Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Bab 155 Sejak Kapan


__ADS_3

Bergegaslah Bagas pun langsung mengambil handphone miliknya. Lalu menekan tombol telpon. Tak lama kemudian suara dering telpon pun terdengar.


Tut... Tut...


Tak ada jawaban apapun dari telponnya itu. Membuat Bagas mengeluarkan suaranya pada Haikal.


"Nggak ada jawaban bro, sepertinya memang harus nunggu." Kata Bagas pada Haikal.


"Hem... mau nunggu di sini atau mau ke butik Momy gue." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Bentar deh, sejak kapan tante Ratna lo panggil Momy. Biasanya juga mamah." Kata Bagas membalas ucapan Haikal dengan sebuah pertanyaan.


"Sejak dulu kali, tapi lo nya aja yang gak tau." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Masa sih, perasaan dulu juga sewaktu gue suka main ke rumah lo. Gak pernah tuh gue denger lo panggil tante Ratna dengan panggilan momy. Lo baru hari ini aja kan bilang kaya gitu nya. Ayo ngaku." Kata Bagas yang masih tak percaya dengan ucapan Haikal.


"Itu lo tau, kenapa masih di pertanyaan kalau lo tau gue baru bilang momy hari ini aja." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Ye... ko jadi kaya gini. Lo sendiri tadi yang akui udah lama. Eh... pas gue tanya kaya barusan. Kenapa lo jadi emosi." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Sorry gue terbawa suasana. Em... gimana jawabannya." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Jawaban apa?" Kata Bagas yang tak paham dengan ucapan Haikal.


"Hadeh masih tanya juga jawaban apa. Capek deh gue kalau harus jelasin terus menerus ke lo. Lo tau kan waktu itu adalah uang. Kalau waktu gue dihabisin buat jelasin ke lo. Gimana dapat uangnya." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Em... gue yang bayar. Ayo coba jelasin." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Berani bayar berapa lo." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Berapa pun yang lo minta. Gue bayarin." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Gaya bener, lo punya uang berapa banyak?" Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Entah lah gue gak tau karena saking banyaknya gue males kalau harus menghitung." Kata Bagas begitu sombongnya pada Haikal. Bahkan setelah itu, ia pun melipatkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Kaya banget berarti ya lo. Kalau gue minta semua kekayaan lo. Gimana lo setuju gak? Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Buset bro, lo minta bayaran atau mau ngerampok orang. Sampai minta semua nya lagi." Kata Bagas yang kaget saat mendengar permintaan Haikal.


"Lo sendiri kan yang bilang, berapa pun yang gue minta lo pasti bisa bayar. Nah, sekarang gue minta semua ke kayaan lo. Kenapa gak Lo penuhi." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Kalau minta nya gak semua kekayaan sih gue pasti langsung kasih. Ini ko minta semuanya. Ya kali gue langsung kasih gitu aja. Apalagi perjuangan gue dapetin kekayaan ini gak segampang yang lo kira. Ganti coba bayaran yang lo mintanya." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Males kalau gue harus ganti. Gue sekarang serahin lagi ke lo. Kalau lo mau gue jelasin. Lo tinggal serahin kekayaan Lo. Tapi kalau lo gak mau serahin. Itu artinya lo gak akan denger penjelasan gue." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


"Em... kalau gitu gak usah lo jelasin. Gue lebih baik gak tau dari pada kekayaan gue harus gue kasih ke lo." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


"Oke, kalau itu keputusan lo." Kata Haikal membalas ucapan Bagas.


Mereka berdua pun lalu sama - sama terdiam.


Tak lama kemudian ada mbak - mbak yang datang menghampiri meja mereka berdua.


"Maaf kak mau pesen apa aja?" Kata mbak nya pada Haikal dan Bagas.


"Nggak ada mbak. Nanti saja." Kata mereka berdua secara bersamaan.


"Baik, kalau gitu saya kembali ke sana lagi ya kak. Di tunggu pesenannya nanti." Kata mbaknya menjawab ucapan Haikal dan Bagas.


"Loh ko lo ikut - ikutan gue sih bicaranya. Gak ada kata lain apa." Kata Haikal pada Bagas.


"Lo yang ikut - ikutan gue. Kenapa jadi lo yang salahin gue." Kata Bagas yang tak terima dengan ucapan Haikal barusan. Sehingga ia pun protes pada Haikal.


"Mana ada kaya gitu. Lo yang salah bukan gue." Kata Haikal yang tak mau mengalah.


"Terserah lo aja. Mau gue yang salah atau pun nggak. Intinya gue gak salah." Kata Bagas membalas ucapan Haikal.


Di saat mereka berdua sedang sibuk berdebat. Rindi dan Yeni pun kini telah berada di tempat penjual es campur.


"Em... Rindi, kak Haikal sama kak Bagas duduk dimana ya. Coba kamu hubungi dulu." Kata Yeni pada Rindi.

__ADS_1


"Gak tau Yen, em... bentar aku hubungi kak Bagas dulu." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.


Di hubungi lah nomor Bagas oleh Rindi.


Tut... Tut...


"Belum di jawab Yen, telponnya sih aktif tapi gak ada jawaban. Coba sambil aku telpon kak bagas kamu liatin dulu orang - orang di sini. Siapa tau kak Bagas sama kak Haikal ada di sekitaran ini." Kata Rindi memberitahukan pada Yeni.


"Oke Rindi. Ini aku juga lagi liatin sih. Tapi belum ketemu. Coba aku liat ke sebelah kanan." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.


Setelah Yeni melihat ke sebelah kanan. Terlihatlah perseteruan antara Haikal dan Bagas yang terus berbicara.


"Em... Rindi itu kak Bagas sama kak Haikal bukan sih." Kata Yeni pada Rindi sambil menujuk salah satu meja.


"Bentar aku liat dulu. Sepertinya ia deh Yen itu mereka. Ayo kita langsung ke sana aja." Kata Rindi membalas ucapan Yeni saat ia telah melihat arah telunjuk yang Yeni tunjukan di salah satu meja.


"Yakin Rindi kita mau langsung ke sana." Kata Yeni yang ragu untuk mendekati Haikal dan Bagas.


"Ya yakin Yen, kiat ke sini juga kan mau temui mereka. Ayo jangan banyak mikir." Kata Rindi membalas ucapan Yeni sambil menarik tangan Yeni.


"Tapi Rindi kamu bisa liat sendiri kan sepertinya kak Haikal sama kak Bagas lagi berdebat. Apa kamu yakin masih tetep mau ke sana." Kata Yeni memberitahukan keraguannya.


"Em... justru karena itu Yen, kita harus udah di sana biar perdebatan nya juga cepet berhenti. Ayo jangan terlalu di takutin." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.


"Em... baik lah kalau itu yang kamu mau." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.


Tap... tap...


Suara langkah kaki yang sengaja Rindi hentakkan untuk membuat perdebatan Haikal dan Bagas cepat berhenti. Namun, nyatanya perdebatan itu masih tetap berlanjut sampai ia berada di dekat mereka.


"Em... ternyata gak berhasil juga Yen, padahal aku capek - capek ngehentak - hentakin kaki. Eh...  malah masih tetep berdebat." Kata Rindi yang merasa kecewa karena usahanya tak berhasil dan berakhir sia - sia.


"Sabar ya, mungkin dengan cara lain bisa berhenti." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2