
"Rindi tadi kakak titip minum gak ke kamu?" Kata Haikal pada Rindi.
Rindi dengan cepat langsung menjawab ucapan Haikal.
"Sepertinya nggak deh kak." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
"Masa sih nggak. kalau gak, terus minum kakak, kakak simpan dimana?" Kata Haikal yang tak percaya dengan ucapan Rindi.
"Gini aja deh kak, sekarang kakak bisa liat sendiri kan. Kalau di tangan Rindi tuh gak ada pegang apa - apa. Apa iya bisa di bilang ketitipan minum." Kata Rindi membalas ucapan Haikal sambil meminta Haikal melihat kedua tangannya.
Haikal pun kemudian melihat ke dua tangan Rindi dan benar saja di tangan Rindi memang tak ada apapun.
"Hem... tapi bisa aja kan kamu simpan di suatu tempat." Kata Haikal setelah melihat ke arah kedua tangan Rindi.
"Mana ada kaya gitu kak. Jangan aneh - aneh deh. Kakak sendiri bukan yang gak akan kasih minum ke Rindu. Masa iya tiba - tiba ada di Rindi. Bukan nya itu gak mungkin." Kata Rindi mengingatkan Haikal tentang ucapannya sebelum ia menemui Yeni.
"Itu kan tadi, bisa aja setelah kakak bicara kaya gitu ke kamu. Kakak berubah pikiran. Karena setau kakak, sebelum kakak temui Yeni di sana. Kakak masih pegang minum nya itu. Masa iya bisa ilang sendiri." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Ntahlah kak kalau itu Rindi gak tau." Kata Rindi membalas ucapan Haikal sambil mengangkat dan menurunkan kembali bahu nya sebanyak satu kali ketika ia berbicara.
Kemudian Haikal pun mulai terdiam. Entah apa yang membuat Haikal terdiam. Apa mungkin karena ia sedang mengingat - ingat kembali atau memikirkan hal yang lainnya dan yang tau hanya Haikal lah sendiri.
Rindi yang melihat Haikal terdiam seperti ini kemudian mulai berbicara di dalam hatinya.
"Untung aku sempat simpan tempat minum nya di bawah kursi. Kalau nggak, udah ketahuan, ntar aku habisin minumnya. Mana kedua nya lagi aku minum. Kalau sampai ketahuan abis aku kena omelan kak Haikal." Kata Rindi berbicara di dalam hatinya.
__ADS_1
Tak lama setelah Rindi selesai berbicara di dalam hatinya. Haikal pun kembali mengeluarkan suaranya.
"Kamu jangan bohongin kakak, tadi kakak titip minumnya ke kamu. Mana sekarang minumnya." Kata Haikal tiba - tiba membuat Rindi panik.
Namun, kemudian rasa panik itu Rindi hilangkan karena bisa gawat kalau sampai ia menunjukkan kepanikannya itu.
Ia tarik lah napas beberapa kali dan menghembuskan nya juga beberapa kali.
"Aduh gawat nih, kak Haikal udah ingat lagi. Tenang Rindi jangan panik. Kalau kamu keliatan panik bisa - bisa kak Haikal mulai curiga." Kata Rindi menenangkan dirinya sendiri.
"Huh... hah... Huh... hah... Huh... hah..." Ini lah suara napas yang Rindi keluarkan.
Setelah selesai menarik napas dan mengeluarkan napas sebanyak tiga kali. Baru lah Rindi mulai menjawab ucapan Haikal.
"Kakak ko tiba - tiba jadi makin tuduh Rindi. Rindi beneran gak tau kak, memangnya kakak kapan titip minum nya ke Rindi. Ko malah bilang kaya gitu. Setau Rindi, Rindi gak pernah ketitipan minum sama kakak." Kata Rindi begitu tenang saat menjawab ucapan Haikal.
