Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 196 Benar - Benar Miris


__ADS_3

Tiga menit berlalu, Haikal masih tetep diam tak mengeluarkan suaranya walau hanya satu kata.


Hal ini membuat Bagas langsung menyimpulkan bahwa ucapannya salah. Karena telah ikut untuk menjawab ucapan Haikal.


Di saat pikiran itu muncul Haikal yang sedari tadi diam. Kini mulai mengeluarkan suaranya.


"Ucapan lo mungkin ada benernya bro. Ya sudah kita lanjukan saja jalannya. Mungkin di depan sana kita bisa menemukan mereka." Kata Haikal yang cukup lama terdiam langsung membalas ucapan Bagas sambil menunjuk arah depan dengan jari telunjuk sebelah kanan miliknya.


Dengan cepat Bagas langsung menjawab ucapan Haikal.


"Oke bro, let's go." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


Setelah itu yang terdengar hanya lah suara langkah kaki mereka yang begitu cepat dan terkesan terburu - buru.


"Bro, ini kita yakin mau jalan kaya gini. Lumayan capek loh bro kalau jalan tergesa kaya gini. Gue takutnya karena kita terlalu fokus berjalan sampai lupa tengok kiri dan kanan. Bukannya itu akan mempersulit kita menemukan mereka." Kata Bagas di saat mereka melangkahkan kaki.


"Lo tenang aja mata gue jeli ko. Sedari tadi memang nggak ada yang keliatan sedikit pun baik baju yang mereka kenakan atau rambut sekali pun. Jadi lo nggak perlu khawatir kaya gitu. Intinya yang terpenting kita bisa sesegera mungkin menemukan mereka." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Ya sudah lah kalau itu menurut mu. Aku mah apa, hanya bisa ikut aja." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Oke, jadi lebih baik lo diam aja. Tapi jangan lupa buat tengok kiri dan kanan. Kalau sama - sama yang cari mungkin bisa cepat ketemu. Jadi lo harus tengok kiri dan kanan." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Sedari tadi gue juga lakuin itu. Lo nih nggak liat apa?" Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Gimana gue mau liat, lo aja berada di belakang tubuh gue. Terus cara gue liat lo dengan kaya gimana." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Pikirkan aja sendiri caranya kaya gimana. Gue males kalau harus jelasin ntar malah panjang seperti jalan kereta." Kata Bagas membalas asal ucapan Haikal.


"Ya sudah lah, kalau lo nggak mau jelasin. Gue nggak perlu tau aja." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.

__ADS_1


Kemudian diantara mereka berdua pun tak ada lagi percakapan karena saat ini mereka berdua lebih fokus untuk mencari Yeni, tante Ratna dan Ryan.


Sementara Rindi di dalam mobil kini mulai mengeluarkan suara nya pada ibu.


"Bu... boleh Rindi tanya sesuatu." Kata Rindi sedikit ragu saat mengucapkan perkataan tersebut pada ibu.


"Kamu mau tanya apa sayang." Kata ibu yang kini mengusap kepala Rindi dengan lembut. Berhubung posisi Rindi sedang menyandarkan kepala di bahu ibunya.


"Kalau sewaktu - waktu Rindi pergi tanpa izin sama ibu atau ayah. Apa nanti ibu sama ayah akan memaafkan Rindi." Kata Rindi membalas ucapan ibu.


"Apa maksudmu sayang, kamu nggak berencana kabur kan." Kata ibu yang langsung khawatir.


"Rindi hanya tanya aja ko bu. Lagian kalau Rindi kabur Rindi mau kabur kemana. Di rumah aja di jaga begitu ketat. Bagaimana caranya Rindi kabur." Kata Rindi mencoba membuat ibu agar tak curiga dengan ucapannya tadi. Walau sebenarnya ia memang berencana akan kabur dari rumah malam ini.


