
Satu per satu tamu undangan mulai berdatangan ke acara ulang tahun yang Han gelar di salah satu kafe mewah, Kenan yang sejak tadi duduk dengan wajah masam kini ditemani oleh Ivan dan Radit. Keduanya sudah mendengar dari Han yang diam-diam mengadu kepada mereka perihal gelagat aneh sahabat mereka itu, dan Han melarang keduanya bertanya apa pun ke Kenan sampai acara selesai, sebab tak ingin membuat pemuda angkuh itu semakin kesal.
"Hai, kalian di sini rupanya!" sapa Jessi yang baru datang dan langsung duduk di hadapan ketiga pemuda itu.
Melihat kehadiran Jessi, Kenan jadi kesal sendiri. Dia memalingkan wajahnya dan enggan menatap wanita itu.
"Hai, Jes," Radit dan Ivan balas menyapa, sementara Kenan diam saja.
"Eh, Rendy mana? Kenapa enggak ada?" tanya Jessi sembari melirik Kenan.
Mendengar nama Rendy di sebut, Kenan semakin kesal, namun dia berusaha bersikap tenang.
"Sebentar lagi pasti datang, paling lagi diperjalanan," sahut Radit.
"Kau yakin dia pasti datang?" tanya Ivan.
"Yakinlah, ini kan acara sahabatnya sendiri," jawab Radit.
"Iya, tapi kan belakangan ini Rendy jarang mau gabung dengan kita. Dia lagi sibuk dengan pacarnya itu," ujar Ivan, Kenan hanya melirik sahabatnya tersebut tanpa berniat mencampuri.
"Tunggu, Rendy sudah punya pacar? Siapa?" sela Jessi penasaran.
"Si cupu," jawab Ivan.
Jessi mengernyit, "Si cupu? Maksudnya Nara?"
"Iya, siapa lagi?" balas Ivan.
Jessi tercengang, dia mendadak teringat saat melihat Nara dan Rendy ada di rumah Kenan waktu itu.
Kenan mengembuskan napas berat mendengar teman-temannya bergosip tentang Nara dan Rendy, rasa kesalnya semakin naik setingkat.
"Sudahlah! Bisa enggak kalian berhenti bergosip? Kita di sini mau merayakan ulang tahun Han, bukan membahas hubungan orang lain!" protes Kenan dengan wajah kesal.
"Tapi kami cuma cerita aja, Ken," bantah Ivan.
"Kalau begitu kalian teruskan, aku cari tempat duduk lain!" Kenan beranjak dan pindah ke kursi kosong yang sedikit jauh dari tempat teman-temannya itu duduk.
"Dia kenapa, sih?" tanya Jessi heran.
__ADS_1
Ivan mengangkat kedua bahunya, "Entah, sejak tadi tingkahnya aneh. Kata Han dia datang duluan dan tampangnya cemberut terus, kayaknya dia lagi ada masalah, tapi dia enggak mau cerita."
Jessi terdiam, dia penasaran bercampur bingung melihat Kenan yang kini sedang duduk sendiri dengan wajah yang ditekuk. Dia curiga sikap aneh Kenan itu ada hubungannya dengan Rendy.
"Apa mungkin dia ada masalah dengan Rendy?" selidik Jessi.
"Ah, enggak mungkin! Mereka kayaknya baik-baik aja, deh!" sanggah Ivan.
"Ya mana tahu, soalnya waktu itu aku mampir ke rumah Kenan, dan ternyata si cupu kerja jadi babu di rumahnya," beber Jessi.
Ivan dan Radit terkesiap karena mereka memang tak tahu apa-apa.
"Dan saat itu Rendy juga datang, kayaknya mau menemui si cupu. Siapa tahu mereka jadi berselisih karena cewek kampungan itu," lanjut Jessi menebak-nebak.
"Wah, kami baru tahu ini!" seru Ivan.
"Iya, selama ini Kenan dan Rendy enggak cerita apa-apa." Radit menimpali.
Karena melihat Kenan pindah tempat duduk, Han pun bergegas menghampiri meja teman-temannya.
"Ada apa? Kenapa Kenan pindah tempat duduk?" cecar Han heran.
"Tadi kami lagi bahas tentang Rendy, eh, dia marah dan langsung pindah," terang Radit apa adanya.
"Kalau begitu aku ke tempat dia dulu." Han langsung menghampiri Kenan.
"Hai, Bro! Kau kenapa?" tanya Han yang duduk di hadapan sahabat karibnya itu.
"Enggak apa-apa."
"Terus ngapain sendiri di sini?"
"Aku cuma lagi pengen sendiri aja."
"Aku tahu kau pasti sedang ada masalah, tapi aku mohon lupakan sebentar saja dan bersenang-senang lah! Demi aku!" harap Han.
"Apaan, sih, Han? Enggak ada masalah, kok!" bantah Kenan.
Han menghela napas, "Baiklah, kita akan bahas ini lagi nanti, sekarang nikmatilah acaranya!"
__ADS_1
Kenan bergeming masih dengan wajah yang masam. Entah mengapa rasa kesalnya pada Nara tak bisa dia hilangkan begitu saja, kata-kata Nara tadi sore sangat membuat dirinya merasa terluka. Sebaik itu kah Rendy di mata Nara, sampai sang istri berani membanding-bandingkan dirinya dengan sahabatnya itu?
"Aku enggak boleh kalah dari Rendy, dan aku enggak akan pernah kalah darinya!" batin Kenan geram, sejak dulu dia memang tak pernah mau kalah dengan sahabatnya itu, mereka kerap kali bersaing dalam segala hal.
Sementara itu di pelataran parkir kafe, Rendy yang malam ini bawa mobil, memarkirkan kendaraan roda empat itu. Lalu dia buru-buru turun dan membukakan pintu untuk Nara.
"Silakan, Tuan Putri," ujar Rendy sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Nara.
Nara tersenyum malu dan meraih tangan Rendy, kemudian dia keluar dari dalam mobil sedan mewah itu dengan hati-hati.
Rendy menutup pintu dan menarik tangan Nara agar menggandeng lengannya, "Mari kita masuk!"
Nara terdiam, kakinya terasa berat untuk melangkah, dia gugup dan takut saat melihat suasana kafe yang sudah ramai.
"Kenapa, Ra?"
"Aku takut, Ren."
"Takut apa? Ada aku di sini." Rendy berusaha menenangkan Nara yang terlihat grogi.
"Aku di mobil saja, ya?"
"Hei, jangan, dong! Masa kamu sudah secantik ini cuma di dalam mobil? Sayangkan?"
"Aku gugup dan enggak pede, Ren."
"Kamu takut bertemu Kenan?"
Nara tertunduk dengan wajah sendu, kalau boleh jujur, sebenarnya dia takut bertemu Kenan dan semua teman-temannya yang lain. Dia takut mereka menganggap dirinya cewek matre yang memanfaatkan Rendy, seperti apa yang Kenan tuduhkan ke dia tadi sore.
"Ra, jangan takut! Aku akan selalu ada di dekat kamu, jadi kamu harus pede. Oke?"
"Tapi aku ...."
"Ra, aku enggak mau dengar alasan apa pun lagi. Pokoknya kamu harus masuk dan ikut berpesta," potong Rendy sebelum Nara sempat protes lagi.
Nara menghirup udara banyak-banyak hingga memenuhi rongga dadanya lalu mengembuskanya perlahan untuk mengurangi rasa takut dan gugupnya.
"Yuk, kita masuk!" ajak Rendy.
__ADS_1
Nara pun mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya perlahan.
***