
Detik berganti detik, menit pun bergantin jam, dan jam pun telah berganti. Kini saat nya Aldiano pulang ke rumah. Karena waktu sudah menunjukan hampir jam sepuluh malah.
Gani dan tim kerjanya telah pulang beberapa menit yang lalu. Sementara Aldiano yang masih memikirkan hal apa yang akan ia putuskan. Kini mulai beranjak untuk pulang.
Walau dalam pikirannya ia masih bingung harus pilih yang mana. Di satu sisi ia yakin bahwa usaha yang telah mereka lakukan saat ini akan berhasil.
Namun, waktu yang tak bisa ia jamin akan berakhir sampai kapan. Hingga akhirnya ia lebih memilih pulang dan akan mempertimbangkan lagi keputusannya saat ia telah berada di rumah nanti.
Sedangkan Rindi yang sebelumnya tertidur. Telah bangun ketika tadi ia sampai di depan rumah. Itu pun karena ia di bangunkan oleh ibu.
Jika tidak mungkin ia akan tetap tertidur di dalam mobil.
Bukankah itu suatu hal yang sulit untuk di jelaskan. Apalagi jika sampai Haikal dan Yeni telah sampai ke rumah dan berniat membantu ia untuk kabur seperti ucapan mereka berdua tadi yang dengan yakin ingin membantu dirinya.
Lalu mereka akan pergi ke arah kamarnya bukan. Lantas setelah mereka sampai di kamar. Apa yang mereka dapati jika ia masih tertidur di dalam mobil.
Membayangkan nya saja sudah membuat Rindi bergidik. Bahkan bayang - bayang mereka berdua ketahuan dan tertangkap oleh bodyguard ayah semakin terpampang jelas dalam ingatan.
"Argh... tenang Rindi, lo harus tenang jangan sampai membuat ibu curiga. Bisa - bisa rencana lo gagal sebelum di mulai." Kata Rindi mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Loh, kenapa masih duduk di situ. Kamu nggak mau masuk sayang, atau mau tidur di mobil." Kata ibu yang terheran melihat Rindi tak sedikit pun bergerak untuk keluar. Sementara dirinya kini telah berada di luar mobil.
"Em... apa bu?" Kata Rindi yang saking terfokusnya berbicara di dalam hati. Ia bahkan sampai tak mencerna dengan benar ucapan ibu. Sehingga ucapan itu lolos begitu saja dari bibirnya.
"Kamu kenapa masih diam. Nggak mau masuk." Kata ibu dengan terpaksa mengulang ucapannya tadi dengan yang lebih singkat.
"Hehehe... maaf bu, Rindi masih mengumpulkan nyawa Rindi dulu. Karena kan barusan Rindi tertidur dan baru bangun saat ibu bangunkan Rindi. Hehehe... maaf ya bu, nggak dengerin ucapan ibu dengan benar sampai harus tanya lagi ke ibu." Kata Rindi membalas ucapan ibu sambil tertawa.
"Hem... kebiasaan, ya sudah ayo masuk." Kata ibu membalas ucapan Rindi.
__ADS_1
"Iya bu." Kata Rindi membalas ucapan ibu.
Setelah itu, ia mulai menggeserkan tubuhnya secara perlahan. Lalu mulai mengeluarkan satu persatu kakinya dan setelah itu tubuhnya.
Kini ia telah berdiri di luar mobil dan langsung menutup pintu mobil tersebut. Setelah itu, ia dengan manjanya langsung memegang tangan ibu.
"Ayo bu, ayah pasti kangen sama ibu. Ayah kan gitu orangnya, ibu pergi bentar aja pasti di tanyain. Ah... Rindi sampai iri liat nya. Apa nanti, Rindi akan dapat seorang laki - laki yang mirip sama ayah ya bu. Perhatian, penyayang, dan tentunya gak pelit. Tapi, sayangnya ayah kalau udah marah serem. Rindi jadi takut. Apalagi hukuman yang Rindi terima saat ini. Benar - benar membuat Rindi langsung ciut nyalinya bu. Rindi jadi takut kehilangan momen seperti ini. Kalau Rindi beneran udah nikah nanti." Kata Rindi yang mengutarakan isi hatinya pada ibu.
