Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 65.


__ADS_3

Begitu mendengar kabar tentang Nara, Rendy pun datang lagi ke penthouse mewah milik Hendra itu. Dia sungguh kaget dan tak percaya jika teman baiknya tersebut menderita penyakit langka yang serius. Bahkan Rendy tak datang sendiri, dia juga mengajak ayahnya yang tak lain adalah dokter spesialis penyakit dalam dan direktur utama salah satu rumah sakit terbesar di kota itu. Hal itu membuat Kenan tak berkutik dan hanya diam membisu.


Tama, yang tak lain adalah ayah Rendy sedang mengamati hasil diagnosis Nara, kemudian menatap wanita itu.


"Ayah atau ibu kamu ada yang mengidap penyakit anemia seperti ini atau kanker darah?" tanya Tama.


"Ada, Ayah saya mengidap leukemia, Om," jawab Nara.


Kenan dan Rendy terkesiap, keduanya baru tahu jika ayahanda Nara sakit parah.


"Ayah kamu masih ada?" tanya Tama lagi.


"Sudah tiada. Ayah dan Ibu saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan bus di daerah puncak, saya sebatang kara," beber Nara dengan wajah sendu.


Lagi-lagi Kenan terkejut mengetahui kenyataan itu, selama ini Nara tak pernah cerita apa-apa tentang kedua orang tuanya. Dia cuma tahu kedua orang tua gadis itu sudah tiada, tapi tak tahu penyebab kematiannya.


"Maaf, Om enggak bermaksud membuat kamu sedih," ujar Tama.


Nara tersenyum, "Enggak apa-apa, Om."


"Jadi pengobatan apa yang akan Nara jalani, Pa?" cecar Rendy penasaran.


"Dari diagnosa dan tingkat keparahannya, dia akan menjalani transfusi darah dan dibantu obat-obatan," terang Tama yang sudah membaca salinan hasil rekam medis Nara.


"Iya, tadi dokter juga bilang begitu, tapi karena golongan darah Nara sulit di dapat dan rumah sakit enggak ada stok, jadinya dia disuruh menunggu sambil minum obat," sela Kenan.


Rendy mengernyit, "Memangnya golongan darah dia apa?"


"O Rhesus negatif," sahut Kenan.


Rendy terhenyak, "Aku juga O Rhesus negatif, berarti darah kami cocok!"


"Benarkah?" Nara memastikan.


"Iya, Ra. Aku akan mendonorkan darahku untukmu seberapa banyak pun yang kamu butuhkan," ucap Rendy semangat.


"Hei, kamu juga harus cek kesehatan dulu! Jangan sampai darahmu mengandung bakteri yang bisa menular ke Nara," sambung Tama.


Rendy mengangguk, "Baik, Pa. Kalau begitu besok kita langsung ke rumah sakit."


"Baiklah, aku akan kabarin Papa," balas Nara.


Wajah Kenan masam, sejujurnya dia ingin menolak tawaran Rendy untuk mendonorkan darahnya pada Nara, dia tak sudi darah pemuda itu mengalir di dalam tubuh sang istri. Tapi dia tak mungkin melakukannya mengingat Nara sedang membutuhkan donor darah itu.

__ADS_1


***


Besok paginya Nara dan semua orang langsung ke rumah sakit, setelah melakukan cek up, dokter menyatakan jika darah Rendy sehat dan bebas dari bakteri.


Usai melakukan beberapa prosedur dan persiapan, transfusi darah pun dilakukan. Kenan, Hendra dan Tama menunggu di luar ruangan.


"Ini sangat kebetulan, ya? Untung saja Rendy memiliki golongan darah yang sama dengan Nara," ujar Hendra membuka percakapan.


"Iya, kalau enggak, akan cukup sulit mencari orang dengan golongan tersebut. Karena golongan darah O negatif hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang sama," sahut Tama.


Kenan hanya diam menyimak obrolan kedua pria paruh baya itu.


"Mudah-mudahan saja Nara bisa sembuh setelah mendapatkan donor darah dari Rendy," ucap Hendra penuh harap.


"Iya. Aku juga akan membantu memantau perkembangan kondisinya," sambung Tama.


Beberapa saat kemudian, Rendy sudah selesai melakukan donor dan Nara juga telah selesai transfusi darah. Mereka semua pulang ke penthouse milik Hendra.


