Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 79


__ADS_3

"Mama... itu kan nanti dibicarakan kemudian saja. Papa nggak mau eforia ini terganggu. ini cucu pertama kita, Ma. masalah nama itu gampang." tegur Adnan.


Mariana menatap Adnan dengan cemberut sambil terus menggendong cucunya. Chiyome tertawa.


"Nama yang bagus Mama. nanti ku utarakan sama Kenzie." kata Chiyome. "Kalau Mama suka nama itu, pasti Adek sematkan sama anak itu."


Adnan menjadi tidak enak atas jawaban putri mantunya. namun ia berupaya bersikap biasa. tak lama kemudian Kenzie masuk.


"Mama? Papa? sudah lama?" sapa Kenzie.


"Belum lama juga." jawab Adnan dengan datar. Kenzie sudah mulai meraba aura tak menyenangkan dari suara ayahnya. tapi pemuda itu berupaya tidak menampakkan hatinya.


sejenak Kenzie menatapi Chiyome yang menatapinya lalu menunduk. Kenzie mendekati ranjang.


"Nanti kita bicara, Wiffy. Hubby lagi mo diskusi dengan Papa dulu, Okey?" bisik Kenzie sambil mengedipkan mata. Chiyome menatapnya lalu mengangguk dan tersenyum lebar memamerkan seringai gingsulnya.


Kenzie bangkit menatap ayahnya. "Pa, Kenzie mau diskusi, urusan kantor." kata pemuda itu kemudian keluar dari ruangan. Adnan mengikutinya.


didepan pintu, keduanya bertemu Aisyah yang baru pulang dari kuliah. jilbaber itu menatapi Kenzie.


"Mana bayinya? mana ponakanku?" tanya Aisyah dengan semangat.


"Kenzie tertawa, "Santuy Kak. tuh dikamar lagi digendong sama neneknya." jawab pemuda itu lalu kembali mengajak ayahnya meninggalkan ruangan.


keduanya berjalan menyusuri koridor RSIA Siti Khadijah hingga keduanya tiba di ruang lobby. Kenzie duduk dikursi sedang Adnan duduk didepannya.


"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya Adnan.


"Mulai besok, saya ngantor Pa." kata Kenzie.


"Nggak boleh. Papa nggak mau sekolahmu terganggu." jawab Adnan.


"Tapi saya terganggu Pa! saya menyaksikan CCTV dan menyimak pembicaraan Kak Bakri dengan para pegawai HRD tersebut. dan mereka menganggap Papa berlaku nefotis terhadap saya." Kenzie diam sejenak, lalu melanjutkan. "Pokoknya Kenzie akan ngantor, tapi nggak full Pa... hari selasa Kenzie full di kantor, hari kamis hanya setengah hari. bagaimana? bisa, kan?"


"Bisa?" jawab Adnan. "Tapi kamu yakin bisa?"


Kenzie tertawa. "Kenzie nggak pentingkan lagi sekolah... bukan berarti Ken berhenti sekolah. absen 8 kali sebulan nggak masalah Pa. sudah ada tanggung jawab lebih dari itu. sekarang Ken seorang Ayah, Pa! harus dituntut untuk bertanggung jawab." ujar pemuda itu dengan mantap.


Adnan terpaku mendengar penjelasan putranya. tak disangkanya, Kenzie sudah menjadi dewasa sejak ia menikahi Chiyome. pemikirannya begitu menghantam pola pemikiran anak-anak muda yang manja. Adnan menjadi bangga dengan putranya ini.


"Baik. nanti Papa bicarakan dengan kepala sekolah. " jawab Adnan sambil tersenyum.


Kenzie tersenyum lalu kembali mendekatkan tubuhnya.


"Pa, ada apa.lagi dengan.Mama?" tanya Kenzie.


"Tak tahu, uyong. Papa kesal. bisa-bisanya Mamamu mendesak memberi nama cucunya dengan namanya sendiri. bukankah anak itu sudah diberi nama oleh ibunya. iya,kan?"




Kenzie tersenyum. "Oooo... gampang. nanti Kenzie yang akan jelaskan semuanya dihadapan anggota keluarga." jawab Kenzie.


"Papa memang bisa mengandalkan kamu, nak." puji Adnan.


"Ayo balik Pa. Chiyome mungkin sudah bosan dan mencari-cari kita." ajak Kenzie.


"Oke deh.." jawab Adnan sambil melangkah lagi meninggalkan ruangan lobby tersebut. baru selangkah mereka berjalan, dari pintu besar muncul Endrawan dan Trias.

__ADS_1


"Hei, Tahede! mana ponakanku?! aku mau lihat ponakannku!!" seru Trias sambil maju dan menghantamkan tinjunya ke dada Kenzie.


