
"Ya ampun tubuh gue sampai gemetar kaya gini. Tatapan nya itu loh yang buat gue jadi kaya gini. Bener - benar mematikan." Kata Rindi di dalam hatinya.
"Kaya belati yang siap menancap ke tubuh. Em... ini sepertinya lebih dari itu. Ternyata serem juga kalau udah marah." Kata Rindi melanjutkan kembali ucapannya.
Di saat Rindi sibuk berbicara di dalam hati. Aldiano yang menatapnya kini mulai mendekati wajah Rindi.
Perlahan demi perlahan wajahnya sudah hampir mendekati wajah Rindi. Hanya tersisa beberapa cm bibir ia dan Rindi nyaris bersatu.
Tapi hal itu tak terjadi karena tiba - tiba pintu kamar Rindi di ketuk seseorang.
Tok... Tok...
Saat itu Rindi pun langsung tersadar dan tanpa berucap ia langsung bergegas meninggalkan Aldiano untuk segera membuka pintu.
Sementara Aldiano yang di tinggalkan Rindi sempat meluapkan emosi di dalam hatinya.
"Argh... kenapa gak jadi sih. Padahal udah hampir terjadi. Ada saja gangguannya. Argh... emosi kan jadinya." Kata Aldiano yang emosi di dalam hati.
Ceklek...
Pintu perlahan demi perlahan mulai terbuka sempurna. Ketika pintu telah terbuka sempurna terlihat lah di sana. Bi Imas yang membawa sarapan di atas nampan.
"Maaf non, bibi menggangu waktunya non. Bibi hanya ingin memberikan ini pada non dan aden. Kata nyonya bibi di suruh bawa makanan ini. Nona dan aden sedari tadi di panggil nyonya tak ada sahutan. Sehingga bibi bawa ini untuk nona dan aden." Kata bi Imas saat ia telah melihat Rindi dan melihat Aldiano yang ada di belakang tubuh Rindi.
"Em... bibi ko bilangnya aden. Memangnya tuh cowok ada di sini apa. Bukannya dia di dalam ya. Em... gue jadi curiga." Kata Rindi di dalam hatinya yang terheran - heran dengan ucapan bi Imas saat mengatakan aden.
Karena setahu dia, Aldiano memang ada di dalam. Tapi kenapa bi Imas bilang aden. Bukannya itu sangat mencurigakan.
Namun, akhirnya Rindi tak ambil pusing. Ia pun segera mengambil makanan yang ada di nampan itu.
"Oh iya bi, makasih. Tolong sampaikan juga sama ibu makasih udah kasih kami makanan ini." Kata Rindi ketika nampan itu telah berpindah ke tangannya.
"Baik non, kalau gitu bibi pamit dulu ya. Permisi non, permisi den." Kata bibi membalas ucapan Rindi kemudian pamit pada Rindi dan Aldiano.
"Iya bi." Kata Rindi membalas singkat ucapan bibi.
__ADS_1
Ketika Rindi hendak membalikan tubuh. Ia pun sempat terkejut karena keberadaan Aldiano yang berada di belakang tubuhnya.
"Ya ampun bodoh, kenapa lo ada di belakang gue sih. Argh... sebel banget gue." Kata Rindi yang langsung mengeluarkan kata - kata ajaib nya.
Kenapa ajaib karena kata - kaya bodoh itu malah langsung keluar dengan mulusnya di bibir Rindi tanpa takut resiko yang akan terjadi selanjutkan nya terhadap dirinya ini.
"Apa kamu bilang?" Kata Aldiano yang mulai emosi kembali.
"Bodoh, sudah lah kamu jangan terus memperpanjang. Lebih baik, ini kamu simpan di meja. Aku mau tutup pintu dulu." Kata Rindi kemudian langsung memberikan nampan itu pada Aldiano.
Aldiano yang diberikan nampan tiba - tiba itu. Sempat terdiam membeku. Jika saja Rindi tak menyadarkan ia. Mungkin saat ini Aldiano masih tetap terdiam.
"Hey... bodoh masih mau tetap diam di situ." Kata Rindi menyadarkan Aldiano saat ia mengeluarkan suaranya.
