Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 43.


__ADS_3

Keesokan harinya, kesadaran Kenan mulai kembali saat samar-samar dia mendengar suara seseorang sedang membangunkan dirinya.


"Kenan, bangun!"


Kenan membuka matanya yang masih terasa sepat dan perih, dia terkesiap saat melihat Hendra dan Windy sudah berdiri di depannya.


"Papa? Mama?" Kenan sontak bangkit dari sofa yang semalaman dia tiduri.


"Kenapa kau mabuk-mabukan? Lihat, wajah mu sampai babak belur begitu! Kau pasti membuat masalah dan berkelahi, kan?"


Kenan bergeming, dia tahu pasti orang-orang di rumah ini sudah menceritakan apa yang terjadi semalam. Dan dia tak mungkin menceritakan alasan kenapa dia mabuk pada kedua orang tuanya itu.


"Kamu enggak apa-apa, sayang?" Windy mengamati wajah Kenan yang lebam.


"Aku enggak apa-apa, Ma," jawab Kenan pelan.


"Sebenarnya ada masalah apa? Kau berkelahi dengan siapa?" cecar Windy cemas.


"Aku enggak kenal, ini hanya salah paham saja," sahut Kenan bohong.


"Papa sudah melarang mu untuk menyentuh minuman haram itu, tapi kau enggak mau dengar! Kau enggak ingat, karena kau mabuk, orang lain jadi celaka," ujar Hendra marah.


Kenan langsung teringat pada Nara yang dia tabrak beberapa bulan lalu, kejadian tragis itu menjadi titik awal takdir hidup mereka disatukan.


"Pa, sudahlah! Jangan marah-marah dan mengungkit yang sudah berlalu, yang penting kan anak kita pulang dengan selamat," sela Windy sembari mendekap Kenan.


"Mama ini selalu saja membela dia, makanya dia jadi enggak bisa diatur dan bertindak seenaknya!"


"Kenan itu anak Mama, jadi wajarlah kalau Mama membelanya."


"Tapi dia juga anak Papa, kalau terjadi sesuatu dengannya, yang susah Papa juga!" balas Hendra kesal.


"Selamat pagi."


Perhatian semua orang langsung tertuju ke arah pintu masuk saat mendengar seseorang menyapa.


"Han?" Kenan terkesiap melihat sahabatnya itu sudah berdiri di ambang pintu.


"Selamat pagi, silakan masuk, Han!" sahut Hendra ramah.


Han melangkah masuk dengan senyum mengembang, walaupun dia sedikit kaget melihat wajah Kenan babak belur.


"Om, Tante." Han menegur Hendra dan Windy.


"Apa kabar, Han?" tanya Hendra ramah.


"Baik, Om."


"Kamu pasti mau bertemu Kenan, kan?" Windy memastikan.

__ADS_1


Han mengangguk, "Iya, Tante."


"Kalau begitu Om dan Tante tinggal dulu, ya?" Windy segera menarik Hendra ke kamar, dia sengaja ingin mengalihkan situasi agar suaminya itu berhenti memarahi sang putra.


"Kenapa kau ke sini?" tanya Kenan, dia takut Han melihat Nara ada di rumahnya.


"Memangnya aku enggak boleh datang ke sini?" sungut Han, padahal dia sudah sering datang ke rumah Kenan, tapi kenapa pemuda itu bertanya demikian.


"Maksudku, bukannya kau mau berangkat ke Jerman? Kenapa kau ada di sini?" ralat Kenan.


"Ada yang mau aku tanya padamu, aku harus tahu sebelum aku pergi."


Kenan mengernyit, "Kau mau tanya apa?"


"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa sikapmu aneh semalam?" cecar Han penasaran.


Kenan menelan ludah, dia tak menyangka Han begitu ingin tahu sampai rela datang ke rumahnya pagi-pagi begini.


"Enggak ada apa-apa, semalam mood ku cuma lagi buruk saja," sangkal Kenan.


"Lalu bagaimana dengan wajah mu itu? Enggak mungkin tiba-tiba bisa babak belur tanpa sebab, kan?" sindir Han sembari menunjuk wajah Kenan dengan dagunya.


"Semalam aku ke klub, dan terlibat masalah dengan seseorang." Lagi-lagi Kenan berbohong.


"Masalah apa? Terus kenapa kau ke klub sendirian?" Han semakin ingin tahu.


