Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 92


__ADS_3

Bapu Ridhwan membiarkan kedua pemuda itu meresapi kalimat yang keluar dari mulut orang tua itu. Trias bangkit bersama Kenzie.


"Tapi Bapu, bukankah kita juga mesti memaksakan kemenangan ketika pertarungan tidak lagi menjanjikan apapun, ketimbang mundur tidak akan sempat dilakukan karena terdesak oleh medan tempur yang tidak menguntungkan?" pancing Kenzie.


"Semestinya ketika kalian mengeroyok Bapu, kalian sudah bisa membaca kondisi medan apa dan kemampuan macam apa yang dimiliki lawan. itu tolok ukur untuk menciptakan kemenangan atau justru mundur melakukan rencana balik untuk menyerang lagi." jawab Bapu Ridhwan. kalian juga harus tahu bahwa kemampuan kalian turut mendukung, apakah pertarungan itu layak dilanjutkan atau tidak."




"Hubby, Bapu tadi hanya berlagak seperti perempuan yang malu-malu." ungkap Chiyome. "Bapu sengaja memancing agar Hubby dan Trias mengeluarkan kemampuan. kalian berdua terpancing dan disitu letak kelemahannya."


"Tuh... istri kamu saja paham Ken, kok kamu nggak?" sindir Bapu Ridhwan sambil tertawa.


Kenzie dan Trias akhirnya tertawa juga meskipun canggung dan terasa malu dikalahkan didepan istri dan kekasih mereka sendiri.


"Makasih Wiffy... sudah peringatkan Hubby. memang tak ada yang melebihi mata tajam istriku." puji Kenzie mengacungkan jempol kearah Chiyome. wanita itu hanya tersenyum lebar pamerkan seringai gingsulnya sambil memeluk Saburo yang tak bisa diam.


"Aaaa.... bukan cuma Chiyo yang tahu. Ipah juga sudah tahu hal itu. hanya saja dia diam tak mengomentariku." balas Trias.


"Nggak. aku nggak tahu. aku saja tahunya dari Chiyome tadi." jawab Ipah dengan jujur membuat Trias langsung menatapnya dengan wajah keruh dan menggigit bibirnya. Ipah meladeninya hanya dengan senyum saja.


Kenzie tertawa. "Kamu kalau mau tanding bukan seperti itu bro. jangan jatuhkan harga diri pacarmu hanya untuk menaikkan prestisemu." sindirnya.


"Aaaaa.... diam kau!!" bentak Trias dengan jengkel kemudian menatapi Bapu Ridhwan yang juga tertawa melihat pertengkaran mereka. "Bapu... apakah kami bisa menerima pelajaran saat ini juga?"


"Jangan kesusu.... bisa saja. tapi Bapu hanya memberikan dasarnya dulu. latih dengan sering dan berkesinambungan maka akan menjadi terbiasa." kata Bapu Ridhwan.


"Saya siap menerima pelajaran, Bapu." jawab Trias.


"Saya juga Bapu." balas Kenzie.


"Ya sudah... sekarang Bapu akan ajarkan teknik dasarnya. pelajari dengan pelan." jawab Bapu Ridhwan.


disaksikan oleh Chiyome dan Ipah saat itu, Bapu Ridhwan mengajarkan beberapa teknik Langga kepada kedua pemuda itu. suasana sudah mulai beranjak siang.


...*********...


Adnan saat itu duduk diberanda. Mariana sementara berbelanja jadi tak menemani suaminya. Aisyah diliburan ini minta ijin kepada Adnan untuk kembali ke Poso. dia berlibur bersama Stefan, kekasihnya.


dihadapan Adnan duduklah Bakri. saat ini, sesuai dengan rekomendasi yang dipaparkan Kenzie dirapat direksi, ia merekomendasikan Bakri sebagai sekretaris Adnan. semua urusan yang berkaitan dengan kegiatan sang presdir harus diketahui Bakri.


Adnan sejenak diam menarik napas. kemudian ditatapnya lekat pemuda yang masih terhitung keponakan jauhnya. "Bagaimana pendidikanmu?" tanya pria itu.


"Sedikit lagi sidang Skripsi, Om. kayaknya bulan Maret tahun depan saya sudah akan maju menggelar sidang. sudah ingin selesai supaya bisa fokus menjalankan tugas yang Om kasih ke saya." jawab Bakri dengan santun.


Adnan mengangguk-angguk. "Bagus. nanti setelah Kenzie lulus, kamu yang akan memback up dia untuk kelancaran kerja perusahaan."


"Saya akan melakukan yang terbaik untuk itu Om. saya harap Om tak usah cemas." jawab Bakri dengan keyakinan penuh.


