
"Hey... aku masih mendengar suara mu. Jangan bicara sembarangan." Kata Aldiano mengingatkan Rindi.
"Memangnya aku bicara apa?" Kata Rindi seolah menantang ucapan Aldiano. Bahkan ia bertanya pada Aldiano.
"Kau mengatakan cowok licik. Itu tertuju untuk ku bukan." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.
Rindi pun kemudian diam terpaku setelah mendengar ucapan Aldiano.
"Tajam juga ternyata pendengarannya. Aku harus hati - hati nih dalam bicara. Jangan sampai rencana untuk menjahili nya gagal." Kata Rindi berbicara pada dirinya sendiri.
"Hey... mau sampai kapan kamu bengong." Kata Aldiano mengeluarkan suara nya lagi. Ketika Rindi hanya terdiam.
"Em... aku malas untuk menjawab nya. Sudah lah lupain saja." Kata Rindi akhirnya membalas ucapan Aldiano.
"Tidak bisa, kita harus bahas hal ini." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.
"Ya sudah, kalau kamu maunya seperti itu. Aku nggak akan bicara dengan mu. Karena aku mau tidur. By..." Kata Rindi kemudian pergi meninggalkan meja makan. Tanpa menunggu jawaban Aldiano.
Sementara Aldiano yang di tinggal begitu saja oleh Rindi hanya bisa mengeleng - gelengkan kepala karena tak habis pikir ia malah di tinggal dengan cara seperti ini.
"Em... baru kali ini aku yang di abaikan, biasanya aku yang mengabaikan." Kata Aldiano di dalam hatinya.
"Tapi... kenapa rasanya seperti tertantang dengan sikap acuh nya itu. Ada rasa aneh, yang aku rasakan setelah menikahi nya. Namun, ketika waktu pertama kali bertemu, perasaan aneh ini tak ada. Tapi, kenapa sekarang ada ya." Kata Aldiano yang sibuk berbicara pada hatinya.
"Perasaan apa ini? kenapa beda sekali." Kata Aldiano yang merasakan hal berbeda terjadi pada dirinya sendiri.
"Em... sepertinya aku harus lupakan dulu. Karena hal penting harus aku segerakan." Kata Aldiano kemudian memutuskan untuk tak membahas hal itu lagi di hatinya.
Kemudian ia pun bergegas meninggalkan meja makan untuk menyusul Rindi ke kamar nya.
__ADS_1
Ketika Aldiano pergi meninggalkan meja makan. Ternyata sedari tadi ada dua pasang mata yang melihat tingkah mereka.
Siapa lagi jika bukan ibu dan ayah Rindi yang melihat mereka berdua. Tanpa mereka berdua sadari sama sekali.
"Yah, apa semua akan baik - baik saja. Ibu masih khawatir sikap Rindi yang seperti itu. Bisa membuat menantu kita marah. Apalagi mereka akan tinggal di sini hanya beberapa waktu. Selanjutkan pasti menantu kita akan membawanya pergi. Ibu jadi khawatir saat Rindi jauh dari kita." Kata ibu mengungkapkan rasa khawatirnya pada ayah.
"Ibu jangan terlalu khawatir bu, ayah yakin Aldiano tak akan memarahi atau memukul Rindi. Walau sikapnya dingin. Tapi ibu bisa lihat sendiri bukan. Ia bahkan menyuapkan makanan miliknya pada Rindi. Ayah rasa ini bisa membuat ibu dapat mengurangi rasa khawatir ibu." Kata ayah membalas ucapan ibu.
"Tapi yah..." Kata ibu membalas ucapan ayah namun, harus terpotong oleh ucapan ayah yang tiba - tiba.
"Udah bu, kalau pun nanti Aldiano memukul atau memarahi Rindi. Ayah juga tak akan diam. Ayah pasti akan bertindak setelah tau siapa yang salah nanti. Ibu jangan khawatir ayah akan melepas Rindi pada Aldiano begitu saja. Rindi adalah anak ayah satu - satu nya tak akan ayah biarkan orang lain menyakitinya. Walau dia menantu sekali pun. Jika yang salah bukan Rindi. Ayah nggak akan tinggal diam." Kata ayah memotong ucapan ibu.
