Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 201 Memantau Situasi


__ADS_3

"Hem... iya yank pasti akan susah. Tapi, semoga saja ada kesempatan." Kata Haikal membalas ucapan Yeni.


"Iya kak, semoga seperti itu." Kata Yeni membalas ucapan Haikal.


Hening tak ada pembicaraan lagi diantara mereka berdua.


Sementara Rindi saat ini ia masih terus memantau situasi.


"Bagaimana ya caranya mengelabui tuh dua bodyguard ayah."


"Ayo Rindi berpikir, biasanya pikiran kamu selalu cerdas apalagi dalam keadaan mendesak seperti ini."


"Hem... aneh nya malah nggak ada ide satu pun dalam pikiran ini."


Lalu setelah ia selesai berbicara, ia pun mulai menepuk - nepuk kepalanya. Entahlah apa tujuannya ia menepuk kepala. Mungkin ia berpikir dengan menepuk kepala pikirannya akan mulai bekerja dan setelah itu memunculkan ide di dalam benaknya.


Bener - benar aneh bukan, itulah Rindi dengan segala keanehannya.


Bug... bug...


"Ayo, Rindi berpikir, ayo." Kata Rindi yang masih menepuk - belum kepalanya.


Dua menit kemudian ia pun akhirnya menemukan sebuah ide.


"Akhirnya muncul juga nih ide, kenapa nggak dari tadi sih. Tapi bentar, gue kan nggak punya bola. Terus apa dong yang gue lempar." Kata Rindi setelah menemukan ide namun masih Kebingungan sendiri.


"Ah... sudahlah gak perlu gue ambil pusing. Sekarang lebih baik gue mulai cari benda aja yang bisa di lempar."


Bergegaslah Rindi mencari sesuatu benda yang bisa ia lempar dan benda tersebut bisa mendarat jauh dari kamar miliknya ini ketika di lempar.


Sekitar lima menit mencari, akhirnya ia menemukan dua bola yang entah kapan ia membeli dan menyimpan bola tersebut di dalam kamarnya.

__ADS_1


Karena seingat Rindi, ia tak pernah menyimpan ataupun membeli bola. Tapi anehnya bola tersebut bisa ada di kamarnya.


Ia bahkan sempat ragu saat akan melempar. Karena ia takut jika ternyata bola tersebut sebenarnya bukan bola sungguhan melainkan khayalan Rindi yang mengira bahwa benda yang ia pegang berbentuk bola.


Tapi, setelah di pikirkan cukup lama. Ia langsung tak peduli dan langsung pergi ke balkon kamarnya.


Dengan tiga kali tarikan napas, ia pun melempar satu bola ke arah kiri dengan kencang. Sehingga bola itu melambung jauh entah kemana.


Kedua bodyguard itu saling pandang ketika mendengar suara lemparan bola yang aku lempar barusan.


Sehingga terlihat percakapan diantara mereka berdua mengenai hal itu. Entahlah apa yang mereka bicarakan. Rindi tak tahu akan hal itu.


Namun, yang ia tahu salah satu di antara mereka mulai mendekati bola yang Rindi lempar itu.


"Bagus, satu bodyguard sudah pergi. Sekarang aku lempar bola yang kedua. Semoga saja berhasil seperti lemparan pertama kali. Bolanya bisa mendarat jauh." Kata Rindi yang mulai sedikit merasa lega.


Bola kedua pun sudah siap Rindi lempar. Dengan hitungan tiga, bola kedua Rindi lempar ke sebelah kanan dan mendarat jauh di ujung sana.


Saat telah selesai bicara, Rindi pun mulai menyeret koper dan membawa barang - barang yang lainnya.


"Berat sekali sih nih koper, kalau tau akan berat kaya gini. Mending pake tas aja. Mana ribet lagi kalau pake koper. Caranya gimana coba nurunin nih koper. Kalau aku jatuhkan dari ketinggian seperti ini.


Bukannya nanti akan menimbulkan suara yang cukup keras ya. Itu artinya kemungkinan terbesar kedua bodyguard ayah yang sedang mencari dan mendekati tempat bola yang Rindi lempar itu. Kemungkinan akan kembali untuk mendekati sumber suara dari koper yang di lempar.


Lalu kalau itu terjadi, bukannya pelemparan bola tadi akan berujung sia - sia. Karena secara tidak langsung ia akan mengalihkan lagi pandangan kedua bodyguard ayahnya.


Argh... membayangkannya saja rasanya dapat membuat kepala Rindi rontok seketika. Saking pusingnya, ia bahkan berpikiran agak aneh yang tak masuk akal.


"Ya ampun ini pikiran gue kenapa jauh banget sih. Mana sampai berpikiran..."


"Argh... sudah lah sekarang gue nggak boleh sia - sia in waktu. Gue langsung loncat aja deh."

__ADS_1


Brug...


Tubuh Rindi hampir tersungkur ke depan karena lompatannya terlalu terburu - buru. Sehingga mendarat dengan tak cukup sempurna.


"Kagetnya gue, ko bisa gue sampai nggak konsen gini. Biasanya aja kan kalau lompat - lompat kaya gini nggak pernah oleng. Tapi, barusan malah oleng dan hampir tersungkur ke depan. Beruntung kaki gue langsung menahan tepat waktu. Kalau terlambat dikit kan. Wajah gue udah tak ada bentuknya lagi deh. Udah pasti berantakan." Kata Rindi berbicara pada dirinya sendiri.


Karena suara lompatan Rindi yang sedikit mengeluarkan suara. Sehingga kedua bodyguard yang masih mencari bola. Tak menyadari bahwa saat ini Rindi telah berada di bawah.


"Beruntung nya gue, mereka berdua masih fokus ke bola."


"Gue harus bergegas nih biar cepat kabur."


Namun, sebelum itu Rindi sempat mengirimkan pesan pada Haikal bahwa ia sudah berada di luar kamarnya. Dan sebentar lagi akan menemui Haikal di sana.


"Setelah mendapat jawaban dari Haikal ia tak menjawab lagi jawaban itu. Karena saat ini ia sedang waspada takut ada yang melihat dirinya pergi membawa koper.


Ia terus berjalan tanpa henti sampai kemudian ia sampai di pintu pagar belakang rumahnya. Beruntung sebelum pergi ia sempat mengambil kunci cadangan pintu pagar itu.


Sehingga saat ia telah sampai, ia langsung mencari kunci tersebut.


Beberapa kali ia mencari kunci itu dalam tas kecil yang ia sampirkan di tangan kirinya. Kunci itu tak kunjung ia temukan.


"Argh... nih kunci keman sih. Gue beneran udah simpan deh tuh kunci di tas. Tapi, kenapa sekarang malah nggak ada." Kata Rindi yang mulai kesal karena tak menemukan kunci yang ia cari.


"Sabar Rindi, lo harus tenang. Jangan terburu - buru. Ayo coba sekarang lo cari lagi. Tapi, ingat carinya dengan teliti." Kata Rindi berbicara pada dirinya sendiri bahkan dengan bersikap seolah - olah dia memang sedang berbicara dengan orang lain.


"Hem... iya deh iya gue akan lebih teliti." Kata Rindi yang kemudian menjawab ucapan darinya dengan ketus.


Bergegas lah ia mencari kunci itu di dalam tas nya lagi. Namun, hasil nya tetap ia tak menemukan kunci itu sama sekali.


"Apa kamu mencari benda ini nona?" Kata seseorang tiba - tiba berbicara pada Rindi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2