Adnan menyandarkan punggungnya disofa kemudian menatap langit-langit sebentar. ia mendesah.


"Setelah dia lulus, ia akan menempati posisi wakil direktur. jabatan yang sebenarnya hanya sebuah kedok untuk mempersiapkan dirinya menempati posisiku kelak. ke depan, setiap urusan yang berhubungan dengan kontrak kerja, kau harus membantunya." kata Adnan.


"Sekuat tenaga saya, Om." jawab Bakri.


"Nak. aku percaya padamu, pertama karena rekomendasi Kenzie. kedua, karena kau guru silatnya. kau sudah tahu bagaimana wataknya setingkat dibawahku yang menjadi ayah kandungnya. ketiga, karena kau masih keluarga Lasantu, meskipun kau bwrada diluar garis itu. kau paham?" tandas Adnan memajukan punggungnya dan menunjuk-nunjuk permukaan meja didepannya.


"Saya paham, Om. saya akan berupaya semampu saya untuk mengawal perusahaan ini. saya juga memohon bimbingan Om, semoga saya tetap istiqomah." kata Bakri.


"Aku tak meragukan kesetiaanmu. persoalan istiqomah, itu urusanmu dengan Allah, bukan dengan Om." jawab Adnan sambil terkekeh.


Bakri ikut terkekeh juga. tak lama kemudian Mariana muncul. melihat Bakri bersama Adnan, ia terlonjak.


"Waaa.... ada Bakri rupanya. aduh. kebetulan, temani Om sama Tante makan malam ya? rumah sepi sekali, soalnya Ken-ken sama Adek liburan ke Suwawa, Kakak liburan ke Poso. duh sepiiiii sekali. kamu mau temani kami berdua kan?" pinta Mariana.


"Baiklah Tante. makasih." jawab Bakri sambil tersenyum.


Mariana mengangguk lalu masuk ke dalam rumah. kini diberanda tinggal mereka berdua lagi.


"Bagaimana perkembangan perusahaan kita menurutmu?" pancing Adnan.


"Baru-baru ini, kita melakukan audit keuangan untuk triwulan kedua. alur laba-rugi menunjukkan poin 72:28, sangat bagus untuk prosek Buana Asparaga kedepan. kurasa, tender-tender dari pemerintah sekitar sektor yang kita kuasai, akan bisa kita lakukan. lagipula laporan pajak kita bagus. tak ada yang mencurigakan. track record kita termasuk memuaskan dimata pemerintah." jawab Bakri.

__ADS_1


"Bagus." puji Adnan. "Kurasa tak sia-sia aku menempatkan orang-orang seperti kalian diperusahaan. bagaimana dengan tender yang sementara kita ajukan ke pemerintah?"


"Proyek jalan tembusan Tolinggula-Taluditi sementara dievaluasi. saya sudah menerjunkan tim terbaik untuk mengelola proyek itu. semoga penilaian pihak pemerintah terhadap kita bagus sehingga proyek bisa diperpanjang tahun depan. setahuku, proyek itu rencananya akan berjalan hingga tahun 2025 mendatang. jadi, evaluasi yang baik akan bisa memuluskan jalan kita untuk tetap menangani proyek tersebut. begitu juga dengan proyek pertambangan emas di gunung Pani, Pohuwato. kita sudah mendapatkan legitimasi ulang untuk mengeksplorasi wilayah itu." jawab Bakri.


"Bagus... setidaknya perusahaan ekstraktif semacam kita saat ini, agak tersedat karena dampak SARS CoV2. segala gerak kita terbatas. segalanya harus mengikuti protokoler kesehatan dan itu membutuhkan biaya yang banyak. sangat menguras finansial perusahaan kita." keluh Adnan.


"Tidak ada yang perlu dikeluhkan pak. syukurnya neraca kita bergerak stabil, bahkan condong kearah kanan (laba). jadi kekawatiran Om tidak beralasan sama sekali." jawab Bakri. "Kalau Om belum yakin nanti saya bawakan semua dokumen berkaitan dengan itu dan Om bisa pelajari sandiri nanti." tambahnya.


"Ya... kalau begitu hari senin, aku mau dokumen itu ada di mejaku." kata Adnan.


tak lama kemudian muncul Mariana. "Ayo, makan malam sudah siap." ajak Wanita itu.


"Ayo nak." panggil Adnan sambil bangkit diikuti oleh Bakri. keduanya kemudian masuk kedalam rumah menyusul Mariana yang sudah sejak tadi masuk mempersiapkan makan malam.


...*********...


Lawangan, Poso. 26 Desember 2020. 08.40 p.m.


