
Setelah selesai membantu Bi Ani memasak makan siang, Nara kembali ke kamar dan bermaksud ingin mandi karena gerah serta berkeringat. Dia membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar tanpa menggubris keberadaan Kenan yang masih asyik dengan gadget nya, bahkan sedikitpun dia tak melirik pemuda itu, seolah-olah sang suami adalah makhluk tak kasat mata.
Kenan yang melihat Nara melewatinya begitu saja dan tak menganggap keberadaannya merasa kesal sendiri, dia mengawasi tubuh kurus Nara sampai menghilang di balik pintu kamar mandi yang tertutup.
"Dasar menyebalkan! Dia pikir cuma dia saja yang bisa gitu, aku juga bisa," gerutu Kenan dengan wajah masam.
Lima belas menit kemudian Nara sudah selesai mandi dan berganti pakaian di dalam kamar mandi, dia masih tetap mengabaikan Kenan yang sekarang juga pura-pura tak acuh padanya, pemuda itu fokus menatap layar gadget dan menonton film.
Nara memungut ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas, dia memeriksa benda pipih itu dan terkesiap saat melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Rendy. Rupanya tadi Rendy kembali menelepon setelah Kenan mereject nya, tapi lagi-lagi bocah sombong itu mematikannya.
"Rendy? Ada apa dia menelepon ku?" batin Nara penasaran, dia lantas kembali menghubungi satu-satunya teman baiknya itu.
"Halo, Ren," sapa Nara saat panggilannya terhubung.
Kenan pun curi-curi pandang ke arah Nara saat mendengar wanita itu berbicara.
"Halo, Ra. Kamu baik-baik saja, kan?"
Nara mengernyit mendengar pertanyaan bernada cemas Rendy, "Iya, aku baik-baik saja. Memangnya kenapa, Ren?"
"Syukurlah, soalnya aku sempat khawatir karena beberapa kali telepon dariku kamu reject."
__ADS_1
Nara terhenyak. Reject? Kapan dia melakukannya?
Nara akhirnya melirik Kenan yang duduk tenang di atas ranjang sambil fokus memandang layar gadget.
"Ini pasti ulah dia," tebak Nara dalam hati.
"Ra, kenapa diam?"
"Eh, i-iya tadi aku lagi repot banget bantuin Bi Ani masak makan siang, tangan aku juga kotor jadi terpaksa aku reject. Maaf banget, ya, Ren," kilah Nara berbohong, dia tak ingin membuat masalah lagi antara Rendy dan Kenan jika teman baiknya itu tahu ini adalah ulah si bocah sombong.
Kenan mencibir dalam hati saat mendengar alasan Nara, "Dasar pembohong!"
Nara menghela napas lega karena Rendy percaya dengan alasannya.
"Sekarang kamu lagi apa? Sudah enggak sibuk, kan?"
"Enggak, kok. Aku baru selesai mandi. Kamu sendiri sedang apa?"
"Lagi pandangi kamu dari balkon kamar aku."
Nara terhenyak dan langsung memandang ke arah pintu balkon kamar Kenan yang terbuat dari kaca, memang rumah Hendra dan Rendy bersebrangan, tapi Nara baru tahu jika kamar Kenan dan Rendy juga berhadapan.
__ADS_1
"Memangnya kelihatan?" tanya Nara penasaran.
Kenan yang sejak tadi menguping hanya mengernyit mendengar pertanyaan Nara, dia ingin tahu apa yang sedang wanita itu bicarakan dengan sang sahabat.
"Enggak, sih! Kecuali kalau kamu keluar ke balkon sekarang juga."
Senyum seketika tersungging di bibir tipis Nara, dia pun bergegas membuka pintu bercat putih tersebut lalu segera keluar ke balkon. Melihat tingkah Nara itu, Kenan semakin ingin tahu.
"Mau ngapain dia keluar?" gumam Kenan bertanya-tanya, dia tak lagi bisa fokus pada gadget nya.
Nara yang sudah berdiri di balkon langsung melambaikan tangannya saat melihat Rendy berdiri di seberangnya, "Hai, Ren."
Rendy pun ikut melambaikan tangan dan tersenyum manis dari tempatnya berdiri saat ini.
Mendengar teriakkan Nara yang menyapa Rendy, tanpa pikir panjang Kenan turun dari atas ranjang, rasa penasarannya tak bisa dia tahan lagi.
Kenan pun bersembunyi di balik dinding lalu menyibak gorden putih yang menutupi pintu balkon dan mengintip keluar, mendadak dia kesal saat melihat Nara dan Rendy berbicara di telepon sambil tertawa-tawa, wanita yang berstatus istrinya itu bisa tergelak dengan riang saat berbicara dengan Rendy, tapi justru tak menganggapnya sama sekali meskipun mereka berhadapan, seolah dia tak terlihat.
"Dasar lebay! Norak!" umpat Kenan pelan, wajah tampannya semakin masam.
***
__ADS_1