Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 47


__ADS_3

keributan terjadi diruang rapat. para petinggi Yamaguchi semua shatei ( cabang) dan wakachu (ranting) berkumpul pada hari itu. Shinobu Tsukasa sendiri sebagai Kumicho (Ketua umum) hanya diam mendengarkan ocehan-ocehan yang keluar dari para petinggi yang kebanyakan terlalu banyak membual prestasi kerdil mereka dihadapan ketua umum supaya bisa diperhatikan.


Kameie menatapi semua peserta rapat. ia duduk dibelakang Tasuku sebagai perwakilan anggota yang ia pegang karena ayahnya, Tasuku adalah ranting. mwrwka masih berada dalam penanggung jawaban Hidesato Fujiwara yang merupakan pemimpin cabang Kanto.


karena kesal oleh hingar bingar suara, Shinobu yang sudah berusia 60 tahun tapi terlihat tegap dan sangar berdiri dan mengaum.


"Hentikan semuanyaaaa!....."


seketika semua peserta rapat langsung diam dan ada yang menciut dibelakang pimpinannya. Kameie hanya memghembuskan napas menahan rasa bosan.


"Tempat ini bukan untuk saling memperlihatkan kehebatan diatas kepengecutan yang kalian lakukan. ini tempat suci bagi kita....."


segenap suara menggelegar milik Shinobu berhasil melengangkan suasana ruang tersebut. lelaki tua itu menatapi Tasuku.


"Tasuku, coba jelaskan padaku. pembicaraan pribadi kau hendak mengungkap sesuatu. bicaralah. saudara-saudaramu ada disini mendengarkan."


Tasuku menghela napas lalu memandangi semua petinggi yang juga sedang menatapinya. "Sebenarnya saya bisa saja menjadi pembicara terakhir diforum ini. tapi karena Ketua Tsukasa memaksa, biarlah putra saya Kameie yang akan membebarkan isi pikiran saya."


Kameie berdiri sejenak dan melangkah kesisi Tasuku kemudian duduk bersila lagi. ia menatapi keseluruhan anggota yakuza yang hadiri dalam rapat.


"Saya hendak mengumumkan pernikahan putri saya." kata Kameie. sontak seluruh pwnghuni ruangann itu.


semua anggota serentak mengucapkan selamat kepada pria itu sambil bertepuk tangan. Kameie tersenyum dan beberapa kali membungkuk membalas pujian-pujian itu.


"Tenang Kameie, putraku, Nobuo siap menjadi mantu mu." timpal Kagenobu yang langsung reaktif. dia memang berniat mengambil putri Kameie itu sebagai menantu.


"Tapi ada perkembangan tak terduga." jawab Kameie.


semua petinggi menatapi Kameie. pria itu menelan ludahnya. Shinobu menatapi Kameie dengan sorotan tajam.


"Katakan, Kameie." pinta Shinobu.


"Putri saya sudah menetapkan pilihannya." kata Kameie.


"Ah bagus itu. biar ku kabari Nobuo untuk berita baik ini." potong Kagenobu.


"Kagenobu!" tegur Shinobu membuat lelaki berusia 50 tahun itu terdiam lalu mengipasi wajahnya yang terlihat malu ditegur secara langsung oleh pemilik klan Yamaguchi.


"Teruskan, Kameie." pinta Shinobu.


"Ia telah memilih orang diluar golongan kita." jawab Kameie.


sontak keterangan lelaki itu menimbulkan lagi keributan. terlebih Kagenobu yang kecewa langsung memprovokasi dengan celaan.


"Keinginan macam apa itu?! apakah sudah tak ada penjaga dikalangan genyosha sehingga putrimu mencari binatang diluar kandang?!" cela Kagenobu.


"Kagenobu! jaga bicaramu!" tegur Tasuku. "Kau mencela cucuku, sama saja kau mencelaku. kau mau mencari gara-gara denganku?!" ancamnya sambil menggebrak meja.


"Heh... Kameie, mana semangat sebagai seorang yakuza dalam dadamu? kau membiarkan dirimu disetir oleh anak perempuanmu?" sindir Kagenobu lagi.


"Dia anak tertua dikeluargaku. sesuai adat kita, siapapun anak tertua, dia berhak mengutarakan keinginannya. aku melaksanakan kewajibanku sesuai tradisi genyosha." tandas Kameie dengan wajah yang mulai menampakkan tidak suka.


"Dia perempuan, Kameie. statusnya dibawah kita yang kaum lelaki. kau harus ingat itu." tegur Masanori yang sedikit memihak Kagenobu.