Stefan duduk menselonjorkan kakinya ke pagar beranda. pemuda itu menyandarkan punggungnya disandaran kursi rotan di beranda tersebut. tatapan Stefan terarah ke angkasa gelap. banyak taburan bintang menghampar disana. ia menghitung bintang dengan matanya.




tak lama kemudian, muncul Aisyah membawa baki berisi dua gelas wedang jahe hangat yang dicampur gula aren dan susu coklat juga sepiring kue barongko, kue sejenis olahan pisang yang dihaluskan dan dicampur dalam adonan telur, santan, gula pasir dan garam kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. di Gorontalo, kue ini disebut kue Lemet.


Aisyah meletakkan baki itu dimeja dan menatapi Stefan yang masih memusatkan tatapannya ke angkasa malam. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Aisyah.


Stefan membelokkan tatapannya kepada Aisyah yang sekarang sudah duduk disampingnya dipisahkan oleh meja yang diatasnya tergeletak 2 gelas wedang susu dan sepiring kue barongko.


"Aku memikirkan kita." jawab Stefan.


"Memikirkan kita? apa yang mesti dipikirkan?" tanya Aisyah sambil mengambil segelas wedang dan memberikannya kepada Stefan. "Minumlah dulu...."


Stefan menerima gelas pemberian Aisyah kemudian meminum isinya dengan pelan, kemudian meletakkan gelas itu dimeja.


"Aku mau segera melamarmu." kata Stefan membuat wajah Aisyah sejenak memerah mendengar kalimat tersebut.


"Masih jauh?" tanya Stefan kurang paham dengan ungkapan gadis itu.


"Aku masih fokus untuk kuliah. aku belum memikirkan rumah tangga. nanti kalau sudah lulus, baru aku memikirkan hal itu." kata Aisyah dengan mantap.


Stefan membuang napas. "Apa nggak lebih baik kita segera menikah?" ujarnya dengan pelan.


"Aku nggak mau seperti adikku. aku nggak seberani dia. bagaimanapun, aku masih ingin fokus dengan pendidikanku. aku belum terlalu memikirkan hal lebih lanjut." jawab Aisyah.


"Lalu, haruskah hubungan ini kita lanjutkan hingga 3 tahun ke depan?" tanya Stefan.


"Aku tak memaksamu Evan. jika kamu telah menemukan yang lebih baik dariku, aku tak akan memaksamu. aku sengaja tidak mau terlalu masuk dalam perasaanku padamu. meski kuakui, aku mulai mencintaimu. namun. aku tak mau terperosok lebih jauh. aku meletakkan pendidikanku diatas segala-galanya untuk saat ini." kata Aisyah sambil tersenyum.


"jadi begitu." gumam Stefan sambil tersenyum. "Bagaimana jika aku datang melamarmu pada Om Adnan? kau akan menolak lamaranku?" pancingnya.


"Aku nggak punya kuasa untuk menolak itu. meskipun aku tahu bahwa Papa akan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepadaku. aku juga nggak mau milih-milih terlalu menyeleksi orang lain." jawab Aisyah.


Stefan mengangguk-angguk. Aisyah menghela napas. "Tapi biarkan aku menyelesaikan pendidikanku. lalu, aku akan menyerahkan diriku padamu, jika kau melamarku."


"Baik.... itu janjimu." kata Stefan sambil tersenyum.


"Tentu saja. untuk sebuah janji, aku tak akan pernah mungkir." jawab Aisyah sambil tersenyum.


"Duduklah disini." ajak Stefan sambil menepuk pahanya.


Aisyah sejenak celigukan memastikan tak ada siapapun disana kecuali mereka berdua. barulah jilbaber itu bangkit dan kemudian duduk dipangkuan pemuda itu.


"Sebegitu takutkah kamu sama Om kamu disini, sampai duduk dipangkuankupun kau harus memastikan suasana kondusif." sindir Stefan kemudian memeluk Aisyah.


"Aku hanya menjaga, jangan sampai kita berdua diusir karena perlakuan tak menyenangkan dirumah ini." jawab Aisyah. "Bagaimanapun, ini bukan rumahku."


"Aku akan membuatkamu rumah kelak." kata Stefan.


"Jangan pikirkan itu dulu. pikirkan masa depanmu. baru pikirkan masa depan kita." kata Aisyah seraya melingkarkan kedua lengannya dileher pemuda itu.


"Baik. aku akan lebih giat belajar agar lebih cepat lulus. lalu setelah itu aku akan melamarmu." kata Stefan kemudian bergerak mencium bibir Aisyah sejenak.

__ADS_1


kembali jilbaber itu celigukan membuat Stefan menahan tawa. "Kalau takut, jangan main cinta." sindir pemuda itu.