"Ck, kau ini lama-lama seperti wartawan! Banyak tanya!" kesal Kenan.


Kenan terdiam. Dia mendadak cemas dan takut Han mengetahui sesuatu.


"Kau sedang ada masalah dengan Rendy, ya?" tebak Han to the point.


Kenan langsung menatap Han dengan raut terkejut, bagaimana tebakan sahabatnya itu bisa tepat?


"Aku benar, kan?"


"Kau ini bicara apa? Aku dan Rendy enggak ada masalah, kami baik-baik saja," bantah Kenan.


"Benarkah? Tapi yang aku lihat kalian lagi enggak baik-baik aja!"


"Jangan sok tahu!"


"Kau sepertinya cemburu pada Rendy. Apa jangan-jangan kau juga menyukai si cupu?" tuduh Han tanpa tedeng aling-aling.


Kenan terdiam dengan jantung berdebar kencang. Apakah sikapnya terlihat seperti orang yang sedang cemburu? Ini pasti salah!


"Tebakan aku benar lagi, kan? Buktinya kau enggak bisa membantah," ucap Han penuh percaya diri.


"Sudahlah, Han! Hentikan omong kosong ini! Sebaiknya sekarang kau bersiap-siap untuk berangkat! Aku juga mau mandi, nanti aku susul ke bandara." Kenan mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Aku sudah bersiap-siap, lagipula masih ada waktu tiga jam lagi!"


"Kalau begitu kau bisa memanfaatkan waktumu itu untuk tidur, daripada repot-repot ngurusin aku!" Kenan beranjak meninggalkan Han begitu saja.


"Hei, nanti dulu! Kau belum mengatakan yang sebenarnya!" teriak Han, tapi Kenan tak peduli, dia tetap melangkah menaiki anak tangga demi menghindari interogasi sahabatnya itu.


"Ck, dia benar-benar keterlaluan! Masa aku ditinggal gitu aja? Bahkan aku enggak dibuatkan minum," gerutu Han sambil bangkit dari duduknya.


Tapi tiba-tiba ponsel Han berdering, dia buru-buru merogoh saku celananya dan melihat ID si penelepon.


Rendy is calling ....


Han segera menjawab panggilan masuk itu sembari melangkah meninggalkan kediaman mewah Hendra.


"Halo, Ren!"


Sementara itu di kamar Bi Ani, Nara sedang tidur meringkuk di bawah selimut, menjelang subuh tadi tubuhnya tiba-tiba menggigil kedinginan, kepalanya juga terasa berdenyut dan perutnya mual. Dia bahkan tak tahu jika Hendra dan Windy sudah kembali dari luar kota.


"Mbak Nara, ini Bibi bawakan teh jahe hangat. Di minum dulu!" Bi Ani menyodorkan segelas teh jahe buatannya.


Dengan perlahan Nara mengangkat kepalanya lalu menyeruput teh tersebut, rasa hangat seketika menjalar di tenggorokannya.


"Mbak Nara mau sarapan?" tanya Bi Ani.


Nara yang sudah kembali berbaring hanya menggeleng lemah.


"Kalau Mbak Nara enggak makan, nanti makin lemas."


"Aku enggak selera makan, Bi. Perutku mual," adu Nara.


"Apa enggak sebaiknya Mbak Nara ke rumah sakit saja? Bibi khawatir nanti sakitnya tambah parah."


"Enggak usah, Bi. Paling aku cuma kecapekan dan masuk angin aja, sebentar lagi juga sembuh," tolak Nara.


"Bapak dan Ibu sudah pulang, nanti kalau Bapak tahu Mbak Nara sakit begini, dia pasti cemas."


Nara terkesiap, "Jadi Papa sudah pulang?"


"Sudah, barusan saja. Sekarang lagi di kamar."


Nara bergegas bangun dan turun dari tempat tidur Bi Ani.


"Mbak Nara mau ke mana?"


"Aku harus keluar dari sini, Bi. Aku enggak mau Papa tahu kalau aku tidur di kamar Bibi."


Begitu berdiri, Nara merasa sangat pusing dan berkunang-kunang. Dia memejamkan mata sambil memegangi kepalanya.


"Mbak Nara baik-baik?"

__ADS_1


Nara mengangguk. Setelah pusingnya sedikit mereda, dia kembali membuka mata dan melangkah keluar dengan perlahan.


***


__ADS_2