
Kenan baru saja memejamkan mata, namun suara pintu yang dibuka seketika menarik perhatiannya. Dia kembali membuka matanya lalu melirik ke arah pintu dan terkejut melihat Nara masuk dengan wajah yang pucat serta lesu, namun dia masih kesal karena kejadian tadi malam dan memilih untuk mengabaikan istrinya itu.
Tapi Kenan tidak mengingat apa yang dia lakukan pada Nara semalam, dia bahkan lupa kalau Nara menamparnya.
Nara melangkah perlahan, kepalanya benar-benar pusing, tubuhnya lemas dan kedinginan. Dia tahu Kenan memperhatikannya, namun dia sedang tak ingin memedulikan pemuda itu. Sama seperti Kenan, dia juga masih kesal dan marah atas kelakuan sang suami.
Tubuh Nara semakin lemas tak bertenaga, dia merasa kelelahan dan sedikit mual. Kakinya terus melangkah pelan menuju sofa tempat biasa dia tidur, tapi rasa pusing di kepalanya kian menjadi, matanya juga mulai berkunang-kunang.
Nara hampir saja limbung dan terjatuh, namun dia buru-buru berpegangan pada dinding kamar.
"Aduh!" Nara merintih sembari memegangi kepalanya.
Kenan yang melihat itu langsung melompat dari ranjang dan menghampiri Nara.
"Kau kenapa?" tanya Kenan cemas, rasa kesalnya mendadak hilang.
"Aku enggak apa-apa," jawab Nara sedikit ketus, dia memaksakan diri untuk berjalan namun lagi-lagi tubuh kurusnya nyaris jatuh, beruntung Kenan sigap menangkapnya.
"Badanmu panas sekali! Kau sakit?" Kenan mendadak panik saat merasakan tangan Nara yang panas.
Nara menepis tangan Kenan, "Aku enggak apa-apa!"
"Enggak apa-apa gimana? Kau ini demam dan wajahmu sangat pucat, sebaiknya sekarang kita ke rumah sakit!"
"Enggak usah! Aku mau tidur saja! Nanti juga sembuh!" bantah Nara yang masih bersikeras ingin melanjutkan langkahnya mendekati sofa.
"Tapi kau harus ...." Kenan tak melanjutkan kata-katanya karena terkejut melihat darah menetes keluar dari hidung istrinya itu, "ya ampun, hidung mu berdarah!"
Nara sontak mengusap cairan merah yang terus merembes keluar dari hidung mancungnya.
Tanpa pikir panjang, Kenan langsung mengangkat tubuh kurus Nara dan menggendongnya.
"Lepaskan aku!" Nara memberontak tapi Kenan tak peduli.
Dengan hati-hati Kenan mendudukkan Nara di atas kasur, kemudian bergegas mengambil tisu dan mengelap darah yang terus menerus menetes.
"Aku bisa sendiri!" Nara merebut tisu itu dari tangan Kenan kemudian mengelapnya hidungnya sendiri.
"Kita ke rumah sakit aja, ya?" bujuk Kenan.
Nara menggeleng, "Enggak usah! Aku cuma butuh istirahat."
"Tapi hidung mu berdarah, aku khawatir kau sakit parah," ujar Kenan panik dan cemas.
"Kau enggak perlu repot-repot mengkhawatirkan aku, lagian kalau aku sakit sakit parah dan mati, itu lebih baik daripada hidup seperti ini," ucap Nara lemah.
__ADS_1
Kenan tertegun mendengar kata-kata Nara, dia tahu wanita itu sedang menyindir dirinya. Namun ini bukan saat yang tepat untuk berdebat dan bertengkar, dia terlalu cemas dengan keadaan sang istri.
Kenan menghela napas panjang, "Kalau begitu berbaringlah! Aku akan ambilkan obat penurun panas dan air minum."
Tanpa menunggu persetujuan Nara, Kenan buru-buru berlari ke dapur untuk mengambil air minum dan obat.
Melihat sikap dan perhatian Kenan itu entah mengapa membuat hati Nara sedikit senang, dia merasa seperti dipedulikan.
Dia pun berbaring setelah darah tak lagi keluar dari hidungnya, kepalanya masih terasa pusing dan tubuhnya juga masih lemas.
Tak lama kemudian Kenan balik lagi sambil membawa nampan yang berisikan sepotong roti, segelas air putih dan obat penurun panas. Tadi dia bertemu Bi Ani di dapur dan wanita itu mengatakan jika Nara belum makan apa-apa.