"Apa yang kamu ucapkan memang ada benarnya sayang. Tapi, mamah masih ragu kalau kamu nggak akan nekad lakuin itu. Ayo jujur sama ibu, kamu mau kabur dari rumah." Kata ibu yang kini langsung mendesak Rindi untuk jujur.


"Ibu hanya ingatkan kamu sayang, jangan pernah melakukan kesalahan kalau kamu tak ingin menyesal di kemudian hari. Satu lagi jangan pernah menghindar dari sebuah masalah tapi hadapi lah masalah itu agar cepat selesai." Kata ibu membalas ucapan Rindi.


"Baik bu, semoga Rindi bisa seperti itu." Kata Rindi membalas ucapan ibu.


Tak ada lagi percakapan diantara mereka berdua. Karena saat ini Rindi lebih memilih memejamkan matanya.


Kemudian tanpa sadar ia pun langsung tertidur.


"Maafin ibu sayang, ibu nggak bisa bantu kamu. Ibu tau pernikahan ini tak kamu inginkan tapi ibu malah nggak bisa bantu kamu. Ibu sedih melihat kamu seperti ini." Kata ibu sambil melihat Rindi yang tertidur di bahunya.


Sementara di perusahan Aldiano saat ini. Mereka semua sedang bekerja kerasa untuk membuat perusahaan kembali stabil. Tetapi sampai detik ini tak ada perkembangan satu pun dari usaha mereka.


Membuat Aldiano hanya bisa duduk terdiam di kursi kerjanya. Sambil berkata di dalam hati.

__ADS_1


"Kalau semua ini terus berlangsung, aku harus bersedia menikah. Hem... apa ini jalan satu - satunya."


"Kalau aku nikah, apa pernikahan ku akan berjalan dengan baik atau malah sebaliknya."


"Aku nggak mungkin merusak kehidupan gadis yang bersedia nikah dengan ku. Hanya karena aku takut perusahan ku tak bisa kembali stabil."


Itulah kata - kata yang di keluarkan Aldiano di dalam hatinya.


Di usaplah wajahnya itu dengan telapak tangannya.


"Sepertinya aku harus mempertimbangkan lagi keputusan ku." Kata Haikal kemudian membuka matanya.


Lalu kembali berdiri dan langsung melangkahkan kaki ke ruangan istirahat yang ada di ruangan miliknya.


Sebuah kamar yang ia sengaja buat untuk istrirahat untuk meregangkan otot - otot tubuhnya. Jika ia merasa sudah tak bisa melanjutkan lagi pekerjaannya.


Hal yang bisa ia lakukan adalah masuk ke dalam kamar tersebut lalu merebahkan diri di tempat tidur yang ada di kamar itu.


Tiga puluh menit berlalu, ia masih berada di tempat tidur itu. Entahlah ia sedang memikirkan apa. Tapi yang jelas saat ini ia hanya melihat ke atas. Tanpa sedikit pun menengok ke kiri atau pun ke kanan.


"Aku benar - benar bingung. Apa yang harus aku putuskan. Aku takut tak bisa menjalankan apa yang telah aku putuskan nanti dengan baik. Argh... kenapa sesulit ini sih." Kata Aldiano sambil mengacak - acak rambutnya.


"Papah juga kenapa harus pake syarat sih kalau mau bantu. Mana syaratnya harus nikah. Aku kan nggak mau nikah cepat. Argh... Semuanya bikin aku pusing." Kata Aldiano semakin emosi jika ia terus mengingat - ingat mengenai syarat dari papahnya yang meminta ia untuk segera menikah.


Bukannya pernikahan itu harus dilakukan oleh orang yang benar - bener siap. Sementara dirinya jangankan siap untuk menikah. Mengenal seorang perempuan dengan dekat saja tak pernah ia lakukan. Lalu ia akan menikah dengan perempuan yang mana.


Benar - benar miris bukan kehidupannya. Ia memang punya segalanya tapi kalau urusan perempuan ia tak pernah terlalu sibuk memikirkan itu. Karena menurutnya itu bisa dipikirkan nanti setelah ia benar - bener siap.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2