
Nara duduk di bangku taman belakang kediaman Hendra, dia ingin menenangkan diri. Di saat seperti ini, dia sangat membutuhkan teman berbagi keluh kesahnya, dia butuh Rendy. Namun dia tak bisa menghubungi teman baiknya itu karena saat ini ponselnya sedang disita oleh Kenan.
Tiba-tiba Nara mendapatkan sebuah ide. Bukankah rumah Rendy dan Kenan berdekatan, kalau dia tak bisa menghubungi Rendy, dia bisa datang langsung ke rumah pemuda itu. Lagian mereka kan bertetangga, apa salahnya berkunjung?
Nara pun beranjak dan kembali masuk ke dalam rumah, tapi dia bertemu dengan Bi Ani yang sedang mengepel lantai.
"Mbak Nara mau ke mana?" tanya Bi Ani saat melihat Nara berjalan menuju pintu utama.
"Aku mau ke rumah Rendy sebentar, Bi," jawab Nara.
"Mau ngapain ke sana?"
"Cuma mau main aja, Bi. Habis aku bosan di rumah terus."
"Tapi nanti kalau Mas Kenan tahu, dia bisa marah, Mbak." Bi Ani mengingatkan.
Nara terdiam, kalau Kenan marah itu malah bagus, jadi pemuda angkuh itu bisa segera menceraikannya tanpa banyak drama lagi.
"Enggak apa-apa, Bi. Nanti tolong sampaikan ke dia kalau aku ke rumah Rendy!"
"Mbak Nara yakin?"
"Iya, kalau begitu aku pergi dulu." Nara melanjutkan langkahnya keluar dari kediaman mewah Hendra.
Bi Ani hanya memandangi kepergian Nara dengan cemas, wanita itu tahu Kenan pasti akan marah jika tahu sang istri ke rumah rivalnya tersebut.
Nara masuk ke pekarangan rumah Rendy, dia terkagum-kagum melihat halamannya yang luas dan rapi, rumah Rendy juga tak kalah bagus dari rumah Hendra, dua pilar utama berdiri gagah dan kokoh. Nara menekan bel beberapa kali, tak lama kemudian seorang wanita tua yang biasa dipanggil Mbok Asih membuka pintu dan memperhatikan Nara dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Mau cari siapa, Neng?" tanya Mbok Asih yang merasa asing dengan wajah Nara.
"Rendy nya ada, Bu? Saya temannya yang tinggal di depan," sahut Nara sembari menunjuk rumah Hendra.
"Oh, Neng tinggal di rumah Pak Hendra?"
Nara mengangguk, "Iya, Bu."
"Kalau begitu silakan masuk! Biar saya panggilkan dulu Mas Rendy nya."
Nara tersenyum dan melangkah masuk ke dalam rumah bercat putih yang besar dan megah itu. Dia duduk di sebuah sofa kulit berwarna merah hati sambil celingukan, dia benar-benar takjub melihat interior dan furniture di dalam rumah itu, semuanya bagus-bagus dan tertata dengan apik. Dan pandangan Nara terhenti di sebuah pigura besar yang terpajang di dinding, ada foto Rendy bersama kedua orang tuanya. Untuk pertama kalinya Nara melihat wajah ayah dan mendiang ibu teman baiknya itu.
"Ibunya Rendy cantik banget," puji Nara pelan.
"Nara? Tumben banget kamu datang ke sini?" tegur Rendy yang berjalan menuruni anak tangga, dia kaget melihat keberadaan temannya itu.
Nara menoleh, memandang Rendy dengan mata yang sedikit sembab, "Aku jenuh di rumah terus, Ren."
__ADS_1
"Mata kamu kenapa bengkak? Kamu habis nangis?" tebak Rendy khawatir, walaupun Nara berusaha bersikap biasa saja, tapi Rendy tahu pasti ada sesuatu.
Nara bergeming, dan tertunduk. Tujuannya datang ke sini memang ingin berbagi keluh kesahnya pada pemuda baik hati itu, tapi entah mengapa dia sedikit malu untuk bicara.
Rendy duduk di samping Nara dan mengamati wajah wanita itu dengan saksama, "Ra, ada apa? Kamu bertengkar lagi dengan Kenan? Atau dengan ibunya?"
"Aku minta cerai dari Kenan," jawab Nara masih dengan kepala tertunduk, ada rasa ngilu di dalam hatinya saat mengucapkan itu.
Rendy terkesiap, "Cerai?"
Nara mengangguk dua kali.
"Terus dia setuju?"
Nara menggeleng, "Enggak, Ren. Dia enggak mau bercerai dari aku!"
Rendy mengernyit, "Kenapa? Bukankah waktu itu dia ingin kamu pergi dari hidupnya, mengapa sekarang dia menolak menceraikan mu?"
Nara menghela napas, kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan penyebab perdebatannya dengan Kenan sehingga akhirnya pemuda itu menyatakan cinta. Nara juga mengatakan jika Kenan ingin mengajaknya kuliah ke Amerika, namun dia justru minta cerai.