Kameie menggeleng. "Aku tidak suka mengekang keinginannya. kalau kalian menghendaki, biarlah Iechika yang akan menjalani seluruh tradisi kita. aku janjikan pada kalian semua."

__ADS_1


"Bah, itu hanya alasanmu saja Kameie. apakah putraku Nobuo tidak cukup pantas menjadi pasangan Chiyome?" tantang Kagenobu.


"Kau salah mengartikan pendapatku." kata Kameie.


"Apa? atau jangan-jangan batang penismu itu sudah benar-benar tertancap diliang milik perempuan indonesia itu hingga apapun yang dia katakan, kau akan mengiyakannya?!" ejek Kagenobu lagi.


"Kagenobu!! sudah cukup bicara kotormu mengurangi kesakralan pertemuan kita.! hal itu juga sudah menjadikanku yakin untuk tidak menjadikanmu besan!" tandas Tasuku sambil berdiri. sedangkan Kameie tenang-tenang saja kelihatannya.


"Cih! aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana darah keturunan bisa seenaknya menentukan apa yang dia inginkan." cela Kagenobu. "Atau perlu kukirim Nobuo pada putrimu untuk menjernihkan otaknya itu? tenang saja Kameie, Nobuo akan dengan gampang menjernihkan pikiran putrimu itu."


tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Chiyome muncul mengenakan kimono jenis kurotomesode dengan hiasan bunga Krisan putih pada bagian bawahnya. sabuk besarnya berwarna merah pudar. lambang keluarga Mochizuki tersemat di tiga tempat pakaiannya. gadis itu menyanggul rambutnya. ia membawa sebilah pedang tanpa tsuba dengan tampilan yang sederhana namun modis. pedang itu disembunyikan dibelakangnya.


"Heh?! siapa yang menyuruhmu datang kemari?!" bentak Kagenobu, kemudian menatapi Kameie, "Kau, ajar putrimu sopan santun!"


Shinobu Tsukasa menatapi gadis itu. memang selama ini ia tidak terlalu mengenali semua anggotanya. kedatangan putri Kameie itu menarik perhatiannya. gadis itu berlutut setengah dengan gaya onna bugeisha.


"Salam kepada Kumicho. salam sejahtera dan bahagia selamanya." sapa Chiyome, menunduk sesuai etiket sebagai wanita yakuza.


Shinobu Tsukasa mengangkat tangannya. "Tuhan memberkatimu, nak." jawab Shinobu. ia mengetahui keluarga Kameie telah menganut agama barunya yang berasal dari arab itu. jadi dia menggunakan kata 'Tuhan' menggantikan kata 'dewa' sesuai adat genyosha yang didominasi ajaran shinto.


"Terima kasih, Tsukasa-Dono..." jawab Chiyome. ia menggunakan kata sambung 'dono' yang artinya 'yang dipertuan, atau paduka' untuk menghormati ketua umum klan Yamaguchi tersebut. mendengar balasan kata gadis itu, otomatis Shinobu Tsukasa tersenyum merasa disanjung oleh perempuan muda tersebut.


anak perempuan ini memang sangat memegang tradisi. mungkin keliarannya yang membuat karakternya seperti pemberontak... Kameie memang tidak salah mendidik anak ini.


"Apa yang membuat kamu datang mengganggu pertemuan kami, nak?" tanya Shinobu Tsukasa dengan wajah yang kembali dibuat dingin dan serius.


"Saya datang untuk mempertegas keterangan yang disampaikan ayah saya, sekaligus menjawab semua pertanyaan dari para petinggi yang tidak puas dengan keputusan saya!" tandas Chiyome.


Kameie memang tidak menyangka Chiyome tiba-tiba muncul diruangan itu. namun ia percaya, putrinya mampu menjawab segala pertanyaan maupun tantangan. sedangkan Tasuku sempat terkesima dengan gaya bicara cucu perempuannya.


"Keputusan seperti apa yang hendak kau bicarakan dalam dewan ini?" pancing Shinobu Tsukasa.


"Saya memilih jodoh saya sendiri, bukan karena saya tidak mematuhi adat genyosha. tapi jauh dari lubuk hati saya sebagai seorang wanita, saya mencintainya!" jawab Chiyome.


ucapan Choyome langsung mendapat respon tertawa diantara orang-orang yang hadir. Chiyome sendiri tetap diam meskipun dalam hatinya ia mendidih mendengar cemoohan itu.


