Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 62.


__ADS_3

Acara kemas barang-barang sudah selesai, kini Nara dan Kenan sedang makan malam bersama Hendra juga Windy.


"Bagaimana, kalian jadi pindah besok?" tanya Hendra.


"Jadi, Pa," jawab Kenan.


Windy terkesiap dan sontak menatap suaminya itu, "Kenan besok pindah, Pa?"


"Iya, karena lebih cepat lebih baik," sahut Hendra.


Windy menggeleng, "Enggak, Mama enggak setuju!"


"Ma, kita sudah bahas ini sebelumnya, dan Papa harap enggak ada lagi perdebatan! Biarkan Kenan dan Nara hidup mandiri."


"Terus bagaimana dengan kuliah Kenan, Pa?" cecar Windy.


"Aku dan Nara sudah sepakat untuk kuliah di universitas tak jauh dari penthouse Papa," sahut Kenan.


Windy tercengang mendengar keputusan Kenan yang membuat dia semakin emosi, "Apa? Berarti kau enggak jadi kuliah ke Amerika?"


"Enggak, Ma," jawab Kenan.


"Tapi itu impianmu sejak dulu, Ken! Bagaimana bisa kau batalkan begitu aja?" protes Windy tak terima.


"Enggak apa-apa, yang penting aku bisa dekat istriku terus." Kenan menatap Nara yang tersipu dengan wajah merona.


Windy langsung menatap Nara dengan tajam, "Apa yang kau lakukan pada putraku? Kau pasti sudah menghasutnya, kan?"


"Ma, Nara enggak pernah menghasut aku! Semua ini keputusan aku sendiri, dan aku sudah memikirkannya matang-matang," bantah Kenan.


"Ma, tolong hargai keputusan Kenan! Ini demi kebaikan semuanya," pinta Hendra.


"Kebaikan siapa? Kebaikan perempuan kampung ini?" Windy menunjuk Nara dengan marah.


"Mama!" bentak Kenan dan Hendra serentak, tapi Windy tak peduli.


"Dari awal kau masuk ke rumah ini, kau hanya menghancurkan hidup dan masa depan putraku! Kau merusak keluarga kami!" hardik Windy.


Nara hanya terdiam menatap Windy dengan tangan terkepal, dia kesal tapi berusaha untuk tetap tenang.


"Mama cukup! Jangan menyalahkan Nara, karena dia enggak salah apa-apa!" ucap Kenan.


"Ma, sudahlah! Jangan mempermasalahkan ini lagi!" Hendra menengahi.


"Mama enggak terima, Pa! Mama enggak terima dia merebut Kenan dari Mama!" jerit Windy.


"Jangan berlebihan! Enggak ada yang merebut Kenan dari Mama!" bantah Hendra.

__ADS_1


"Tapi kenyataannya perempuan kampung ini merebut Kenan dari Mama! Dia membuat Kenan berani menentang dan melawan Mama, sekarang dia mau memisahkan Kenan dari kita! Mama enggak terima itu!" kecam Windy.


"Bu, saya enggak pernah berniat untuk melakukan apa yang Ibu katakan itu! Jadi jangan menuduh saya sembarangan!" sanggah Nara yang akhirnya buka suara.


"Diam kau! Aku enggak minta kau bicara, perempuan kampung!" ujar Windy dengan sinis.


"Mama!" bentak Kenan lagi.


"Lihat, kan! Anak yang aku lahir kan dengan susah payah berani membentak ku hanya karena perempuan sialan ini! Benar-benar keterlaluan!" Windy langsung pergi dari hadapan semua orang dengan berlinang air mata.


"Ma! Mama!" panggil Kenan, tapi Windy tak peduli.


"Sudah biarkan, Ken!" pinta Hendra.


Kenan mengembuskan napas berat, dia sedikit menyesal karena tadi refleks membentak mamanya itu.


"Aku minta maaf, gara-gara aku ...."


"Ssstt, jangan minta maaf! Ini bukan salah kamu, justru aku yang ingin minta maaf karena sikap dan ucapan Mama tadi," potong Kenan sebelum Nara selesai bicara.


"Iya, atas nama Mama, Papa juga minta maaf," sela Hendra.


Nara hanya mengangguk.


"Sebaik kita lanjut makan," titah Hendra.


Di dalam kamar, Windy duduk di tepi ranjang sambil mengepalkan tangannya menahan geram.


