
"Dimana baju nya Ryan?" Kata Rindi setelah ia dan Ryan sampai di tempat yang Ryan tunjuk.
"Ya ampun onti, masa onti gak liat. Itu bajunya onti." Kata Ryan menepuk jidat nya. Kemudian ia pun menunjuk baju yang di tanyakan oleh Rindi.
Rindi kemudian langsung melihat ke arah yang di tunjuk oleh Ryan.
Dengan rasa penasaran yang sudah sangat ia rasakan. Ia pun langsung melihat baju tersebut.
Namun, saat ia telah melihat. Betapa lemas nya ia, karena baju yang di tunjuk Ryan adalah baju pengantin yang di desain khusus. Bahkan baju tersebut begitu sangat indah.
Tetapi, sayangnya Rindi tak menyukai baju tersebut. Bukan karena baju itu tak sesuai dengan keinginannya.
Melainkan jika baju tersebut benar - benar datang di waktu yang tepat. Ia akan sangat - sangat berterima kasih pada tante Ratna karena telah membuat baju seindah ini.
Tapi, sayangnya baju tersebut datang di saat ia belum siap untuk nikah. Namun, di paksa untuk nikah secepat nya.
Rasa lemas itu akhirnya membuat Rindi ingin kembali ke tempat tante dan ibu.
"Ryan kita ke ibu nya onti sana tante yuk. Onti pengen ke sana. Lagi pula onti udah capek juga keliling - keliling butik tante. Kita ke sana aja yuk." Kata Rindi pada Ryan.
Ryan yang mendengar ucapan Rindi tak langsung menyetujui keinginan Rindi. Karena rasa penasarannya tentang pendapat Rindi mengenai baju yang di buat mamah nya itu. Ryan pun kemudian bertanya pada Rindi.
"Bentar onti, Ryan kan belum tau. Onti suka atau gak sama baju yang mamah buat." Kata Ryan membalas ucapan Rindi dengan sebuah pertanyaan.
"Em... anu... onti, su... su... su... ka... ko Ryan. Baju nya bagus kaya gini, masa onti gak suka." Kata Rindi membalas ucapan Ryan dengan terbata.
"Kalau onti suka, kenapa gak onti coba baju nya. Ayo onti coba aja bajunya. Ryan pengen liat." Kata Ryan meminta Rindi untuk mencoba baju tersebut.
Rindi saat ini kebingungan menjawab ucapan yang Ryan inginkan. Di mana saat ini ia enggan untuk mencoba baju itu.
__ADS_1
Tapi, alasan apa yang harus ia berikan pada Ryan agar Ryan bisa mempercayai dirinya.
"Ryan kenapa minta aku buat coba baju nya sih."
"Gak tau apa, kalau aku gak mau coba baju nya."
"Argh... bikin kesel dan nyebelin banget sih. Kenapa juga tadi aku malah penasaran. Kalau tau baju nya baju pengantin kaya gini. Aku ogah deh buat liat dan tau nya juga."
Itulah kata - kata yang Rindi keluarkan di dalam hatinya.
Di saat Rindi sedang sibuk berbicara di dalam hatinya. Ryan yang menunggu jawaban Rindi, kini mulai merasa bosan. Sehingga pada akhirnya ia pun mulai mengeluarkan lagi suaranya pada Rindi.
"Onti ko onti gak jawab ucapan Ryan. Onti malah diem kaya gini. Ah... onti gak asyik." Kata Ryan pada Rindi yang tak kunjung menjawab ucapannya.
Rindi yang sibuk berbicara di dalam hatinya. Kini mulai menghentikan berbicaranya karena Ryan tiba - tiba berkata pada dirinya.
"Iya Ryan bentar dong. Onti bukan gak mau jawab ucapan Ryan. Tapi, barusan onti lagi sibuk. Jadi, maaf ya." Kata Rindi membalas ucapan Ryan.
"Onti pokonya lagi sibuk Ryan. Tapi, onti gak bisa kasih tau Ryan kesibukan onti itu apa. Jadi, maaf ya onti gak bisa kasih tau Ryan." Kata Rindi membalas ucapan Ryan.