"Cinta? kata paling menggelikan yang pernah saya dengar. kau pikir cinta bisa membuatmu hidup bahagia?!" ejek Kagenobu.


"Ya, bisa. buktinya, ayah saya bahagia. saya juga bahagia dengan calon suami saya." jawab Chiyome dengan anteng sambil menekan dadanya, memamerkan senyum yang terlihat hangat, namun menusuk bagi Kagenobu.


"Omong kosong. itu hanya sebuah nafsu sesaat. aku bisa hidup dengan istriku tanpa cinta. Nobuo juga terlahir tanpa cinta, tapi semua baik-baik saja." cela Kagenobu.


"Itulah sebabnya saya tidak suka Nobuo menjadi pasangan saya. dia tidak mencintai saya. dia hanya menjadikan saya obyek **** pemuas nafsu yang jika bosan dengan gampang bisa dibuangnya." balas Chiyome sambil tersenyum membuat Kagenobu sangat geram hingga terlihat ia menggenggam kipasnya dengan gemetar.


"Tapi calon suami saya adalah lelaki terbaik. dia menghargai saya. dia menerima sisi kelam saya. dia mencintai saya, membuat saya menjadi wanita paling bahagia di dunia." tambah Chiyome berhasil menyulut kemarahan Kagenobu dan justru membuat Shinobu Tsukasa tersenyum.


para hadirin menjadi gaduh dengan jawaban Chiyome. gadis itu melanjutkan. "Kenapa negara kita mengalami penurunan populasi? kau bisa menjawabnya tuan Kagenobu?" ejek Chiyome.


Kagenobu menggeram. Chiyome menjawabnya. "Karena kalian tidak punya cinta pada pasangan kalian. kalian pikir perempuan itu mesin pembuat anak? sadar dan merenunglah. kami tidak seperti itu. kami juga butuh cinta. dan kekasihku menggenapi semuanya."


"Perempuan sundal!!" teriak Kagenobu sambil berdiri dan menggenggam pedang pendek. sebelum ia maju menggertak, Chiyome telah lebih dulu maju dan menghunus pedang sekaligus menebas leher lelaki itu.


sedetik kemudian, kepala Kagenobu jatuh dilantai, menyusul tubuhnya yang jatuh menggeletak memuntahkan darah yang membasahi lantai.


Chiyome mengacungkan pedang kearah orang-orang yang berada dibelakang Kagenobu yang terlihat kaget lalu gaduh. tatapan gadis itu mencorong.

__ADS_1


"Sampaikan kepada Nobuo, ayahnya sudah meletakkan kehormatannya dihadapan Kumicho dan telah menyatakan pengunduran dirinya sebagai ketua cabang Tohoku. kalau dia keberatan, dan merasa penisnya lebih panjang, aku siap mencincang barang yang dia banggakan itu seperti sosis mentah." kata Chiyome.


semua terkesima dengan keberanian gadis itu, tak terkecuali Shinobu Tsukasa. ketua umum klan yamaguchi itu kagum. ia menatapi mayat Kagenobu dan mengisyaratkan beberapa orang untuk membereskan jasad tersebut.


"Nona Chiyome, saya paham apa yang telah kau utarakan. secara pribadi, saya tidak menghalangi keinginan anda. tapi saya juga tak akan melarang siapapun yang keberatan atas diri anda dan mereka menuntut keadilan. apa anda siap dengan segala resikonya?" pancing Shinobu Tsukasa.


Chiyome memandang kembali seluruh hadirin. "Kalau mereka suka menimbulkan perang saudara hanya karena persoalan ***** panjang mereka, saya sudah siap dari pertama kali saya memantapkan hati saya. jika mereka suka kehilangan wilayah kekuasaan mereka, aku tidak keberatan mengambil wilayah mereka dan membagikannya kepada yang lebih layak. hanya satu yang saya tekankan. perang saudara akan menyebabkan klan Yamaguchi lemah dan bisa dikuasai oleh kelompok lain."


setelah itu, Chiyome kembali melakukan penghormatan gaya onna bugeisha kepada Shinobu Tsukasa lalu berbalik meninggalkan ruangan pertemuan iru. Shinobu Tsukasa kembali menatapi para peserta pertemuan.


"Pertemuan selanjutnya membahas tentang perkembangan kelompok kita. saya persilahkan Maeda Tokishiji menyampaikan laporannya." seru Shinobu Tsukasa.


pertemuan kembali berjalan sebagaimana biasanya. tak ada lagi yang membahas tentang keluarga Mochizuki.


...*********...


