
"Mau apa kau ke sini?" sergah Kenan saat melihat Rendy di ruang tamunya.
"Aku mau bertemu Nara," jawab Rendy santai, dia sudah membatalkan pertemuannya dengan Han karena ingin menemui wanita itu.
"Nara sedang tidur, dia sakit."
Rendy seketika cemas, "Sakit apa?"
"Bukan urusanmu! Sebaiknya sekarang kau pergi dari sini!"
"Aku enggak akan pergi sebelum tahu Nara sakit apa?" bantah Rendy keras kepala.
"Nara demam, dan itu gara-gara kau!" tuduh Kenan kesal.
Rendy mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Kau tahu dia baru sembuh dari sakit, tapi malah mengajaknya keluar malam-malam dengan pakaian yang terbuka pula. Dia pasti masuk angin!"
Rendy terdiam, benarkah Nara sakit karena hal itu? Mendadak dia merasa bersalah.
"Kalau begitu bagaimana keadaannya? Apa dia sudah minum obat?" cecar Rendy ingin tahu.
"Jangan sok perhatian padanya! Karena dia enggak butuh perhatian mu. Sebaiknya kau pergi sekarang juga!" Kenan kembali mengusir Rendy.
"Kenan! Apa-apaan kau ini? Kenapa kau mengusir Rendy?" sela Hendra yang berjalan ke arah mereka setelah mendengar ada ribut-ribut di lantai bawah.
Kenan dan Rendy menoleh ke arah Hendra, dan terkejut melihat kemunculan pria itu.
"Rendy, kenapa wajah kamu juga babak belur begini?" tanya Hendra bingung saat pemuda itu memandang ke arahnya.
Rendy dan Kenan mendadak gugup.
"Jangan-jangan kalian berkelahi berdua, ya?" tebak Hendra seraya memandang Kenan dan Rendy bergantian.
Kedua bocah itu sontak tertunduk menyembunyikan wajah mereka, membuat Hendra semakin curiga.
"Jadi benar kalian berkelahi?" Hendra memastikan.
Rendy dan Kenan kompak mengangguk bersamaan.
"Ya, Tuhan! Kalian ini Apa-apaan, sih? Kalian ini kan sudah bersahabat sejak kecil, kenapa sampai seperti ini?" sungut Hendra.
"Dia yang mulai duluan, Pa," adu Kenan.
Rendy langsung mengangkat kepalanya menatap Kenan dengan sinis, "Kenapa aku?"
__ADS_1
"Iya, karena kau berani mengajak Nara keluar malam-malam! Apa kurang jelas?" balas Kenan, dia sengaja ingin membuat Rendy terlihat buruk.
Hendra sontak menatap Rendy, "Mengajaknya ke mana?"
"Ke acara ulang tahun teman sekolah kami, Om," jawab Rendy apa adanya.
Hendra mengerutkan keningnya, "Kenapa kamu yang mengajaknya? Kenapa bukan Kenan?"
"Karena suaminya ini enggak mau mengajaknya! Aku kasihan padanya, makanya aku ajak dia," sahut Rendy sembari melirik Kenan yang melotot kepadanya.
"Ken, kau masih saja enggak memedulikan istrimu? Sampai Rendy yang berinisiatif mengajaknya ke acara ulang tahun teman kalian. Papa pikir kau sudah berubah, tapi nyatanya Papa salah!" Hendra mengomeli Kenan.
Kenan terdiam dengan wajah kesal, Rendy berhasil membuat dirinya dimarahi oleh sang ayah. Sementara Rendy hanya tersenyum penuh kemenangan karena bisa membuat Hendra mengetahui kelakuan sang putra.
"Sebaiknya sekarang kalian berbaikan, jangan bertengkar lagi!" pinta Hendra.
"Aku enggak sudi berbaikan dengannya!" Kenan bergegas pergi dari hadapan Hendra dan Rendy.
"Kenan!" teriak Hendra, tapi pemuda sombong itu tak peduli.
Hendra mengembuskan napas sambil geleng-geleng kepala melihat sikap keras putranya itu.
"Aku minta maaf, Om. Aku sudah mengajak Nara keluar malam-malam dan menyebabkan dia sakit," ucap Rendy merasa bersalah.
Hendra beralih menatap anak tetangganya itu, "Enggak apa-apa! Om tahu niat kamu baik ingin membuat Nara senang, tapi mungkin Nara belum benar-benar pulih, jadi dia negdrop lagi."
"Dia sedang tidur. Tadi kata Kenan, dia demam, lemas dan pucat. Hidungnya juga mengeluarkan darah, Om jadi cemas," terang Hendra.
Rendy tercengang, dia tak asing dengan gejala yang ditunjukkan oleh Nara, mendadak perasaannya jadi semakin cemas dan gelisah.
