
"Apa lo bilang gue cewek aneh. Lah kalau gue cewek aneh ngapain lo nikahin gue. Bukannya secara otomatis lo juga cowok yang aneh karena nikasih cewek aneh. Dasar bodoh." Kata Rindi membalas ucapan Aldiono dengan emosi. Bahkan perkataan aku, kamu pun berubah menjadi lo, gue. Selain itu Rindi bahkan berani mengatai Aldiono bodoh.
Hal ini membuat Aldiano emosi karena baru pertama kalinya ada cewek yang mengatai dirinya bodoh, selain ibunya ketika merasa kesal pada dirinya di waktu kecil. Namun itu dulu tidak di saat usianya sekarang ini.
Maka orang pertama yang mengatai dia bodoh itu Rindi, karena selama ini tak pernah ada yang bilang bodoh.
Selain memiliki wajah yang ganteng Aldiano juga terkenal dengan kejeniusan dalam berbisnis bahkan memenangkan tender yang sangat pantastis sering ia dapatkan. Menguasai hampir semua bahasa di dunia. Bahkan masih banyak lagi penghargaan - penghargaan yang ia dapat sewaktu masih sekolah dulu.
Baik olimpiade Nasional maupun internasional semua itu bahkan menjadi juara no one dalam semua bidang perlombaan yang ia ikutin.
Namun, Rindi dengan mudahnya mengatai dirinya bodoh. Bukannya itu sangat menyakiti hatinya.
Dengan langkah cepat, Aldiono kemudian menghampiri Rindi yang sedang berbaring di tempat tidur dengan keadaan terlentang.
Saat Aldiano sudah berada di dekat Rindi. Ia kemudian mengeluarkan suara.
"Coba kamu ulang kata - kata mu yang terakhir. Aku ingin mendengar lagi." Kata Aldiano dengan suara yang terkesan diingin.
Rindi yang kaget karena Aldiano kini telah berdiri di samping tempat tidur pun. Mulai duduk dengan tergesa. Setelah itu ia menjawab ucapan Aldiano.
"Em... itu... anu... ucapan yang mana?" Kata Rindi yang gugup saat membalas ucapan Aldiono.
"Ucapan kamu yang terakhir. Jangan pura - pura tidak tau. Segera lah ulangi." Kata Aldiono semakin mendesak Rindi untuk mengulangi ucapannya.
"Argh... mana gue tau bodoh kalau lo nggak kasih tau gue. Dasar dodol lo, udah bodoh dodol lagi. Argh... pergi sana, pusing denger ocehan lo itu." Kata Rindi yang malah lepas kendali karena ucapan Aldiano yang terkesan bertele - tele.
Aldiano yang mendapatkan perkataan bodoh lagi. Kemudian di tambah dengan kata dodol dan di usir seperti itu. Kemudian lepas kendali.
Ia pun mulai memegang pundak Rindi dengan mata yang tajam. Setelah itu menekan pegangan tangannya sangat kencang membuat Rindi kesakitan.
__ADS_1
"Argh... sakit bodoh, lepasin. Argh... sakit, sakit." Kata Rindi yang berteriak cukup kencang.
"Dengarkan baik - baik, apa yang harus kamu perbaiki dalam berbicara dengan ku. Pertama jaga ucapanmu jangan sampai ucapan yang keluar dari bibir mu itu hanya umpatan dan umpatan terus menerus. Yang kedua jangan sekali lagi kamu bilang aku ini bodoh. Karena aku tak seperti yang kau bilang." Kata Aldiono dengan lantang berbicara pada Rindi.
"Cuih... jadi karena gue bilang lo bodoh. Lo sampai nyakitin bahu gue. Dasar pecundang lo plus bodoh, bodoh dan bodoh. Itu lah lo orang bodoh." Kata Rindi yang sedikit meludah, kemudian ia pun kembali mengata - ngatai Haikal dengan umpatan yang tak Aldiano sukai.
Hal ini membuat Aldiano semakin tersulut emosi sehingga dengan sangat cepat ia pun langsung mendorong tubuh Rindi yang terduduk tersebut ke tempat tidur. Hingga Rindi kini terbaring dengan terlentang di tempat tidur.