Dengan cepat Kenzie menepiskan kepalan Trias hingga kepalan itu tak sempat mengenai dada pemuda itu. Kenzie tertawa.


keempatnya melangkah sambil tertawa menyusuri koridor rumah sakit. mereka tiba diruangan dimana Chiyome dirawat. disana ada Mariana yang sedang memeluk Chiyome dan Aisyah yang sedang memondong bayi.


Trias yang melihat bayi itu melangkah perlahan. tanpa terasa keharuan menyelimuti jiwanya. air matanya mengalir jatuh membasahi pipinya.


"Ponakanku... ponakanku..." ujarnya dengan gemetar.


Endrawan dan Adnan yang melihatnya hanya tersenyum haru. Aisyah menatapi Trias yang kelihatannya ingin memondong bayi itu.


"Kau mau memondongnya?" tanya Aisyah.


"Bolehkah?" tanya Trias.


Aisyah menyerahkan bayi itu dengan hati-hati hingga akhirnya Trias memondong bayi itu. ditatapnya sang bayi dengan tatapan teduh. tanpa sadar kembali air matanya berlinang.



"Ponakanku.... kamu tahu? kami sudah lama menanti kamu nak..." ujar Trias dengan suara serak karena haru. perlahan diciumnya ubun-ubun bayi itu. "Selamat datang ke dunia yang penuh keributan ini nak. tapi jangan takut. Papamu dan Abahmu ini.. akan menjagamu."


Endrawan dan Adnan tertawa mendengar kalimat 'Abah' dari mulut Trias. Chiyome tertawa pula sambil menyeka air matanya. Mariana dan Aisyah hanya tersenyum.


"Hei, jangan terlalu intim begitu. aku saja Papanya nggak segitunya, kenapa kamu yang baper logong?" tegur Kenzie.


"Eee... diam kau! ini percakapan perdana seorang Abah dengan calon mantunya." ujar Trias sambil memelototi Kenzie.


semua yang mendengarnya terkejut. Endrawan menegur putranya. "Yas, sopanlah sedikit. "


"Abah.. beneran ini calon mantu keluarga kita! kalau nggak percaya, tanya sama Chiyome." kata Trias dengan bangga.


"Kita nggak perlu cari besan jauh-jauh Papa, Mama... dia ada didepan kita." jawab Chiyome sambil tertawa.


"Tuh kan? nggak percaya kalian? kami bertiga sudah membicarakan ini jauh hari sebelumnya." kata Trias yang telah menyerahkan bayi itu kepondongan ayahnya.


Kenzie kemudian mencium bayi itu lalu menyerahkannya kepada Chiyome. Mariana menegurnya. "Tapi kan dia masih kecil. masa Adek sudah mengikatnya?"


"Supaya dia tidak nakal dan merusak perempuan lain Mama. supaya dia sadar bahwa dia sudah dimiliki oleh orang lain. dia harus mengingatnya!" tandas Chiyome kemudian membelai kepala bayinya dengan lembut.


Adnan dan Mariana lebih terkejut dan takjub dengan pemikiran ibu muda itu. mereka tak menyangka pemikiran Chiyome sampai sejauh itu. namun dilubuk hati timbul rasa kebanggaan kepada Kenzie dan Chiyome.


"Ah.. Adek ini memang mantu Mama yang paling susah dibenci." ujar Mariana dengan gemas kembali mencubit hidung Chiyome yang kecil.


"Auuughhh... sakit Ma..." seru Chiyome sambil meringis tapi tak berani mengelus hidungnya karena sementara memondong bayinya. ditatapnya ibu mertuanya dengan cemberut, tapi wajah ibu muda itu kembali ceria ketika Mariana mendaratkan ciuman hangatnya ke pipi ibu muda tersebut.


"Kelihatannya si bayi mulai haus. Adek tetekin deh." kata Aisyah kemudian menatap keempat lelaki diruangan itu. "Kepada bapak-bapak silahkan keluar, karena sang ibu akan menyusui bayinya."


Adnan mengajak ketiga lelaki itu meninggalkan ruangan. ketiganya kemidian memilih duduk dideretan bangku yang terdapat dikoridor tersebut.


"Om... gimana dengan pelaku fitnah itu? apakah sudah didapatkan?" tanya Trias tiba-tiba.


"Belum. Om sendiri tinggal tunggu caranya Bapu Ridhwan. semoga beliau menemukannya." jawab Adnan sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Kita akan segera menemukannya!" kata Endrawan dengan optimis. "Sedikit lagi. kita hanya dituntut bersabar."


"Jangan kuatir Ken. kita berdua akan membuat orang itu memohon ampun sebelum menggapai ajalnya!" ujar Trias dengan geram.


Endi terkejut. "Yas, kok segitu urusannya? kamu mau membunuh orang?!"

