Trias tersogol dengan sindiran kekasihnya, tapi ia masih bisa menguasai diri. pemuda itu justru tersenyum.


"Ketua kelasku justru lebih bijak dari ketua kelasmu!" balas Trias, "Begitu bijak dia, hingga memaafkan perlakuan kalian yang tidak pantas terhadap warga yang diayominya. tapi aku..." Trias menekan-nekan telunjuknya ke dada dengan wajah yang mengencang. suaranya lirih tapi penuh tekanan. "Aku sendiri tak bisa menerimanya."


Kenzie menatapi kedua orang yang sementara berdebat itu dan menghela napas.


lihat apa yang kau buat Chiyo.... kau membuat pasangan suami-istri yang harmonis itu bertengkar.... ada-ada saja...


Kenzie kembali tersenyum. namun senyum pemuda itu hilang berganti tatapan tajam ketika matanya beradu dengan mata puluhan siswa-siswi kelas XI A yang memandangnya sambil menggosip. entah apa yang mereka gosipkan.


sementara keduanya masih terlibat perdebatan. Iyun hanya mendengus denhan bibir yang dicibirkan namun Trias tidak perduli.


"Aku tidak akan membiarkan tindakan-tindakan yang menyebabkan perpecahan dalam solidaritas siswa SMUN 3 Gorontalo, bagaimanapun caranya. aku akan menghentikannya!" tandas Trias.


"Bahkan jika kau harus berhadapan denganku, Trias Eliasa Ali?!" tantang Iyun sambil bercakak pinggang dan menatapi pemuda itu dengan tajam.


Trias terdiam, tak menyangka gadis itu berani menantang. selama ini Iyun tak seperti itu. ia selalu patuh. bahkan kepatuhannya lebih mirip seorang istri ketimbang pacar. apa saja yang diinginkan Trias, selama itu tak melanggar norma dan agama, Iyun selalu mematuhinya. keduanya memang sudah dikenal oleh seluruh siswa dan guru sebagai pasangan kekasih. sebuah rahasia umum. kemunculan Chiyome diantara mereka membuat gadis itu berani membuat batas yang bahkan Trias sulit merobohkannya.


"Kau bertindak semena-mena karena penilaian pribadimu terhadapnya, bukan karena kesetiakawananmu terhadap teman-temanmu." jawab Trias kali ini lebih lembut untuk mencairkan kecanggungan mereka.


Iyun hanya mendengus dan melipat kedua tangannya didada. Trias tersenyum.


"Aku kan sudah bilang kemarin kalau aku dengan Chiyome bukan apa-apa. bahkan sudah kutantang kau ke KUA. belum cukupkah itu untukmu agar mempercayaiku?" kata Trias dengan memelas.


Iyun tetap diam. ia menjelajahi kedua bola mata pemuda itu, mencari kejujuran disana. ia menemukannya membuat gadis berjilbab itu menghela napas panjang.


"Jadi maumu apa?" tanya Iyun dengan suara yang sudah lembut. Trias sudah paham kalau gadisnya telah menemukan ketenangan emosi.


"Bersikaplah sewajarnya.... percayalah padaku.." pinta Trias.


Iyun tak menjawab, malah berbalik dan melangkah kembali menuju pintu. langkahnya tertahan ketika Trias tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya. gadis itu menatapi Trias.


Hanya kau didalam hatiku." tandas Trias lagi.


pemuda itu perlahan melepaskan pegangannya membiarkan Iyun masuk kedalam kelas. Trias membuang napas lalu berbalik pulang menuju kelasnya diikuti oleh Kenzie dari belakang.


...*******...


konselor menatapi Trias dengan tatapan datar. Kenzie sendiri bersama Chiyome duduk dibangku diluar ruangan konseling. guru itu sudah 10 tahun berkutat dengan keahliannya. ia membuka catatan konseling dan menyadari bahwa Trias memiliki satu catatan, yaitu ketika memprotes cara penilaian seorang guru yang dianggapnya diskriminatif terhadap para siswa.


Trias diundang ke ruang konseling dikarena Laporan dari perwalian kelas XI A, yang berdasarkan penuturan ketua kelas, Trias telah merusak sebuah meja dengan tinjunya karena perasaannya yan6h sentimental terhadap status kelas XI A.


menurut pengamatan konselor itu, Trias adalah sosok yang disegani dan dihormati oleh para siswa dan sebagian guru. sejak kasus protes itu, guru tersebut dimutasikan.


Trias tetap dengan sikap tegaknya. berdiri tegak dengan kedua tangan diistirahatkan dibelakang. mirip taruna atau praja. konselor itu berdehem.