"Hem... ya udah deh onti, kalau gitu jawab ucapan Ryan yang tadi aja. Onti kenapa gak mau coba baju nya?" Kata Ryan membalas ucapan Rindi.
"Lain waktu aja Ryan. Sekarang onti udah capek. Sama aus juga pengen minum. Kita ke ibu nya onti sama tante yuk. Ryan gak akan tega kan sama onti yang ke hausan kaya gini. Aduh udah kering banget nih tenggorokan onti. Ryan gak kasihan sama onti." Kata Rindi membalas ucapan Ryan dengan cukup panjang.
"Ya udah onti kita ke sana aja. Kalau terus di lanjutin ntar bisa - bisa onti pingsan di sini. Onti kan besar pasti nya berat. Ryan gak mungkin kuat gendong onti. Jadi lebih baik kita ke sana aja onti." Kata Ryan membalas ucapan Rindi.
"Hem... masa sih Ryan, onti ini besar." Kata Rindi yang tak percaya dengan ucapan Ryan. Sehingga ia pun bertanya pada Ryan.
"Beneran onti, kalau onti ini besar. Apa lagi tubuh onti sama Ryan kan besaran tubuh onti. Jadi, onti ini besar kan." Kata Ryan membalas ucapan Rindi.
__ADS_1
"Hem... pinter banget sih kamu. Gemes nya pengen onti cubit deh nih pipi gemes kamu. Boleh kan onti cubit." Kata Rindi membalas ucapan Ryan kemudian ia pun mendekatkan tangannya pada pipi Ryan.
Ryan dengan cepat menjawab ucapan Rindi sampai membuat Rindi terkejut karena ucapan Ryan cukup keras.
"No onti no, jangan cubit pipi Ryan. Nanti pipi Ryan bisa sakit. No, jangan di cubit." Kata Ryan membalas ucapan Rindi sambil memegang kedua pipinya.
"Hahaha... hahaha... makin lucu dan gemesin kamu Ryan. Jadi bikin tambah onti pengen cubit nya." Kata Rindi membalas ucapan Ryan.
Mendengar ucapan Rindi tersebut. Membuat Ryan perlahan demi perlahan memundurkan tubuhnya. Lalu setelah itu, ia pun mulai berlari meninggalkan Rindi. Karena ia takut Rindi beneran akan mencubit pipinya.
Sehingga pilihan terakhir ia harus pergi dari Rindi secepatnya.
Rindi yang melihat reaksi Ryan tersebut. Tak bisa menahan tawanya. Ia pun langsung meledakkan tawanya itu.
"Hahaha... hahaha... hahaha... lucu banget sih kamu Ryan. Hahaha... hahaha... hahaha..." Kata Rindi yang tertawa begitu kerasnya.
Bahkan ia pun sampai mengeluarkan air mata karena terlalu banyak ketawa.
"Aduh, perut aku sampai sakit kaya gini. Di tambah air mata juga keluar kaya gini. Tertawa ku ini terlalu berlebihan deh. Sampai jadi seperti ini." Kata Rindi berkata pada dirinya sendiri.
"Udah Rindi jangan tertawa lagi. Gak baik tau. Sekarang lebih baik kamu temui ibu dan tante sama Ryan yang lari ketar - ketir takut kamu cubit. Hahaha... hahaha..." Kata Rindi melanjutkan kembali berbicara pada diri nya sendiri.
"Hem... Iya deh langsung ke sana. Udah capek juga aku ketawa terus - terusan kaya gini." Kata Rindi menjawab ucapan diri nya sendiri.
Setelah itu, ia pun mulai melangkahkan kaki pergi meninggalkan tempat ia berdiri saat ini untuk menemui ibu, tante Ratna dan Ryan yang pergi meninggalkan diri nya.
Tap... Tap...
Suara langkah kaki darinya kini mulai terdengar memenuhi butik tante Ratna. Sampai tak terasa ia kini telah sampai di tempat ibu, tante Ratna dan Ryan yang sedang bercerita pada mereka berdua.
__ADS_1
Bersambung...