__ADS_1


Trias terkekeh dengan sinis. "Bahkan kematiannya belum cukup untuk membayar fitnah itu." pemuda itu berdiri. "Pa, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan! aku saja yang bukan penderita fitnah, sakit hati Pa! apalagi Kenzie, Om Adnan, Tante Mariana, Kak Ais.... terlebih Chiyo! coba! akal sehat mana yang bisa menerima kalau anak gadis Papa dibilang ******* keluarga orang lain? Papa bisa terima nggak?!"


Endi mengangguk-angguk. "Sabar Yas. Papa paham. tapi kita perlu bersabar. sedikit lagi."


"Apa yang akan kau lakukan jika pelaku itu tertangkap?" pancing Adnan kepada Trias.


Trias menatap Kenzie, lalu tersenyum. tak lama keduanya mulai terkekeh dan tertawa dengan raut wajah licik. Trias dan Kenzie langsung melakukan toss five.


"Apa yang akan kalian lakukan?" desak Adnan.


"Itu... rahasia perusahaan kami.. Pa..." jawab Kenzie dengan senyum licik.


...**********...


Kenzie duduk disisi ranjang menemani Chiyome yang sedang menyusui bayinya. Adnan dan Mariana duduk disofa sedang Aisyah berdiri disisi pintu.


Kenzie menatapi anggota keluarganya lalu mengangguk. "Saya paham kalau anakku perlu diberikan nama secepatnya. dengan ini aku memutuskan bahwa anakku akan kuberi nama.... Saburo Koga Mochizuki..."


"Tapi Ken..." sela Mariana.


Kenzie mengacungkan jarinya keatas, "Sampai tiba waktunya istriku mendapatkan hak naturalisasi sehingga putraku berhak menyandang nama Sandiaga Hermawan Lasantu." jawabnya dengan tegas.


"Ide bagus Ken!" sambut Adnan.


"Kok Papa begitu sih?" sembur Mariana.


Kenzie sejenak melirik Chiyome yang pura-pura tuli dan terus menyusui putranya. pemuda itu kemudian menatapi ibunya.


"Ma... ingat, pernikahan kami belum tercatat oleh negara. jadi hanya cara itu yang bisa kulakukan. " kata Kenzie.


"Ya, segera daftarkan saja ke KUA." jawab Mariana.


"Ma... sudah cukup istriku mengorbankan sekolahnya. apa Mama mau aku juga putus sekolah?" ujar Kenzie mengingatkan. "Kalau pernikahan kami didaftarkan saat ini, otomatis aku harus drop out, Mama! semuanya sudah kurencanakan. setelah aku lulus dan Chiyo mendapatkan hak naturalisasi, baru Saburo berhak menyandang nama Sandiaga." tandas pemuda itu.


"Apa pentingnya sebuah nama, Ma... itu cucu kita juga. kita ikuti saja rencana Kenzie. dia lebih tahu soal keluarganya." tegur Adnan.


Mariana mengangkat bahu. "Baiklah... Mama nggak mau mengungkit hal ini. biarkan seperti itu...." wanita itu kemudian menatapi Chiyome.


"Tapi Adek mau kan anaknya pake nama itu kan?" rengek Mariana.


Chiyome mengangkat wajahnya menatapi Mariana lalu tertawa. "Mama... sejak kapan sih Adek mau bantah Mama? ya pastilah kelak Saburo akan pake nama itu. Adek suka namanya. Mama memang keren pilih nama yang keren untuk cucu mama."


Chiyome kemudian menatapi Kenzie yang juga menatapnya. "Tapi Hubby ada benarnya juga Ma. hanya itu cara yang bisa kita lakukan. Adek sendiri nggak mau Hubby putus sekolah gara-gara anak ini."


"Bagaimana caranya supaya anak ini legal secara hukum?" pancing Adnan.


"Adek akan menghubungi Otoo-San. dia akan membuatkan akta lahir Saburo di jepang berdasarkan Surat Pernikahan kami." jawab Chiyome.


Adnan menjentikkan jarinya. "Ide brilian! nggak sangka semudah ini pemecahan masalahnya." lelaki itu menatap istrinya. "Kita nggak perlu kuatir lagi Ma."


Mariana mengangguk-angguk dengan senang. "Memang benar tuh Pa... ah kenapa tak terpikirkan olehku sama sekali ya?"


Adnan menatapi istrinya dengan senyum masam. sedang Aisyah tertawa. "Berarti solusi sudah ditemukan. tidak perlu ada silang pendapat lagi."


Kenzie tersenyum lalu mengangguk. ia memeluk pundak istrinya dan menatap wajah Chiyome yang agak chubby karena habis melahirkan.


"Trima kasih karena sudah hadir dalam hidupku, sayang."


Chiyome kembali memamerkan senyum lebar seringai gingsulnya kepada orang yang dibaktikannya itu. []

__ADS_1


__ADS_2