Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 52.


__ADS_3

Sejak kejadian panas beberapa hari yang lalu, Nara benar-benar menjaga jarak dengan Kenan, dia tak pernah mau bicara ataupun sekedar menatap suaminya itu, dia juga tak mau satu kamar dengan Kenan jika pemuda itu tidak tidur. Dia akan tidur setelah Kenan terlelap dan bangun pagi-pagi sekali sebelum suaminya tersebut bangun, dia sungguh ingin menjauh. Setiap hari dia hanya murung dan menghabiskan waktunya dengan melamun di taman belakang, Bi Ani sampai heran melihat tingkah menantu majikannya itu.


Begitu juga dengan Kenan, dia berusaha untuk mengikuti keinginan Nara walaupun hatinya sakit setiap kali melihat wanita itu mengabaikannya, tak pernah menatapnya apalagi bicara. Setiap malam Kenan selalu pura-pura tidur duluan, sebab dia tahu Nara tak mau masuk ke kamar jika dia belum tidur. Namun setelah Nara terlelap, dia akan bangun untuk sekedar menatap wajah damai Nara dan mengecup kening istrinya itu. Sesungguhnya Kenan juga terluka, dia tak mengerti mengapa Nara begitu keras kepala dan tak ingin berdamai dengannya? Namun Kenan tetap bersyukur Nara masih ada di dekatnya, masih menjadi istrinya walau entah sampai kapan semuanya akan terus begini?


Seperti hari ini, sejak pagi Nara hanya duduk termenung memandangi kolam renang, dia rindu Rendy yang selalu berhasil menghiburnya. Tapi saat ini dia tak bisa menghubungi atau pun menemui pemuda itu, selain karena ponselnya masih disita Kenan, Nara juga tak ingin membuat masalah lagi.


Namun sepertinya semesta sedang berbaik hati pada Nara, seperti ada ikatan batin, Rendy tiba-tiba datang membawa sesuatu untuknya.


"Hai, penunggu taman belakang," sapa Rendy, dia sudah mendengar dari Bi Ani tadi jika belakangan ini Nara sering menghabiskan waktu di tempat itu.


Nara langsung berbalik dan terkejut saat melihat teman baiknya itu sudah berdiri di belakangnya, "Rendy?"


Dia mendadak takut Kenan mengetahui kedatangan pemuda itu, dia tak mau mereka bertengkar lagi.


Rendy berjalan mendekati Nara, dia berjongkok di hadapan wanita itu dan menyodorkan sebuah kandang kecil berwarna pink, "Aku bawakan ini buat kamu!"


"Buat aku?" Mata Nara berbinar saat melihat seekor kelinci berbulu putih yang memakai kalung berwarna pink.


"Iya, biar kamu ada temannya."


"Terima kasih, ya, Ren."


Rendy tersenyum, "Sama-sama."


"Aku senang banget." Nara langsung ceria, dia seolah melupakan lara hatinya akibat perbuatan Kenan beberapa hari yang lalu.


Rendy senang jika bisa melihat Nara tersenyum dan bahagia, entah mengapa sejak pertama kali melihat Nara tiga tahun yang lalu, dia langsung suka dan menyayangi wanita itu.


"Mungkin setelah ini kita akan lama enggak bertemu, jadi kalau kamu bosan dan kesepian, kamu bisa main dengan kelinci ini."


Nara mengernyit, "Memangnya kamu mau ke mana, Ren?"


"Aku mau kuliah ke Amerika," jawab Rendy.

__ADS_1


"Jadi juga ke sana?"


Rendy mengangguk, "Iya, jadi."


Wajah Nara berubah sendu, dia merasa sedih jika harus berpisah dengan Rendy.


Melihat perubahan ekspresi wajah Nara, Rendy tersenyum, "Kenapa? Kamu keberatan aku pergi?"


"Eh, enggak, kok. Aku cuma sedih aja, kalau kamu pergi, siapa yang akan menjadi teman curhat ku dan menghibur aku?"


"Kalau begitu aku enggak jadi pergi!" sahut Rendy enteng.


Nara tercengang, "Loh, jangan, dong! Masa enggak jadi pergi?"


"Aku enggak mau kepergian ku membuat seseorang bersedih dan kesepian," ledek Rendy sembari mencolek hidung mancung Nara.


"Tapi itu kan impian kamu untuk kuliah di Amerika dan menjadi dokter, masa dibatalkan cuma gara-gara aku?" Nara jadi merasa tak enak.