"Mengapa kau melakukan perbuatan itu?" tanya konselor itu.


"Saya melakukannya sebagai wujud solidaritas kepada sesama siswa SMUN 3 Kota Gorontalo, Pak!" jawab Trias dengan tegas.


"Tapi penuturan perwalian kelas XI A, sama sekali berbeda dengan apa yang kau pikirkan. " selidik guru itu.


"Ibu Sartin hanya menerima berita secara sepihak dari siswa kelasnya. beliau tidak mengkonfirmasi berita itu dengan perwalian kelas kami. saya secara pribadi telah menghadap Pak Risno, dan menjelaskan semua." jawab Trias lagi.


"Menurut mereka, kau melakukan keributan karena membela temanmu yang orang jepang itu." pancing konselor itu.


"Disini saya kembali menegaskan, pak! saya melakukan hal ini bukan karena status kewarganegaraan dia. tapi lebih kepada wujud solidaritas sesama warga kelas XI F." tandas Trias. "Dan semestinya, pihak XI A yang merasa dan membanggakan diri sebagai kelas percontohan disekolah kita? mesti memperlihatkan keteladanan sikap kepada siswa-siswa kelas lain. bukan membanggakan diri dan membatasi pergaulan hanya karena menganggap mereka seakan golongan yang tak bisa disentuh." sindir Trias.


"Begitu menurut pengamatanmu?" pancing konselor itu lagi.


"Sudah menjadi rahasia umum." jawab Trias dengan senyum sinis. "Apakah karena mereka memiliki tingkat intelejensia sedikit diatas rata-rata dapat membuat mereka menciptakan diferensiasi sosial disini?!"


konselor diam mengamati Trias, membiarkan pemuda itu mengeluarkan unek-uneknya.


"Kita semestinya bersyukur. pemerintah Jepang, bersedia menyetujui usulan program pertukaran pelajar. sekolah kita terpilih menerima kehormatan itu. Apakah hanya karena dendam masa lalu, kita memperlakukan gadis itu dengan melanggar tata etika? mana katanya bangsa indonesia punya budi pekerti luhur? mana katanya orang gorontalo yang mendahulukan mufakat diatas kepentingan pribadi?" sindir Trias.


"Kita jangan menutupi sejarah, ada juga orang kepang yang ikut berjuang bersama orang indoneisa dalam memperjuangkan kemerdekaan." kata Trias.


"Siapa dia?" pancing konselor tersebut.


"Ahmad Shigeru Ono." jawab Trias dengan singkat.

__ADS_1


"Tapi kau tak semestinya mengeluarkan amarahmu dihadapan mereka." kilah konselor itu.


"Karena sikap mereka yang berlebihan. " balas Trias.


"Baiklah. aku bisa memahami perbuatanmu. tapi secara administrasi kau telah melakukan kesalahan karena telah merusak inventaris sekolah." kata Konselor.


"Saya siap bertanggung jawab." kata Chiyome yang langsung masuk sedang dibelakang Kenzie muncul. konselor itu langsung berdiri.


"Siapa yang menyuruhmu masuk?! " bentak konselor dengan marah.


"Maaf jika saya telah melanggar etika." kata Chiyome. " Segala yang terjadi ini, murni kesalahan saya." gadis itu membungkuk dalam khas orang jepang.


konselor itu diam mengatur emosinya kemudian mengangguk-angguk. "Tidak ada yang menyalahkanmu nak Chiyome. kau tidak punya hubungan apapun dengan kasus ini." tandas konselor itu.


"Tapi..." Chiyome menegakkan tubuhnya.


"Chiyo...tenanglah." potong Kenzie sambil menyentuh bahu gadis itu. "Ini bukan masalah besar." pemuda itu memegang kedua bahu Chiyome dan membimbing gadis itu keluar dari ruang konseling.


sepeninggal dua orang itu, Konselor kembali menatapi Trias. "Silahkan tinggalkan ruangan ini!" perintahnya.


Trias membungkuk datar lalu melangkah meninggalkan ruang konseling. pemuda itu melangkah cepat, tidak menghiraukan Kenzie maupun Chiyome yang menyusulnya dengan langkah setengah berlari.


didepan kelas XI A, Trias bertemu lagi dengan ketua kelas itu ditemani Iyun dan seorang siswi lain. sejenak Trias berhadap-hadapan dengan ketua kelas itu dan menghadiahkan tatapan yang memicing. tatapan pemuda itu mencorong, bahkan ia mengacuhkan keberadaan Iyun sekalipun.


