
Nara masuk ke dalam kamar, Kenan masih membuntutinya tanpa bicara sepatah kata pun. Karena masih merasa lemas dan pusing, Nara memutuskan untuk duduk di sofa.
Kenan berjalan mendekati Nara dan berdiri di hadapan wanita itu, "Kenapa kau enggak mau ke rumah sakit?"
"Aku malas," jawab Nara ketus.
"Tapi kau harus mengecek kondisimu, kau terlihat begitu pucat."
"Enggak usah sok peduli, aku enggak butuh perhatian mu!" Nara beranjak dan berjalan melewati Kenan begitu saja.
Kenan lagi-lagi hanya bisa menghela napas jengkel bercampur kecewa melihat sikap tak bersahabat yang Nara tunjukkan. Dia lantas duduk di sofa dan mengeluarkan telepon genggamnya, mungkin mengotak-atik smartphone berlogo apel tergigit itu bisa sedikit mengalihkan emosinya.
Namun niat Kenan tak sesuai ekspektasi, bukan mereda, emosinya malah kian naik saat melihat sebuah postingan yang menandai Rendy muncul di beranda media sosialnya dengan caption -the most lovey and hot couple-
Akun atas nama Jenny itu mengunggah foto Rendy dan Nara sedang berpelukan serta saling pandang dengan sangat mesra. Bahkan yang membuat Kenan lebih geram lagi, background foto itu adalah rumahnya sendiri dan dari pakaian yang dua insan itu kenakan, Kenan tahu kapan foto ini diambil.
Kenan meremas kuat ponselnya, "Berengsek! Berani sekali mereka bermesraan di rumahku di saat aku enggak ada!"
Sementara itu, Nara berdiri di depan cermin wastafel, dia sengaja masuk ke kamar mandi demi menghindari Kenan, dia semakin bingung dengan sikap sang suami yang mendadak berubah jadi aneh. Belakangan ini Kenan tak seperti dulu, pemuda itu lebih perhatian dan peduli padanya. Bahkan tingkah lakunya sering diluar dugaan.
Nara pun memutar tuas keran dan menampung air dengan telapak tangannya lalu membasuh muka. Rasa dingin dari air tersebut langsung menusuk masuk ke dalam pori-pori wajahnya. Dia lalu memandang wajahnya di cermin, pucat dan tampak lesu, dia benar-benar terlihat seperti orang sakit. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian Nara, dia lantas meraba leher sebelah kanannya dan mengernyit saat merasakan ada benjolan sebesar telur puyuh.
"Apa ini?" Nara heran, dia tak tahu benjolan apa itu dan sejak kapan ada di lehernya.
Dengan hati-hati Nara menekan benjolan itu, tapi tidak terasa sakit.
"Apa ini karena aku sedang sakit?" Nara bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil terus mengamati dan meraba benjolan tersebut.
***
Nara melangkah keluar dari kamar mandi, dia melirik Kenan yang duduk di tepi ranjang sambil menggenggam ponsel. Seperti sebelumnya, dia berusaha mengabaikan pemuda itu dan berjalan melewatinya.
"Apa yang kalian lakukan di rumahku saat aku enggak ada?" tanya Kenan tiba-tiba.
Nara menoleh dan mengerutkan keningnya, "Maksudnya?"
"Kalian berdua benar-benar enggak tahu malu! Bermesraan enggak tahu tempat!" ujar Kenan emosi.
__ADS_1
Nara semakin kebingungan, "Kau ini bicara apa? Aku enggak ngerti!"
Kenan bangkit dan mengayunkan langkah mendekati Nara, dia lalu memperlihatkan layar ponselnya pada sang istri, "Ini! Aku sedang membicarakan tentang ini!"
Nara tercengang dengan mata melotot saat melihat foto dirinya dan Rendy begitu mesra, dia ingat kapan foto itu diambil.
"Foto itu?"
"Kenapa? Kau kaget?"
"Dari mana kau dapatkan foto itu?" tanya Nara bingung.
"Seseorang mengunggahnya di media sosial dan semua orang sudah melihatnya, sekarang kau pasti senang karena mereka berpikir jika kalian itu pasangan yang serasi dan mesra. Iya, kan?" tuduh Kenan.
"Enggak sama sekali. Aku justru malu," bantah Nara.
"Kalau malu kenapa kau mau berpose seperti ini!" bentak Kenan sembari melempar ponselnya ke dinding tepat di samping Nara.