"Tapi, Ren ...."


"Enggak apa-apa, Ra! Kamu santai aja! Yang penting kamu bahagia." Rendy mengusap kepala Nara dengan penuh kasih sayang.


Keduanya tak menyadari sejak tadi Kenan mengawasi mereka dengan sorot mata tajam, dia kesal dan geram melihat mereka begitu dekat, apalagi saat Rendy mencolek hidung Nara dan mengusap kepala istrinya itu. Namun Kenan berusaha tetap tenang, sebab dia sudah berjanji akan menjauh dari Nara dan tak ingin membuat wanita semakin marah padanya.


"Oh iya, Ra. Bagaimana kalau kita kuliah di kampus yang sama? Pasti seru kalau kita bisa ketemu setiap hari lagi kayak waktu SMA," cetus Rendy.


"Aku belum kepikiran untuk kuliah, Ren."


"Ayolah, Ra! Kamu itu pintar, sayang kalau berhenti sampai di sini. Kalau kamu punya kemampuan serta pendidikan tinggi, kamu bisa mendapat pekerjaan bagus dan hidup enak. Jadi orang lain enggak bisa merendahkan kamu lagi," bujuk Rendy.


Nara terdiam memikirkan ucapan Rendy itu. Memang benar, saat ini Windy sangat merendahkannya dan menganggap dirinya tak selevel dengan Kenan hanya karena dia orang susah. Tapi apakah dia bisa sukses? Nara sendiri tak yakin.


"Ra, gimana?"

__ADS_1


"Aku akan pikir-pikir dulu."


"Baiklah, tapi nanti cepat kabarin aku! Biar kita bisa tentukan kampus mana yang akan kita pilih," pinta Rendy semangat.


"Gimana aku mau hubungi kamu, ponsel aku masih di sita sama dia. Kalau ke rumah kamu, nanti jadi masalah lagi," gerutu Nara, dia terlalu malas untuk bicara pada Kenan, makanya dia tak mau meminta telepon genggam jadul miliknya itu.


Rendy lantas merogoh saku celananya dan memberikan sebuah ponsel keluaran terbaru yang tadi dia beli untuk Nara.


"Pakai ini! Aku sengaja membelinya untuk kamu." Rendy tahu ponsel Nara masih disita Kenan, karena setiap kali dia hubungi, tak pernah dijawab.


"Ren, enggak usah sampai seperti ini!" tolak Nara sungkan.


"Enggak apa-apa, Ra. Aku kesulitan menghubungi kamu, makanya aku belikan. Ayo, ambillah!"


"Aku jadi enggak enak, Ren!"


"Nara, ambillah! Aku akan sedih kalau kamu menolaknya!" desak Rendy pura-pura sedih.


Dengan sangat terpaksa Nara akhirnya menerima ponsel itu, "Terima kasih, ya? Nanti kalau ponsel aku sudah ada, aku kembalikan yang ini."


"Enggak usah dikembalikan! Itu untuk kamu, kok. Aku juga sudah membelikan kartu provider nya dan mengatur semuanya. Jadi kamu tinggal pakai saja."


Nara takjub, Rendy benar-benar telah mempersiapkan segalanya.


"Sekali lagi terima kasih, ya, Ren," ucap Nara lalu tersenyum lebar.


Rendy pun ikut tersenyum.


Hati Kenan kian perih melihat Nara bisa tersenyum dengan begitu ceria saat bersama Rendy, sedangkan kepadanya, jangankan tersenyum, melirik saja wanita itu enggan, seolah dia tak terlihat sama sekali. Sesakit ini kah diabaikan dan tak dianggap? Seumur hidup Kenan belum pernah ditolak, bahkan banyak gadis yang tergila-gila padanya dan dengan suka rela menyerahkan diri. Tapi Nara justru tak mau menerima dirinya, padahal Kenan sudah memohon seolah dia tak punya harga diri lagi di hadapan istrinya itu.


Kenan mengembuskan napas untuk mengurangi rasa sesak di dalam dadanya, semakin dia ingin berjuang dan mendekati Nara, wanita itu seolah semakin menjauh. Apakah dia harus menyerah dan membiarkan Nara pergi dari hidupnya? Tapi dia masih tak rela. Kenapa di saat asmara sedang menggelora di hatinya, di saat itu pula dia harus kehilangan cintanya. Ini terlalu konyol, dia tak ingin jadi pecundang.


***

__ADS_1


__ADS_2