Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 222 Hampir Putus Asa


__ADS_3

"Argh... aku lupa kalau aku sudah menikah. Rasanya sungguh menyebalkan sekali." Kata Rindi setelah Aldiano menutup pintu kamar mandi.


Setelah itu, Rindi pun terfokus pada dirinya yang ada di depan cermin. Kemudian ia pun mulai menggunakan bedak tersebut satu persatu di lehernya dengan berharap tanda itu hilang tertutup bedak.


Cukup lama ia hampir putus asa karena tanda itu tak kunjung tertutupi. Beruntung sekitar lima belas menit lamanya akhirnya tanda itu pun tertutup dan tak ada yang terlihat lagi.


"Leganya kenapa nggak dari tadi sih." Kata Rindi yang telah selesai menutupi tanda di lehernya.


Bergegaslah ia keluar dari kamar mandi. Dengan membawa beberapa bedak tersebut.


Saat ia membuka pintu kamar mandi. Pandangan Aldiano pun langsung mengarah padanya.


Sungguh rasanya campur aduk karena tiba - tiba di tatap seperti itu oleh Aldiono.


"Kenapa liat aku kaya gitu? ada yang salah dengan diri aku." Kata Rindi yang merasa risih di tatap seperti itu oleh Aldiono.


"Tidak ada, aku hanya ingin melihat mu saja. Kau sudah selesai." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi sambil bertanya juga pada Rindi.


"Seperti yang kamu liat. Aku sekarang sudah keluar, bukannya itu sudah bisa menjawab pertanyaan mu." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano.


"Baik lah aku tak bertanya lagi. Itu artinya kita bisa pergi sekarang." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


Rindi yang lupa atau pura - pura lupa seketika menjadi kebingungan sendiri.


"Pergi kemana? memangnya kita mau pergi apa?" Kata Rindi membalas ucapan Aldiano.


"Kau lupa, ibu menyuruh kita untuk makan bukan dan bergabung makan bersama. Apa kau benar - benar tidak ingat." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


"Ah... iya aku lupa. Ya sudah ayo kita ke sana. Ibu sama ayah pasti sudah menunggu lama." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano.


Lalu ia pun bergegas melangkahkan kaki menuju meja rias miliknya dan langsung menyimpan asal bedak yang ia bawa.

__ADS_1


Setelah itu, ia langsung bergegas keluar kamar nya. Namun, saat ia telah membuka pintu dan melihat Aldiano masih duduk tak ikut melangkahkan kaki.


Membuat Rindi kesal dan langsung meluapkan emosinya.


"Hey... kamu masih ingin duduk seperti itu. Kamu jadi ikut atau tidak. Jika tidak, aku pergi sekarang. Bye..." Kata Rindi kemudian menutup pintu dengan keras sampai mengeluarkan bunyi.


Bruk...


Suara keras yang keluar dari pintu ketika Rindi menutupnya cukup membuat Aldiano yang sedang duduk sampai berdiri karena terkejut.


"Kaget banget aku, bisa - bisa nya dia marah sampai segitu nya. Em... tapi setelah di liat ekspresi wajah nya tadi. Lucu juga bukannya aku marah ini ko jadi pengen liat kemarahannya lagi ya. Em... sepertinya aku harus periksa ke dokter, karena seperti nya ada yang salah dalam diri ku. Ya, aku akan jadwalkan untuk pergi ke dokter nanti." Kata Aldiano berbicara pada dirinya sendiri setelah Rindi pergi.


"Eh... ini beneran aku di tinggal sama dia. Tega sekali." Kata Aldiano melanjutkan lagi ucapannya.


"Dasar cewek aneh. Tapi ko aku merasa kan hal yang berbeda ya. Biasanya paling anti sama cewek sekarang seperti... argh... sudah lah kenapa harus di ambil pusing." Kata Aldiano berbicara pada dirinya lagi.


Setelah itu, ia pun memutuskan untuk menyusul Rindi. Beruntung Rindi masih belum jauh. Ia pun langsung melangkahkan kaki cukup dekat. Sehingga jarak nya tak terlalu jauh.


