Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 21.


__ADS_3

Rupanya tadi Nara memanggil Bi Ani untuk membersihkan bekas muntahan Kenan yang berserakan di lantai, sementara dia memasak bubur ayam untuk Kenan. Nara tahu pasti perut dan leher Kenan tidak nyaman setelah muntah tadi, dan makanan lunak seperti bubur adalah pilihan yang tepat untuk bocah sombong yang sedang sekarat itu.


Setelah selesai membersihkan lantai kamar Kenan, Bi Ani pamit keluar, tapi langkahnya terhenti saat melihat makanan yang dia antar tadi masih utuh, obatnya juga belum diminum.


"Mas Kenan belum makan? Itu makanannya sudah dingin, mau bibi ganti yang baru?" tanya Bi Ani.


Kenan menggeleng, "Enggak, Bi. Bawa aja makanannya, aku enggak mau makan!"


"Tapi nanti Mas Kenan bisa masuk angin dan muntah-muntah lagi, loh." Bi Ani mengingatkan.


"Aku enggak selera makan, Bi! Sudah bawa saja!" ucap Kenan sedikit kesal.


"Iya, Mas." Bi Ani segera mengambil piring makanan itu dan membawanya pergi.


Kenan menghela napas, dia yang sudah berbaring di bawah selimut memejamkan matanya. Memang sejak tadi perutnya terasa lapar, tapi karena kedinginan dan pusing, dia tak bernafsu untuk makan. Apalagi setelah muntah tadi, tenggorokan dan perutnya semakin terasa tidak nyaman. Saat ini yang dia inginkan hanya tidur sambil dielus-elus oleh sang mama, tapi sayang wanita yang telah melahirkannya itu sedang tidak ada di rumah.


Namun tak lama kemudian, Nara masuk ke dalam kamar sambil membawa semangkuk bubur ayam buatannya. Aroma yang menggugah selera langsung menusuk indera penciuman Kenan, membuat perutnya semakin keroncongan.


"Makan dulu, ini aku bawakan bubur ayam," ucap Nara seraya berjalan mendekati ranjang Kenan.


"Aku enggak mau!" tolak Kenan, dia terlalu gengsi untuk menerima bubur itu.


"Tapi kau harus makan, kalau enggak, nanti kau bisa muntah-muntah lagi seperti tadi!"


"Aku enggak butuh perhatian mu! Jadi jangan sok peduli!" sahut Kenan yang gemetar di balik selimut tebalnya.


Nara mendengus kesal lalu mengumpat Kenan, "Kau ini benar-benar keras kepala dan enggak tahu diri!"


Namun pintu kamar Kenan tiba-tiba terbuka, Hendra menyelonong masuk dengan wajah cemas, "Kata Bi Ani kamu sakit?"


Nara dan Kenan menoleh ke arah Hendra secara bersamaan, pria paruh baya itu baru pulang dari kantor dan langsung panik saat Bi Ani memberitahukan keadaan sang putra.


"Aku demam dan sepertinya masuk angin, Pa," adu Kenan seperti anak kecil.


Hendra mendekati Kenan dan menyentuh kening putranya itu, "Panas sekali! Kita ke rumah sakit, ya?"

__ADS_1


"Enggak usah, Pa. Sebentar lagi juga sembuh," bantah Kenan, dia benci ke rumah sakit.


"Apa kau sudah minum obat?" tanya Hendra.


Kenan menggeleng, "Belum, Pa."


"Kenapa belum?" protes Hendra, dan Kenan hanya bergeming.


Hendra menghela napas lalu menatap Nara yang berdiri di samping ranjang sang putra, "Nara, apa yang kamu bawa itu?"


"Bubur ayam, Pa. Dia belum makan apa pun dari pagi dan tadi muntah-muntah, jadi aku buatkan bubur ini," terang Nara.


Hendra mengernyit, "Kenapa dia enggak makan?"


"Dia enggak mau, Pa. Di juga menolak untuk minum obat." Nara sengaja mengadukan tingkah Kenan yang sejak tadi menolak untuk makan dan minum obat.


Mendengar aduan Nara itu, Kenan merasa sedikit kesal, tapi dia sedang malas ribut dengan sang istri.


