Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 118


__ADS_3

Semilir angin yang tak berhembus lagi


ku terperangkap disini


mencari takdir yang tak kunjung kuraih


berharap mukjizat dari langit...


Kabar ini sungguh mengganggu hati


kemana kau kucari?


berharap kasih yang tak kembali


merajut harapan yang mustahil


haruskah diri merobek lembar takdir?


yang tersamar nyata atau ilusi


dari sekian cerita yang tertulis


ku tak yakin ini akan berakhir


Ku berdiri menantikan kekasih


ku tunggu kau disini


menghapus hati yang bersedih


terluka sulit 'tuk sembuh lagi


haruskah diri melanggar garis takdir?


samar dalam nyata atau ilusi


dari sekian kisah yang t'lah terjalin


ku tak yakin ini akan berakhir


melanggar garis merobek lembar takdir


samar dalam nyata atau ilusi


dari sekian hikayat yang terjalin


semoga saja ini akan berakhir.....


(terjemahan bebas Rumour - Romance of Tiger and Rose)


...***...


Aisyah tetap memeluk leher pemuda itu dalam gemetar tubuhnya yang bereaksi dikarenakan ketidak ikhlasannya melepas kepergian lelaki itu. Bakri sendiri membiarkan pelukan itu karena dilubuk hatinya ia menginginkannya.


sejak lama dalam doa yang terlantun, kali ini Tuhan mengabulkannya. gadis itu sendiri yang mengakuinya meskipun ia harus tersesat lama dalam mencari titik cinta yang sebenarnya.


"Kalian akan menikah.... segera!" tandas Adnan dalam senyum kakunya. lelaki itu begitu bahagia hingga menyunggingkan senyum pun ia lupa bagaimana caranya.


Mariana sendiri menangis menumpahkan kegembiraannya dilengan kekar suaminya. begitu bahagia sang ibu sambung melihat putrinya kembali dari kondisi subsconciusnya. ia menarik lengan suaminya keluar dari kamar itu.


"Beritahukan Fitri tentang ini! dia harus tahu keadaan putrinya." desak Mariana.


"Nanti pada waktunya." jawab Adnan, "Kita belum boleh menyimpulkan terlalu cepat."


"Lalu bagaimana dengan Aisyah?" tanya Mariana.


"Dia akan tetap menikah. tapi bukan saat ini." kata Adnan. "Aisyah harus sembuh dulu. Mama mau dia menikah dalam keadaan sakit semacam ini?"


Mariana mengangguk-angguk paham. Adnan menghela napas panjang, "Mengapa semua terungkap nanti sekian lama? mengapa harus melewati titik ekstrim semacam ini?"


Adnan kemudian menyadari bahwa Kenzie juga mengalami hal semacam itu. hanya saja, lelaki itu tidak terjebak dalam perangkap. ia melakukan perjuangan untuk memenangkan cintanya. dan Kenzie berhasil.


berbeda dengan Aisyah. wanita itu terjebak dalam perangkap manis. ia membiarkannya dan baru menyadari ketika melalui kebersamaan yang menyiksa. disinilah ia menyadari bahwa ia terlalu naif dalam mengecap rasa sebuah cinta yang memiliki dua rasa yang berbeda. cinta berasa madu atau cinta berasa racun.


Adnan menengok kembali dalam kamar. Aisyah masih saja menggamit leher lelaki itu seakan takut melepasnya. takut jika melepas dan tak akan bisa menggapainya lagi. ketakutan yang mungkin akan menjurus ke arah phobia jika tidak segera di obati dengan tangkas. Adnan kembali menghela napas dan kembali duduk disofa keluarga.


"Aisyah...." Bakri memanggil.


wanita itu tak merespon. ia terus memeluk. tubuh itu gemetar. Bakri menarik napas lagi. kali ini ia menekan pusarnya dan mengisinya dengan energi. pemuda itu membangkitkan inti kundalini agar energinya dapat dipusatkan pada pita suara.


"Aisyah..." kembali Bakri memanggil, kali ini dengan energi yang tersalur melalui pita suaranya, menggetar memasuki lorong telinga dan menggedor gendang telinganya, menggetarkan tulang sanggurdi dibalik gendang itu.

__ADS_1


barulah Aisyah mengendorkan pelukan eratnya. wajah itu menatap Bakri dengan memelas.


"Jangan tinggalkan aku.... jangan tinggalkan aku... bunuh aku... asal jangan kau tinggalkan aku..." rengek Aisyah ditengah sedu-sedannya kembali.


kedua tangan Bakri kembali terulur menangkup wajah Aisyaj dan tatapan lelaki itu menembus pelangi dalam kornea matanya.


