
Begitu Kenan selesai mengganti pakaiannya yang basah, Windy langsung menyeret putranya itu ke kamarnya.
"Ada apa, Ma? Kenapa Mama menarik-narik aku seperti ini?" cecar Kenan.
"Jangan pura-pura enggak tahu! Kenapa kamu memberikan napas buatan pada kucing kampung itu?"
"Aku cuma berusaha menolongnya saja, Ma," jawab Kenan enteng.
"Iya, tapi enggak perlu sampai kasih napas buatan segala!" protes Windy yang tak terima.
"Cuma itu cara yang aku ingat untuk membantu korban tenggelam," ujar Kenan santai.
"Bukan karena kau mulai jatuh cinta pada dia, kan?" tanya Windy dengan tatapan selidik.
Kenan terkesiap, "Mama ini bicara apa, sih? Aku hanya ingin menyelamatkan dia agar dia enggak mati, kenapa Mama malah menuduhku yang tidak-tidak?"
"Mama takut kamu luluh dan termakan bujuk rayunya, Mama enggak sudi kamu jatuh ke dalam pelukan cewek kampung itu. Kamu harus berhati-hati, dia pasti sedang berusaha mencari simpati kamu, dia pasti punya rencana busuk," ujar Windy curiga.
"Sudahlah, Ma! Jangan berpikiran macam-macam! Mending sekarang Mama istirahat saja, aku mau ke kamar dulu," pungkas Kenan dan bergegas keluar dari kamar sang mama. Entah kenapa saat ini dia sedang malas berdebat dengan mamanya itu tentang Nara.
Windy mendengus kesal, dia merasa Kenan mulai berubah, dia yakin Nara pasti sengaja ingin membuat sang putra luluh dan menerima wanita itu.
"Dasar cewek kampung! Aku enggak akan membiarkan kau merebut hati putraku!" geram Windy.
Sementara itu di kamar Kenan, Nara yang sudah berganti pakaian kini sedang meringkuk di bawah selimut tebal di atas ranjang, dia menggigil kedinginan.
Bi Ani datang membawakan makanan dan teh hangat, dia ingat jika Nara belum makan siang.
"Mbak Nara makan dulu, ya? Ini Bibi bawakan makanan dan teh hangat." Bi Ani duduk di tepi ranjang.
"Enggak usah, Bi," tolak Nara dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Tapi Mbak Nara belum makan siang, nanti masuk angin."
"Aku enggak selera."
"Bagaimana kalau minum teh hangatnya saja? Biar enggak kedinginan."
Nara bangkit perlahan, dengan dibantu Bi Ani, dia pun meminum teh hangat itu sedikit demi sedikit. Rasa hangat langsung menyebar di tenggorakan dan dadanya, walaupun tak bisa menghalau rasa dingin yang kini tengah dia rasakan.
Setelah itu Nara kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut tebal itu sampai sebatas lehernya.
"Mbak Nara makan, ya? Bibi suapin!"
Nara menggeleng.
"Atau mau Bibi buatkan sesuatu? Misalnya bubur?"
"Enggak, Bi. Aku mau tidur saja, kepalaku pusing," keluh Nara sembari memejamkan matanya.
Nara hanya mengangguk pelan dengan mata tertutup.
Dengan lesu Bi Ani pun meninggalkan kamar itu, namun saat di depan pintu dia berpapasan dengan Kenan yang hendak masuk.
"Mas Kenan," tegur Bi Ani dengan sambil menganggukkan kepala.
"Bagaimana Nara?" tanya Kenan tanpa basa-basi.
"Katanya dia kedinginan dan kepalanya pusing, dia mau tidur. Tapi dia enggak mau makan, Mas. Padahal dia belum makan siang," adu Bi Ani sedikit cemas.
"Ya sudah, Bibi balik ke dapur saja!" pinta Kenan.
"Baik, Mas." Bi Ani bergegas berlalu dari hadapan anak majikannya itu.
__ADS_1
Kenan melangkah masuk, dia termangu melihat Nara tertidur dengan posisi meringkuk dan memakai selimut tebal sampai sebatas leher, hanya menyisakan kepala wanita itu saja. Ini kali pertama Nara tidur di atas kasur empuk nan hangat Kenan.
Tadi Nara sempat meminta Bi Ani membantunya rebahan di sofa, namun Kenan menyuruh dia tidur di ranjang saja. Kenan juga menawarkan agar Nara ke rumah sakit, tapi dia menolaknya.
Dengan perlahan Kenan berjalan mendekati tempat tidur, dia menatap wajah manis Nara yang pucat, bibir wanita itu juga gemetar.
"Dingin," lirih Nara pelan.
Kenan tertegun, dia mengamati wajah istrinya itu dengan kening mengerut. Siang bolong gini Nara kedinginan, padahal dia sudah memakai selimut tebal. Mendadak perasaan Kenan tak enak, dengan sedikit ragu dia mengangkat tangan dan meletakkannya di dahi sang istri.
"Panas sekali! Dia demam!" seru Kenan saat dia merasa kening wanita itu sangat panas.
"Dingin." Nara kembali bersuara.
"Sebentar aku ambilkan obat dulu!" Kenan buru-buru berlari turun ke lantai satu dan mencari kotak obat.
"Mas Kenan cari apa?" tanya Bi Ani saat melihat anak majikannya membongkar rak di dapur.
"Cari obat penurun panas, Bi. Nara demam, badannya panas banget," oceh Kenan sembari terus mencari kotak tersebut.
"Astaga, Mbak Nara! Sebentar Mas." Bi Ani langsung membuka laci di meja dapur dan mengambil kotak berwarna putih itu.
Bi Ani mengambil obat penurun panas lalu menyerahkan ke Kenan, lalu segera mengambilkan segelas air putih.
"Tapi Mbak Nara belum makan, Mas."
"Aku akan memaksanya untuk makan terlebih dahulu," ucap Kenan dan berlari kembali ke kamar.
"Tumben Mas Kenan peduli dan perhatian pada Mbak Nara? Mudah-mudahan hubungan mereka bisa membaik," gumam Bi Ani yang terpaku memandangi kepergian anak majikannya itu.
***
__ADS_1