Aisyah mencubit bibir pemuda itu membuat Stefan mengaduh dan memegangi bibirnya, menatap Aisyah dengan wajah kesal. namun kekesalan itu hilang ketika Aisyah membalas memagut bibir pemuda itu dan mengulumnya dengan lembut. membuat Stefan langsung terbuai serasa melayang diangkasa pada malam itu.


...**********...


Suwawa, Bone Bolango, Gorontalo, 26 Desember 2020. 10.00 p.m.




Kenzie dan Chiyome sudah duluan ke kamar sejak jam 8 malam tadi. alasannya menidurkan Saburo. tapi Trias tahu bahwa hal yang lebih dari itu yang akan mereka lakukan. suatu hal yang wajar karena mereka sudah diikat dalam tali pernikahan.




ditemani segelas kopi pahit, Trias duduk bersila diberanda rumah sambil berkemul sarung untuk sekedar mengusir hawa dingin yang datang menyampir. udara pegunungan memang sangat sejuk, dimulai pukul 9 hingga paling puncak pukul 5 pagi. sangat dingin menusuk kulit. apalagi rumah kediaman Mantulangi itu berada dilereng pegunungan Tilong Kabila yang terkenal dengan aura angkernya.


Trias menghembuskan napasnya pelan dan uap napasnya keluar bagai uap napas seekor naga. dilereng Tilong Kabila, namun jauh mendekat wilayah Bogani Nani Wartabone, banyak hidup ular yang katanya memiliki kaki. dan ular itu tidak mendesis, hewan itu justru bersuara mirip burung malam. panjang ular itu paling pendek 2 meter dan paling panjang bisa sampai 6 meter. mereka menamakannya ular kepala ayam. mungkin merujuk pada basilisk dalam kisah dongeng yunani kuno. ular itu sangat cepat larinya dan sangat beracun bisanya. biasanya yang sering mnejumpainya hanya penarik rotan dan damar.


sekali lagi Trias mengambil gelas dan menyeruput air kopinya lalu mendesah mengeluarkan uap napasnya yang menyatu dengan uap panas kopi pahit itu mebuatnya bagai raja naga yang menyemburkan udara panas dari mulutnya.


Syarifah muncul diberanda itu dan kemudian duduk dihadapan Trias.


"Lagi melamun apa?" tanya Ipah dengan lembut.


Trias yang sejenak menatap kegelapan kita memfokuskan tatapannya kepada gadis itu.


"Melamunkanmu..." jawab Trias sambil tersenyum.


"Aku kan ada didepanmu. mengapa mesti dilamunkan?" pancing Ipah sambil tersenyum.


"Aku melamunkan sindiranmu yang kau baitkan dalam lagunya Siti Nurhaliza itu." jawab Trias. "Apakah segitunya kau merindukanku?"


"Lebih dari syair lagu itu." ungkap Ipah.


"Kalau begitu, kemarilah..." panggil Trias.


Syarifah mendekat lalu duduk dipangkuan Trias. gadis itu mencermati wajah pemuda itu.


"Kau sudah tumbuh uban." kata Ipah yang menatapi beberapa helai uban dirambut dekat telinga pemuda itu.


"Oh ya?" kata pemuda itu sambil tersenyum.


"Mau kucabut?" tanya Ipah.


"Jangan. biarkan saja begitu. uban itu rahmat, juga sebagai sarana intropeksi diri." jawab Trias. "Lagipula aku suka beruban..."


"Kenapa? kau akan terlihat nampak tua, meski wajahmu tak berkeriput." kata Ipah sambil menangkupkan wajah Trias dengan tangannya lalu mencium kening pemuda itu.


"Tapi kau tetap mencintaiku?" tanya Trias.


"Tak pernah ke lain hati, sayangku." balas Ipah dengan senyumnya yang membuat Trias merasa nyaman.


"Setidaknya, kita seperti pasangan pendekar yang dibilang Bapu Ridhwan..." kata Trias sambil membelai wajah gadis itu.


"Kita? memang kita mirip siapa?" goda Ipah.


"Yo Ko dan Xiao Liong Nie.... Rajawali dan sepasang pendekar..." jawab Trias.


Ipah tertawa. "Apa aku pantas jadi Si Naga Kecil?"


"Bahkan aku pantas disebut si Gila dari Barat." balas Trias.


keduanya kemudian saling memeluk. dan wajah mereka saling menghadap. Trias menatapi wajah kekasihnya.


"Aku mencintaimu, Ipah... Gadis Naga Kecilku..." desah Trias dengan lirih.


"Aku pun mencintaimu, Trias.... Gila Baratku..." balas Ipah.


dan sedetik kemudian keduanya memadukan bibir dan berkomunikasi secara spiritual lewat persentuhan daging bibir yang saling mengulum dan memagut, disaksikan gemintang bertabur diangkasa malam.[]

__ADS_1


__ADS_2