
Sehabis mandi tadi, perut Kenan keroncongan, dan entah mengapa dia ingin memakan bubur buatan Nara lagi, hingga dia memutuskan untuk turun dan minta dibikinin. Tadinya Kenan ingin menyuruh Nara, tapi dia terlalu gengsi untuk mengatakannya. Makanya Kenan sengaja memerintah Bi Ani di depan Nara, berharap wanita itu mau memasakkan bubur ayam lagi untuknya.
Kini sembari menunggu bubur pesanannya datang, Kenan asyik berbalas pesan dengan Han dan dia mengabaikan pesan dari Jessi.
Tak lama kemudian pintu diketuk dari luar, dan terdengar suara teriakkan Bi Ani.
"Mas Kenan, ini buburnya sudah siap!"
Kenan pun bergegas membukakan pintu untuk Bi Ani, seketika aroma enak menguar dari mangkuk berisi bubur ayam yang Bi Ani bawa, tapi aromanya sedikit berbeda.
"Ini buburnya, Mas." Bi Ani menyodorkan nampan yang dia bawa kepada Kenan, pemuda itu lantas mengambilnya dan segera berbalik tanpa mengucapkan apa pun.
Bi Ani pun memutuskan untuk meninggalkan kamar anak majikannya itu, dia tak berharap Kenan mengucapkan terima kasih, karena sejak dulu memang tak pernah.
Kenan duduk di tepi ranjang, dia mengamati bubur ayam yang ada di hadapannya saat ini, sekilas tak ada yang berbeda dari penampilan makanan lembek tersebut, hanya aromanya saja yang kurang tajam dan tidak senikmat yang kemarin.
Dengan tidak sabar, Kenan meraih sendok dan menyendok bubur yang masih mengepulkan asap itu. Dia meniupnya sebentar kemudian memasukkannya ke dalam mulut, namun lidahnya bisa dengan mudah merasakan jika bubur tersebut tidak seenak yang dia makan kemarin, bahkan jauh berbeda. Ternyata selain aromanya, rasa bubur itu juga tidak sama.
Kenan membanting sendok nya ke nampan itu sembari mendengus kesal, sudah jelas-jelas dia katakan tadi, bahwa dia ingin bubur seperti yang kemarin, kenapa Bi Ani memberinya yang berbeda?
Dengan dongkol Kenan berdiri dan membawa nampan berisi bubur itu ke dapur, dia ingin marah dan menegur Bi Ani.
Brak.
__ADS_1
Nara dan Bi Ani yang sedang menyiapkan makan siang terperanjat kaget saat Kenan tiba-tiba meletakkan nampan itu dengan keras di atas meja.
"Mas Kenan? Ada apa?" tanya Bi Ani takut bercampur bingung.
"Siapa yang membuat bubur ini?" tanya Kenan dingin, dia menatap Bi Ani dengan tajam.
"Bibi, Mas. Memangnya kenapa? Buburnya enggak enak, ya?" sahut Bi Ani curiga.
"Aku kan minta bubur yang kemarin aku makan, kenapa malah dikasih yang ini. Rasanya beda, Bi!" sungut Kenan sembari melirik Nara yang tak menghiraukannya sama sekali, wanita itu tetap melanjutkan aktifitasnya tanpa sedikitpun memandang ke arah Kenan.
"Maaf, Mas. Kalau begitu mari sini Bibi buatkan lagi yang baru," ujar Bi Ani.
"Enggak usah! Aku sudah enggak selera makan!" Kenan berbalik dan segera pergi dari dapur dengan hati yang semakin jengkel karena sikap cuek Nara.
Tahu jika Kenan sudah pergi, Nara menatap Bi Ani dengan penuh penyesalan.
"Maafkan aku, ya, Bi. Gara-gara aku, Bibi jadi dimarahi sama dia," sesal Nara.
Bi Ani mengernyit, "Kenapa Mbak Nara yang minta maaf?"
"Kalau tadi aku mau membuatkan bubur seperti yang aku buat kemarin, dia pasti tidak akan marah."
Bi Ani tersenyum, "Mbak Nara enggak salah, memang masakan Bibi saja yang kurang enak."
__ADS_1
Nara sontak menggeleng, "Enggak, kok. Masakan Bi Ani enak, enak banget malah. Dasar bocah sombong itu saja yang lebay, masa perkara bubur doang, dia marah-marah begitu."
"Iya, Bibi juga heran, deh."
Sementara itu di kamar, Kenan berulang kali mengumpat, rasa laparnya mendadak hilang. Dia kesal minta ampun, bukan cuma gara-gara bubur yang tidak sesuai permintaannya, tapi juga sikap Nara yang acuh tak acuh, bahkan wanita itu sama sekali tak mau memandangnya.
"Kemarin dia sok peduli dan perhatian padaku, sekarang membuatkan bubur untukku saja dia enggak mau, bahkan memandang aku juga enggak mau. Benar-benar cewek aneh! Menyebalkan!" gerutu Kenan.
Tring ... tring.
Kenan terkesiap saat tiba-tiba mendengar suara ponsel berdering, dia mengalihkan pandangannya ke meja hias dan mendapati sebuah telepon genggam jadul berwarna putih milik Nara sedang bergetar dan berbunyi nyaring.
Kenan yang penasaran melangkah mendekati meja hias dan mengamati layar ponsel yang menyala itu.
Rendy calling ....
"Rendy?" gumam Kenan saat melihat nama sahabatnya itu yang tertera di layar ponsel sang istri.
Entah apa yang dia pikirkan, dengan sengaja dia menggeser tombol merah dan panggilan itu terputus seketika.
Kenan tersenyum jahat, lalu bergerak menjauh dari meja hias.
***
__ADS_1