"Kenapa sih kamu hobby banget bilang aku bodoh. Aku kan sudah bilang aku tak bodoh. Kenapa masih terus mengatakan itu." Kata Aldiano yang saat ini mulai mendekatkan diri.
Karena setelah Rindi menutup pintu. Ia kini telah duduk di kursi. Membuat Aldiano pun mulai mendekatkan diri ke arah kursi yang sedang Rindi duduki saat ini.
Tak menunggu lama Aldiano kini telah sampai di kursi tersebut. Dan langsung duduk di samping Rindi. Kemudian ia pun mulai menyimpan nampan tersebut di atas meja.
"Kenapa lama sekali sih, aku kan sudah lapar." Kata Rindi yang langsung mengambil satu piring di nampan tersebut.
Dan tanpa menunggu lama, ia pun mulai memasukan satu sendok makanan ke mulutnya.
Hingga membuat Aldiano yang akan bicara pun menjadi tak jadi. Karena melihat Rindi yang begitu lahap memakan makanan tersebut.
Ia pun kemudian mengambil piring yang satunya lagi. Dan langsung memakan makanan nya juga.
Sehingga saat ini yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang tak sengaja bertemu.
Sampai tak terasa makanan tersebut telah berpindah ke dalam perut masing - masing.
Setelah itu Rindi pun mulai berdiri dan melangkahkan kaki ke tempat tidur. Lalu ia pun mulai membaringkan tubuhnya.
Aldiano yang melihat itu pun langsung menegur Rindi.
__ADS_1
"Hey... selesai makan, jangan langsung tidur." Kata Aldiano pada Rindi.
Dengan memutarkan bola matanya. Rindi pun kemudian menjawab ucapan Aldiano.
"Memangnya kenapa gitu?" Kata Rindi yang membalas acuh ucapan Aldiano.
"Itu nggak baik buat kesehatan kamu. Ayo duduk, jangan tidur kaya gitu." Kata Aldiano meminta Rindi untuk duduk.
"Kalau aku nggak mau." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano.
"Ya kamu harus mau. Cepat bangun dan duduk saja." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.
"Males banget, sudah lah ini tuh hal biasa yang sering aku lakukan. Jadi jangan ngatur." Kata Rindi membalas ucapan Aldiano dengan santainya.
"Maka dari itu hal biasa itu, sekarang harus segera di hilangkan. Karena aku yang mengaturnya." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.
"Hey... kamu siapa. Berani mengatur hidup ku." Kata Rindi yang tak terima saat mendengar ucapan Aldiano.
"Kamu lupa kalau aku sekarang adalah suami mu. Jadi hal yang biasa kamu lakukan akan aku ubah jika itu tidak baik." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.
"Baru kemarin jadi suami saja udah nagatur kaya gini. Apalagi kalau udah lama. Bisa - bisa aku mati berdiri karena hidup sama nih orang." Kata Rindi yang langsung memarahi Aldiano dengan suara yang kecil.
Namun, masih bisa di dengar oleh Aldiano. Sehingga saat Rindi telah selesai mengatainya. Aldiano pun langsung berkata.
"Jaga ucapanmu, aku tak mungkin membuat mu mati berdiri." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi yang mengatainya itu.
"Hey... kamu kenapa bisa mendengar suara ku." Kata Rindi yang tak menyangka suara kecilnya barusan terdengar oleh Aldiano.
"Karena telinga ku masih berfungsi dengan baik. Sehingga ucapan mu, walau kecil tetap aku dengar dengan jelas. Jadi jangan coba - coba mengelak lagi." Kata Aldiano membalas ucapan Rindi.
"Ih... sebel banget sih. Mana sok banget bicaranya. Kalau bukan suami, udah gue kunci lo di dalam kamar mandi." Kata Rindi berkata di dalam hati.
"Biar tau rasa, em... kalau bisa, gue mau kunci lo seharian penuh. Biar gue puas hukum lo." Kata Rindi melanjutkan lagi ucapan nya.
Bersambung...
__ADS_1