
Perdebatan berbelit - belit itu terus saja berlangsung. Jika Bagas tak menghentikan, mungkin perdebatan itu tak akan pernah selesai.
"Udah yuk, langsung berangkat?" Kata Bagas pada semuanya.
Rindi yang seakan lupa dengan rencana awal mereka. Kini malah bertanya balik pada Bagas.
"Pergi kemana kak?" Kata Rindi membalas ucapan Bagas.
"Ke hati mu. Maksudnya ke tempat penjual es campur. Kamu nih ko malah lupa." Kata Bagas membalas ucapan Rindi.
"Ya ampun kak, Rindi hampir aja terkejut dan aneh." Kata Rindi membalas ucapan Bagas.
"Terkejut kenapa?" Kata Bagas yang penasaran.
"Barusan kakak bilang mau pergi ke hati. Rindi berpikir, memangnya bisa." Kata Rindi membalas ucapan Bagas.
"Oh jadi karena itu. Sebenernya bisa - bisa aja kalau pemilik hatinya ngizinin." Kata Bagas membalas ucapan Rindi.
Rindi yang mendengar jawaban Bagas, kini mulai berpikir keras bahkan sempat bertanya pada dirinya sendiri dengan berbicara di dalam hatinya.
"Bentar deh, ini kak Bagas asal bicara atau apa sih. Memangnya bisa orang masuk ke hati. Caranya gimana coba? bener - bener aneh nih kak Bagas." Kata Rindi di dalam hatinya.
"Apa iya caranya dengan membelah tubuh, terus masuk ke dalam hati. Ntar bukan nya orang nya bisa mati ya. Ah... Ini kak Bagas beneran ngaco." Kata Rindi melanjutkan lagi bicara nya.
Di saat Rindi sibuk berbicara di dalam hatinya. Bagas yang menunggu jawaban Rindi. Kini mulai tak sabar lagi ingin mendengar jawaban nya. Sehingga ia pun kembali mengeluarkan suaranya.
"Rindi ko lama jawabnya?" Kata Bagas pada Rindi.
Sontak ucapan Bagas ini membuat Rindi yang sibuk berbicara di dalam hatinya. Kini pandangan wajahnya mengarah ke arah Bagas.
Lalu tak lama setelah itu, ia mulai menjawab ucapan Bagas.
__ADS_1
"Eh... maaf kak, Rindi barusan malah diam." Kata Rindi membalas ucapan Bagas.
"Hem... diam kenapa? ko lama." Kata Bagas membalas ucapan Rindi.
"Em... kalau boleh jujur sih, sebenernya barusan Rindi diam itu karena lagi berpikir. Caranya gimana ya kak, kakak bisa masuk ke hati. Apa iya dengan cara di belah tubuhnya terus kakak langsung masuk ke hati. Kan nggak mungkin kaya gitu kak. Baru aja masuk tangan, pasti langsung mati." Kata Rindi membalas ucapan Bagas cukup panjang.
Selain itu, ucapan Rindi ini pun membuat Bagas tertawa setelah mendengar jawaban Rindi.
"Hahaha... hahaha... jadi kamu diam itu karena berpikir caranya. Ya ampun Rindi, caranya bukan kaya gitu. Kalau caranya kaya gitu tentu akan mati orang nya. Kamu nih, ko jadi mendadak lemot." Kata Bagas membalas ucapan Rindi dengan tertawa begitu keras.
"Kak Bagas jahat banget sama Rindi. Udah mah ngetawain eh malah di bilang lemot juga. Sedih banget Rindi." Kata Rindi membalas ucapan Bagas.
"Eh... bukan gitu. Maafin kakak deh, barusan kakak lupa malah ketawain kamu dan bilang lemot sama kamu. Kamu maafin kakak kan." Kata Bagas yang mulai menyadari kesalahannya dari ucapannya barusan pada Rindi saat Rindi memberi tahunya.
"Rindi maafin, tapi ada syaratnya. Gimana kakak mau gak kalau Rindi kasih syarat." Kata Rindi membalas ucapan Bagas.
"Masa maafin aja harus ada syaratnya. Tapi, ya udah syaratnya apa, biar kakak dimaafin sama kamu?" Kata Bagas membalas ucapan Rindi.