Tatapan Hendra beralih ke putranya tersebut, "Ken, kau harus makan dan minum obat! Lihat, kau sampai muntah-muntah begitu. Kau bisa terkena sakit lambung dan kondisi mu akan semakin parah kalau begini!"


"Aku enggak selera makan, Pa!" keluh Kenan, dia merengek seperti anak kecil.


"Makanlah sedikit saja! Nara sudah bawakan bubur buat mu," bujuk Hendra.


"Aku enggak mau," tolak Kenan gengsi.


"Ken, jangan keras kepala! Kami enggak ingin terjadi sesuatu kepadamu, apalagi saat ini mamamu sedang sedih karena Oma sakit, jadi tolong jangan membuat dia bertambah sedih dan cemas kalau kau sampai kenapa-kenapa," pinta Hendra penuh harap.


Karena tak ingin berdebat dengan sang ayah, Kenan pun mengalah. Dia bangkit dengan perlahan dan duduk, tubuhnya yang menggigil menahan dingin dia sandarkan di headboard lalu menarik selimut menutupinya sampai sebatas leher. Kenan benar-benar kedinginan saat ini.


"Sekarang kau makan, biar Nara yang menyuapi mu!"


Nara dan Kenan sontak saling pandang mendengar ucapan Hendra itu.


"Pa, aku bisa makan sendiri!" ucap Kenan kemudian, dia bukan bayi atau pun orang cacat yang tidak bisa makan sendiri.

__ADS_1


"Iya, Pa. Biar dia makan sendiri saja, soalnya saya masih ada pekerjaan," dalih Nara yang merasa keberatan dengan keputusan mertuanya tersebut.


"Eh, suami kamu lagi sakit, masa kamu tega biarin dia makan sendiri? Sebagai istri kan kamu berkewajiban merawatnya," tutur Hendra, dia memang sengaja ingin mendekatkan pasangan suami istri itu.


Mendengar kalimat yang dilontarkan Hendra itu, wajah Nara dan Kenan sontak menjadi masam. Mereka sama sekali tak merasa menjadi pasangan suami-istri, Kenan tidak menganggap Nara, begitu pun sebaliknya. Jadi ucapan Hendra itu terdengar sangat menyebalkan bagi mereka berdua.


"Pa, aku makan sendiri saja!" ulang Kenan, dia sangat gengsi untuk menyetujui ucapan sang ayah.


"Sudah, biar Nara yang menyuapi mu!" pungkas Hendra, lalu beranjak, "Papa mau ganti baju dulu!"


Hendra segera meninggalkan kamar sang putra sambil tersenyum penuh arti.


Selepas kepergian Hendra, Kenan dan Nara membisu kemudian pandangan mereka bertemu.


"Kau jadi makam enggak?" tanya Nara ketus.


"Jadi, ke sini kan buburnya!"


Nara menyerahkan mangkuk bubur itu ke Kenan, dengan tangan gemetar pemuda itu meraihnya. Dia menelan ludah mencium aroma bubur yang sejak tadi menggugah seleranya itu, dengan pelan dia mulai memegangi sendok dan mulai makan, tapi selimut tebal yang membalut tubuhnya begitu mengganggu. Kenan hendak melepas selimut itu, tapi dia kedinginan, namun dia jadi kesulitan untuk makan.


Melihat Kenan kepayahan, Nara pun berinisiatif mengambil kembali mangkuk bubur itu.


Kenan langsung menatapnya dengan tajam, "Kau mau apa? Kenapa diambil lagi?"


Tanpa membalas pertanyaan Kenan, Nara langsung duduk di hadapan Kenan lalu menyendok bubur dan menyodorkannya ke depan mulut pemuda itu.


Kenan tertegun menatap wajah datar Nara yang menunggu dia membuka mulut.


"Buka mulutmu!" pinta Nara sedikit ketus.


"Aku bisa makan sendiri!" Kenan masih saja gengsi.


"Sudahlah, jangan keras kepala! Cepat buka mulutmu!"


Dan entah mengapa Kenan akhirnya menurut, dia membuka mulutnya lalu memakan bubur yang Nara suap kan.

__ADS_1


Kenan pun merasa takjub pada rasa bubur itu, sangat lezat di mulut. Kenan belum pernah makan bubur seenak ini sebelumnya, dan dia yang tadinya tidak bernafsu untuk makan, kini mendadak berselera.


***


__ADS_2