Iyun sendiri menyadari, bukan saat yang tepat untuk menghadapi Trias. pemuda itu harus ditenangkan dulu dan akan ditemuinya lagi lain kali. setelah puas mengintimidasi pimpinan kelas XI A itu, Trias melangkah menuju kelasnya.


pemuda itu tiba didepan kelasnya, langsung disambut oleh Fendi Modanggu, Ketua kelasnya.


"Bagaimana?" tanya Fendi.


"Aku hanya dimintai pertanggungjawaban mengganti meja yang reyot itu." jawab Trias.


Fendi tersenyum kemudian menatapi Kenzie dan Chiyome yang memasuki kelas.


"Kau terlalu emosi menanggapi kelakuan mereka terhadap perempuan itu." kata Fendi sambil menampar-nampar bahu Trias. "Biarkan saja mereka membentengi diri sedemikian rupa. itu tak akan merubah pandangan orang pada kita."


"Anda terlalu lembek ketua." tegur Trias tidak puas. "Seharusnya kau juga melayangkan protes, bahkan dihadapan dewan guru."


pemuda itu kemudian melangkah lalu duduk dikursi guru. ia menatapi teman-temannya yang juga menatapinya. gayanya seperti seorang pimpinan sebuah kelompok gangster.


"Persatuan dan kesatuan diantara siswa SMUN 3 akan hilang berganti dengan polarisasi siswa yang menyeret kita kedalam perseteruan antara kita dengan mereka." kata Fendi sambil mengetok-ngetok ujung pulpen ke meja besar. "Kita memang warga kelas XI F. dan iru benar jika dilihat dari sudut pandang ilmu antropologi yang membagi kita kedalam kasta berdasar warna kulit, pekerjaan, suku, bangsa, dan status."


Fendi bangkit dan menyangga kedua tangannya pada permukaan meja besar itu. dengan tajam ditatapi semua warga XI F yang hadir.


"Kesimpulannya, kita tetap warga satu sekolah. khususnya kita adalah warga kelas XI F. kita sendiri yang harus menjaga persatuan dan kesatuan diantara kita sendiri." kata Fendi kemudian memegakkan tubuh dan melangkah kedepan barisan meja dan kursi yang diduduki siswa.


"Karena darah kita sama warnanya. tidak ada bedanya." tandas Fendi.


kalimatnya yang terakhir mendapat sambutan meriah siswa-siswa yang lain. mereka bertepuk tangan bahkan bersuit-suit.


"Daming! undang pak Warno! kita siap menerima pembelajaran." titah Fendi.


dirasuki eforia kepatuhan, Daming Humolungo, siswa terceking dikelas dan paling rajin membolos, entah kenapa dengan semangat melupakan ritual kesehariannya dan memilih mena'ati perintah ketua kelasnya.


...***********...


Kenzie berdiri menyandarkan punggungnya ke batang pohon. sedangkan Chiyome duduk dibalai-balai. dihadapan keduanya, Trias memggenggam buku cetak bahasa indonesia yang ia gulung. siswa-siswi lain menganggap mereka bertiga mendiskusikan pembelajaran, nyatanya tidak.


"Kelihatannya Burhan mulai mempercayaimu." kata Trias sambil membuka gulungan buku lalu membukanya, pura-pura membacanya.


"Hanya karena ini, aku sudah menghabiskan uang 15 juta rupiah." keluh Kenzie sambil mendorong pinggulnya condong kearah Trias. "Kita harus segera memecahkan masalah ini."


"Pakai uangku saja." kata Chiyime tiba-tiba.


kedua pemuda itu menatapinya.


"Nggak salah niiii?" tanya Trias.


Chiyome menggeleng. "Demi keberhasilan sebuah misi, apapun harus dikeluarkan dari perut bumi sekalipun."


"Dapat darimana ide itu?" olok Kenzie.

__ADS_1


"Dari film-film aksi." Chiyome berdiri. "Umpan harus tetap digulirkan. kita akan menemukan mereka setelah ini."


Trias mencerna kata-kata perempuan itu sedang Kenzie hanya menundukkan kepalanya dan menyepak-nyepak tanah. beberapa saat kemudian muncul Iyun


"Tri, bisa kita bicara." kata Iyun, kemudian menatapi Chiyome.


Trias menutup buku teks lalu memandang kekasihnya yang menatapi Chiyome dengan tajam. Kenzie mendehem.


"Kalau begitu, ijinkan kami pergi." kata Kenzie sambil mengajak Chiyome berlalu dari tempat itu.


"Kalian disini saja. " tahan Trias. " Supaya tidak ada yang berpikir urusan antara kita dengan mereka belum selesai."


"Aku kuatir, keberadaan kami disini akan makin merenggangkan hubungan kalian." jawab Kenzie sekenanya.


