
"Apa - apaan kaya gitu. Lo nggak bisa liat, kak Haikal udah babak belur kaya gitu. Sudahlah gue mau keluar." Kata Rindi membalas ucapan Yeni dengan geram.
"Tapi..." Baru saja satu kata Yeni mengeluarkan suaranya. Rindi sudah membuka pintu dan pergi mendekati Haikal dan kedua orang menyeramkan itu.
Sehingga dengan tergesa Yeni pun keluar juga dari mobil.
"Woy... jangan berani nya main keroyokan. Sini kalau lo berdua berani, lawan gue satu persatu." Kata Rindi dengan suara yang lantang dan begitu menggelegar.
"Sikat bro, kita hajar saja. Lagi pula dia cewek. Pasti sekali pukul langsung tumbang." Kata salah satu orang yang berbadan kekar itu.
"Lo gila apa, dia orang yang kita cari. Nona Rindi." Kata teman yang satunya hampir menoyor kepala temannya itu yang salah bicara.
"Bentar deh, ko bisa." Kata temannya itu masih tak percaya.
"Lah bisa, ini memang nona Rindi. Lo memangnya gak liat foto nya atau gimana?" Kata temannya lagi membalas ucapan temannya itu.
"Hehehe... ternyata benar, dia nona yang kita cari. Sorry Ken." Kata seseorang itu membalas ucapan Kendra nama temannya itu.
"Ben, Ben lain kali teliti kalau dapat tugas. Jangan sampai lo nyesel di kemudian hari. Apa lagi ini anak yang memberikan kita uang. Bisa - bisa kita bukannya di bayar. Tapi, malah di suruh bayar." Kata Kendra menasehati Beni yang ternyata nama orang yang ingin memukul Rindi.
"Iya deh iya, gue akan lebih teliti di kemudian hari." Kata Beni dengan cepat membalas ucapan Kendra.
"Ayo kita ke sana." Kata Kendra mengajak Beni pergi.
"Mau kemana?" Kata Beni membalas ucapan Kendra.
"Tangkap nona Rindi, memangnya mau apa lagi, tujuan kita kan menemukan nona Rindi dan membawanya pulang." Kata Kendra dengan sabar membalas ucapan Beni.
__ADS_1
"Eh... iya ya, sorry gue lupa lagi." Kata beni membalas ucapan Kendra.
"Hem... gue makhlumi ko, apalagi liat uban lo yang mulai banyak. Itu tandanya lo suka lupa." Kata Kendra dengan santai nya membalas ucapan Beni.
"Hey... jaga ucapan, umur gue masih 26 tahun. Dan apa lo bilang, rambut gue beruban. Lo gak bisa bedain, ini rambut yang di cat sama uban beneran. Hah, seenak jidat aja lo ngatain gue beruban." Kata beni yang mulai terbawa emosi. Bahkan ia sampai mengomel pada Kendra.
"Sudahlah uban sama di cat itu sama aja. Makannya gue nggak bisa bedain kecuali kalau rambut lo nggak di cat warna putih. Baru gue bisa bedain lo itu udah tua atau belum." Kata Kendra membalas ucapan Beni.
"Terserah lo lah, gue yang waras ngalah aja." Kata Beni membalas ucapan Kendra.
"Woy... jangan pada sibuk ngerumpi. Kalian berdua berani nggak lawan gue." Kata Rindi tiba - tiba bersuara lantang. Karena ucapannya yang tadi tak ada yang jawab. Mereka berdua malah terus asyik bicara.
"Kami tidak akan melawan nona, sekarang lebih baik nona ikut dengan kami. Sebelum kami memaksa nona dengan cara yang kasar." Kata Kendra membalas ucapan Rindi.
"Siapa lo suruh gue buat ikut sama lo berdua. Gue nggak mau ikut." Kata Rindi membalas ucapan Kendra.
"Bekerja sama lah nona, kami berdua janji tak akan menyakitin nona jika nona bersedia untuk ikut dengan kami. Tapi, jika nona terus menolak, maaf kami harus mengambil cara kasar untuk membawa nona." Kata Kendra membalas ucapan Rindi.
