
"Sudahlah bahas yang lain aja. Gue males kalau harus jelasin." Kata Kendra membalas ucapan Beni.
"Kapan nggak malesnya, tiap hari lo bilang males mulu. Lama - lama gue juga bosan." Kata Beni membalas ucapan Kendra.
"Nanti lusa, lusa lagi atau laginya lusa. Eh... pokoknya itu deh." Kata Kendra membalas ucapan Kendra dengan menyebalkan.
"Huh... lo jawab ucapan gue kenapa di putar - putar sih. Tau nggak, tau nggak masa nggak sih." Kata Beni yang kini bergilir membalas ucapan Kendra dengan menyebalkan.
"Lah itu lon juga lakuin hal yang sama. Jadi lo dan gue apa bedanya." Kata Kendra membalas ucapan Beni.
"Banyak perbedaan di antara lo dan gue. Salah satunya lo kurang ganteng dari gue. Iya kan nona, Beni ganteng." Kata Beni dengan percaya dirinya mengatakan hal itu pada Kendra lalu beralih mengatakan hal itu juga pada Rindi.
Saat di tanya seperti itu, rasanya Rindi ingin sekali meledakkan tawa saat itu juga. Mengingat bahwa orang yang mengaku dirinya ganteng dari salah satu bodyguard ayahnya yang lain.
Sangat membuat dirinya ingin meledakan tawa. Karena ucapan Beni jauh dari kenyataan.
Yang dapat di simpulkan bahwa ucapan Beni hanya angan - angan belaka. Karena nyatanya Jendra jauh lebih ganteng dari Beni.
Rindi pun mengakui itu, mengingat - ingat ganteng ia jadi teringat sama kejadian waktu ia bertubrukan dengan Aldiano.
Rasanya jika dibandingkan dengan kedua orang di hadapannya ini. Aldiano jauh lebih ganteng. Ah... tapi sayang seribu sayang sikapnya tak seindah dan seenak saat memandang wajahnya.
Bahkan sangat jauh, entahlah Aldiano memberikan sikap seperti itu hanya terhadap dirinya atau bahkan ke semua perempuan. Tapi yang jelas Rindi tak suka orang itu.
"Ih... otak gue kenapa jadi teringat cowok kasar dan nggak punya perasaan itu sih. Please Rindi jangan di pikirkan tentang orang itu." Kata Rindi di dalam hatinya.
Karena teringat mengenai Aldiano Rindi dengan refleks menggelengkan kepalanya.
Sehingga hal tersebut membuat Kendra menang banyak.
"Hahahaha... kamu bisa simpulin sendiri bukan bro. Nona Rindi aja nggak setuju lo lebih ganteng dari gue. Karena orang juga udah bisa bedain kali. Lo jangan terlalu percaya diri bro." Kata Kendra pada Beni.
"Hey... nona Rindi lagi lelah jadi salah memberikan jawaban. Sudahlah gue mau diam." Kata Beni membalas ucapan Kendra.
"Kalah nih yeh, sampai keliatan gitu kalahnya." Kata Kendra membalas ucapan Beni.
"Ini bukan kalah tapi pria sejati harus mau mengalah." Kata Beni membalas ucapan Kendra.
__ADS_1
"Sekalipun lo harus berkorban gitu maksud lo." Kata Kendra membalas ucapan Beni.
"Iya kurang lebih kaya gitu. Tapi lo tenang aja gue nggak akan berbuat seperti itu ko." Kata Beni yang menjadi aneh jawabannya. Awalnya mungkin nyambung tapi di akhir membuat tanda tanya besar bagi Kendra.
"Lo nggak salah bicara kan sama orang." Kata Kendra dengan hati - hati membalas ucapan Beni.
"Nggak lah buat apa salah bicara malah buat orang salah paham." Kata Beni membalas ucapan Kendra.
"Tapi ucapan lo barusan aneh. Lo nggak salah bicara kan." Kata Kendra membalas ucapan Beni.
"Nggak, sudahlah lo jangan terlalu banyak bicara. Gue bosan dengarnya juga."
"Hem... iya deh gue diam." Kata Kendra membalas ucapan Beni.
Keadaan di dalam mobil pun kini hening tak ada lagi pembicaraan.