Trias mengekori langkah kedua sahabatnya hingga mereka berbelok kemudian Trias menengadah menatapi Iyun.


"Duduklah!" perintah lelaki iru.


Iyun duduk dan memperbaiki sikapnya. kemudian ia menatapi Trias.


"Aku mau minta maaf atas nama kelas XI A." kata Iyun.


"Aku nggak butuh maaf mereka! jangan jadikan dirimu tumbal gengsi mereka!" tolak Trias hendak berdiri, namun Iyun lekas menggenggam pergelangan tangan pemuda itu dan memintanya duduk disisinya.


"Aku tahu, semua berawal dari sikapku yang kurang berkenan kepada teman perempuanmu itu. secara pribadi, aku mjnta maaf." kata Iyun.


Trias menyapu kepala Iyun yang terselimut jilbab. "Honey, jangan minta maaf padaku. aku nggak ada sangkut pautnya dengan urusanmu dan Chiyome. minta maaf sendiri padanya karena kau menolak i'tikad baiknya. dia sendiri menanggalkan gengsinya hanya untuk menemuimu karena dia tau kau itu pacarku."


"Apakah Chiyome mengadu kepadamu?" selidik Iyun.


"Aku dan Kenzie mengawasimu ketika kalian mengusir Chiyome dikantin saat itu. tanpa dia jelaskan, kami sudah tahu. Kenzie nggak mau memperparah urusan. aku aja yang gak terima. kamu kan tau aku sejak dulu. paling nggak suka lihat kezaliman." jawab Trias sambil membuang napas kasar.


"Kau marah?" pancing Iyun dengan nada pelan.


Trias tertawa,"Bagaimana aku bisa marah sih? kamu itu menggemaskan! aku cuma menyayangkan kamu gampang dihasut. kamu udah model pakaiannya begini, masih bisa dihasut. gimana sih?" ujar Trias menyindir model pakaian yang dikenakan Iyun dan gadis itu benar-benar malu.


Trias menangkupkan tangannya ke wajah Iyun. dengan senyum yang teduh ia melanjutkan katanya, "Aku tahu kamu cemburu sama dia. tak perlu, sebentar lagi dia pasti jadi miliknya Kenzie. aku yakin. potong leherku kalau nggak jadi kenyataan!" tandas Trias dengan yakin.


"Sok tau kamu..." kata Iyun sambil senyum.


"Aku bisa baca tatapan Kenzie sama dia. begitu juga Chiyome. aku tahu mereka saling suka, hanya malu mengungkap, menunggu siapa duluan." kata Trias sambil tertawa.


"Baiklah... aku salah..." aku Iyun sambil menunduk.


"Memang...." balas Trias membuat Iyun menegakkan wajah menatapi pemuda itu.


Trias menatapinya lagi dengan tatapan yang teduh. "Yun, dia itu orang jauh. jauh dari negerinya, tapi rela menyeberangi lautan, menerbangi dirgantara hanya untuk menempuh studinya disini." kata Trias sambil menggenggam tangan Iyun. "Semestinya, sebagai tuan rumah, kita harus memperlakukan dia dengan baik."


Iyun menatapi Trias yang melayangkan pandangannya ke pepohonan


inilah yang membuatku tak bisa jauh darimu.. kau dewasa sekali.... dan benar aku cemburu... sangat cemburu...


"Aku nggak perduli dengan biaya ganti meja kalian itu, Yun. aku hanya inginkan keadilan. pemerataan diantara komunitas kita sebagai sesama siswa SMUN3." kata Trias kembali menatapi Iyun.


"Kamu memang lebih cocok jadi pengurus partai politik." olok Iyun.


"Maka kau pasanganku dalam menyampaikan aspirasi rakyat." balas Trias sambil mengacungkan tangan yang terkepal keatas.


"Kenapa sewaktu pemilihan ketua OSIS, kau nggak ikut?" pancing Iyun.


"Aku lebih suka jadi proletar. " jawab Trias.


Iyun tersenyum lebar memamerkan barisan giginya yang berderet rata. kemudian ia balas menggenggam tangan pemuda itu.


"Kau memaafkanku?" tanya Iyun.


"Apa salahmu? cemburu? itu biasa. aku justru suka dicemburui. berarti kau memang benar-benar mencintaiku." goda Trias sambil mengedipkan sebelah matanya. seketuka Iyun mencubit pinggang pemuda itu.


"Iiiiii... gombal..." rajuk gadis berjilbab itu.


"Biarin... tambah doooong..." pinta Trias.

__ADS_1


maka menggelinjanglah pemuda itu menerima cubitan demi cubitan mesra gadis berjilban itu disekujur tubuhnya. []


__ADS_2