Shinobu Tsukasa menatapi Tasuku yang diam tenang dikursinya. pria berusia 67 tahun itu diam menunggu sang ketua menyampaikan pendapatnya.


"Cucu perempuanmu sudah menabuh genderang perang." kata Shinobu.


Tasuku hanya tersenyum datar. "Anda sudah melihat darah keturunan Minamoto, dalam dirinya."


keluarga Genkuro merupakan garis keturunan yang mengklaim mereka berasal dari darah keturunan Minamoto Yoshitaka. sedangkan Mochizuki adalah keluarga yang merupakan cabang luar dari Seiwa-Genji langsung dibawah Minamoto Sanetomo.


"Apa yang dididik Kameie padanya hingga anak perempuan itu begitu berani?" pancing Shinobu sambil tertawa.


"Bukan Kameie. putraku mendidik Chiyome layaknya seorang yakuza. pendidikan itu datang dari istrinya. mantuku mengajarkan bahwa harta dan kekuasaan bukan segala-galanya. ia mengajarkan kedua anaknya untuk menjadikan Tuhan diatas segala-galanya. makanya anak itu sangat berani, saya yakin, dia tidak takut kepada anda seperti anggota-anggota yang lain. dia hormat, itulah sebab ia menggunakan kata Paduka pada anda karena sebagai anggota ia diajar untuk menjunjung wibawa anda. tapi jika anda berani mengutak-atik urusan pribadinya maka anda jangan kaget jika apa yang terjadi pada Kagenobu bisa jadi akan menimpa anda." jawab Tasuku panjang lebar.


"Kagenobu sengaja membangunkan singa tidur." ujar Shinobu sambil tertawa. "Tapi sebaiknya, kalian berhati-hati saja. bisa jadi Nobuo akan menggalang kekuatan lalu menyerang kalian."


"Hal itu saya bisa duga. saya sudah siap jika cabang Tohoku mau cari gara-gara dengan cabang Kanto. saya akan menyampaikan hal ini kepada direktur Hidesato." kata Tasuku.


tak lama kemudian muncul seorang lelaki berpakaian formal dan mendekati Shinobu kemudian membisikkan sesuatu kepadanya.


"Apa?! yang benar saja kamu!!" bentak Shinobu Tsukasa dengan berang.


pria itu hanya membungkuk saja. Shinobu Tsukasa bangkit dan menatapi Tasuku. "Kau kembalilah ke kantor. aku akan kembali ke Kyoto. ada hal penting yang harus kuselesaikan dengan gerombolan Tong cina itu."


Tasuku berdiri dan membungkuk rendah kemudian Shinobu Tsukasa melangkah meninggalkan ruangan lounge itu. Tasuku menatapi punggung ketua umum yang menghilang dilekukan lorong. lelaki itu memperbaiki dan merapikan jasnya lalu melangkah meninggalkan ruangan tersebut.


...********...


Kameie duduk bersila melipat tangannya. dihadapannya Fitri menatap dengan cemas. beberapa kali Kameie menghela napas.


"Tidak ada cara lain. kita harus melindungi diri." kata Kameie. "Aku percaya, Chiyo-hime bisa menjaga dirinya. begitu juga dengan Iechika." Kameie membuka mata lalu menatapi Fitri. "Aku mengkhawatirkan Aisyah, Kenzie dan teman-temannya."


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Fitri.


"Aku akan mengadakan rompi anti peluru. Aisyah dan yang lainnya akan mengenakannya. sementara aku akan meminta Ienaga untuk melakukan blokade, memastikan kelompoknya Kagenobu tidak akan melakukan kekacauan. Iechika harus memastikan Nobuo tidak akan macam-macam. anak itu tidak tahu keganasan Chiyome. tapi kalau dia memaksa, aku hanya bisa berdoa, Chiyome tidak akan menghinakan jasadnya."


Kameie tahu betul kemampuan anak itu karena ia dan Ienaga yang membentuk kemampuan anak itu hampir mirip monster. Chiyome dibalik penampilannya yang riang dan manja kepada Kenzie, akan berubah menjadi monster yang haus darah dan menikmati pembantaian.


Kenzie sekali lagi bisa dipastikan akan banyak mengelus dada, begitu juga dengan Endi, Trias dan istrinya. tapi Kameie sudah yakin akan kemampuan pemuda itu. hanya Kenzie yang bisa mengendalikan nafsu buas anak perempuannya.


Chiyome adalah api, dan Kenzie adalah airnya.

__ADS_1


Chiyome adalah pedang, dan hanya Kenzie yang bisa menyarungkannya. []


__ADS_2