"Apa enggak sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja, Om? Aku takut dia mengidap penyakit yang serius," cetus Rendy.
"Iya, tadinya Om memang mau bawa dia ke rumah sakit. Tapi kata Kenan nanti saja setelah dia bangun, soalnya kasihan, dia baru tidur."
Rendy bergeming, ini untuk kesekian kalinya Kenan peduli dan perhatian pada Nara, membuat hati pemuda itu mencurigai sesuatu.
"Oh iya, kamu ke sini pasti mau bertemu Nara, kan?"
Rendy tersentak dan mendadak gugup, "I-iya, Om. Tapi nanti saja aku datang lagi kalau Nara sudah bangun."
"Baiklah, nanti kalau Nara sudah bangun, Om akan bilang kalau kamu datang."
Rendy mengangguk, dia kemudian mengeluarkan telepon genggam Nara dari dalam saku celananya dan memberikannya ke Hendra, "Om, tolong berikan ke Nara, ya! Semalam ponsel dia ketinggalan di mobilku."
Rendy sengaja memberikan alasan tersebut.
__ADS_1
"Iya, nanti Om sampaikan."
"Kalau begitu aku permisi dulu, Om." Rendy buru-buru meninggalkan kediaman Hendra.
***
"Ini ponsel Nara." Hendra menyodorkan benda pipih itu ke hadapan Kenan yang sedang duduk di sofa sembari terus mengawasi sang istri.
Kenan mengernyit, "Kenapa bisa ada sama Papa?"
"Tadi Rendy yang menitipkan nya. Kata dia, ponsel Nara ketinggalan di dalam mobilnya," terang Hendra.
Seketika Kenan teringat kejadian semalam saat Nara dan Rendy berduaan di dalam mobil, dia masih berpikir jika dua insan itu berciuman. Kenan pun kembali kesal.
"Rendy benar-benar peduli dan perhatian pada Nara, sikapnya itu menunjukkan jika dia memiliki perasaan pada istrimu. Apa kau enggak cemburu?" Hendra menatap Kenan penuh selidik.
Lamunan Kenan sontak buyar, dia memandang Hendra yang berdiri di depannya, "Kenapa Papa bertanya seperti itu?"
"Papa hanya memastikan saja!"
Kenan terdiam mendengar kata-kata papanya tersebut. Iya, dia memang mengakui jika Rendy sangat peduli dan perhatian pada Nara. Dan entah mengapa hal itu selalu membuat dia kesal. Dapatkah itu diartikan sebagai cemburu?
"Ken, kalau boleh, Papa ingin memberikan saran. Jangan biarkan istrimu merasa nyaman dengan pria lain! Kecuali kau sudah siap kehilangan dia dan menjadi pecundang." Hendra menepuk pundak Kenan kemudian berlalu pergi. Dia sengaja memprovokasi Kenan karena dia tahu putranya tersebut enggak akan terima jika dikalahkan oleh Rendy. Apalagi saat ini Hendra curiga bahwa sebenarnya Kenan mulai ada rasa pada Nara, dia ingin membuat sang putra menyadari perasaannya sendiri.
Kenan masih termangu memikirkan ucapan sang ayah, hatinya terasa bergetar dan berdenyut nyeri saat membayangkan Nara meninggalkan dirinya lalu memilih Rendy. Rasa takut kehilangan itu lagi-lagi menyelusup ke dalam relung hatinya.
Dia mengalihkan pandangannya ke Nara yang masih tertidur pulas, lalu beranjak mendekati istrinya itu. Dengan hati-hati Kenan mengelus dahi Nara yang masih terasa panas.
"Aku enggak akan membiarkan Rendy merebut apa yang sudah menjadi milikku," ucap Kenan pelan, lalu dengan lembut dia mengecup bibir Nara.
Tring.
Kenan terkejut saat telepon genggam Nara yang dia pegang tiba-tiba berbunyi, dia buru-buru menjauh dari wanita itu.
Pemuda itu lantas mengamati layar ponsel Nara, ada sebuah notifikasi pesan dari Rendy di layar ponsel sang istri.
"HUBUNGI AKU JIKA KAMU SUDAH BANGUN!"
Kenan mendengus kesal, dia ingin sekali membuka dan membalas pesan itu, tapi tidak bisa karena layar ponsel Nara terkunci dan dia tak tahu kode sandinya.
"Dingin."
Pandangan Kenan sontak beralih ke Nara yang masih memejamkan mata, wanita itu sepertinya kedinginan dan mengigau.
"Dingin." Nara kembali mengigau.
__ADS_1
Kenan tak tega melihat Nara kedinginan dan menggigil, dia pun memeluk tubuh kurus Nara yang berbalut selimut dengan sangat erat, berharap bisa menghangatkan istrinya itu.
***