Mendadak Nikah Muda

Mendadak Nikah Muda
Episode 66.


__ADS_3

Rendy menatap Nara dengan penuh arti dan bertanya, "Ini foto siapa?"


"Foto ayah dan ibuku, memangnya kenapa?" tanya Nara bingung, dia memang tak pernah menunjukkan wajah kedua orang tua kandungnya kepada Rendy atau pun Kenan.


"Mereka orang tua kandung kamu?" Rendy memastikan karena masih tak percaya.


Nara mengangguk.


Tubuh Rendy seketika lemas dan bergetar, jantungnya seakan ingin berhenti berdetak saat itu juga.


"Kamu kenapa, Ren?" Nara merasa bingung melihat sikap aneh Rendy, begitu juga dengan Kenan.


"Kau adikku! Adik yang selama ini aku cari," ungkap Rendy dengan mata berkaca-kaca.


Nara dan Kenan tercengang mendengar ucapan Rendy, ini sulit dipercaya dan rasanya tak masuk akal.


"Kau ini bicara apa? Di saat seperti ini kau masih sempat-sempatnya bercanda!" sungut Kenan tak terima.


Rendy mengalihkan pandangannya ke Kenan, "Aku serius! Nara itu adik kembar ku!"


"Jangan bicara omong kosong! Nara bukan adikmu!" bantah Kenan, sementara Nara hanya terdiam syok.


Di saat bersamaan Tama dan Hendra keluar dari ruang IGD. Keduanya bingung melihat dua bocah itu berdebat.


"Ada apa ini?" tanya Hendra.


Kenan menoleh ke arah sang papa, "Rendy mengatakan jika Nara adalah adik kembarnya, Pa."


Setali tiga uang dengan Nara dan Kenan, Tama dan Hendra pun terkejut.


"Ren, kenapa kamu bicara seperti itu?" Tama bertanya.

__ADS_1


Rendy menunjukkan wallpaper ponsel Nara pada Tama, "Ini foto ayah dan ibu Nara, Pa."


Tama terperangah melihat foto dua orang yang sangat dia kenal itu.


"Ini foto ayah dan ibuku, kan?" Rendy memastikan dengan suara bergetar.


Tama terdiam, kemudian mengangguk, "Iya, itu ayah dan ibu kandung Rendy."


Pengakuan Tama itu sungguh membuat semua orang terkejut. Sejak awal dia memang tak pernah menutupi jati diri Rendy dan siapa orang tua kandungnya, dia bahkan menunjukkan foto kedua orang tua Rendy agar pemuda itu tahu seperti apa wajah ayah dan ibunya.


Hendra memandangi Tama dan Rendy bergantian untuk meminta penjelasan, "Tapi bagaimana bisa?"


"Dulu ayah mereka adalah pasienku, kami sering bertemu dan akhirnya menjadi sangat dekat. Suatu saat aku mengundang mereka makan malam di rumahku, saat itu ibu mereka hamil besar dan mendiang istriku sangat iri sebab kami belum dikaruniai anak, padahal sudah lama menikah. Tanpa diduga ayah mereka bersedia memberikan salah satu anaknya untuk kami adopsi, karena tahu istrinya hamil anak kembar. Mendiang istriku sangat senang dan berterima kasih," beber Tama sembari mengenang kembali kejadian delapan belas tahun yang lalu.


Nara, Kenan dan Hendra tertegun mendengar cerita Tama. Semua ini seperti mimpi yang mengejutkan.


"Jadi aku dan Rendy benar-benar saudara kandung?" Nara akhirnya buka suara.


Nara benar-benar syok dan kaget, sedikitpun dia tak pernah tahu jika dia memiliki saudara karena mendiang ayah dan ibunya tak pernah cerita apa-apa.


Nara lalu menatap Rendy, "Tapi kenapa kamu enggak pernah cerita kalau kamu punya saudara kembar?"


"Waktu itu aku pernah mengatakan jika aku memiliki seorang adik, tapi belum sempat aku melanjutkan ceritaku, Kenan datang dan melabrak ku," sahut Rendy.


Nara mencoba mengingat kejadian itu, dan dia baru sadar. Sementara Kenan hanya bergeming dengan wajah masam.


"Lalu apa orang tua kamu enggak pernah cerita tentang Rendy?" Hendra kembali bertanya pada Nara.


"Enggak, Pa."


"Mungkin mereka enggak mau Nara berpikir macam-macam jika tahu mereka memberikan salah satu anaknya pada orang lain," sela Tama.

__ADS_1


"Jadi bagaimana kabar ayah dan ibu sekarang?" Rendy bertanya pada Nara.


Kepala Nara langsung tertunduk, dengan cepat cairan bening menggenangi pelupuk matanya, "Ayah dan Ibu sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu karena sakit."


Rendy terduduk lemas, setelah sekian lama dia mencari keberadaan ayah dan ibunya, tapi malah mendapatkan kenyataan jika kedua orang tuanya itu telah kembali ke sang pencipta. Selama ini dia kehilangan kontak dengan keluarga kandungnya karena sejak umur satu tahun dia pindah ke luar negeri. Saat kembali ke tanah air dia benar-benar tak bisa menemukan keluarganya itu.


Nara yang merasa sedih pun menghampiri Rendy dan duduk di samping kakaknya itu, "Selama ini aku ingin sekali memiliki seorang kakak yang bisa menjaga dan melindungi aku, dan aku pernah berkhayal bisa memiliki kakak sepertimu. Dan itu menjadi kenyataan."


Rendy menatap Nara dengan mata berkaca-kaca, "Adikku!"


Rendy pun akhirnya memeluk Nara, keduanya menangis dan saling berbagi perasaan senang bercampur sedih sekaligus.


Kenan yang melihat itu merasa cemburu, tapi dia sadar jika Rendy dan Nara itu saudara kandung, jadi mulai sekarang dia harus terbiasa dengan kedekatan mereka.


***


Windy sudah dipindahkan ke ruang perawatan, dia tergolek lemah tak berdaya dengan sebelah tubuhnya mati akibat stroke yang menyerangnya.


Hendra, Kenan dan Nara berdiri di sisi Windy. Begitu melihat Nara, wanita paruh baya yang biasanya angkuh itu seketika menangis pilu.


"Mama kenapa?" tanya Hendra.


"Sa-ya min-ta ma-af ka-re-na su-dah ja-hat sa-ma ka-mu," ujar Windy terbata-bata dan pelo sebab sebelah mulutnya miring akibat serangan stroke yang dia derita.


"Iya, Bu. Aku sudah memaafkan Ibu. Yang lalu biarlah berlalu," balas Nara diselingi senyum tulus.


Kenan pun merangkul pundak Nara, "Iya, Mama enggak usah memikirkan apa pun, fokus pada kesembuhan Mama saja."


Windy mengedipkan sebelah matanya pertanda dia setuju dengan ucapan sang putra.


***

__ADS_1


__ADS_2