"Udah bro langsung berangkat aja kita. Lo gak perlu tanggepin Rindi. Ntar lo malah di porotin. Ayo sekarang kita pergi." Kata Bagas yang ternyata sumber dari suara tersebut.
"Loh kak, ko bilang nya kaya gitu. Kak Bagas jangan percaya ya sama ucapan kak Haikal. Rindi gak gitu ko orangnya." Kata Rindi membalas ucapan Bagas sambil menjelaskan pada Bagas agar Bagas tak salah mengartikan ucapan Haikal.
"Lagian percaya sama kakak juga gak baik, tapi setidaknya gue udah kasih tau lo Gas. Lo jangan gampang nerima syarat dari Rindi. Ntar lo sendiri yang rugi." Kata Haikal membalas ucapan Rindi sambil berbicara pada Bagas.
"Ih... kak Haikal jahat banget sih. Kak Bagas, kak Bagas gak percaya kan sama ucapan kak Haikal." Kata Rindi membalas ucapan Haikal sambil bertanya pada Bagas.
Dengan cemas dan deg - degan menunggu jawaban Bagas. Rindi pun mulai mencoba menenangkan dirinya.
"Huh... hah... huh... hah... huh... hah... tenangkan diri kamu Rindi. Ini gak Baik. Ayo coba tarik lagi napasnya. Iya bagus. Sekarang tarik lagi, terus keluarkan lagi." Kata Rindi mencoba menenangkan dirinya dengan berbicara sendiri.
"Em... sebenarnya, sebenarnya kakak agak percaya ucapan Haikal. Tapi, lebih percaya ucapan kamu. Jadi tenang aja kakak gak akan percaya ucapan Haikal ko." Kata Bagas membalas ucapan Rindi.
__ADS_1
Selesai sudah rasa deg - degan dan cemas yang di rasakan oleh Rindi. Kini Rindi pun mulai membalas ucapan Bagas.
"Lega nya Rindi, kak Bagas gak langsung percaya sama ucapan kak Haikal. Makasih ya kak sebelumnya." Kata Rindi membalas ucapan Bagas.
"Hem... iya Rindi. Ya udah, ayo kasih tau kakak, apa syaratnya?" Kata Bagas membalas ucapan Rindi.
"Kakak janji dulu abis Rindi kasih tau kakak. Ucapan kakak yang barusan gak kakak rubah lagi." Kata Rindi membalas ucapan Bagas.
"Em... iya kakak janji nggak akan mengubahnya." Kata Bagas membalas ucapan Rindi.
"Oke kalau gitu kak, Rindi kasih tau ya. Syarat nya itu mudah banget kak. Kakak cukup kasih Rindi sejumlah uang untuk membeli es campur sekarang. Gimana kakak mau kan? sama kasih Rindi uang 5 juta." Kata Rindi membalas ucapan Bagas.
Bagas yang sudah terlanjur memilih percaya ucapan Rindi, kini seakan - akan termakan oleh ucapannya sendiri. Karena sudah salah memilih.
"Salah pilih nih gue. Gue kira Haikal bicara bohong. Ternyata beneran seperti ini." Kata Bagas di dalam hatinya.
"Kak ko diam. Nggak mau penuhi syarat nya ya. Ya udah deh kak, kalau gak mau mah gak perlu dipaksain." Kata Rindi membalas ucapan Bagas.
"Hahahaha... biasa aja bro wajahnya. Gue kan udah bilang sama lo. Jangan percaya sama ucapan Rindi. Sekarang lo tanggung sendiri aja ucapan lo itu. Gue gak mau ikut di libatkan." Kata Haikal pada Bagas sambil tertawa.
"Hem... gue gak nyesel ko. Lagian Rindi gak minta 5 milyar. Jadi, gak masalah buat gue." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.
"Hem... serius lo gak nyesel." Kata Haikal yang tak percaya saat mendengar ucapan Bagas.
"Iya beneran, gue gak nyesel." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.
"Lo baru sekali di minta kaya gini. Ntar kalau keseringan, gue yakin lo pasti nyesel. Bahkan senyesel, nyeselnya." Kata Haikal membalas ucapan Bagas dengan begitu yakin bahwa Bagas akan merasa menyesal suatu saat nanti.
"Hem... kita liat aja nanti." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.
Bersambung...
__ADS_1