"Aku enggak akan membiarkan perempuan kampung sialan itu merebut Kenan dariku. Aku harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka."


***


Keesokan harinya, Nara dan Kenan akhirnya pindah ke penthouse mewah milik Hendra. Sementara Windy, sejak pagi sudah pergi entah ke mana.


Nara mengamati ruangan kamar mereka yang baru, tak jauh berbeda dengan kamar Kenan sebelumnya. Dari jendela kamarnya dia bisa melihat pemandangan kota yang penuh dengan gedung-gedung menjulang tinggi. Sedangkan Kenan dan Hendra masih mengobrol di ruang tamu.


Ponsel Nara berdering, dia tersenyum saat melihat nama si penelepon dan buru-buru menjawabnya.


"Halo, Ren," sapa Nara.


"Kamu sudah pindah, ya?"


"Iya, tadi pagi. Memangnya kenapa?"


"Enggak apa-apa, aku cuma memastikan saja. Oh iya, aku minta alamat kamu yang baru, dong? Aku mau lihat ke sana!"


"Sekarang?" Nara memastikan.

__ADS_1


"Iyalah, sekarang! Siapa tahu aku bisa bantu beres-beres."


"Enggak usah, udah beres semua, kok. Tinggal susun pakaian ke lemari."


"Ya sudah, kalau begitu aku mau main aja ke sana."


Nara tertawa, "Oke, nanti aku akan share lokasinya ke kamu."


"Baiklah, sampai jumpa nanti."


"Sampai jumpa," balas Nara lalu menutup teleponnya.


Dia menghela napas, walaupun sekarang dia tinggal cukup jauh dari Rendy, tapi teman baiknya itu masih mau datang untuk mengunjunginya. Dia lantas membagikan posisinya saat ini kepada Rendy melalui pesan WhatsApp.


Tak ingin membuang-buang waktu, Nara pun segera merapikan pakaian ia dan Kenan, lalu menyusunnya ke dalam lemari. Namun mendadak kepalanya terasa pusing, dan pandangannya seketika gelap.


Nara buru-buru duduk di tepi ranjang, berharap rasa pening nya hilang. Tapi justru semakin parah dan darah kembali menetes dari hidungnya.


Dari kembali beranjak untuk mengambil tissue tapi tubuhnya lemas dan jatuh ke lantai. Dia pingsan.


Sementara itu di lantai bawah, Kenan sedang mengobrol serius dengan Hendra. Dia tak tahu apa yang terjadi dengan sang istri.


"Entah sampai kapan Mama akan terus bersikap seperti ini pada Nara?" keluh Kenan dengan wajah murung, semalaman dia enggak bisa tidur karena merasa bersalah telah membentak mamanya itu.


Sebenarnya Kenan hendak minta maaf sebelum pergi, tapi Hendra melarangnya dan meminta ia membiarkan amarah Windy reda dulu. Alhasil, Kenan urung meminta maaf pada sang ibunda.


"Kamu enggak usah merisaukan Mama, nanti Papa akan coba bicara padanya," sahut Hendra.


"Aku enggak mau Mama terus-terusan membenci Nara, Pa. Aku merasa bersalah setiap kali Mama menghina dan berkata kasar padanya."


"Kamu yang sabar! Papa yakin pelan-pelan Mama kamu pasti bisa menerima Nara, dia hanya butuh waktu."


Kenan mengembuskan napas berat, pernikahan mereka memang diawali dengan sebuah kesalahan dan dia sendiri sempat tak bisa menerima Nara sebagai istri. Tapi saat ini Tuhan membalikkan hatinya, sekarang dia mencintai Nara dan tak ingin kehilangan wanita itu. Dia berharap suatu saat sang mama juga sepertinya.


"Ya sudah, kalau begitu Papa pulang dulu. Kalau ada apa-apa cepat kabarin Papa!"


"Iya, Pa. Rencananya lusa aku dan Nara mau daftar kuliah, nanti kami akan hubungi Papa biar kita bisa bertemu di kampusnya."


"Baiklah. Oh iya, mana Nara?"


"Kayaknya di kamar, sebentar aku panggilkan!"


Hendra pun mengangguk.


Kenan bergegas naik ke lantai atas dan berjalan menuju kamar barunya yang tertutup. Kenan membuka pintu dan terhenyak saat melihat tubuh Nara tergeletak di lantai.


"Nara!" teriak Kenan panik.

__ADS_1


***


__ADS_2