Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 11.


__ADS_3

Nara dan Kenan akhirnya menikah, hanya acara sederhana yang dihadiri penghulu, Hendra dan Bi Ani. Tak ada pesta ataupun kenduri kecil-kecilan, bahkan Windy saja tidak mau menyaksikan pernikahan putra semata wayangnya itu.


Walaupun harus mengulang beberapa kali, tapi akhirnya Kenan berhasil mengucap ijab kabul dengan wajah yang masam.


Setelah selesai acara, Nara masuk ke dalam kamar Kenan dengan canggung. Sebenarnya dia ingin tetap berada di kamar sebelumnya, tapi Hendra memaksa agar dia tidur sekamar dengan Kenan layaknya suami istri. Mau tak mau Nara menuruti pria yang kini sudah menjadi mertuanya itu.


Nara melangkah pelan sambil membawa tas berisi pakaiannya, tampak Kenan yang sudah berganti pakaian sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil bermain ponsel. Pemuda itu sontak menoleh memandang Nara saat menyadari kehadirannya.


"Mau apa kau ke sini?" tanya Kenan ketus.


"Pak Hendra minta aku untuk tidur di kamar ini," jawab Nara apa adanya.


Kenan mengernyit tidak suka, "Kenapa harus di kamar ini? Bukankah kau punya kamar sendiri?"


"Karena suami istri seharusnya tidur sekamar," sela Hendra yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Kenan.


"Tapi, Pa. Aku enggak suka berbagi kamar dengan orang lain," bantah Kenan.


"Suka enggak suka, mulai sekarang kau harus terbiasa untuk berbagi kamar dengan Nara. Karena dia sudah menjadi istrimu," tegas Hendra, sementara Nara hanya tertunduk diam.


"Pa, aku sudah mengalah menuruti permintaan Papa untuk menikahinya. Jadi tolong jangan paksa aku lagi untuk tidur sekamar dengan dia! Aku enggak mau!" Kenan masih bersikeras menolak.


"Kenan! Jangan keras kepala dan egois! Papa memintamu menikahi Nara karena kesalahanmu sendiri, jadi bertingkah lah seperti pria dewasa, jangan kekanak-kanakan begini!" bentak Hendra.


Kenan mendengus kesal, dia mengepalkan tangannya menahan geram.


"Hem, enggak apa-apa, Pak. Sebaiknya saya tidur di kamar sebelah saja." Nara menyela untuk menengahi namun Kenan langsung meliriknya dengan sinis.


"Tidak, Nara! Kamu tetap akan tidur di sini!" sahut Hendra lalu menatap Kenan, "Papa enggak ingin berdebat lagi. Mulai sekarang Nara tidur di kamar ini dan bersikap yang baiklah terhadapnya!"


Kenan mengembuskan napas jengkel dan terpaksa mengangguk.


Hendra pun melangkah pergi meninggalkan kamar putranya itu kemudian menutup pintu.


Nara masih berdiri mematung tak jauh dari Kenan, dia benar-benar canggung dan gugup.

__ADS_1


Kenan menatap tajam istrinya itu, "Kau dan aku memang sudah menikah, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya di kamar ku. Sampai kapan pun aku enggak akan menganggap mu sebagai istri, jadi aku harap kau tahu diri!"


Nara mengangkat kepalanya menatap Kenan, "Lalu kau pikir aku menganggap mu sebagai suami? Kau itu enggak lebih dari seorang pria berengsek yang sudah menghancurkan masa depanku!"


Kenan terhenyak mendengar kalimat menohok Nara, dia tak menyangka wanita yang terlihat polos itu berani melawannya.


"Kau berani juga rupanya."


"Memangnya kau siapa? Sedikit pun aku enggak pernah takut padamu!" balas Nara.


Emosi Kenan mulai naik, dia benar-benar tak menyangka Nara akan bertingkah seperti ini.


"Kau terlihat polos, tapi rupanya kurang ajar!"


"Lebih kurang ajar mana dengan kau? Di rumah sebesar ini pasti ada cermin, jadi bercermin lah! Biar kau sadar diri dan enggak sok suci!"