Rendy tertegun, dia sudah menduga jika foto mereka yang Jenny unggah di media sosial itu akan membuat Kenan bereaksi, tapi dia tak menyangka hal tersebut justru membuat Kenan menyatakan cinta pada Nara. Dia benar-benar terkejut karena pemuda yang angkuh, kasar dan selalu bersikap buruk pada Nara, kini berbalik mencintai wanita itu. Omong kosong macam apa ini?
"Terus kamu percaya dengan semua itu?" tanya Rendy.
"Lalu apa kamu juga mencintainya?" Rendy memastikan.
Nara lagi-lagi terdiam membisu, dia sendiri tak tahu apa yang tengah dia rasakan saat ini terhadap Kenan. Dia membenci Kenan, namun terkadang jantungnya berdebar saat berada dekat dengan pemuda itu.
"Ra, aku minta kamu berhati-hati! Jangan mudah termakan bujuk rayunya, gunakan logika mu untuk berpikir dan menilai semua ini. Aku takut dia hanya ingin mempermainkan kamu saja."
Nara bergeming, dia benar-benar tak bisa berpikir dengan jernih saat ini, selain syok karena pengakuan tiba-tiba Kenan tadi, dia juga sakit hati dengan penghinaan Windy, belum lagi kepalanya yang masih pusing dan badannya yang lemas. Sungguh semua itu membuat pikiran dan hatinya kacau.
"Ini minumnya, Neng." Mbok Asih datang dan menghidangkan secangkir teh hangat di hadapan Nara.
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama, Neng," balas Mbok Asih, kemudian kembali ke dapur.
"Jadi ini alasannya mengapa tadi teleponnya tiba-tiba mati dan panggilan aku ditolak?"
"Iya, dia menyita ponselku dan melarang aku keluar rumah. Aku heran melihat perubahan sikapnya yang mendadak itu," sahut Nara.
"Makanya kamu harus hati-hati!"
Nara mengangguk patuh.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang kamu jangan sedih lagi! Ada aku di sini, aku akan menghibur dan menjagamu, aku akan membuat kamu tertawa sampai ngompol di celana." Rendy berseloroh sambil menggenggam erat tangan Nara.
"Enggak mau, ah! Masa sampai ngompol di celana? Entar aku pulangnya gimana?" protes Nara.
"Kamu bisa pakai dasternya Mbok Asih," sahut Rendy kemudian tertawa terbahak-bahak.
Nara pun ikut tertawa, Rendy selalu berhasil membuat perasaan galaunya membaik walau hanya dengan hal-hal kecil. Makanya dia selalu mencari pemuda itu untuk berbagi keluh kesah dan memperbaiki moodnya yang rusak.
"Kalau begitu sekarang kamu ikut aku, yuk!" Rendy beranjak dari duduknya.
Nara kebingungan, "Ke mana?"
"Sudah ikut aja!" Rendy menarik lengan Nara, wanita itu terpaksa mengikutinya.
Sementara itu, Kenan sejak tadi merenung di kamarnya, dia berusaha menenangkan hatinya dan mencerna semua ini. Setiap kali dia terbayang akan berpisah dari Nara, dia semakin tak rela kehilangan wanita itu.
"Aku enggak bisa diam aja seperti ini, aku harus bicara dengan Nara dan meyakinkan dia agar mengubah keputusannya. Aku enggak mau bercerai darinya, aku enggak akan menyerah begitu saja!" Kenan beranjak dan bergegas keluar dari kamar.
Dia berlari menuruni anak tangga, berharap bisa secepatnya bertemu Nara, namun sosok wanita itu tak terlihat sama sekali.
"Ke mana diam?" Kenan celingukan kesana-kemari.
Dia curiga Nara sedang bersama Bi Ani seperti biasanya, dengan langkah yang lebar dia berjalan menuju dapur.
"Nara mana, Bi?" tanya Kenan saat dia juga tak mendapati Nara di sana.
"Eh, ayam beranak!" Bi Ani yang kaget langsung menoleh ke belakang, "Mas Kenan?"
"Aku tanya Nara mana, Bi?" Kenan mengulang pertanyaan dengan sedikit penekanan.
Bi Ani mendadak takut dan gugup, "Hem, anu, Mas. Mbak Nara nya ... anu itu!"
"Bicara yang jelas, Bi! Nara mana?" Kenan mulai kesal.
"Ke-ke rumah Mas Rendy," jawab Bi Ani akhirnya.
Darah Kenan sontak mendidih, emosinya seketika naik dan siap untuk meledak. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat, dan rahangnya mengeras demi menahan geram.
"Mau Bibi panggilkan, Mas?"
"Enggak usah! Biar aku yang panggil sendiri!" Kenan langsung pergi dengan terburu-buru.
"Aduh, bisa gawat ini! Mas Kenan pasti marah dan Mbak Nara dalam masalah besar. Ya Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja." harap Bi Ani cemas.
***
__ADS_1