"Aku tak akan membunuhmu. aku juga tak akan meninggalkanmu. aku mencintaimu. tenangkanlah hatimu." ujar Bakri dengan suara yang lembut namun dipenuhi getar energi, menenangkan perasaan wanita yang dilanda ketakutan itu.


perlahan, Bakri melepaskan pelukan wanita itu dan kembali membaringkan Aisyah diperaduannya. "Istirahatlah.... aku akan menemanimu... istirahatlah... aku tak akan meninggalkanmu... aku janji." kata Bakri.


dengan senyum yang tersungging, Aisyah kemudian perlahan mengatupkan matanya dan perlahan gadis itu mulai kembali mengarung dunia mimpi. terdengar helaan lembut dalam kembang-susut dada wanita itu. tarikan dan hembusan napasnya normal.


Bakri menghela napas dan menunduk lagi. lelaki itu akhirnya duduk menyandar disisi ranjang dan mengatupkan matanya yang lelah. ia khawatir meninggalkan wanita itu maka ia memilih mengistirahatkan dirinya disisi Aisyah.


Adnan bangkit dan menengok lagi ke kamar. ia melihat Aisyah sudah tidur dan Bakripun kemungkinannya juga tidur, menyandar disisi ranjang putrinya. Adnan menghela napas lagi memandang dua insan yang tenggelam dalam mimpi ditengah posisi istirahat yang berbeda gaya.


Mariana ikut menengok dan tersenyum melihat pemandangan itu.


"Bodohnya Ais... mengapa dia membiarkan dirinya tenggelam... padahal ada biduk besar yang bisa membawanya mengarung lautan lepas, dia lebih memilih sampan kecil yang bocor." gumam Mariana.


"Karma.... ia memetik karmanya sendiri." balas Adnan.


...****...


Suite pribadi dirut Buana Asparaga. Tbk pukul 2 siang.


Kenzie duduk diranjang menselonjorkan kedua kakinya. jemari tangannya menggenggam gelas burgundy dengan sirup leci didalamnya. sesekali ia menggoyangnya seakan sedang mengaduk anggur lalu menyesapnya pelan. disisinya sang istri, Chiyome Mochizuki yang berjuluk Koga Oni Shi no Hana, si kembang maut, tidur dengan nyenyak setelah menerima gempuran tanpa henti dari suaminya.


pertempuran yang panas dan menggairahkan berulang hingga beberapa kali, seakan lelaki itu tak kekurangan energi untuk memberikan pelayanan paling baik terhadap wanita yang telah dua tahun menemaninya sebagai istri. Kenzie menatapi wajah yang tertidur puas itu, telanjang dibalik selimut yang membalutnya bagai kepompong.


Kenzie tersenyum dan meletakkan gelas berisi sirup leci itu ke nakas dan ia bangkit hanya mengenakan celana tenis putih melangkah menuju jendela lebar setelah sebelumnya meraih ponsel.


sambil menatap lanskap kota Gorontalo, lelaki itu menekan sebuah nomor ponsel seseorang lalu bercakap-cakap dengannya.


📲 "Bagaimana? sudah kau temukan kejanggalannya?"


📲 "Ada yang memasang malware ke sistem keuangan anda. saya sudah menemukan data aslinya, dan catatannya sama dengan laporan kas online milik Dewinta Basumbul." jawab seseorang itu.


📲 "Jadi menurutmu? ada yang membobol jaringan keamanan perusahaanku? kau bisa mengidentifikasinya?" pancing Kenzie.


📲 "Akan ku usahakan... tapi akan membutuhkan waktu sedikit lama." jawab orang itu.


📲 "Berapa lama? aku nggak suka menunggu! orang itu mencoba bermain-main denganku! berapa lama kau bisa melacak kepemilikan malware itu?" desak Kenzie.


📲 "Aku tunggu besok laporanmu. sebutkan hadiahmu!" kata Kenzie dengan datar.


📲 "Nggak banyak kok. cuma uang seratus juta dan tiket liburan ke Macau." jawab orang itu. Kenzie tertawa.


📲 "Mau berjudi lagi? kau memang selalu menantang dirimu dengan uji keberuntungan. bagaimana jika kita memainkan Russian Roulette saja?" pancing Kenzie. terdengar suara tawa disana.


📲 "Jangan terlalu baper dong. lima puluh juta saja deh." pinta orang itu.


📲 "Deal! hadiahmu langsung kutransfer begitu kuterima laporan besok paginya!" kata Kenzie.


📲 "Deal..." jawab orang itu.


Kenzie memutuskan sambungan seluler dan meletakkan kembali ponselnya di nakas, lalu meraih gelas burgundy dan kembali melangkah ke jendela menatapi lanskap kota kediamannya.


