
Mentari pagi sudah mulai merangkak naik, cahaya hangatnya memasuki celah-celah jendela kamar dan menerpa wajah Nara. Wanita berparas ayu itu terbangun dan mengerjap beberapa kali, dia lalu membuka matanya yang masih terasa berat. Dengan malas Nara bangkit lalu meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku, meskipun dia sudah tidur nyenyak semalaman, tapi tetap saja dia merasa lelah dan lesu.
Nara beranjak, namun dia terkejut saat melihat ranjang Kenan sudah kosong.
"Ke mana dia? Apa di kamar mandi?" tebak Nara, dia menajamkan indera pendengarannya, berusaha menangkap suara dari dalam kamar mandi, tapi hening dan tak terdengar suara apa pun.
Nara lantas melangkah menuju bilik berukuran tiga kali empat itu, dia mendorong pelan pintunya dan terbuka. Tidak ada siapa pun di dalam sana.
"Dia enggak ada. Apa dia sudah bangun? Tapi tumben banget dia bangun pagi-pagi buta seperti ini."
Tak ingin memusingkan tentang Kenan, Nara pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setengah jam kemudian Nara turun, dia sudah mandi dan berganti pakaian. Sebelum membantu Bi Ani seperti biasanya, Nara ingin menjenguk Rena dulu di taman belakang.
Tapi alangkah terkejutnya dia saat mendapati kandang Rena kosong, kelinci gemas pemberian Rendy itu tak ada.
"Ya Tuhan, Rena mana?" Nara sontak panik, dia celingukan kesana-kemari, dan pandangannya terhenti pada sosok yang paling dia hindari, Kenan.
Tak jauh dari tempat Nara berdiri, Kenan sedang duduk santai di gazebo kayu sambil bermain gadget, dan yang membuat Nara lebih terkejut, makhluk putih lembut yang dia cari sedang berlarian kesana-kemari.
"Rena!"
Nara langsung berlari menghampiri kelinci lucu itu, dan mengabaikan keberadaan Kenan. Namun menangkap Rena ternyata tak semudah yang Nara pikirkan, kelinci itu sangat lincah dan gesit berlari setiap kali Nara hendak menyentuhnya. Kenan yang melihat Nara kewalahan mengejar kelinci piaraannya itu hanya terkekeh.
"Rena, ke sinilah! Jangan membuat aku lelah," ujar Nara yang tak berhasil menangkap Rena, kelinci itu terus berlari saat Nara mendekatinya.
Rena berhenti tak jauh dari Nara dan memakan rumput, dengan cepat Nara berjalan mendekatinya, tapi kelinci itu malah melompat dan berlari. Nara benar-benar kesal.
Kenan tertawa, Nara hanya melirik sinis sang suami yang masih betah duduk santai di gazebo tanpa berniat membantunya menangkap Rena.
Nara masih berusaha mengabaikan Kenan, dia berjalan ke arah Rena yang kembali memakan rumput. Namun lagi-lagi dia gagal menangkap kelinci itu.
"Ih, Rena! Kenapa sih kamu bisa lepas! Bikin aku capek aja!" sungut Nara kesal, dia sudah lelah mengejar-ngejar Rena.
"Aku yang lepaskan!" jawab Kenan santai.
Nara sontak menoleh ke arah Kenan dan menatap pemuda itu dengan tajam, "Kenapa kau lepaskan?"
"Karena kelinci itu enggak baik kalau dikurung terus," sahut Kenan, dia senang karena rencananya berhasil.
"Siapa bilang? Di pet shop semua binatang dikurung termasuk kelinci dan enggak ada yang protes, kok!" bantah Nara.
"Memangnya kau tahu kalau mereka protes? Enggak, kan? Lagian kelinci itu butuh tempat berumput yang luas, jadi dia bisa bergerak bebas sambil makan rumput segar," ujar Kenan sok tahu.
Nara bergeming menahan kesal, bicara dengan Kenan hanya membuat emosinya bertambah.
"Kau saja enggak mau kan dikurung terus, apalagi kelinci yang habitatnya di alam terbuka," lanjut Kenan.
__ADS_1
"Kau benar-benar menyebalkan! Pokoknya aku enggak mau tahu, tangkap Rena sekarang juga dan masukkan kembali ke kandang!" sungut Nara kesal.
"Jadi namanya Rena? Ada nama panjangnya enggak?" ledek Kenan lalu terkekeh geli.
"Cepat tangkap!" bentak Nara yang semakin jengkel mendengar Kenan bercanda.
"Iya-iya, aku tangkap." Kenan menyimpan gadgetnya dan turun dari gazebo.
"Kita harus kerja sama agar bisa menangkapnya, jadi dia enggak bisa kabur," usul Kenan.
Nara mengernyit, "Kerja sama gimana?"
"Kau dari sana dan aku dari sini, kita kepung dia. Saat di tersudut, langsung tangkap. Tapi bergeraknya pelan, biar dia enggak takut." Kenan mengatur strategi.
