Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 194 Baru Sadar


__ADS_3

"Baru sadar lo." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Begitulah kurang lebih. Lo tau mereka kemana?" Kata Haikal membalas ucapan Bagas dengan bertanya juga pada Bagas.


"Kalau gue tau, gue nggak mungkin kasih tau lo. Keberadaan mereka yang nggak ada. Gimana sih lo?" Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Ya siapa tau kan lo tau. Apalagi lo kan terkenal tukang bohong." Kata Haikal yang niatnya bercanda kini malah di anggap serius oleh Bagas.


Karena dapat dilihat dari resksi Bagas saat menjawab ucapannya tersebut.


"APA LO BILANG GUE TUKANG BOHONG. BUKANNYA KE BALIK YA, LO KAN YANG SUKA BOHONG." kata Bagas begitu menggema di telinga Haikal karena suara Bagas yang kencang dan keras tersebut.


Bahkan saat ini Haikal sedang menutup telinganya akibat mendengar suara Bagas yang keras itu.


"Jangan gitu juga kali, lo bisa buat telinga gue sakit." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Lo sendiri yang buat telinga lo sakit bukan suara gue. Karena yang pertama kali pancing kan lo. Jadi lo terima aja sakit telinga lo itu." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Gila ya, semua ini kan salah lo. Tapi kenapa malah salahin gue." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Kalau lo nggak bilang gue tukang bohong bukannya gue secara otomatis tak akan mengeraskan suara gue. Sekarang gue tanya yang salah siapa?" Kata Bagas membalas ucapan Haikal sambil bertanya juga pada Haikal.


"Ya lo lah yang salah. Harusnya kan biasa aja nggak perlu berlebihan sampai berteriak." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Gue nggak berlebihan, kalau lo nggak mancing duluan perdebatannya. Sudah lah gue males kalau terus bahas ini. Kapan kelarnya kalau kita terus bahas itu." Kata Bagas membalas ucapan Haikal sambil mengalihkan pembicaraan.


"Bilang aja lo takut kalah bicara." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Terserah lo aja. Gue yang waras lebih baik ngehindar." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.

__ADS_1


"Jadi maksud lo gue nggak waras hah... Iya gitu maksud lo." Kata Haikal yang kini mulai mengeraskan suaranya.


"Gue nggak bilang gitu ya, tapi kalau lo merasa seperti itu. Mungkin iya lo memang seperti itu." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Brengsek lo, lagian gue nggak seperti yang lo bilang itu." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Kalau nggak ngerasa kenapa harus terbawa emosi." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Bagaimana nggak terbawa emosi. Kata - kata ko begitu jelas kalau lo sengaja bilang kaya gitu ke gue." Kata Haikal membela dirinya dengan menyalahkan ucapan Bagas sebelumnya.


"Mana ada kaya gitu, bahkan dari ucapan gue yang tadi. Gue nggak sedikit pun sebut nama lo nggak waras. Lo nya aja yang baperan." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Iya lo memang nggak sebutin nama gue. Tapi tatapan mata lo terus melihat ke gue. Bukannya itu sudah jelas kalau lo telah membicarakan tentang gue." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Gue tanya deh, gue kan bicara sama lo ya. Kalau gue nggak liat ke arah lo. Terus gue harus liat ke arah mana. Masa iya gue bicara sama lo tapi pandangan gue ke belakang tubuh gue. Bukannya itu aneh ya." Kata Bagas membalas ucapan Haikal dengan cukup panjang.


"Em... tapi tatapan lo itu beda tadi. Makannya gue sampai bilang kaya gitu ke lo." Kata Haikal yang masih tak ingin mengalah.


"Sudahlah kalau terus bicara ini. Entah kapan beresnya. Jadi gue mau cari Yeni, mamah sama Ryan aja. Dah..." Kata Haikal membalas ucapan Bagas kemudian pergi meninggalkan Bagas tanpa menunggu Bagas menjawab ucapannya.


"Woy... jangan kabur, urusan kita belum selesai." Kata Bagas sedikit berteriak pada Haikal yang telah pergi meninggalkan dirinya seorang diri.


"Gue kan udah bilang ke lo. Gue mau cari Yeni, mamah dan Ryan. Lo kalau mau ikut ya ikut aja. Nggak perlu gengsi bahkan sampai berteriak kaya gitu." Kata Haikal yang berteriak juga membalas ucapan Bagas. Dengan tanpa melihat ke belakang tubuhnya sama sekali.


"Bukan gitu, argh... kesel gue lebih baik gue pulang aja lah." Kata Bagas membalas ucapan Haikal sambil mengacak - acak rambutnya karena kesal.


Berantakan sudah rambutnya saat ini. Yang awalnya ia tak ingin membuat rambut itu berantakan kini sudah tak tertata rapih lagi melainkan sudah kacau dan tak enak untuk di pandang.


"Silahkan kalau lo mau pulang, pintu keluar ada di sebelah kanan jangan sampai salah." Kata Haikal langsung membalas ucapan Bagas.

__ADS_1


"Gue juga tau, tak perlu lo kasih tau." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Bagus lah kalau lo sudah tau, tadi gue hanya mengingatkan saja." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Nama gue Bagas bukan Bagus. Lo nih gimana sih? masa lupa." Kata Bagas yang berniat untuk mencairkan suasana.


"Hahahaha... lucu gue dengernya. Lagian gue nggak manggil nama lo tadi. Mana ada lo malah suruh gue perbaiki ucapan gue. Jangan harap gue mau memperbaiki itu dan melakukan perintah lo itu." Kata Haikal membalas ucapan Bagas dengan sengit.


"Terserah lo aja. Gue mau pulang. Bye..." Kata Bagas kemudian bergegas pergi menuju pintu keluar.


"Ya sudah lah kalau lo mau pulang. Hati - hati di jalan kalau ada belokan lo langsung belok jangan terus jalan." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


Seperti di sadarkan dengan kata jalan yang terlontar dari bibir Haikal. Bagas pun seketika terdiam di tempat. Karena ia teringat sesuatu.


"Ya ampun gue hampir lupa. Gue kan nggak bawa mobil. Kalau sekarang pulang gue harus naik taksi. Ah... mana jauh lagi tempatnya. Em... apa gue balik lagi aja ya. Minta di anterin sama Haikal. Lumayan kan biar tak capek juga kalau harus jalan kaki."


"Tapi, kalau gue balik lagi. Ntar yang ada gue bisa malu. Em... gue telpon orang rumah dulu aja deh siapa tau ada yang bisa jemput."


Itulah kata - kata yang di keluarkan Bagas pada dirinya sendiri.


Bergegaslah Bagas pun mulai menekan tombol telpon pada nomor yang akan ia hubungi.


Tut... Tut...


Sambungan telpon itu pun berbunyi menandakan bahkah panggilan itu berhasil. Namun, belum ada komunikasi karena belum ada tanda - tanda orang yang di telpon Bagas menerima telpon darinya.


"Ini ko lama sih jawab telponnya." Kata Bagas yang mulai bosan karena telpon darinya tak kunjung di jawab.


Sampai pada akhirnya ia terus mengulang menghubungi orang rumah sampai lebih dari sepuluh kali. Namun, hasilnya tetap sama tak ada yang menjawab telpon darinya sama sekali.

__ADS_1


"Argh... kesel banget gue dari sekian banyak orang yang gue hubungi. Kenapa nggak ada yang bisa terima sih. Sebel banget gue." Kata Bagas hampir membanting hanphone miliknya karena terlalu kesal telpon darinya tak kunjung ada yang terima satu pun.


Bersambung...


__ADS_2