Bagai teriris saat ucapan itu keluar dari bibir Rindi. Awalnya ibu hampir ingin menunjukan senyum manisnya. Namun, ibu urungkan senyum itu saat mendengar kata selanjutnya yang keluar dari bibir Rindi.
Rasanya sangat membut ibu sedih, apalagi Rindi anak satu - satunya. Rasanya jika ia bisa memutar waktu. Ia tak ingin melihat anak semata wayangnya ini menikah terlalu muda.
Tapi kembali lagi pada keputusan ayahnya Rindi. Ia tak bisa menolaknya lagi. Sudah berulang kali ia mencoba membujuk suaminya itu untuk mempertimbangkan lagi keputusan yang suaminya pilih.
Namun, apa yang ia dapat. Hanya jawaban yang terus menolak tak bisa di ubah lagi.
Sedih rasanya jika sebentar lagi rengekan dan rangkulan manja dari anak kesayangannya ini. Akan hilang seiring berjalannya waktu.
"Baiklah bu, Rindi hanya sekedar mengutaran isi hati Rindi. Rasanya campur aduk bu. Tapi, tak apalah Rindi mencoba untuk menerima semuanya." Kata Rindi membalas ucapan ibu.
"Yuk masuk." Kata ibu langsung membalas ucapan Rindi dengan mengucapkan hal lain.
"Iya bu." Kata Rindi membalas ucapan ibu.
Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua karena saat ini mereka mulai memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah.
Tibalah mereka di depan pintu, tanpa mengetuk pintu mereka pun langsung masuk ke dalam karena ada dua laki - laki yang berdiri di dekat pintu.
Dan tanpa di suruh mereka langsung membukakan pintu untuk Rindi dan ibu.
__ADS_1
Sehingga sudah Rindi yakini bahwa mereka sengaja ayah datang kan untuk berjaga - jaga agar aku tak bisa kabur.
Selain itu aku sangat yakin bukan hanya di pintu depan saja ada mereka. Melainkan di pintu - pintu yang lainnya pun pasti ada orang yang seperti mereka berpakaian serba hitam. Bertubuh tegap dan kekar serta wajah yang tegas dan tajam.
Musnah sudah rencana ia akan kabur malam ini. Dari pertama kali melihat mereka berdua. Rindi sampai lemas tak berdaya.
"Loh sayang ko mendadak lemas, kamu kenapa sakit?" Kata ibu yang menyadari perubahan yang Rindi rasakan. Mungkin karena pegangan tangan Rindi yang awalnya terasa. Kini menjadi tak terasa.
"Nggak ko bu, Rindi hanya kecapean aja. Em... Rindi pamit duluan ke atas ya bu, sama boleh Rindi minta tolong sampaikan juga ke ayah ya bu. Rindi nggak bisa temuin ayah terlebih dahulu." Kata Rindi membalas ucapan ibu sambil berpamitan pada ibu.
"Mau ibu antar." Kata ibu yang khawatir karena melihat kondisi Rindi saat ini.
Dengan cepat Rindi menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah bu, Rindi bisa sendiri. Makasih sebelumnya ibu sudah mau mengantar Rindi." Kata Rindi membalas ucapan ibu.
"Kamu yakin sayang." Kata ibu mematikan lagi ucapan Rindi.
"Iya bu, Rindi yakin." Kata Rindi yang langsung mengangguk.
"Ya sudah, jalan nya hati - hati." Kata ibu membalas ucapan Rindi.
"Iya bu, makasih." Kata Rindi membalas ucapan ibu.
Dengan langkah gontai Rindi pun mencoba menguatkan dirinya agar tak meneteskan air mata saat itu juga.
Namun, hasilnya tak sesuai dengan keinginannya. Setiap langkah ia terus meneteskan air mata.
Benar - benar sedih rasa nya kemungkinan ia bisa kabur sangatlah sedikit. Ia seperti sudah tak ada harapan lagi untuk menghindar dari pernikahan ini.
__ADS_1
Bersambung...