"Kau belum sarapan, kan? Jadi makanlah dulu sebelum minum obat!" Kenan duduk di sisi Nara lalu menyodorkan sepotong roti itu ke depan mulut istrinya tersebut.
Nara kembali menggeleng, "Aku enggak selera!"
"Tapi kau harus makan agar perutmu enggak kosong dan kau bisa minum obat. Makanlah sedikit aja!" bujuk Kenan lagi.
"Aku enggak mau!" tolak Nara.
"Aku mohon makanlah!" harap Kenan, dia menatap Nara dengan cemas.
Nara seperti terhipnotis dengan permohonan Kenan itu, dia lantas membuka mulutnya dan memakan roti tersebut.
Kenan tersenyum lega karena Nara akhirnya mau makan.
"Kalau begitu sekarang minum obatnya!" Kenan menyuap satu tablet obat ke dalam mulut Nara, kemudian membantu sang istri untuk minum.
"Sudah?" Kenan memastikan.
Nara hanya mengangguk dan kembali berbaring.
"Kau yakin enggak mau ke rumah sakit?"
"Enggak." Nara langsung memejamkan matanya, berharap rasa pening di kepalanya bisa hilang.
Melihat Nara memejamkan mata, Kenan pun bergeming. Dia menatap dalam-dalam wajah pucat sang istri, mendadak ada rasa gundah dan resah di dalam hatinya.
"Sebenarnya kau sakit apa? Kenapa kau pucat sekali?" batin Kenan cemas, mengapa belakangan ini banyak hal tentang Nara yang menjungkirbalikkan perasaannya?
Tok ... tok ... tok.
Kenan sontak menoleh saat terdengar suara ketukan, dia segera beranjak dari sisi Nara dan membuka pintu.
"Papa?" ucap Kenan saat melihat Hendra sudah berdiri di depan kamarnya.
__ADS_1
"Mana Nara? Sejak tadi Papa enggak melihatnya," tanya Hendra.
"Di sedang tidur, Pa," sahut Kenan.
Hendra mengernyit, "Tidur? Ini sudah hampir siang!"
"Dia sedang sakit, badannya panas dan lemas, kulitnya juga pucat, terus tadi hidungnya keluar darah," adu Kenan.
Hendra terkesiap dan mendadak cemas, "Kalau begitu kenapa enggak dibawa ke rumah sakit?"
"Dia enggak mau, Pa. Katanya mau istirahat saja."
"Tapi dia harus mendapatkan penanganan medis, siapa tahu ada penyakit berbahaya."
"Aku juga sudah bilang begitu, tapi dia tetap enggak mau."
"Biar Papa yang ajak!" Hendra menyelonong masuk dengan langkah yang lebar, tapi Kenan menghalanginya.
"Jangan, Pa! Dia baru saja tertidur, kasihan kalau dibangunkan."
Hendra termangu, dia sedikit terkejut mendengar Kenan peduli dan perhatian pada Nara.
"Nanti saja kalau dia sudah bangun, baru Papa paksa ke rumah sakit," lanjut Kenan.
"Baiklah, nanti kalau Nara sudah bangun, beritahu Papa! Dia harus mengecek kondisinya ke rumah sakit."
Kenan mengangguk, "Iya, Pa."
"Ya sudah, kau temani dia! Siapa tahu dia butuh sesuatu."
Kenan kembali mengangguk.
Hendra pun segera keluar dari kamar Kenan dengan perasaan tenang dan senang karena sikap sang putra sudah mulai berubah lebih baik terhadap Nara, meskipun hatinya merasa cemas dengan keadaan menantunya itu.
Selepas kepergian sang ayah, Kenan segera menghubungi Han dan meminta maaf karena tidak bisa mengantar kepergian sahabatnya itu. Dia berdalih jika tiba-tiba ada urusan mendadak dan tak bisa di tunda. Walaupun awalnya Han sempat marah tapi akhirnya bocah itu bisa mengerti dan berpamitan pada Kenan.
Baru saja mengakhiri pembicaraan dengan Han, pintu kamarnya kembali diketuk oleh Bi Ani.
"Ada apa, Bi?"
"Hem, anu, Mas. Di bawah ada Mas Rendy," beber Bi Ani sedikit gugup sebab sebenarnya Rendy mencari Nara.
"Mau ngapain dia?"
"Bibi enggak tahu, Mas," jawab Bi Ani sambil tertunduk.
__ADS_1
Kenan bergegas turun untuk menemui sahabat sekaligus rivalnya itu.
***