Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 55.


__ADS_3

Nara sedang duduk melamun di taman belakang dan memandangi langit malam yang bertabur bintang, dia kesal dengan Kenan, dia tak menyangka pemuda itu tega melakukan semua ini padanya.


Bi Ani berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Nara dan langsung mengadu dengan heboh, "Mbak Nara, ada berita mengejutkan!"


Nara tersentak dan langsung menolehkan kepalanya menatap Bi Ani, "Berita apa, Bi?"


"Rupanya bukan Mas Kenan yang mencuri kalung itu dan meletakkannya di tas Mbak Nara, tapi Ibu sendiri," beber Bi Ani.


Nara tercengang, "Bibi tahu dari mana?"


"Tadi Bibi enggak sengaja mendengar pembicaraan Ibu dan Mas Kenan, mereka bertengkar. Ibu sengaja menjebak Mbak Nara agar Mbak Nara terusir dari rumah ini."


"Tapi kenapa tadi Kenan mengaku jika ini ulahnya?" tanya Nara sedikit bingung.


"Karena Mas Kenan ingin menyelamatkan Mbak Nara. Dia mencintai Mbak," jawab Bi Ani yang belum tahu jika Kenan sudah menyatakan cinta pada Nara.


Nara tertegun, dia tak menyangka Kenan rela mengorbankan diri demi dia. Hati Nara seketika diliputi perasaan bersalah karena tadi sudah marah-marah dan mengumpat suaminya itu.


"Tadi juga Bibi dengar Ibu mengatakan akan melakukan apa saja untuk memisahkan Mas Kenan dari Mbak Nara, tapi Mas Kenan balik mengancam Ibu," lanjut Bi Ani.


"Dia bilang apa, Bi?" Nara penasaran.


"Mas Kenan bilang, kalau Ibu berani menyakiti Mbak Nara, dia akan buat Ibu menyesal."


Nara kembali tertegun, dia benar-benar tak menyangka Kenan berani mengancam ibunya sendiri demi dirinya.


"Bibi minta Mbak Nara berhati-hati, ya! Bibi takut Ibu melakukan sesuatu yang membuat Mbak Nara terkena masalah atau pun terluka." Bi Ani menggenggam tangan Nara dan menatap wanita itu dengan cemas.


"Iya, Bibi tenang saja! Aku akan berhati-hati dan menjaga diri."


"Bibi juga akan menjaga Mbak Nara dari niat buruk Ibu."


"Terima kasih, ya, Bi." Nara langsung memeluk tubuh Bi Ani, dan wanita paruh baya itu mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Bi!"


"Iya, Mbak Nara?"


"Aku minta jangan cerita masalah ini ke Papa, ya! Aku enggak mau Papa semakin marah dan menambah beban pikirannya, karena aku lihat belakangan ini Papa sering terlihat murung. Sepertinya dia ada masalah di kantor," pinta Nara yang beberapa hari ini memperhatikan gelagat Hendra, mertuanya itu selalu menghabiskan waktu hingga larut malam di ruang kerjanya dan Nara sering memergokinya.


"Tapi Bapak harus tahu tingkah istrinya, Mbak."


"Jangan, Bi! Papa enggak perlu tahu."


"Tapi bagaimana kalau Mas Kenan sendiri yang mengadu ke Bapak?"


Nara terdiam, dia tak yakin Kenan akan mengadu pada Hendra, karena setahu Nara selama ini pemuda tersebut selalu merahasiakan perbuatan sang mama.

__ADS_1


"Mbak!" tegur Bi Ani karena Nara membisu.


"Dia enggak akan cerita ke Papa, dia pasti juga akan merahasiakannya."


"Ya sudah, deh. Bibi juga akan tutup mulut."


"Terima kasih, Bi." Nara semakin mengeratkan pelukannya.


"Sama-sama, Mbak. Kalau begitu sekarang kita masuk, yuk! Ini sudah malam, enggak baik kalau Mbak Nara terlalu sering terkena angin malam."


"Nanti saja, aku masih mau di sini."


"Tapi nanti Mbak Nara bisa sakit lagi."


"Iya, sebentar lagi aku masuk, kok."


"Ya sudah, kalau begitu Bibi masuk duluan, ya?"


Nara mengangguk dan tersenyum.


Setelah Bi Ani masuk, Nara menghela napas dan kembali memandangi langit malam. Rasa bersalah masih terus menggerayanginya, haruskah dia minta maaf pada Kenan karena sudah mengumpat dan memarahi suaminya itu? Tapi hati Nara terasa berat untuk melakukannya.


Nara kaget saat ponsel pemberian Rendy tiba-tiba bergetar di sakunya, dia buru-buru mengeluarkan benda pipih dan langsung tersenyum melihat barisan kata di layarnya.


My Rendy calling ....


Di tempat berbeda, Kenan sedang duduk berhadapan dengan Hendra.


"Kenapa kau lama sekali?"


"Tadi aku ke kamar mandi dulu, Pa," dalih Kenan, padahal tadi dia melabrak sang mama.


"Papa kira kau sengaja menghindar."


"Ada apa Papa memanggil aku ke sini?" tanya Kenan, dia tak menanggapi ucapan Hendra barusan.