Bahkan hanya tersisa beberapa langkah kaki saja. Ia sudah berdampingan berjalan dengan Rindi.


"Kalian berdua kenapa lama sekali. Ibu dan ayah sudah makan duluan jadinya. Em... tapi tak apa kalian bisa makan berdua. Ibu dan ayah pergi dulu ya. Nikmati saja makannya, dan kamu nak makan yang banyak. Jangan kalah sama Rindi." Kata ibu pada Rindi dan Aldiano.


Hal itu membuat Rindi shock lalu dengan cepat membalikan tubuh untuk memastikan apakah Aldiano ada di belakang tubuh nya.


Dan ternyata saat ia memastikan ternyata memang benar Aldiano sudah berada di belakang tubuhnya. Rindi bahkan sampai shock dan hampir saja terjatuh karena tak menyangka sedari tadi Aldiano tepat berada di belakang tubuhnya.


Beruntung Aldiano langsung memegang tubuhnya sehingga tak terjatuh.


"Huh... hampir saja." Kata Rindi merasa lega.


"Hey... lepas." Kata Rindi kemudian meminta Aldiano untuk melepasnya.

__ADS_1


Aldiano yang di minta seperti itu pun tanpa pikir panjang lagi langsung melepas tangannya yang berada di tubuh Rindi.


Hal ini membuat tubuh Rindi terjatuh lagi. Namun, ia tak sampai membentur lantai. Karena Aldiano dengan cepat memegang tangan Rindi sehingga saat ini Rindi mulai berdiri dengan sempurna.


"Huh... hampir saja jatuh. Aku kira kamu tak akan membatu ku." Kata Rindi yang telah merasa lega karena tak terjatuh.


"Aku tak sejahat itu sampai membuat mu jatuh di depan Ibu dan ayah mu." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


"Itu artinya ketika ibu dan ayah tidak ada di sini. Kamu tak akan membatu ku. Cari muka sekali kamu." Kata Rindi mencibir Aldiano.


"Hey... jaga ucapan mu, kau harusnya berterima kasih karena telah menolong mu. Jangan lupa akan hal itu." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.


"Hem... gitu ya, tapi sayangnya aku tak ingin berterima kasih." Kata Rindi lalu duduk di kursi meja makan.


Rasa kesal yang Aldiano rasakan saat ini. Ia tahan, karena tak mungkin bukan ia menunjukan kekesalannya. Sementara di depan matanya ada kedua orang tua Rindi.


Apa jadinya jika hal itu sampai ia lakukan. Hingga ia memilih duduk di samping Rindi tanpa berkata apapun lagi.


Ibu dan ayah yang melihat perdebatan mereda dan mendengar perdebatan mereka sempat tersenyum geli.


Karena menurut mereka hal ini seperti mengingatkan mereka pada masa di mana mereka baru menikah dulu.


Hampir sama persis seperti Rindi dan Aldiano. Tak pernah lepas dari yang namanya berdebat. Sampai ujung nya tentu yang menang adalah ibu. Karena ayah selalu mengalah.


Tapi beda hal lagi dengan ke putusan ayah yang ingin menikahkan Rindi secepatnya. Ibu tak bisa menang akan hal itu.


Sehingga saat ini Rindi pun telah berstatus istri. Putri kecilnya sudah memiliki keluarga sekarang dan yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa agar Rindi dan Aldiano bahagia walau pernikahan ini adalah pernikahan dadakan.


"Kalian makan ya, ibu dan ayah pergi dulu. Jangan lupa suami mu di siapkan makanan nya sayang. Kamu punya kewajiban yang lain. Jadi jangan lupa." Kata ibu mengingatkan Rindi.


Kemudian ibu dan ayah pun pergi setelah sebelumnya ayah pun berbicara sebentar pada Aldiano.

__ADS_1


"Kamu jangan manja, ambil sendiri saja makanan nya. Aku sudah lapar tak bisa membantu mu untuk mengambil makan. Jadi, kamu bisa sendiri bukan." Kata Rindi pada Aldiano dengan nada suara yang ketus.


Bersambung...


__ADS_2