"Kalau kakak gak titip ke kamu. Terus tadi yang bilang minum nya sini dulu. Siapa ya? masa iya hantu." Kata Haikal mulai menjalankan rencananya agar Rindi berkata jujur.
"Parah banget nih kak Haikal. Aku malah di bilang hantu lagi. Hem... aku rasa kak Haikal sengaja bilang kaya gitu biar aku langsung jujur. Kakak jangan harap ya, bisa tipu aku. Aku gak semudah itu untuk di tipu kak. Liat aja aku akan buat kakak yang kalah." Kata Rindi di dalam hatinya.
"Bisa jadi tuh kak, apalagi kan bentar lagi mau malem. Hantu kan biasanya suka muncul." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
"Pinter juga jawabannya. Tapi, tak apa ini baru permulaan. Sekarang liat aja, bentar lagi kamu pasti jujur. Hehehehe" Kata Haikal di dalam hatinya sambil tersenyum.
"Apa - apaan tuh kak Haikal malah senyum kaya gitu. Awas aja kalau sampai buat aku emosi." Kata Rindi yang ternyata melihat senyum yang Haikal tunjukkan walau sedikit tapi itu bisa terlihat oleh Rindi.
__ADS_1
"Takut juga ya, kalau beneran itu hantu." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Iya lah kak, takut. Apalagi kalau kakak beneran kasih minum itu ke hantu. Terus sekarang kakak mau ambil minum itu lagi ke hantunya." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
Terdiam sejenak Haikal pun mulai berpikir. Setelah selesai berpikir, ia tanpa menunggu lama langsung menjawab ucapan Rindi.
"Kalau minum dan hantu nya masih ada sih. Kakak minta lagi. Soalnya kan kakak titip ke dia bukan kasih ke dia." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Ya ampun kak, kakak gak takut kalau wajah hantu itu mengerikan terus menyeramkan kaya gitu. Masih tetep mau di minta minum nya sama kakak." Kata Rindi yang terkejut dengan ucapan Haikal.
"Hem... iya, lagi pula hantu kan memang jelek sama kaya kamu yang jelek nya melebihi hantu. Apalagi kamu suka bohong. Makin jelek deh mukanya." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Lah kak, ko jadi Rindi yang di bilang jelek. Rindi itu gak jelek kak, tapi mata kakak aja yang gak bisa bedain mana yang jelek sama nggak." Kata Rindi yang tak terima dengan ucapan Haikal.
"Ko bawa - bawa mata kakak sih. Mata kakak tuh bisa bedain kalau yang cantik ya seperti Yeni tapi kalau yang jelek itu kamu." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Ko gitu sih kak, Rindi pokok nya gak jelek. Mata kakak yang gak bisa bedain. Titik gak boleh di bantah lagi." Kata Rindi yang mulai terbawa emosi.
"Mana ada kaya gitu. Kalau orang yang jelek seperti kamu ya tetep aja jelek. Gak bisa di bilang gak jelek." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Terserah kakak aja. Intinya aku tuh cantik, gak jelek seperti yang kakak bilang. Udah sana foto Yeni. Ntar kelamaan lagi. Kalau terus - terus bicara." Kata Rindi membalas ucapan Haikal dengan mengalihkan pembicaraan.
"Gak mau, ucapan kakak aja belum kamu jawab. Ayo jawab jujur kamu kan yang kakak titipin minum." Kata Haikal membalas ucapan Rindi.
"Harus berapa kali sih Rindi bilang kalau Rindi gak nerima titipan apapun dari kakak. Capek deh, lama - lama jawab terus ucapan kakak." Kata Rindi membalas ucapan Haikal.
__ADS_1
"Bohong kamu kebangetan. Itu di bawah kursi ada bekas tempat minum. Siapa yang abisin coba minum nya." Kata Haikal membalas ucapan Rindi dan membuat Rindi sampai memelototkan matanya karena tak percaya dengan ucapan Haikal tersebut.
Bersambung...