"Hati-hati!" Kenan membantu Nara duduk di sofa, lalu dia menjatuhkan dirinya di samping sang istri.


"Apa kamu enggak merasakan sesuatu, seperti pusing, mual atau hal lainnya?" tanya Tama memastikan.


Nara menggeleng pelan, "Enggak, Om. Aku cuma merasa lemas saja."


"Itu tandanya kita ditakdirkan cocok dalam segala hal, termasuk golongan darah," sela Rendy lalu tertawa, Hendra dan Tama pun ikut tertawa.


Sementara Kenan hanya melirik sinis sahabatnya itu, wajah tampannya bahkan berubah masam.


"Terima kasih, ya, Ren. Aku berhutang nyawa padamu," ucap Nara.


"Jangan bicara seperti itu! Kamu enggak berhutang apa pun. Kapan saja kau butuh darahku, aku akan selalu memberikannya," balas Rendy.


"Ehem, kau enggak mau istirahat di kamar aja?" Kenan tiba-tiba bertanya.


Rendy termangu, dia tahu Kenan sedang berusaha menjauhi Nara darinya.


Nara menatap suaminya itu, "Nanti saja. Aku masih ingin di sini."


"Tapi nanti kau kelelahan." Kenan memperingatkan.


"Enggak, kau tenang saja!"


Rendy mengulum senyum mendengar ajakan Kenan ditolak oleh Nara.

__ADS_1


Kenan yang merasa kalah malu seketika cemberut, tapi dia tak lagi mau memaksa Nara.


Namun tiba-tiba ponsel Hendra berdering, dia buru-buru mengeluarkan telepon genggamnya itu dari dalam saku dan menjawabnya panggilan masuk yang ternyata dari Bi Ani.


"Halo, ada apa, Bi?" tanya Hendra.


"Pak, Ibu jatuh dari di kamar mandi dan enggak sadarkan diri."


Hendra terhenyak dengan mata melotot mendengar kabar mengejutkan itu.


***


Hendra dan semua orang langsung ke rumah sakit yang dikatakan Bi Ani, termasuk Nara. Sebenarnya Rendy dan Kenan sempat melarang Nara ikut sebab takut wanita itu kelelahan, tapi Nara bersikeras ingin ikut karena dia juga mencemaskan mertuanya itu.


Nara, Kenan dan Rendy menunggu di depan ruang IGD, sementara Tama dan Hendra memutuskan masuk ke dalam untuk memastikan keadaan Windy.


"Semoga Mama baik-baik saja," ucap Kenan dengan suara bergetar, dia sangat khawatir dengan kondisi sang mama.


Nara tak membalas ucapan Kenan, dia hanya menggenggam tangan suaminya itu dengan erat. Tapi Kenan malah memeluk tubuh Nara untuk berbagi perasaan.


Rendy yang melihatnya sontak memalingkan wajah, dia salah tingkah sendiri. Tak ingin kikuk berada di antara orang yang sedang berpelukan, Rendy pun memilih untuk bermain ponsel, tapi saat dia merogoh sakunya, benda pipih itu tidak ada.


"Ponselku mana?" Rendy mendadak heboh.


Nara yang menyadarinya langsung menoleh ke arah Rendy, "Ada apa, Ren?"


Kenan juga ikut menatap sahabat sekaligus musuhnya itu.


"Ponselku enggak ada," keluh Rendy.


"Memangnya terakhir kali kamu letak mana?" tanya Nara.


Rendy coba berpikir, tapi dia lupa, "Aku enggak ingat."


"Kalau begitu coba hubungi pakai punyaku, siapa tahu jatuh atau tertinggal di suatu tempat dan ada yang menemukan." Nara menyodorkan ponselnya.


Kenan hanya mengamati Rendy dan Nara tampan berniat ikut campur.


Rendy menerima ponsel Nara, dan wanita itu pun menyebutkan kode sandi layarnya.


Rendy menyalakan layar ponsel Nara lalu mengetikkan deretan angka yang Nara katakan barusan dan kunci layar pun terbuka. Namun wallpaper di telepon genggam Nara langsung menarik perhatian Rendy hingga membuat jantungnya berdebar kencang.


***

__ADS_1


__ADS_2