Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 12.


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Nara membereskan meja makan. Wanita itu membantu pekerjaan Bi Ani dengan perlahan, dia juga membantu menyiapkan makan siang. Namun karena kurang berhati-hati, tanpa sengaja pergelangan tangan Nara tersenggol wajan yang panas dan seketika kulitnya melepuh.


"Aduh ...!" pekik Nara sembari memegangi tangannya.


"Kenapa, Mbak?" tanya Bi Ani cemas.


"Tersenggol wajan panas, Bi."


"Waduh ... sampai melepuh begini!" Bi Ani


heboh saat melihat kulit lengan Nara yang melepuh, "mari Bibi obati!"


Bi Ani langsung mengambil kotak obat di rak dapur.


"Enggak usah, Bi! Biar aku obati sendiri saja, Bibi kan harus memasak makan siang." Nara menolak.


"Mbak Nara bisa sendiri?" Bi Ani menatap ragu pada Nara.


"Bisa, Bibi tenang saja!"


"Ya sudah, kalau begitu Bibi lanjut masak lagi, ya, Mbak."


Nara mengangguk dan membongkar kotak obat itu, dia mencari salep untuk luka bakar. Namun tiba-tiba Windy datang dan memarahinya.


"Wah ... enak sekali kau bersantai di sini? Kayak Nyonya besar saja!" ledek Windy sinis.


"Saya sedang mengobati tangan saya," ujar Nara sambil menunjuk lengannya yang melepuh.


Widya melirik lengan Nara, tapi tentu dia tak peduli, "Hanya luka kecil seperti itu saja, kau sudah manja!"


Nara terdiam, dia tak membalas cibiran ibu mertuanya itu dan kembali mengobati luka di tangannya, membuat Windy kesal karena diacuhkan.


Windy pun mendapat ide untuk mengerjai Nara, dia tak terima menantunya itu enak-enakan di dalam rumah.


"Hee, sekarang bersihkan taman belakang! Cabut rumput dan sapu daun kering yang berjatuhan! Jangan masuk ke rumah sebelum selesai." pinta Windy seenaknya.

__ADS_1


"Tapi, Bu ...." Nara keberatan sebab dia tak bisa menyapu dengan keadaan satu tangan, sebab sebelah tangannya masih terasa sakit meskipun sudah tidak lagi di gips.


"Tidak ada tapi tapian! Cepat kerjakan!" bentak Windy lalu beranjak pergi dengan gaya angkuhnya.


Nara memandangi kepergian Windy sambil menahan geram, andai dia boleh kurang ajar, ingin sekali dia melawan sang mertua.


Mendengar suara majikannya, Bi Ani pun tergopoh-gopoh menghampiri Nara, "Ibu benar-benar keterlaluan! Mbak Nara enggak usah turutin dia, biarkan saja!"


"Enggak apa-apa, Bi!"


"Tapi Mbak Nara kan istrinya Mas Ken, masa disuruh beresin taman? Apalagi Mbak Nara masih sakit," keluh Bi Ani tak terima.


Nara tersenyum, "Saya akan cabut rumput saja, nanti selesai memasak, Bi Ani bantuin saya menyapu, ya?"


Bi Ani mengangguk, "Iya, Mbak. Bibi pasti bantuin, kok!"


Nara tersenyum semakin lebar, walaupun Kenan dan Windy memperlakukannya dengan buruk, tapi setidaknya masih ada Hendra juga Bi Ani yang baik padanya.


***


Di taman belakang, Nara berjongkok sambil mencabuti rumput yang mulai tumbuh, matahari yang mulai naik dan terik tak menyurutkan semangatnya untuk melakukan perintah Windy. Lagipula ini bukan pekerjaan berat, dia juga merasa senang sebab bisa sekalian menikmati keindahan taman yang dipenuhi bunga-bunga cantik dan kolam renang yang biru.


Tanpa Nara sadari dari balik jendela kamar, Kenan sedang memperhatikan dirinya. Tadi saat hendak keluar kamar, Kenan tak sengaja melihat sang istri, pemuda itu penasaran dengan apa Nara lakukan di taman belakang.