"Sebenarnya ada masalah apa antara kau dan Nara? Mengapa tadi kau mengatakan jika dia mengabaikan mu?" cecar Hendra penasaran.


Kenan bergeming, dia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya terjadi.


"Ken, kenapa diam? Katakanlah!"


"Enggak ada apa-apa, Pa. Aku cuma kesal saja karena dia enggak mau menuruti kata-kata ku," jawab Kenan akhirnya.


"Terus kalian bertengkar karena itu?" tebak Hendra.


Kenan mengangguk.

__ADS_1


"Pasti kau bersikap kasar dan mengatakan hal yang menyinggung perasaannya, kan? Makanya dia sampai marah dan mengabaikan mu seperti itu."


Kenan lagi-lagi terdiam, kalau dia hanya berkata dan bersikap kasar, Nara tak akan semarah ini padanya. Kenan sadar sudah melukai hati Nara dan melakukan sesuatu yang membuat Nara membencinya.


Melihat Kenan diam, Hendra berpikir jika tebakannya benar.


"Ken, Papa kan sudah pernah bilang, jaga sikap dan ucapan mu, jangan sampai melukai perasaan istrimu. Tapi kau masih saja enggak bisa berubah! Malah tadi kau membuat dia hampir terkena masalah karena ulah mu, sekarang dia pasti bertambah marah, " gerutu Hendra.


Kenan hanya tertunduk membisu, dia tahu saat ini Nara pasti semakin membenci dirinya. Tapi tak mengapa, yang penting dia bisa melindungi istrinya itu dari niat buruk sang mama.


"Kau sudah minta maaf padanya dan Mama?" tanya Hendra kemudian.


"Sudah, Pa," sahut Kenan, padahal dia hanya minta maaf pada Nara.


"Baiklah, sekarang kamu boleh pergi dan berbaikan lah dengan istrimu! Bujuk dia agar berhenti marah, wanita pasti luluh kalau dirayu."


"Iya, Pa." Kenan segera beranjak dan keluar dari ruang kerja Hendra dengan lesu.


"Wanita pasti luluh jika dirayu? Mungkin itu tipe wanita pada umumnya, tapi jika tipe langka seperti Nara, rayuan tak akan mempan," gerutu Kenan, namun saat hendak menaiki tangga, perhatiannya tertuju ke pintu menuju taman belakang yang masih terbuka. Kenan pun urung untuk naik dan berjalan mendekati pintu tersebut.


Dari balik pintu kaca itu Kenan bisa melihat Nara sedang duduk di tepi kolam sambil berbicara dengan seseorang di telepon, sesekali wanita itu tertawa dengan riang. Kenan tahu dengan siapa Nara berbicara dan itu membuat hatinya cemburu.


***


Setelah puas mengobrol dan bercanda tawa dengan Rendy, Nara pun memutuskan untuk masuk karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia yakin Kenan pasti sudah tidur seperti biasanya.


Secara perlahan Nara membuka pintu kamar dan masuk dengan hati-hati, dia tak ingin membangunkan Kenan yang sudah berbaring dengan mata terpejam. Nara melangkah ke sofa, namun dia terkesiap saat melihat ponselnya tergeletak di atas secarik kertas.


Nara mengambil telepon genggamnya dan membaca tulisan di kertas itu.


"AKU KEMBALIKAN PONSELMU. PERCUMA SAJA AKU SITA, KALAU KAU TETAP BISA MENGHUBUNGINYA. LAGIAN PONSELMU ENGGAK BISA DIAPA-APAIN. MENYEBALKAN!"


Nara hanya geleng-geleng kepala membaca isi catatan yang dia yakin buatan Kenan.


Dia menyalakan layar ponsel tersebut dan menekan sandinya, sebuah wallpaper foto kedua orang tuanya langsung terpampang. Dan Nara terkejut setengah mati saat melihat notifikasi pemberitahuan panggilan masuk dari Rendy yang berjumlah tiga puluh tujuh.


"Astaga, jadi selama ini Rendy terus berusaha menghubungiku, tapi dia tak pernah menjawabnya. Pantas saja Rendy sampai membelikan ponsel untukku," gumam Nara sambil melirik Kenan dengan kesal.


Karena sudah mulai mengantuk, Nara pun menyimpan kedua ponsel miliknya di atas meja hias lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa yang menjadi tempat beristirahat nya selama ini. Sebenarnya Kenan sudah meminta dia tidur di ranjang, dan suaminya itu di sofa, tapi Nara menolak. Dia takut saat dia terlelap, Kenan diam-diam pindah ke kasur.


Beberapa saat kemudian, Kenan mengintip dan memastikan apakah Nara sudah tidur. Kenan mengamatinya, saat yakin Nara sudah nyenyak, pemuda itu turun dari ranjang dan berjalan ke arah sofa.


Seperti malam-malam sebelumnya, Kenan memandangi wajah Nara lalu mengecup kening istrinya itu.


"Selamat tidur dan mimpi yang indah," bisik Kenan.


Kenan pun beranjak dan kembali naik ke atas ranjang, dia harus cepat tidur agar bisa bangun pagi-pagi sekali sebelum Nara bangun. Besok dia akan membuat wanita kesayangannya itu kembali menatapnya seperti tadi.

__ADS_1


***


__ADS_2