
Pak Reza yang melihat pak Agus hanya terdiam seperti enggan untuk menjawab ucapannya itu pun, langsung berbicara lagi pada pak Agus.
"Pak Agus, bapak ko diem. Ucapan saya barusan, apa salah ya pak?" Kata pak Reza bertanya pada pak Agus karena pak Agus tak kunjung menjawab ucapannya.
"Em... bukan, bukan pak. Saya hanya lagi diem aja tiba - tiba. Jadi, bukan karena ucapan bapak salah." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza.
"Oh, jadi karena itu. Lalu jawabannya pak." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus sambil bertanya juga pada pak Agus.
"Ah... bapak jadi buat saya malu deh. Kaya yang bapak tuh nembak saya. Apa karena lagi belajar cara nembak kali ya, buat bu Laila." Kata pak Agus yang malah aneh saat membalas ucapan pak Reza.
Jawaban pak Agus ini membuat pak Reza mengerutkan alis nya karena aneh mendengar ucapan pak Agus.
"Maksudnya bapak, apaan coba? ko jadi aneh ya bicaranya." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus.
"Lupain deh pak, barusan saya hanya bergurau saja." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza dan meminta pak Reza untuk melupakan ucapan yang ia berikan pada pak Reza tadi.
"Bapak nih suka buat penasaran. Ya udah, kalau gitu yuk pak masuk." Kata pak Reza membalas ucapan pak Agus.
Namun, pak Agus malah kembali berulah saat ia mendengar ucapan pak Reza yang terakhir barusan.
"Apa pak masuk? Masuk kemana? jangan bilang bapak mau..." Kata pak Agus yang terkejut mendengar ucapan pak Reza. Namun, saat pak Agus akan menyelesaikan ucapannya yang kemungkinan akan ada drama - drama lagi. Seketika di hentikan oleh pak Reza.
"Jangan berpikiran aneh - aneh pak. Kita sudah sampai di kafe nya. Ayo masuk, biar gak lama beli minum sama makanan nya." Kata pak Reza yang menghentikan ucapan pak Agus.
"Oh, saya kira masuk yang bapak maksud itu mau apa. Em... ya udah pak, mari kita masuk." Kata pak Agus membalas ucapan pak Reza. Kemudian pak Agus pun berjalan meninggalkan pak Reza.
"Iya pak, tapi ko saya ditinggal pak. Tunggu dong." Kata pak pak Reza membalas ucapan pak Agus.
__ADS_1
Mendengar ucapan pak Reza tersebut akhirnya membuat pak Agus yang berjalan lebih dulu menghentikan langkah nya untuk menunggu pak Reza.
Saat pak Reza sudah berada di samping pak Agus baru lah mereka melangkahkan kaki memasuki kafe.
Sementara di butik tante Ratna, keadaan masih sama. Karena di butik tante Ratna. Ryan yang masih menangis kencang tak kunjung juga menghentikan tangisannya.
Membuat ibu menjadi iba melihat hal tersebut. Hingga akhirnya ibu memutuskan untuk pamit dari butik.
"Ratna saya pulang dulu ya. Karena kalau kita masih di sini terutama nih Rindi. Ryan pasti gak mau menghentikan tangisannya. Untuk itu saya pamit pulang ya. Maaf karena ulah Rindi, Ryan sampai nangis seperti ini." Kata ibu pada tante Ratna.
"Loh mbak, ko mau pulang. Kalian kan baru datang, belum juga satu jam, masa mau pulang. Kalau mengenai Ryan saya yakin ko mbak, Ryan pasti menghentikan tangisan nya sebentar lagi. Jadi, jangan pulang sekarang ya mbak." Kata tante Ratna membalas ucapan ibu.
"Nggak enak saya Ratna. Kamu jadi kerepotan kaya gini harus nenangin Ryan. Saya pamit aja ya. Biar Ryan nya juga bisa tenang kalau Rindi udah pulang." Kata ibu membalas ucapan tante Ratna.