Nara masih asyik mencabut rumput sambil terus melantunkan lagu-lagu kesukaannya, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan berat sekali, darah pun mulai menetes keluar dari hidungnya.


Nara mengusap darah itu sambil mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan pandangannya yang mulai kabur dan berkunang-kunang. Semakin lama kepala Nara kian terasa berputar dan tatapannya gelap. Hingga akhirnya tubuh kurus Nara pun jatuh menghantam tanah dan tak sadarkan diri.


***


Nara sudah terbaring tak berdaya di atas sofa, wajahnya pucat dan dia belum sadarkan diri. Tadi ketika Bi Ani hendak membantu Nara di taman, dia mendapati wanita itu sudah tergeletak di tanah. Bi Ani panik dan cemas, dia berteriak memanggil satpam agar mengangkat Nara masuk ke dalam rumah. Sementara Kenan yang melihat istrinya itu pingsan hanya mengawasinya saja tanpa berniat untuk menolong, Kenan beranggapan jika Nara hanya pura-pura untuk menarik simpati orang lain.


Tak berapa lama Nara pun sadar dari pingsannya, Bi Ani yang sejak tadi menjaga Nara terlihat sangat senang.


"Mbak Nara sudah siuman!" pekik Bi Ani girang.

__ADS_1


Nara memegangi kepalanya yang masih pusing dan berusaha mengingat apa yang terjadi.


"Mbak Nara kenapa bisa pingsan? Mbak Nara sakit? Kalau begitu kita ke rumah sakit, yuk!" cecar Bi Ani.


"Aku enggak apa-apa, Bi."


"Tapi tadi hidung Mbak Nara berdarah, Bibi takut Mbak Nara sakit yang serius." Bi Ani memandang cemas Nara.


Nara termangu, sejujurnya dia sendiri heran dan cemas karena hidungnya tiba-tiba mengeluarkan darah seperti tadi. Apa ini efek dari kecelakaan tempo hari atau ada penyebab lain?


"Mbak, kita ke rumah sakit, ya?" Bi Ani kembali menawarkan Nara untuk memeriksakan diri.


Nara menggeleng, "Enggak usah, Bi. Paling cuma mimisan biasa, kok."


Bi Ani masih menatap Nara dengan khawatir, "Mbak Nara yakin enggak mau periksa?"


"Yakin, Bi. Dan saya minta tolong jangan bilang ke Pak Hendra, ya? Saya enggak mau dia cemas."


Walaupun sempat terdiam sejenak, Bi Ani akhirnya mengangguk setuju, "Iya, Mbak."


"Kalau begitu saya minta tolong ambilkan minum, ya, Bi! Saya haus sekali," pinta Nara sopan.


"Baik, Mbak. Sebentar Bibi ambilkan dulu!" Buru-buru Bi Ani berlari ke dapur dan mengambil segelas air putih untuk Nara.


Sementara itu, Kenan dan Windy sedang mengamati Nara dari lantai atas, meskipun tahu wanita itu pingsan, tapi keduanya tak merasa cemas sedikit pun.


"Ini ulah Mama, kan?" tuduh Kenan pelan.


"Mama hanya menyuruhnya membersihkan taman belakang, apa itu salah? Mama yakin dia hanya berpura-pura untuk mencari simpati," ujar Windy sinis.


"Ma, berhati-hatilah dalam bertindak, jangan membuat masalah! Aku enggak ingin Papa marah kepada Mama cuma karena dia," ucap Kenan.


"Mama enggak peduli!" Windy kemudian berlalu dengan angkuh.


Kenan mengembuskan napasnya, dia sama sekali tidak simpati terhadap Nara. Dia hanya tak ingin kedua orang tuanya lagi-lagi bertengkar gara-gara wanita itu, karena sejak kehadiran Nara, suasana rumahnya menjadi panas dan menegangkan.

__ADS_1


Kenan kembali menatap Nara, dan kali ini wanita itu juga sedang memandang ke arahnya. Sejenak tatapan mereka bertemu, namun Kenan buru-buru memalingkan wajahnya dan beranjak pergi.


***


__ADS_2