Kenan marah dan sontak beranjak mendekati Nara lalu mencengkeram kuat lengan wanita itu, "Jaga bicaramu atau aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!"


Nara tersenyum sinis sambil melepaskan lengannya dari cekalan tangan Kenan, "Sudah aku bilang, aku enggak takut padamu. Kalau pun kau ingin mencabut nyawa ku, aku tetap enggak takut. Karena itu lebih baik daripada aku harus hidup dengan manusia tak bermoral seperti kau!"


"Kenapa? Kau enggak terima?" tantang Nara


"Cckk, sialan!" umpat Kenan kemudian berlalu dari hadapan Nara sebelum dia lepas kendali gara-gara emosi.


Kenan bahkan membanting pintu dengan sangat keras, hingga membuat Nara tersentak kaget.


Selepas kepergian Kenan, Nara terduduk lemas di sofa dan menumpahkan air mata yang sejak tadi dia tahan. Dia tak ingin lemah dan ditindas, dia harus kuat melawan rasa sakit di hatinya atas perbuatan serta sikap buruk Kenan.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Nara sudah bangun dan membantu Bi Ani membuatkan sarapan di dapur. Sejak pertengkarannya dengan Kenan semalam, dia tak melihat pemuda itu lagi. Bahkan tadi malam Nara tidur sendiri di kamar besar tersebut, dia tak ke mana suaminya itu pergi.


Nara sedang membantu Bi Ani menghidangkan nasi goreng di meja makan, tiba-tiba Windy turun dan melirik Nara dengan sinis. Windy duduk di kursi dan bersiap untuk sarapan, tapi Nara tak melihat Hendra, sepertinya pria baik hati tersebut sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali.


Tak lama kemudian Kenan pulang dan melangkah dengan wajah lesu, dia melewati meja makan dan mengabaikan semua orang. Windy yang melihat kedatangan sang putra langsung mengajaknya sarapan bersama.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah pulang? Sarapan dulu!" ajak Windy.


"Aku sedang enggak berselera, Ma," sahut Kenan tanpa menghentikan langkahnya.


Wajah Windy berubah sedih, dia tahu putranya itu malas sarapan karena ada Nara.


"Kasihan putraku, dia sampai enggak berselera makan karena ada kau!" gerutu Windy.


Nara tak menggubrisnya, dia berusaha mengacuhkan kata-kata tidak enak mertuanya itu. Dia lantas duduk di hadapan Windy, tapi suara wanita angkuh itu membuatnya terkejut.


"Hey ... kucing kampung! Siapa yang menyuruhmu duduk di sini?"


"Tapi saya juga ingin sarapan, Bu," jawab Nara.


"Kau enggak sadar diri, ya? Ini meja makan khusus tuan rumah, sedangkan kau siapa? Sana makan di dapur!" sungut Windy angkuh.


"Tapi sekarang saya bagian dari keluarga ini."


"Cih, apa kau bilang? Enggak ada yang menganggap mu sebagai keluarga! Jadi jangan kepedean!" ejek Windy.


Nara tertegun, seharusnya dia tak memaksa diri untuk bersikap layaknya menantu rumah ini. Bukankah dia sudah mendengar dari Kenan jika dirinya tak dianggap?


"Kau ini tuli, ya? Sana ke dapur!" bentak Windy.


Nara tak menjawab, dia segera beranjak dari duduknya dan melangkah ke dapur dengan perasaan kesal. Bukan dia tak bisa melawan Windy, tapi Nara tak mau bersikap kurang ajar pada wanita itu. Bagaimana pun juga Windy adalah orang tua yang harus Nara hormati.


Nara pun duduk di meja makan khusus pelayan di dapur, dia menyantap nasi goreng di hadapannya dengan sedikit jengkel.


Bi Ani bergegas menyusul Nara ke dapur setelah melayani Windy.


"Mbak Nara yang sabar, ya. Enggak usah dimasukin ke hati ucapannya Ibu, dia memang begitu." Bi Ani berusaha menenangkan Nara.


Nara mengangguk, "Iya, Bi."


Bi Ani merasa iba pada Nara, dia tak mengerti kenapa wanita sebaik Nara harus mendapatkan takdir seburuk ini.

__ADS_1


***


__ADS_2