Chiyome membuka mata dan menguap sepuasnya. ia bangun dan merenggangkan tubuh telanjangnya menguak keluar dari kepompong selimut itu.


"Bagaimana tidurnya? nyenyak? pasti..." olok Kenzie tanpa menoleh. lelaki itu masih menatapi pemandangan kota Gorontalo sambil menikmati sirup leci dalam gelas burgundy itu.


"Hubby... jam berapa sekarang?" tanya Chiyome dengan suara serak.


"Jam dua siang. istirahatlah dulu." jawab Kenzie.


Chiyome mengedarkan pandang. disofa tergeletak pakaiannya. wanita itu menguak selimut dan melangkah pelan menuju kamar mandi. tak lama kemudian terdengar suara air dalam shower mengalir.


Kenzie masih terus memperhatikan pemandangan dari balik kaca ketika Chiyome keluar mengenakan piyama mandi putih sambil mengeringkan rambutnya.


"Dewinta nggak salah. catatan dalam kas online miliknya sama dengan catatan pembukuan perusahaan." kata Kenzie sembari menyesap sirup leci.


"Jadi Hubby sudah mengetahuinya?" tanya Chiyome.


Kenzie berbalik, "Ya. Tangan Ketiga sudah menemukannya. ada seseorang yang berhasil membobol sistem keamana. perusahaan dengan memasang aplikasi peniru kemudian memanipulasi data keuangan seakan-akan perusahaan kita mengalami kolaps. beruntung Dewinta orang yang teliti. ia membuat dua pembukuan, satunya adalah pribadi untuk mencegah adanya upaya pemalsuan data. aku memgakui langkah kreatifitas wanita itu." lelaki itu kemudian meletakkan gelas di nakas lalu melangkah mendekati Chiyome.


"Jika pelakunya sudah kita ungkap, Dewinta patut kita promosikan." kata Kenzie menggeser pakaian ketika Chiyome hendak meraihnya. wanita itu memandang suaminya dengan heran.


"Hubby, Wiffy harus kembali ngantor. itu sudah jam dua lewat lho." tegur Chiyome.


"Wiffy ngantornya disini saja." jawab Kenzie dengan enteng.

__ADS_1


"Tapi..." Chiyome hendak protes, ketika Kenzie mendelikkan matanya dan menunjuk ranjang dengan telunjuknya.


dengan lesu, Chiyome yang masih mengenakan piyama mandi akhirnya duduk disisi ranjang. Kenzie tersenyum geli melihat paras istrinya yang memberenggut.


"Kenapa? sudah nggak mau melayani lagi?" pancing Kenzie.


"Mau kok, mau...." jawab Chiyome dengan cepat tapi kembali merengek, "Wiffy lelaaahhhh... tapi Hubby ganas benar serbuannya... Wiffy sampe keluar berkali-kali."


"Ya bagus dong. berarti semua hasrat tersalurkan. tak akan ada celah perselingkuhan karena semua terpuaskan. Wiffy mau Hubby jajan diluar?" pancing Kenzie lagi dengan senyum geli.


"Berani Hubby jajan diluar, hm... kupatahkan pentungannya. supaya nggak bisa dipergunakan lagi!!" ancam Chiyome dengan ketus lalu membuang muka dan membelakangi suaminya.


Kenzie tertawa, "Nggak bakalan sayang. racun cintanya Wiffy tuh kuat banget. nggak punya penawarnya lagi. bisa mati berdiri Hubby kalau nyari jajanan diluaran." lelaki itu duduk disamping Chiyome.


wanita itu langsung berbalik dan menyunggingkan senyum lebar seringai gingsulnya itu, "Benarkah? Hubby nggak bohong kan?"


"Ya Allah, ngapain bohong sih? kenyataannya begitu. punyanya Wiffy nyesap melulu." jawab Kenzie sambil membuka kerah piyama mandi itu lebar-lebar dan mendorong pelan Chiyome hingga berbaring telentang diranjang.


"Pake ramuan apa sih? Kok Hubby kayaknya nempel terus." tanya Kenzie dengan penasaran ketika menindih tubuh molek istrinya.


Chiyome tertawa, "Ada aja deh. ramuan keluarga." jawabnya dengan enteng.


Kenzie tertawa dan langsung melakukan penyerbuan kembali menggarap kebun birahi istrinya, mencangkulnya dengan penuh rasa, menyiramnya dengan penuh cinta. kembali jam demi jam dihabiskan hanya untuk mengolah kebun itu dan menyianginya.


hingga akhirnya keduanya ambruk di garapan kelima. Kenzie berbaring mengatur deru napasnya yang memburu setelah menunaikan tugasnya memberikan nafkah batin. Chiyome sendiri memanjati tubuh suaminya dan berbaring diatas tubuh kekar Kenzie.


