
Rendy mengajak Nara ke taman di belakang rumahnya, wanita itu kembali merasa takjub bercampur senang saat melihat bunga-bunga bermekaran indah, ada kolam ikan dan banyak pohon buah-buahan juga di sana. Bahkan ada beberapa kandang hewan peliharaan milik ayahanda Rendy.
Nara sibuk memberikan wortel pada kelinci berbulu putih yang Rendy keluarkan dari kandangnya.
"Asyik banget bisa punya taman seperti ini," puji Nara.
"Kamu suka?" tanya Rendy.
"Suka banget, Ren. Andai saja aku punya rumah yang ada tamannya begini, aku pasti betah dan enggak bosan di rumah terus," sahut Nara.
"Kalau begitu kamu boleh ke sini kapanpun kamu mau, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu."
"Benar, Ren?"
Rendy mengangguk, "Jangankan hanya berkunjung, tinggal di sini juga boleh!"
Wajah Nara seketika berubah sendu, dan Rendy mengamatinya.
"Ra, kamu kenapa?"
"Hem, enggak apa-apa, kok!" sanggah Nara, kemudian mengalihkan pembicaraan, "Oh iya, kamu enggak punya saudara?"
"Sebenarnya aku punya seorang adik, tapi ...."
Mbok Asih tiba-tiba datang dengan tergopoh-gopoh dan menghampiri Rendy, "Mas Rendy, ada yang datang."
"Siapa, Mbok?"
"Aku!" Kenan muncul dari belakang Mbok Asih dengan wajah marah, dia menatap tajam Nara yang duduk di samping Rendy dengan jarak yang cukup dekat.
"Kau?" gumam Rendy pelan.
Mata Nara sontak melotot kala melihat wujud suaminya itu, mendadak perasaannya jadi tak enak, dia takut Kenan membuat masalah di sini.
"Mau apa kau ke rumahku?" Rendy bertanya dengan sinis, meskipun dia tahu tujuan Kenan datang pasti karena Nara.
"Aku mau menjemput istriku," jawab Kenan yang masih menatap tajam Nara.
"Aku bisa pulang sendiri, kok!" sela Nara.
"Kau dengar? Dia bisa pulang sendiri, jadi sebaiknya sekarang kau pergi dari sini!" Rendy mengusir Kenan.
Bukannya pergi, Kenan malah melangkah maju mendekati Nara dan Rendy, sorot matanya menyiratkan kemarahan. Nara yang takut dua pemuda itu berkelahi lagi sontak menghadang langkah sang suami.
"Kau mau apa? Jangan membuat keributan!"
"Kalau begitu mari pulang!" ajak Kenan.
"Iya, nanti aku akan pulang."
"Sekarang!" bentak Kenan, membuat Nara terperanjat kaget.
__ADS_1
"Hei, jaga sikapmu di rumah orang!" sungut Rendy.
"Diam kau!"
"Kau yang diam! Dasar pecundang enggak tahu malu!" balas Rendy tak mau kalah.
"Tutup mulutmu, berengsek!" Kenan hendak memukul Rendy, tapi dengan sigap Nara menghalanginya.
"Sudah!" jerit Nara, dia memutuskan untuk mengalah, "Iya, aku pulang sekarang!"
Rendy spontan menatap Nara, "Ra!"
"Ren, aku enggak mau membuat keributan di sini, jadi sebaiknya aku pulang saja. Terima kasih untuk semuanya, nanti kapan-kapan aku ke sini lagi," ucap Nara lembut, sangat berbeda dengan ketika dia bicara pada Kenan.
"Baiklah, kalau ada apa-apa cepat beritahu aku." Rendy berbicara seraya melirik Kenan yang masih menatap tajam dirinya.
Nara mengangguk patuh.
Rendy sengaja mengangkat tangannya lalu mengusap kepala Nara, "Jaga kesehatan mu dan banyak istirahat, ya!"
Tentu saja hal itu membuat Kenan marah dan cemburu. Dengan kasar dia langsung menarik lengan Nara agar menjauh dari Rendy.
"Jangan sentuh istriku!"
"Kau ini apa-apaan, lepaskan aku!" Nara memberontak, tapi Kenan mencekal lengannya dengan kuat.
"Ayo pulang!" Kenan lantas menyeret Nara pergi dari rumah sahabat sekaligus rivalnya itu.
Rendy memandangi kepergian Nara dan Kenan dengan tatapan tak terbaca, wajah ramahnya seketika berubah sinis.
***
Kenan menyeret Nara masuk ke kamar lalu menutup pintu dan menguncinya, emosi pemuda itu sudah naik sampai ke ubun-ubun, dia tak bisa berpikir jernih lagi karena saking marahnya.
Nara hanya meringis sambil mengusap lengannya yang sakit karena dicekal oleh Kenan tadi.
"Kenapa kau ke rumahnya?" tanya Kenan sembari melangkah mendekati Nara.
"Aku bosan di rumah terus, sementara ponselku kau sita. Jadi aku main ke rumahnya," jawab Nara, dia sedikit takut melihat tatapan mata Kenan.
"Bukankah aku sudah memperingatkan mu agar enggak keluar rumah tanpa aku? Tapi kenapa kau tetap keluar, dan ke rumah si berengsek itu pula!"
"Memangnya kenapa? Kau enggak bisa melarang aku untuk keluar apalagi ke rumah temanku! Kau enggak berhak!"
"Aku berhak karena aku masih suamimu!" bentak Kenan marah.