"Ibu pegang ucapan ayah ini. Ayah tau kan ibu tak mau Rindi sedih atau terluka sedikit pun. Jadi ucapan ayah ini ibu pegang. Agar suatu hari nanti jika menantu kita berbuat macam - macam ibu akan menagihnya pada ayah." Kata ibu membalas ucapan ayah.
"Baik, ayah setuju." Kata ayah membalas ucapan ibu.
Setelah itu, tak ada pembicaraan lagi diantara mereka berdua.
Rindi yang lebih dulu masuk ke dalam kamar sengaja tak mengunci pintu karena dia tak lupa bahwa saat ini kamarnya bukan hanya miliknya saja. Melainkan milik ia dan Aldiano.
Sehingga ketika ia masuk ke dalam kamar ia tak berniat untuk menguncinya, hanya sekedar menutup pintu tersebut.
Sekitar dua menit kemudian saat Rindi telah meluruskan kaki nya di tempat tidur pintu tersebut terbuka perlahan demi perlahan sampai pintu itu pun terbuka sempurna.
"Kamu kenapa pergi begitu saja?" Kata Aldiano saat ia telah masuk ke dalam kamar dan telah mengunci kamar tersebut.
"Karena aku malas kalau terus berdebat dengan mu. Sudah lah kamu jangan banyak bicara. Aku mau tidur." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano. Kemudian mulai merebahkan tubuh nya di tempat tidur.
Tak lama setelah ia terbaring di tempat tidur. Ia mulai menutup mata perlahan demi perlahan sampai akhir nya mata ia tertutup sempurna.
__ADS_1
Baru saja akan masuk ke alam mimpi. Rindi di kejutkan dengan goyangan di tempat tidur nya.
Sehingga mata yang tertutup itu terbuka sempurna.
Berbalik lah ia melihat ke arah goyangan di tempat tidur nya itu.
"Hey... kamu kenapa tidur di situ." Kata Rindi mengeluarkan suara nya pada Aldiano.
"Lalu aku tidur di mana, kalau bukan di sini." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.
"Di lantai atau di kursi itu. Kan bisa. Nggak harus di sini juga." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano sambil menujuk lantai dan kursi secara bergantian.
"Kalau aku tidur di lantai aku akan merasa ke dinginan, sementara kalau aku tidur di kursi badan ku akan pegal - pegal karena kursi nya tak muat untuk bisa aku tidurin." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.
"Ya sudah, kalau kau tak mau. Biar aku saja yang tidur di kursi." Kata Rindi kemudian mulai membawa bantal, selimut dan guling ke arah kursi.
Hal ini membuat Aldiano merasa kesal karena ia merasa Rindi seolah - olah menolak kehadiran nya.
"Nanti badan mu pegal - pegal. Tidur lah di sini. Lagi pula aku tak akan berbuat macam - macam." Kata Aldiano mengingatkan Rindi.
"Saat tidur tak ada yang tau bukan. Bisa saja ketika aku tertidur lelap kamu malah berbuat macam - macam pada ku. Apalagi posisi tidur kita yang hanya berjarak beberapa cm. Itu akan membuat ku tak tenang." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano.
"Hahahaha... kamu lucu sekali. Lagian aku tak akan macam - macam dengan mu. Ayo kamu kembali ke sini." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.
"Aku tidak mau, lebih baik pegal - pegal karena tidur di kursi dari pada pegal - pegal karena hal lain." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano.
Ucapan Rindi ini pun membuat Aldino penasaran dan tentunya tertarik untuk membahas hal ini dengan Rindi.
"Tunggu, tunggu maksud mu hal lain. Hal lain seperti apa?" Kata Aldiano membalas ucapan Rindi dengan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
"Itu... anu... itu... em... lupain deh. Aku mau tidur." Kata Rindi yang kebingungan untuk memberitahu Aldiano mengenai ucapan nya. Sehingga akhir nya ia pun mengalihkan pembicaraan.
bersambung...