Sementara Yeni dan Haikal saat ini telah sampai di rumah sakit.
"Bentar kak, Yeni keluar lebih dulu. Kakak tunggu aja di mobil." Kata Yeni kemudian membuka pintu mobil saat mendapatkan anggukan kepala dari Haikal sebagai jawaban dari ucapannya barusan.
Tak menunggu lama kini Haikal sudah berada di alat tersebut dan kini sudah masuk ke dalam UGD.
Yeni tak henti - hentinya melantunkan doa untuk keadaan Haikal.
"Semoga kak Haikal baik - baik saja dan tak ada yang cedera parah." Ini lah salah satu doa yang Yeni keluar kan dalam hatinya.
Sambil menatap ke arah UGD, Yeni pun mencoba menenangkan gugup nya dan gemetarnya serta rasa khawatir mengenai kondisi Haikal saat ini.
"Huh... hah... huh... hah... huh.. hah..." Dengan tiga kali tarikan napas lalu tak lupa membuangnya. Akhirnya keadaan Yeni jauh lebih baik dari sebelumnya.
Dalam rasa tenang itu. Yeni kemudian teringat mengenai Rindi.
"Ya ampun aku sampai lupa. Rindi, Rindi di bawa pergi sama ke dua orang itu."
"Bukannya itu berati rencana ini gagal. Rasanya aku sebagai sahabatnya gagal melindungi dia. Maaf kan aku Rindi tak bisa bantu kamu. Hiks... hiks..." Kata Yeni berbicara pada dirinya sendiri mengenai Rindi.
Di keheningan itu, seorang dokter pun memanggil keluarga atas nama Haikal. Yeni yang sedari tadi duduk menunggu, kini mulai menghampiri dokter.
__ADS_1
"Keluarga dari tuan Haikal." Kata dokter cukup keras.
Dengan cepat Yeni pun menghampiri dokter dan berkata.
"Iya dok. Gimana keadaan kak Haikal dok?" Kata Yeni membalas ucapan dokter.
"Ini siapa nya tuan Haikal. Istrinya." Kata dokter membalas ucapan Yeni dengan sebuah pertanyaan.
"Buk... buk... kan dok, saya..." Kaya Yeni yang mulai Kebingungan untuk memberitahu dokter mengenai hubungan apa ia dan Haikal.
"Saya... saya... adik nya dok. Iya saya adik nya." Kata Yeni akhirnya memilih mengatakan bahwa ia adik Haikal.
"Maaf saya kira istrinya. Mari nona ikut saya. Ada beberapa hal yang akan saya beritahu kan pada nona mengenai kondisi tuan Haikal." Kata dokter Han membalas ucapan Yeni.
Ya, nama dokter tersebut adalah dokter Han karena tertera di name tag yang dokter Han kenakan.
"Tidak apa - apa dokter. Lagi pula dokter juga nggak tau. Iya dok mari." Kata Yeni membalas ucapan dokter.
"Baik kalau begitu ikuti saya nona." Kata dokter Han membalas ucapan Yeni.
"Baik dok." Kata Yeni membalas ucapan dokter Han.
Sekitar sepuluh sampai lima belas menit Yeni berbicara dengan dokter Han kini ia pun mulai memasuki UGD setelah minta izin apa kah ia di perbolehkan melihat Haikal atau tidak pada dokter Han sebelumnya.
Beruntungnya dokter Han pun mengizinkan ia bisa menemui Haikal. Sehingga saat ini ia telah sampai di UGD.
"Kak gimana keadaan kakak?" Kata Yeni setelah ia berada di hadapan Haikal.
"Seperti yang kamu liat yank, kakak baik - baik saja. Maksud nya sudah lebih baik dari sebelumnya." Kata Haikal membalas ucapan Yeni.
"Alhamdulillah kak, kalau gitu kakak lebih baik istirahat, biar cepat sembuh." Kata Yeni membalas ucapan Haikal.
"Kakak nggak bisa istirahat nih yank. Gimana dong?" Kata Haikal membalas ucapan Yeni.
"Ko bisa kak, kakak kan tinggal tidur." Kata Yeni membalas ucapan Haikal dengan terheran - heran dan aneh.
Bersambung...
__ADS_1