"Kami tak akan pergi sebelum nona ikut dengan kami atau mungkin nona ingin melihat laki - laki ini mati di tangan kami. Dan di saksikan oleh nona." Kata Beni yang langsung menarik Haikal sambil menjambak rambutnya.
"Lo berdua berani ngancam gue hah. Sini lo lawan gue, jangan bisa nya mengambil kesempatan pada orang yang sudah tak bisa melawan. Banci kalian." Kata Rindi pada mereka berdua.
"Tolong jaga ucapan nona, jika nona tak ingin kulit putih nona rusak saat kami melakukan hal yang tak pernah nona duga sebelumnya." Kata Kendra membalas ucapan Rindi.
"Kenapa, lo berdua nggak terima gue bilang banci. Lagian lo berdua memang banci." Kata Rindi bukannya langsung berhenti. Ia malah semakin mengatai mereka berdua.
"Ken, liat kita harus kasih perhitungan. Berani sekali bilang kita berdua banci. Nona belum tau kita, kalau kita tak seperti banci yang nona bilang." Kata Beni berbicara pada Kendra lalu berbicara juga pada Rindi.
__ADS_1
"Kalau kalian nggak banci. Kalian bisa lawan gue saat ini juga. Buktinya apa, kalian berdua lebih memilih menjadikan kak Haikal sebagai sandra kalian agar gue mau ikut kalian. Cuih... itu sangat banci. Karena bisanya memanfaatkan orang yang lemah." Kata Rindi membalas ucapan mereka berdua.
"Baiklah jika nona minta kita melawan nona. Kita akan lawan nona." Kata Beni lalu mulai mendekati Rindu dan bersiap untuk memukul Rindi.
Namun, sebelum itu terjadi Rindi sudah memberikan pukulan telak di perutnya sebanyak tiga kali. Sehingga membuat Beni hampir memuntahkan isi perut nya.
"Gila pukulan nona Rindi sungguh luar biasa. Gue kira anak tuan nggak ada kemampuan buat mukul. Ternyata gue salah." Kata Beni di dalam hatinya.
"Ayo lawan gue, katanya lo berani. Masa baru gue pukul tiga kali langsung tepar kaya gitu. Banci lo." Kata Rindi pada Beni.
"Ben, ayo lawan." Kata Kendra pada Beni.
"Lo duluan aja deh, perut gue mau muntah rasanya. Apalagi murel juga plus sakit." Kata Beni tanpa sedikit pun gengsi memberitahu keadaan yang saat ini ia rasakan.
"Lo gimana sih, katanya bodyguard yang tak terkalahkan. Nyatanya, baru di pukul tiga kali sama nona aja langsung tumbang. Ben, Ben." Kata Kendra membakas ucapan Beni.
"Lo jangan percaya diri kaya gitu. Kalau lo berani lo kawan aja nona Rindi dan rasakan juga pukulannya. Baru setelah itu lo komen. Banyak ngemeng banget sih lo." Kata Beni yang mulai naik oftap saat berbicara dengan Kendra.
"Hem... ya sudah gue buktiin. Mari nona saya akan lawan nona." Kata Kendra membalas ucapan Beni dan langsung bersiap memukul Rindi.
Namun, sebuah tendangan mematikan sudah lebih dulu mendarat pada ******** Kendra.
Bug...
Hendra langsung merem melek saat tendangan itu ia terima. Sampai pada akhirnya ia terduduk sambil memegang kelaminnya.
"Gila bener banget yang di bilang Beni. Ini bahkan sangat membuat gue tak berdaya. Apa lagi adik kecil gue. Ditendang dengan begitu keras. Argh... gue takut gue nggak bisa gunain adik kecil gue dengan benar nanti. Nona Rindi sangat tak berperasaan." Kata Kendra di dalam hatinya.
__ADS_1
"Tuh kan, apa gue bilang. Lo jangan ngeremehin gitu. Jadi kena batu nya sendiri kan. Coba lo liat tuh adik lo. Takutnya udah ancur dan terputus. Hahahaha..." Kata Beni yang malah menakuti Kendra. Bahkan tanpa sungkan ia malah tertawa.
Bersambung...