Setelah itu, Aldiano pun mulai mendekatkan tubuh nya di atas tubuh Rindi. Membuat Rindi mengerutkan alis. Karena tindakan Aldiano ini.
"Dia kenapa mendekatkan tubuhnya sih. Mau apa coba?" Kata Rindi di dalam hati nya.
Ketika selesai berbicara di dalam hati. Rindi di kejutkan dengan sesuatu yang menempel di bibir nya.
Sumpah demi apapun ini membuat jantung Rindi berdegup kencang. Bahkan nyaris copot dari jantung nya karena mendapat serangan dadakan seperti ini.
Setelah b....rnya bertemu dengan b...r Aldiano, untuk sesaat Aldiano hanya menempelkan b....nya tersebut di b....r Rindi.
Rasa ingin melakukan lebih dari sekedar menempel pun ia rasakan saat itu juga. Sehingga ia harus berdebat dalam hati di lanjut atau nggak sama sekali.
"Em... aw... lepas, lo gila apa? main nyosor gini." Kata Rindi yang sedang berusaha terlepas dari ciuman tersebut.
Karena tubuh Aldiano yang tinggi dan berotot, Rindi yang terkenal bar - bar pun tak sanggup menjauhkan tubuh Aldiano dari tubuhnya.
"Argh... cowok gila ini telah berhasil merebut hal yang pertama kali aku rasakan. Argh... gue nggak terima, hiks... hiks... tolong siapa pun kalian gue nggak mau lakuin hal lebih sama cowok gila ini." Kata Rindi yang berteriak di dalam hati nya.
"Gue masih pengen sekolah dan gak mau di paksa siap jadi ibu setelah semua ini berakhir dengan gue yang telah..." kata Rindi yang kemudian berhenti tak melanjutkan ucapannya.
"Argh... hiks... hiks..." Kata Rindi dengan berderai air mata. Karena tak sanggup untuk meneruskan lagi ucapannya.
__ADS_1
Itulah kata - kata yang Rindi keluarkan di dalam hati nya.
Bagaimana tidak sanggup hal ini sangat membuat Rindi ketakutan. Apalagi ini hal pertama yang di rasa kan Rindi di usia nya saat ini.
Aldiano yang mendapatkan tetes demi tetes air di wajah nya. Seakan tak terganggu apapun karena ia terus melakukan kegiatan nya itu.
Tiba - tiba terdengar suara telpon dari hanphone milik nya itu.
Sehingga dengan tak rela ia pun harus menghentikan kegiatannya.
Aldiano kemudian mulai menjauhi tubuh Rindi dan bergegas mengambil handphone miliknya yang terus berdering.
"Tut... Tut..." Suara nada dering telpon pun terdengar.
Aldiano kemudian mengacak rambutnya dengan spontan. Setelah itu, ia pun mulai melampias kan kekesalan nya.
"Argh... siapa yang telpon, bikin emosi aja. Nggak tau apa lagi sibuk." Kata Aldiano yang sedang mengatai - ngatai seseorang yang menelpon nya.
Walau dalam keadaan kesal, Aldiano pun kini mulai menerima telpon tersebut dan mulai mendekatkan hanphone di dekat telinga.
Tak lama setelah itu terdengar suara seseorang yang menelpon nya.
"Hallo tuan maaf saya menghubungi tuan. Karena ada sesuatu hal yang ingin saya bicara kan." Kata Gani yang ternyata seseorang yang menelpon Aldiano.
Dengan hati yang khawatir karena mengubungi Aldiano pada saat seperti ini. Gani pun mulai merasa kan panas dingin. Hingga membuat keningnya sampai berkeringat.
"Huh... semoga saja tuan tidak marah." Kata Gani yang berdoa di dalam hati.
Namun, kenyataanya saat ia telah selesai berdoa. Tiba - tiba suara baliton Aldiano pun terdengar cukup menakutkan.
__ADS_1
"Cepat kata kan, saya tak punya waktu." Kata Aldiano menjawab ketus ucapan Gani.
Bersambung...