"Hubby...." panggil Chiyome.


Kenzie menatapnya kemudian mengangkat alisnya, "Kenapa Chiyo-hime sayangku?"


Chiyome tersipu ketika Kenzie menyebut nama wanita itu. kata sandang 'chan' atau 'hime' itu menunjukkan suatu sanjungan yang menandakan kedekatan emosional seorang wanita. sedangkan kata sandang 'kun' menunjukkan kedekatan emosional seorang lelaki, dalam sastra jepang.


"Hubby-kun.... menurut Hubby, apakah kesetiaan itu?" tanya Chiyome membuat Kenzie tersenyum.


"Kok aneh pertanyaannya. kenapa Wiffy bertanya tentang hal itu?" tanya Kenzie.


"Hanya pengen tahu saja, Hubby..." jawab Chiyome.


Kenzie menghela napas. ia teringat kata-kata Kinanda Fara. lelaki itu kemudian menatapi istrinya.


"Kesetiaan itu... tidak diukur dari bagaimana seseorang selalu hadir dihadapan pasangannya... tapi seseorang itu bisa menjaga dirinya ketika dibelakang pasangannya." jawab Kenzie dengan tanggap.


Chiyome tersenyum. ia sangat ingat pengamalan dari kata otu. Kenzie sudah membuktikannya, sejak masih pacaran hingga sekarang resmi menjadi suaminya. godaan Puspita yang menelanjangi diri dihadapan suaminya itu hahya ditanggapi dingin saja, bahkan Kenzie mempingsankannya lalu mengancamnya untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.


tiba-tiba Chiyome teringat sesuatu. ini tentang Puspita. ditatapinya Kenzie.


"Hubby, apakah Hubby sudah menyelidiki perihal keberadaan Puspita di sekolah pada perayaan kelulusan itu?" tanya Chiyome.


Kenzie kaget dan menatap istrinya. "Wiffy benar! Hubby lupa! untung Wiffy mengingatkan. besok Hubby akan mengunjungi sekolah."


Chiyome mengangguk. "Wiffy ikut ya?" pintanya.


...*****...


Bakri menunggui Aisyah yang sementara terlelap. lelaki itu kini tidak duduk bersandar disisi ranjang melainkan sudah duduk di sofa ujung ruangan. tubuhnya masih letih karena tidur-jaga yang diaplikasikannya demi menjagai kekasihnya.


tak lama Mariana masuk membawa nampan berisi hidangan. diletakkannya nampan itu disisi Bakri.


"Makanlah nak. kamu tante lihat sangat lelah." kata Mariana.


Bakri memajukan punggung dan tangannya terulur meraih piring kemudian memakan hidangan itu dengan pelan. sejenak ia menatapi Mariana.


"Makasih Tante..." ucapnya kemudian menelan makanan.


Mariana tersenyum, "Sudah sepatutnya, Tante sekeluarga yang berterima kasih padamu."


Bakri melanjutkan makannya dan menghabiskannya. lelaki itu meraih gelas dan meminum isinya dengan tiga kali tegukan, setelah itu meletakkan kembali gelas itu dinampan.


"Tante, saya permisi dulu. insya Allah beberapa jam kemudian saya kembali kesini menengok Aisyah." kata Bakri.


lelaki itu bangkit lalu diantar Mariana keluar dari kamar menuju beranda. sebelum turun, lelaki itu berbalik.


"Salam saya sama Om. kalau beliau tanya, saya hanya mandi dan berganti pakaian, lalu kemari lagi menjagai Aisyah." kata Bakri.


"Akan Tante sampaikan." jawab Mariana.


Bakri mengucap salam lalu menuruni tangga dan melangkah meninggalkan kediaman Lasantu. Mariana sejenak melihat punggung lelaki itu yang menghilang dibalik tembok pagar kemudian berbalik masuk kembali ke dalam ruangan.


baru beberapa langkah Bakri menyusur jalanan. tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju mendekatinya. Bakri refleks berbalik, namun tak sempat menghindar.


BRAKKKKKK

__ADS_1


sepeda motor itu menghantam lelaki itu membuat Bakri terpental sejauh tiga meter dan bergulingan dijalanan. untung saja jalanan masih ramai sehingga pengendara itu tidak melakukan apapun selain menabraknya saja lalu kembali melajukan kendaraan meninggalkan kerukunan warga yang mulai memadati tempat dimana Bakri tergeletak bersimbah darah, tak sadarkan diri. []


__ADS_2