"Jangan dong mbak. Tunggu bentar lagi ya, Rindi juga kan belum cobain baju buatan saya mbak." Kata tante Ratna membalas ucapan ibu.
"Udah mbak tunggu dulu aja ya. Bentar mbak, saya tenangin Ryan di dalem dulu. Mbak sama Rindi duduk dulu aja. Saya gak akan lama ko." Kata tante Ratna yang memotong ucapan ibu.
"Baik lah kita berdua gak jadi pamit." Kata ibu akhirnya menyetujui keinginan tante Ratna.
Setelah mendengar ucapan ibu, tante Ratna pun kini mulai masuk ke ruangan yang khusus ia sediakan untuk beristirahat. Dengan menggendong Ryan yang masih menangis, ia pun berusaha menenangkan Ryan juga agar tidak menangis lagi.
"Sayang udah ya nangis nya. Sayang loh air mata nya kalau di keluarin terus. Apalagi liat mata Ryan yang udah merah. Ih... serem, mamah liat nya juga. Apalagi Ryan jadi jelek kalau terus - terusan nangis. Memangnya Ryan mau kaya gini terus hem... udah ya sayang nangis nya." Kata tante Ratna yang mencoba menenangkan Ryan.
Ketika tante Ratna telah menyelesaikan ucapan nya itu. Ryan yang menagis kencang pun mulai menekankan tangisannya.
Lalu beberapa menit kemudian tante Ratna mendengar suara Ryan.
__ADS_1
"Mamah gak bohongin Ryan kan. Kalau Ryan nangis wajahnya Ryan jadi jelek. hiks... hiks..." Kata Ryan pada tante Ratna sambil masih terisak.
"Gak sayang, mamah gak bohong ko. Kalau Ryan gak percaya. Ayo kita liat di cermin itu. Ryan mau liat wajah Ryan." Kata ibu membalas ucapan Ryan sambil menunjuk sebuah cermin di sampi kiri ruangan tersebut.
Sebelum menjawab ucapan tante Ratna. Ryan pun sempat melihat wajah tante Ratna. Kemudian setelah melihat wajah tante Ratna. Ia mulai mengelengkan kepalanya sambil berucap.
"Gak mamah, Ryan gak mau liat. Kalau beneran wajah Ryan jelek. Ryan gak mau liat." Kata Ryan pada tante Ratna.
"Baik lah kalau Ryan gak mau liat. Tapi, Ryan mau menghentikan tangisnya Ryan ini kan." Kata tante Ratna membalas ucapan Ryan.
"Iya mamah, Ryan gak akan nangis lagi." Kata Ryan membalas ucapan tante Ratna.
"Baiklah kalau anak mamah yang ganteng ini gak akan nangis lagi. Nanti, pulang dari butik mamah beliin apapun yang Ryan mau. Gimana Ryan setuju gak?" Kata tante Ratna membalas ucapan Ryan.
"Beneran mah, mamah mau beliin Ryan apapun." Kata Ryan yang mulai tertarik dengan ucapan tante Ratna. Sehingga ia pun mencoba memastikan lagi ucapan tante Ratna dengan bertanya kembali pada tante Ratna.
"Iya sayang beneran. Jadi, Ryan jangan nangis lagi ya. Kalau mau mamah beliin sesuatu yang Ryan mau." Kata tante Ratna membalas ucapan Ryan.
"Iya mamah, Ryan gak akan nangis lagi ko. Tapi, nanti mamah janji ya. Gak boleh bohongin Ryan." Kata Ryan membalas ucapan tante Ratna dan mengingatkan tante Ratna agar tak membohongi dirinya.
"Iya, iya mamah gak akan bohongin kamu." Kata tante Ratna membalas ucapan Ryan.
"Yey... Ryan mau beli mainan baru. Nanti mamah beliin ya, sama es krim, terus permen, terus ke tempat bermain dan nonton film. Oke mamah." Kata Ryan menyebutkan satu persatu keinginannya.
"Oke, mamah setuju." Kata tante Ratna membalas ucapan Ryan.
Bersambung...
__ADS_1