
"Udah Yeni, khawatir banget kayanya. Lagi pula tempat nya gak jauh ko. Kak Haikal pasti tau arah ke butik. Ayo lebih baik kita masuk ke butik aja." Kata Rindi yang memotong ucapan Yeni.
"Hem... bukan gitu Rindi. Tapi..." Kata Yeni yang lagi dan lagi di potong oleh Rindi.
"Khawatir sekali, udah lah kamu ngaku aja." Kata Rindi yang malah semakin membuat Yeni kelabakan tak tau harus jawab apa lagi.
Bahkan kini pipinya dan wajahnya pun hampir memerah.
"Hahaha... biasa aja kali ekspresi nya. Maaf deh aku hanya bercanda ko. Ayo masuk." Kata Rindi melanjutkan ucapannya saat melihat ekspresi wajah Yeni.
"Memangnya ekspresi aku kaya gimana?" Kata Yeni membalas ucapan Rindi dengan sebuah pertanyaan.
"Kaya orang yang..." Kata Rindi yang tiba - tiba terdengar suara orang teriak - teriak.
"Woy... Bagas brengsek... tega bener sih lo main tinggalin gue aja." Kata seseorang itu dengan teriak sangat kencang.
Sehingga ucapan Rindi pun tak jadi ia lanjutkan. Kemudian pandangan mereka bertiga mengarah ke sumber suara tersebut.
"Gawat nih, Haikal malah langsung emosi lagi. Em... gue bicara apa ya." Kata Bagas yang mulai kebingungan.
"Lah itu kak Haikal, tapi ko marah gitu ke kak Bagas. Sebenernya ada apa ini." Kata Rindi pada mereka berdua.
"Iya Rindi, tapi ko sifatnya jadi beda ya. Marah banget keliatannya, jadi serem gitu liat kemarahan kak Haikal. Memangnya kaya gini ya Rin, kalau kak Haikal lagi marah." Kata Yeni membalas ucapan Rindi sambil bertanya pada Rindi.
"Gak sampai gini sih Yen, ini kayanya kak Haikal bener - bener marah. Kak Bagas udah keterlaluan kayanya sampai buat kak Haikal seperti ini." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.
"Oh jadi kaya gitu Rin, tapi kesalahan apa yang di buat sama kak Bagas sampai kak Haikal seperti ini." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.
"Entahlah aku juga gak tau, kaya nya berat permasalahannya." Kata Rindi membalas ucapan Yeni dengan apa adanya.
"Hem..." Kata Yeni hanya menjawab ucapan Rindi dengan deheman saja.
__ADS_1
Dari kejauhan Haikal yang berteriak, kini mulai melangkahkan kaki dengan cepat dan saat ia telah berada di dekat Bagas, tiba - tiba kepalan tangannya sudah melayang di udara dan siap untuk menghantam wajah b
Bagas.
Namun, sebelum itu terjadi Rindi kemudian mencegahnya.
"Kak jangan kaya gini, kan bisa di bicarain baik - baik. Jangan sampai kakak jadi jahat, langsung pukul kak Bagas." Kata Rindi dengan suara yang cukup keras.
Sehingga kepalan tangan yang hampir sampai di pipi Bagas sebelah kanan, tak jadi haikal layangkan.
"Brengsek lo, kalau Rindi gak cegah gue. Udah habis muka lo, gue bikin babak belur." Kata Haikal pada Bagas setelah tangannya ia jauhkan dari pipi Bagas.
"Sorry bro, gue kira lo udah ke sini duluan. Makannya gue tinggal." Kata Bagas mulai mengeluarkan suara nya.
"Apa lo bilang, dari mana gue bisa udah ke sini, sementara gue nungguin lo di sana. Kurang ajar banget lo. Masih gak mau mengakui. Gue pukul beneran wajah lo." Kata Haikal membalas ucapan Bagas masih dalam keadaan emosi.
"Gue tadi ke tempat duduk..." Kata Bagas yang langsung di potong oleh Haikal.
"Nggak mungkin lah gue berpikiran kaya gitu. Gue beneran ke sana dulu. Tapi, lo nya gak ada." Kata Bagas yang masih tak mengakui kesalahannya.
"Please jangan pada berantem terus. Sekarang kak Bagas tolong jujur, kak Bagas beneran gak sengaja tinggalin kak Haikal atau memang sengaja." Kata Rindi pada mereka berdua.
"Em... kak Bagas beneran gak sengaja Rindi. Kak Bagas kira Haikal udah ke sini." Kata Bagas membalas ucapan Rindi.
"Tapi, kalau kak Bagas gak sengaja lalu yang di bilang kak Haikal gimana. Ko berbeda. Tolong sekarang yang bohong, jujur deh jangan kaya gini." Kata Rindi membalas ucapan Bagas.
"Kak Haikal berkata jujur Rindi, nih si brengsek tinggalin kakak di sana. Kalau gak percaya kita bisa liat ke sana. Kakak sempret ke temu sama orang dan orang itu liat juga kalau kakak beneran di tinggal." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Gimana dengan kak Bagas setelah denger ucapin kak Haikal. Masih tetep mau bela diri kak." Kata Rindi kemudian bertanya pada Bagas.
"Em... anu kakak, ngaku deh kalau kakak sengaja tinggalin Haikal di sana." Kata Bagas yang pada akhirnya tak bisa mengelak lagi.
__ADS_1
"Dasar brengsek tadi aja bela diri gak tinggalin, sekarang udah di bilang ada saksi baru berani akui kesalahan. Brengsek lo." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.
"Sorry bro, gue salah." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.
"Maaf lo itu udah telat, udah kaya gini baru deh, gue denger tuh maaf." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.
"Hem... maafin gue dong bro. Kalau lo mau pukul gue pukul aja. Nih, lo tadi mau pukul pipi gue kan, pukul deh biar lo bisa maafin gue." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.
"Sorry tangan gue gak akan gue pukul kan ke wajah lo. Lagi pula gue gak mau jadi orang kriminal." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.
"Kalau kaya gitu, lo maafin gue kan." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.
"Entahlah gue males buat maafin lo." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.
"Ko gitu sih bro. Ayolah bro, lo maafin gue." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.
"Lo lama - lama kaya cewe deh, maksa bener pengen di maafin." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.
"Bukan maksa tapi gue gak tenang kalau lo belum maafin gue." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.
"Biasanya juga gak masalah gue gak maafin lo dan lo masih tetep tenang - tenang aja. Tapi, sekarang ko beda." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.
"Ya beda dong, dulu kan kita masih suka ketemu. Kalau sekarang kan baru ketemu. Tapi, udah buat kesalahan kan gak baik gitu kesannya." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.
"Kalau udah tau gak baik kesannya. Kenapa lo harus buat kesalahan. Heran gue lama - lama ketemu orang kaya lo ini." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.
"Em... barusan gue kebablasan makannya jadi bikin masalah. Lo mau maafin gue kan bro." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.
"Hahahaha... kebablasan apa, lo sengaja bikin masalah, itu bukan kebablasan nama nya tapi udah di rencanakan." Kata Haikal membalas ucapan Bagas dengan tertawa.
"Susah nih kalau gue jelasin ke lo, lo nya gak paham - paham. Jadi nya kaya gini." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.
__ADS_1
Bersambung...