Saking terkejutnya, Nara sampai memejamkan mata saat benda pipih itu menghantam tembok dan jatuh berserakan di lantai.
"Kau mau dipeluk seperti itu dan difoto pula. Apa kau enggak sadar kalau kau itu sudah punya suami, haa?"
Kenan terdiam, ada rasa sakit yang seketika menusuk-nusuk relung hatinya saat mendengar kalimat menohok sang istri. Sekarang dia tahu sakitnya tak dianggap.
"Sekarang untuk terakhir kalinya aku katakan, aku ingin bercerai darimu! Aku sudah muak dengan semua ini! Aku muak hidup bersamamu dan juga ibumu yang sombong itu. Aku benci kalian berdua!" jerit Nara kemudian menangis terisak-isak, dia meluapkan perasaan kesal dan sedih yang sejak lama dia simpan akibat perbuatan ibu dan anak itu.
Kenan terhenyak, dadanya bergemuruh hebat saat mendengar kata cerai yang dilontarkan Nara, apalagi saat wanita itu mengatakan jika membenci dirinya. Hati Kenan seperti tersayat sembilu.
Sebelumnya dia tak begini, dia bahkan sangat ingin berpisah dari istrinya itu, tapi entah mengapa saat ini Kenan merasa tak rela dan takut kehilangan.
"Aku benci kalian!" ucap Nara lirih.
Tanpa pikir panjang, Kenan melangkah mendekati Nara lalu memeluk tubuh kurus nan pucat itu.
Nara terkejut, dia sontak mendorong dada Kenan, "Lepaskan aku!"
Bukannya melepas Nara, Kenan malah semakin mengeratkan pelukannya. Dia tak mau berpisah dari Nara, dia tak ingin kehilangan wanita yang belakangan ini selalu mengganggu hati dan pikirannya itu.
__ADS_1
Tapi Nara masih bersikeras ingin terlepas dari Kenan, dia terus meronta dan mendorong Kenan agar menjauh, "Lepaskan aku!"
"Aku enggak akan melepaskan mu! Enggak akan pernah!" ujar Kenan.
"Kenapa? Bukankah kau sangat ingin aku pergi dari hidupmu? Sekaranglah saatnya!"
"Aku berubah pikiran, aku enggak mau kita berpisah, karena aku ...." Kenan mengjeda ucapannya, membuat Nara menunggu dengan penasaran.
"Karena aku mulai mencintaimu," lanjut Kenan yang akhirnya mengakui apa yang selama ini selalu mengusik relung hatinya.
Nara tercengang, dia seperti mimpi mendengar pengakuan Kenan itu. Si bocah angkuh dan kasar tersebut mencintai dirinya, ini sulit dipercaya.
"Itulah alasannya kenapa aku enggak suka kau dekat dengan Rendy, aku cemburu," sambung Kenan, seperti ada kekuatan magis yang membuat bibir dan lidahnya lancar mengutarakan isi hatinya.
Tepat di saat bersamaan, pintu kamar Kenan dibuka dari luar oleh Windy.
"Kenan! Apa-apaan ini!" hardik Windy yang terkejut melihat sang putra memeluk Nara.
Kenan langsung melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah sang ibu, "Mama?"
Sedangkan Nara yang juga kaget hanya bisa tertunduk malu.
Dengan langkah lebar, Windy yang tersulut emosi mendekati pasangan suami istri itu dan menatap tajam keduanya.
Melihat Windy berjalan ke arah mereka, Kenan buru-buru menghadang sang mama.
"Mama mau ngapain?" sergah Kenan.
Langkah Windy terhenti di hadapan sang putra, "Seharusnya Mama yang tanya, kau ngapain memeluk dia kayak tadi?"
"Memangnya kenapa, Ma?"
Windy tercengang mendengar pertanyaan putranya itu, "Kenan, kau sadar kan apa yang kau lakuin barusan?"
Kenan mengembuskan napas, lalu menarik lengan Windy, "Sebaiknya kita keluar saja, Ma!"
"Kenan!" Windy tergopoh-gopoh mengikuti langkah sang putra.
__ADS_1
Kenan sengaja memaksa Windy keluar dari kamarnya agar mamanya itu tidak berbicara yang menyakiti perasaan Nara. Sementara Nara sendiri hanya memandangi kepergian mereka dengan bingung, dia masih syok dan berusaha mencerna semua kejadian mendadak ini.
***