"Kalau gitu cepat ceraikan aku! Biar kau enggak perlu repot-repot ngurusin aku mau ke mana!" balas Nara kesal.
Kata-kata Nara benar-benar membuat kesabaran Kenan habis, dia marah dan tanpa pikir panjang dia langsung mendorong Nara hingga jatuh terlentang di atas kasur, kemudian menindih istrinya itu.
"Kau mau apa?" Nara mendadak takut.
__ADS_1
"Aku mau kau sadar dengan statusmu sebagai istriku, dan sampai kapanpun aku enggak akan menceraikan mu," ujar Kenan, kemudian langsung mencium bibir Nara dengan beringas.
Nara meronta-ronta, namun Kenan menahan kedua tangannya ke kasur. Meskipun Nara memberontak, Kenan tak peduli. Setelah puas menciumi Nara, dia melepas tautan bibir mereka lalu menyingkap rok selutut yang wanita itu kenakan.
"Jangan! Aku mohon jangan!" Nara semakin ketakutan saat Kenan menarik underwear nya hingga robek, air matanya bahkan sampai jatuh menetes.
Kenan terus melancarkan aksinya tanpa memedulikan Nara yang memohon dan menangis, dia benar-benar sudah seperti orang kesetanan.
"Tolong! Tol ...." teriakkan Nara terhenti saat Kenan kembali membungkam mulut wanita itu dengan mulutnya.
Nara benar-benar ketakutan, dia terus-terusan meronta, namun tenaga Kenan jauh lebih kuat darinya. Dia pun kembali teringat malam kelam yang telah merusak hidupnya, hatinya semakin hancur dan sedih.
Walaupun dengan susah payah karena Nara terus memberontak, Kenan akhirnya berhasil menyatukan diri mereka setelah menembus sesuatu yang hangat di bawah sana. Dia memejamkan mata dan melepaskan tautan bibir mereka.
"Ah, Nara." Kenan mendesah.
"Jangan!" Nara menangis, dia tak rela Kenan kembali menidurinya.
Dengan pelan tapi teratur Kenan mulai bergerak, mengarungi telaga kenikmatan yang begitu melenakan. Dia kembali mencium bibir Nara, tangannya mulai meraba setiap inci tubuh istrinya itu.
Nara hanya bisa pasrah saat Kenan terus menekan daerah intinya, dia begitu takut dan terluka hingga tak bisa merasakan kenikmatan apa pun, sepanjang pergulatan panas itu, dia hanya bisa menangis terisak-isak.
Sementara Kenan terus menuntaskan hasratnya yang sudah bercampur emosi, dia tahu Nara tak terima, namun dia tak peduli. Dia hanya berusaha membuat wanita yang dia cintai itu tetap menjadi miliknya.
"Ah, Nara." Kenan kembali mendesah sambil memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian, Kenan terkulai lemas di sisi Nara setelah memuntahkan miliknya, tubuhnya banjir keringat dengan napas tersengal-sengal. Dia baru saja merasakan surga dunia walaupun harus bermain sendiri karena Nara tak meresponnya sama sekali.
Kenan lantas menoleh ke arah Nara yang masih terisak-isak, wanita itu sudah meringkuk membelakanginya. Dia memeluk tubuh kurus Nara dari belakang dan mengecup kepala wanita itu.
"Maafkan aku! Aku terpaksa melakukan semua ini karena aku takut kehilangan dirimu, aku enggak mau kita berpisah," bisik Kenan di telinga Nara, namun istrinya itu tak menjawab dan malah semakin terisak.
Kenan merasa bersalah, dia tahu saat ini Nara pasti sangat marah padanya, "Nara, kau boleh marah dan menghukum aku apa saja. Tapi aku mohon jangan pernah tinggalkan aku! Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku dan memperbaiki semuanya."
"Kalau gitu menjauh lah dariku, dan jangan pernah sentuh aku lagi! Itu hukuman untukmu," ujar Nara lirih.
Kenan terhenyak mendengar permintaan Nara, bukan hukuman seperti itu yang dia maksud.
"Ra, aku rela kau pukul atau pun kau siksa, tapi jangan minta aku menjauh darimu! Aku enggak bisa!" keluh Kenan.
"Menjauh atau aku akan pergi dari sini untuk selamanya!" ancam Nara.
Kenan mengembuskan napas pasrah, dia mengurai pelukannya dan bergerak menjauh dari Nara. Dia pikir wanita itu akan luluh, tapi nyatanya dia salah.
"Ra, jangan begini! Enggak bisakah kita berdamai?" Kenan masih berusaha untuk membujuk istrinya itu.
Nara tak menjawab, dia mengangkat badannya yang lemas dan setengah telanjang, lalu berjalan tertatih menuju kamar mandi. Hatinya benar-benar sakit akibat perbuatan Kenan, apakah dia begitu rendah di mata suaminya itu hingga harus diperlakukan seperti ini? Dia merasa hina dan tak punya harga diri.
Nara menyalakan shower dan membiarkan seluruh tubuhnya basah kuyup, dia berjongkok lalu menangis sejadi-jadinya.
"Aku benci kau, Kenan! Aku benci!" teriak Nara pilu.
__ADS_1
Dari luar kamar mandi, Kenan bisa mendengar teriakkan Nara itu. Hatinya sedih dan semakin diliputi perasaan bersalah. Segitu bencinya kah Nara terhadap dirinya? Apa dia tak pantas mendapatkan kesempatan untuk berubah dan memperbaiki kesalahannya?
***