Keduanya pun mengambil posisi masing-masing dan mulai mendekati Rena dengan sangat perlahan, kelinci gemas itu masih tetap tenang mengunyah rumput.
"Satu, dua, tiga!" Kenan langsung menangkap Rena setelah hitungan ketiga.
Nara senang bercampur lega, dia hendak merebut Rena dari tangan Kenan, tapi pemuda itu mengelak.
"Eh, tunggu dulu!"
"Apa-apaan kau? Kesini kan Rena!" kesal Nara.
"Aku sudah membantu menangkapnya, jadi harus ada imbalan."
"Ya sudah, kalau begitu aku lepaskan lagi dia!" ancam Kenan.
"Eh, jangan-jangan!"
Kenan menyeringai.
"Kau mau imbalan apa? Jangan yang aneh-aneh!" tutur Nara ketus.
"Aku mau kau berhenti mengabaikan aku, dan kita berbaikan," pinta Kenan.
Nara terhenyak, "Oh, jadi ini tujuan kau melepaskan Rena? Dasar licik! Jangan harap aku mau berbaikan denganmu!"
"Kalau begitu kau tangkap saja sendiri!" Kenan melepaskan Rena lagi, dan kelinci lucu itu langsung berlari menjauh.
Nara tercengang melihat tingkah suaminya itu, "Kau! Kenapa kau melepaskannya lagi?"
"Karena kau enggak mau berbaikan denganku," sahut Kenan enteng, dia memang sengaja ingin membuat Nara kesal untuk mencari perhatian wanita itu.
"Kau benar-benar keterlaluan!" Nara kesal minta ampun, dia merajuk dan berlalu pergi dari hadapan Kenan, namun baru beberapa langkah, tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan pandangannya mulai kabur.
Nara memegangi kepalanya, "Kenapa pusing sekali?"
__ADS_1
Melihat istrinya itu berhenti sambil memegangi kepala, Kenan mendadak cemas. Dia bergegas berlari mendekati Nara, "Kau kenapa?"
"Kepalaku pusing," adu Nara.
"Kalau begitu duduk dulu!" Kenan memegangi Nara dan memapah istrinya itu menuju gazebo, anehnya Nara tak menolak.
"Hati-hati!" Kenan membantu sang istri duduk.
Nara menyandarkan kepalanya di tiang gazebo yang terbuat dari kayu itu lalu memejamkan mata untuk mengurangi rasa pusing yang menyerangnya.
"Mau aku ambilkan minum?" tanya Kenan, dan Nara hanya mengangguk.
Kenan langsung berlari masuk, meninggalkan Nara di gazebo. Windy yang melihat putranya itu berlarian di dalam rumah dengan wajah panik, merasa penasaran.
Tak lama kemudian Kenan kembali ke taman belakang sambil membawa segelas air putih untuk Nara.
"Ini minumlah!"
Nara membuka mata dan meraih gelas di tangan Kenan, dengan penuh perhatian pemuda itu membantu sang istri minum.
"Sudah?" Kenan memastikan saat Nara berhenti minum, dan lagi-lagi wanita itu hanya mengangguk.
"Apa sekarang masih pusing?"
"Masih," sahut Nara yang kembali memejamkan matanya.
"Kau enggak mau minum obat pereda nyeri? Atau sebaiknya kita ke rumah sakit saja?"
Nara menggeleng, "Enggak usah! Nanti pusingnya juga hilang, aku hanya butuh istirahat."
"Aku perhatikan kau sering sekali pusing bahkan sampai pingsan, terus kemarin juga mimisan. Aku khawatir kau mengidap penyakit yang serius."
"Enggak perlu mengkhawatirkan aku!" balas Nara ketus.
"Bagaimana aku enggak khawatir? Kau itu istriku dan aku mencintaimu!"
"Sudah, diamlah! Aku malas mendengarnya!" pungkas Nara.
Kenan terdiam, tadinya dia berpikir Nara sudah mau memaafkannya, tapi ternyata wanita itu belum mau berdamai dengannya. Dia pun mendesah kecewa kemudian beranjak dari sisi sang istri.
Karena tak lagi mendengar suara Kenan, Nara lantas membuka mata untuk memastikan apa yang pemuda itu lakukan saat ini. Rupanya Kenan sedang berusaha mengejar Rena yang berlari dengan gesit, dia sepertinya kesulitan menangkap kelinci itu karena seorang diri. Bahkan dia hampir saja terjatuh karena tersandung.
Melihat itu, tanpa sadar Nara tersenyum. Sejujurnya dia mulai luluh setelah tahu jika suaminya itu rela berkorban untuk menyelamatkan dirinya dari tuduhan Windy, namun rasa marah, benci dan sakit hati lebih mendominasi.
Dari jendela ruang makan, Windy mengawasi mereka dengan perasaan geram.
"Aku harus memisahkan mereka, dan aku akan buat perempuan kampung itu sadar siapa dirinya," batin Windy.
__ADS_1
***